Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Asisten chef


__ADS_3

Ini hari terakhir Laila shift malam. Jadwal tidur selama seminggu yang tidak teratur membuat kepala Laila pusing. Siang ini Laila meminta Kayla untuk menjaga Hasna karena ia ingin tidur sebentar.


Saat bangun, Laila baru sadar jika besok Hasna dan Kayla akan sekolah. Belum ada persiapan sama sekali. Dengan cepat Laila menghubungi Rena. Meminta diantar mencari seragam dan perlengkapan sekolah untuk kedua keponakannya.


"Kok baru sekarang sih?" tanya Rena.


"Lupa aku Ren," jawab Laila.


Ya, Rena sangat memaklumi. Usia mereka memang belum saatnya memikirkan urusan sekolah anak. Jadi sangat wajar jika Laila lupa harus mempersiapkan semua itu. Tidak seperti ibu-ibu pada umumnya. Mereka sudah mempersiapkan semua itu dari seminggu yang lalu.


"Ren, cari yang murah-murah aja. Kamy tahu toko yang murah gak?" tanya Laila.


"Aku malah gak tahu toko yang mahal," jawab Rena dengan entengnya.


Laila senang saat mendapat teman sefrekuensi dengannya. Mereka seumuran. Sempat berpikir tidak mau menikah, lalu tiba-tiba ingin segera menikah. Lalu akhirnya pikiran untuk menikah itu tiba-tiba lenyap kembali.


Mereka sama-sama trauma dengan pernikahan dalam keluarganya. Laila yang takut saat bayangan rumah tangga Deri dengan Yanti, sedangkan Rena takut saat melihat perceraian kedua orang tuanya. Ya, ayahnya Rena digugat cerai setelah kepergok berselingkuh oleh ibunya. Bahkan Rena sendiri menjadi saksi perselingkuhan itu.


Di usia Rena yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas, Rena harus menyaksikan sendiri ayahnya bersama wanita lain di sebuah hotel. Parahnya, wanita itu masih sangat muda. Mungkin usianya tak jauh beda dengannya.


Ah, Rena selalu marah, takut, kecewa, benci pada ayahnya. Semua rasa bersatu menguasai emosinya. Membuat Rena benci dengan pernikahan. Hingga Rena memutuskan untuk menghabiskan semua waktunya untuk mencari uang dan bahagia. Dan menurut Rena, bahagia itu tidak perlu dengan laki-laki dengan status sebagai suami.


Sepanjang perjalanan belanja seragam dan perlengkapan sekolah, Rena terus bercerita tentang pengalaman hidupnya. Begitupun sebaliknya. Hingga kegiatan ke pasar pun terasa menyenangkan bagi mereka berdua.


"Kemana lagi nih?" tanya Rena.


"Jajan bakso dulu yu!" ajak Laila.


"Dibungkus ya! Makan di rumah kamu aja. Kasihan anak-anak kelamaan nunggunya," ucap Rena.


Laila tersenyum senang. Akhirnya Laila benar-benar tidak salah pilih teman. Rena bukan hanya peduli pada dirinya tapi peduli juga pada kedua keponakannya itu.


"Ren, terima kasih ya!" ucap Laila.


"Eh, aku yang terima kasih. Kamu udah traktir baso. Padahal upah aja masih harian lepas. Belagu memang anak ini," ucap Rena sambil tertawa.


Laila pun ikut tertawa. Mereka memang baru kenal dua minggu, namun sudah sangat akrab. Membuat Laila betah berada di tempat barunya. Bukan hanya dengan Laila, Rena bisa mengakrabkan diri dengan Hasna dan Kayla. Kedua keponakan Laila merasa senang setiap kali Rena main ke kontrakannya.


Setelah dua minggu berlalu, sudah waktunya Kayla dan Hasna sekolah. Hari pertama sekolah di tempat barunya. Laila yang kebetulan kebagian shift satu, bisa mengantar kedua keponakannya di hari pertama sekolah. Apalagi ini pertama kalinya Hasna sekolah.


"Ren, tolong bilangin aku izin telat masuk kerja gitu ya!" ucap Laila lewat sambungan telepon.

__ADS_1


"Iya udah santai aja. Gampang lah urusan itu," ucap Rena.


Laila bisa lebih tenang saat bisa mengantar Hasna dan Kayla ke sekolah. Laila tersenyum senang saat Hasna bersemangat. Bahkan dengan keadaan yang sangat sederhana, Laila mampu mengajarkan membaca, menulis dan berhitung pada Hasna.


Sama halnya dengan Kayla dulu. Hasna memang tidak ikut sekolah TK seperti teman-temannya yang lain. Namun bagi Laila, asal mereka bisa membaca, menulis dan berhitung itu sudah cukup. Itu semua modal awal. Mereka bisa mencari sendiri, belajar sendiri melalui berbagai macam hal setelah menguasai tiga kemampuan dasar itu.


"Aduh, si Rena ngapain sih kok telepon terus?" ucap Laila kesal.


Laila menyempatkan untuk menjawab telepon Rena. Mulut Laila terbuka lebar dengan mata yang membulat sempurna. Ternyata hari itu ada pengontrolan dadakan dari atasan. Rena yang mendapat info itu segera mengabari Laila.


"Iya, iya, aku ke sana sekarang." Laila menjadi panik.


Sekarangnya Laila tidak langsung berangkat. Ia harus izin dulu pada Hasna, lalu bicara dengan Kayla. Setelah itu ia berlari secepatnya agar bisa datang sebelum pengontrolan karyawan itu dimulai.


"Pak, Pak," panggil Laila.


"Lah, kamu kok baru ke sini?" tanya salah satu satpam.


"Jangan banyak tanya, ini saya udah telat banget Mas. Tolong bukain pintunya," ucap Laila.


Sebenarnya satpam tidak boleh membuka pintu saat pengontrolan lapangan seperti ini. Namun mereka tahu Laila tidak mungkin telat kalau bukan karena ada kepentingan yang benar-benar mendesak.


Mereka segera membuka gerbang dan menunjukkan jalan aman yang bisa Laila lalui. Berkat bantuan kedua satpam itu, Laila bisa masuk ke ruangan sebelum para petugas masuk ke sana.


Laila menggeleng. Bukan karena hemat, tapi kebetulan tidak ada ojek satu pun di pangkalan. Laila terpaksa lari dari pada menunggu ojek yang tidak tahu kapan datangnya.


"Nih, lap dulu." Rena memberikan tisu pada Laila.


Beberapa saat setelah Laila mengelap keringatnya, laki-laki bertubuh tinggi masuk ke ruangan. Melihat keadaan ruangan yang sedang beroperasi. Selembar kertas di tangannya beberapa kali dilihat. Sepertinya ia sedang mengecek kesesuaian absen dengan kehadiran karyawan.


Beberapa orang disebut namanya. Dihujani pertanyaan seputar pekerjaan dan latar belakang pendidikan mereka. Bahkan Laila pun menjadi salah satu bagian dari mereka. Laila mengangkat tangannya saat namanya disebut.


"Kamu lulusan tata boga?" tanya laki-laki itu.


"Iya Pak," jawab Laila.


"Kenapa kerja di sini?" tanya laki-laki itu.


Dengan polosnya Laila menjawab alasannya bekerja di pabrik itu. Pabrik tekstil yang tidak pernah dipelajari selama sekolah. Namun kejujuran dan kepolosan Laila menjadi sebuah keberuntungan.


Laila ditarik selama satu minggu ke bagian dapur. Ia akan menjadi asisten chef untuk seminggu ke depan. Selama itu asisten chef yang profesional sedang sakit dan harus menjalani operasi. Dengan senang hati Laila segera mengiyakan.

__ADS_1


Meskipun Laila akan berpisah dengan Rena, tapi paling tidak Laila bisa mengobati kerinduannya tentang dapur dan memasak. Hari itu juga Laila pindah ke dapur dan mulai berganti seragam. Bahkan Laila belum pamit pada Rena.


Jam pulang yang berbeda membuat Laila harus menunggu Rena satu jam di pos satpam. Saat ditanya kenapa harus menunggu Rena begitu lama, akhirnya kedua satpam itu acungi jempol pada Laila. Sifat setia kawan yang dimiliki Laila memang sangat dibutuhkan dan pantas dibanggakan.


"La? Belum pulang?" tanya Rena saat melihat Laila duduk di pos satpam.


"Nunggu kamu, Ren. Ayo!" jawab Laila sambil duduk di jok belakang.


Rena segera menarik gas meninggalkan pabrik. Saat dalam perjalanan pulang, Rena mengingatkan Laila agar pulang kalau sudah selesai kerja. Tidak perlu menunggunya karena ada Kayla dan Hasna di rumah.


"Jangan gak enak gak enak. Kamu itu gadis beranak dua. Kalau ada waktu luangin buat mereka. Kasihan mereka," ucap Rena mengingatkan.


Beruntung Rena sangat mengerti keadaan Laila. Seminggu sejak ia ditugaskan menjadi asisten chef, membuat Laila bisa masuk dan pulang lebih santai. Sementara gajinya tidak dikurangi. Bahkan yang Laila dengar akan ada bonus untuknya.


Setelah seminggu berlalu, pemilik pabrik pusat datang secara mendadak. Asisten chef yang masih belum masuk membuat Laila kembali ditarik ke bagian dapur. Padahal seharusnya hari ini Laila kembali kerja normal di lapangan.


"Pak Jacob ingin masakan oriental," pinta salah satu asisten Pak Jacob.


"Siap," jawab Chef utama dengan sangat percaya diri.


Setelah asisten Pak Jacob pulang, Laila melihat chef itu terlihat bingung. Tidak mungkin chef andalan di pabrik itu tidak bisa menyediakan makanan yang diminta Pak Jacob. Nyatanya memang begitu. Bukan tidak bisa mungkin, tapi lebih tepatnya chef itu merasa tidak percaya diri.


Terakhir kali enam bulan yang lalu, Pak Jacob terang-terangan menolak makanan buatannya. Katanya tidak sesuai dengan lidahnya. Hal itu membuat chef itu cemas kalau kejadian itu tidak terulang lagi. Namun Laila meyakinkan chef utama kalau tidak mencobanya, tidak akan tahu hasilnya.


Bahkan Laila memberikan ide untuk masakan apa yang akan mereka buat. Laila yang pernah belajar hal tentang masakan, mengerahkan apa yang ia bisa untuk hal ini. Setelah makanan tersaji, Laila mengantar makanan itu ke ruangannya.


"Permisi," sapa Laila pada satu orang bertubub tegap yang berdri di depan pintu.


"Biar saya yang bawa," ucap laki-laki itu.


"Oh silahkan," jawab Laila sambil menyerahkan masakan yang dibawanya.


Laila kembali setelah apa yang dibawanya masuk ke dalam ruangan itu.


"Gimana?" tanya chef itu.


"Gak tahu chef, saya gak dibolehin masuk. Masakannya dibawa sama ajudannya. Takut diracun kali sama kita," jawab Laila sambil tertawa.


Laila terus berusaha menghibur chef dengan segala kepolosannya. Sampai akhirnya Laila melihat wajah ceria chef itu setelah ajudannya datang dan mengatakan masakannya enak. Pak Jacob meminta dibhatkan lagi untuk bekalnya pulang ke Jakarta.


Tidak hanya di sana, Pak Jacob pun meminta dibuatkan masakan serupa untuk sore ini karena akan ada tamu istimewa ke pabrik itu. Laila terpaksa harus lembur. Padahal di hatinya Laila sangat cemas memikirkan Hasna dan Kayla yang sudah dirindukannya.

__ADS_1


"Orang kaya memang kadang-kadang gak tahu aturan ya. Masa iya jam segini masih harus kerja?" ucap Lala kesal.


"Jangan marah-marah nanti cepat tua," ejek chef itu pada Laila yang tengah cemberut.


__ADS_2