
Laila terbangun saat masih gelap. Saat itu ia melihat Bagus tertidur dengan begitu nyenyak. Dengan senyumnya, Laila segera memeluk Bagus. Tiba-tiba kakinya terganggu dengan aksi Bagus junior yang tiba-tiba bangun.
"Kok gerak-gerak sih?" gumam Laila.
Laila membuka matanya dan menatap Bagus. Ia tidak melihat Bagus terbangun. Suaminya masih terlelap dengan nyenyak. Sampai akhirnya Laila memegang si junior yang mulai aktif.
"Eh, kok bangun? Padahal yang punya masih tidur loh," ucap Laila pelan.
Saat Laila mencoba mengecek si junior lagi, tiba-tiba Bagus menjepit tangan Laila. Membiarkan Laila merasakan gerakan-gerakan juniornya.
"Mas lepasin," ucap Laila.
"Hmmmm," ucap Bagus tanpa membuka matanya.
Laila berusaha melepaskan tangannya dari jepitan kaki suaminya. Sampai akhirnya Bagus terbangun dan menatap Laila. Rasa ngantuk itu sudah menghilang seiring dengan apa yang sudah Laila lakukan pada juniornya.
"Tanggung jawab," ucap Bagus.
"Hah?" tanya Laila.
Bagus tidak menjawab. Ia segera menarik tangan Laila dan membawanya ke kamar mandi.
"Mas, aku udah berapa kali bilang jangan di kamar mandi. Di kamar aja," ucap Laila.
"Sikat gigi dan cuci muka," ucap Bagus yang segera mengambil sikat gigi.
Laila menunduk. Ia malu sendiri saat menuduh Bagus akan memaksanya melakukan itu di kamar mandi. Namun di sisi lain, Laila juga merasa tersinggung saat Bagus memintanya sikat gigi sebelum melakukan aksi.
"Mas jijik sama aku ya? Bukannya kalau udah nikah itu gak boleh jijik lagi?" tanya Laila saat sudah kembali ke dalam kamar.
"Mana ada aku jijik sama istri sendiri?" tanya Bagus.
"Terus kenapa harus cuci muka sama sikat gigi dulu?" Laila balik bertanya.
"Astaga Laila," ucap Bagus sampil menepuk dahinya.
"Apa Mas?" tanya Laila.
"Memangnya kamu mau mulut masih asem udah maen hajar? Paling gak kita buang kuman dulu lah," ucap Bagus.
"Memangnya kalau udah sikatan gigi kumannya dijamin seratus persen hilang?" tanya Laila.
"Kamu mau praktek bab reproduksi atau mau mendengarkan aku menjelaskan bab bakteri?" tanya Bagus kesal.
"Kamu kalau marah gitu kayak guru biologi aku," jawab Laila sambil tertawa.
__ADS_1
Bagus kehilangan ekspektasi bercinta di pagi buta. Ia memilih untuk tidur dan menarik selimut kembali. Membiarkan Laila merengek karena merasa bersalah. Meskipun Bagus tak benar-benar tidur, namun ia memejamkan matanya agar tidak semakin kesal melihat sikap Laila. Kadang sikap polos Laila memang memancing emosi Bagus. Namun ia tak bisa marah. Apapun yang terjadi, wanita itu adalah pilihannya.
"Mas, maafin aku ya! Aku kan cuna becanda," ucap Laila.
"Hemmm," jawab Bagus sambil menutup telinganya dengan bantal.
Laila tidak bisa tidur setelah Bagus marah padanya. Bahkan sampai ia mendengar kokok ayam, Laila memilih untuk beranjak dari ranjangnya. Keluar dari kamar dan membantu Bi Sumi yang sudah lebih dulu berada di dapur.
"Ibu gak mandi?" tanya Bi Sumi.
"Nanti aja siangan," jawab Laila.
Pertanyaan Bi Sumi hanya sekedar mengecek keadaan rumah tangga keduanya. Pasalnya dari kemarin, Bi Sumi tidak melihat rambut Laila basah.
"Ibu sama Bapak baik-baik aja, kan?" tanya Bi Sumi memastikan.
"Baik. Memangnya kenapa Bi?" Laila balik bertanya.
Entah polos atau memang berharap Bi Sumi bisa membantunya, Laila menceritakan apa yang terjadi padanya dan suaminya. Dan ternyata Laila mendapat ide dari Bi Sumi. Sekitar pukul delapan, saat Hasna dan Kayla sudah berangkat sekolah Laila mengajak Bagus ke rumahnya.
"Mau ngapain sih?" tanya Bagus.
"Ya mau ke sana aja," jawab Laila.
Awalnya Bagus menolak. Ia masih kesal saat hasratnya terabaikan selama dua kali. Kali ini ia sedang menjaga ekspektasinya agar tak terluka untuk ketiga kalinya.
Setelah melihat Laila gagal membujuk Bagus untuk ke rumahnya, akhirnya Bi Sumi memberi kode agar apa yang disarankannya dilakukan di rumah kontrakan saja. Bi Sumi sengaja pamit untuk ke pasar. Alasan yang paling mudah dilakukannya agar tak ada yang curiga sama sekali.
"Mas," ucap Laila saat pintu sudah tertutup.
"Hemmm," ucap Bagus sambil asyik memainkan ponselnya.
Laila pergi ke kamar. Mengenakan pakaian dinas malam hari, lalu mengunci pintu rumah. Bukan hanya itu, Laila juga menutup gorden dan memastikan jika keadaan di sekitar aman.
Astaga Laila, kamu ngapain?" tanya Bagus saat melihat tingkah Laila.
Tanpa menjawab pertanyaan Bagus, Laila segera melancarkan aksinya. Meskipun belum terlalu lincah, namun Laila berhasil membuat Bagus tersenyum senang. Dengan kemampuan seadanya, Laila berusaha membuat sensasi baru. Sensasi yang belum pernah diberikan sebelumnya.
Gerakan Laila memang luar biasa untuk ukuran pemula. Namun ada yang kurang bagi Bagus. Kali ini telinga Bagus tidak dimanjakan oleh suara khas Laila saat merasakan kenikmatan yang tengah mereka ciptakan. Laila menahan mulutnya agar aksi mereka benar-benar terjaga kerahasiaannya.
Hampir semua ruangan meraka jelajahi. Hal yang sama seperti waktu itu di rumah Bagus. Bagi mereka, semua akan menjadi kesan tersendiri.
Setelah selesai, Laila segera merapikan setiap tempat yang sudah dijelajahi. Menghilangkan jejak atas aksi yang sudah melakukan lakukan. Laila segera mandi dan sudah terlihat segar saat jam pulang sekolah tiba.
"Mas kok Hasna sama Kayla belum pulang ya?" tanya Laila dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Memangnya sudah jam pulang ya?" Bagus balik bertanya.
"Iya Mas," jawab Laila.
Tidak lama Hasna dan Kayla datang bersama Bi Sumi. Kedipan mata Bi Sumi membuat Bagus dan Laila tersipu malu. Bi Sumi memang selalu punya cara untuk menyenangkan pasangan suami istri itu.
Selama di Surabaya, Bagus benar-benar menikmati masa bahagia. Setiap hari ia mengontrol toko kue yang sempat terhambat. Setelah semua berakhir dan diurus oleh Bagus, semua berjalan dengan baik. Bahkan toko akan dibuka minggu depan.
"Mas ke sini ga?" tanya Laila.
"Aku baru ke Jakarta besok. Jadi belum bisa ke sini lagi. Aku percaya kalau kamu pasti bisa lakuin semuanya," jawab Bagus.
Bagus memberikan semua kepercayaan dan tanggung jawab penuh pada Laila. Walaupun sebenarnya ia tidak tega harus mengurus semuanya sendirian.
"Kamu jangan khawatir. Nanti aku kirim orang terbaik yang akan bantu kamu," ucap Bagus.
"Iya Mas," ucap Laila.
Belajar dari kejadian sebelumnya, Bagus meminta Laila pindah ke rumahnya. Ia menyiapkan satpam untuk menjaga rumahnya selama dua puluh empat jam. Hal yang menurut Laila berlebihan namun sangat wajar menurut Bagus.
"Tapi ke sekolah jauh, Mas. Kasihan anak-anak," ucap Laila.
"Aku akan siapkan mobil dan sopir," jawab Bagus.
"Mas, jangan berlebihan gitu. Kalau mau, Mas belikan aku motor aja. Biar nanti aku yang antar jemput mereka," ucap Laila.
Motor? Tentu saran itu ditolak mentah-mentah oleh Bagus. Namun Laila meyakinkan jika Surabaya akan menjadi tempat yang aman. Lagi pula laki-laki itu tidak mungkin kembali ke sana. Lalu Winari? Dari kabar yang ia terima, Winari sudah masuk ke berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Semua bukti sudah dikantongi oleh Bagus. Hal yang pasti akan memberatkan Winari untuk bisa keluar dari penjara.
Memang belum ada keputusan atas tindak kejahatan yang dilakukan oleh Winari. Namun Bagus meyakini jika sembilan puluh persen kasus ini akan membuat Winari mendekam di penjara.
"Mas, gimana?" tanya Laila.
"Boleh," jawab Bagus.
"Boleh apa?" tanya Laila.
"Pura-pura gak ngerti." Bagus mengacak rambut Laila gemas. "Iya, nanti beli motor. Kamu mau motor apa?" tanya Bagus.
"Beat aja, Mas." Laila tersenyum lebar.
"Gak mau N-Max?" tanya Bagus.
"Gak ah," jawab Laila sambil menggeleng.
"Mahal?" tanya Bagus.
__ADS_1
"Bukan cuma mahal, kakiku gantung Mas." Laila cemberut.
Bagus tertawa. Laila memang tidak terlalu pendek. Namun saat menggunakan motor yang lebih pendek tentu akan membuat Laila merasa lebih nyaman. Sebagai seorang suami, Bagus hanya mengiyakan semua keinginan Laila. Hal itu tentu membuat Laila melompat senang hingga memeluk Bagus dengan erat.