Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Patah Hati


__ADS_3

Yanti menyudahi chattingannya saat pelanggan toko mulai ramai. Saat toko hampir tutup, Yanti melihat ada panggilan tidak terjawab dari Laila. Dengan cepat Yanti menghubungi Laila. Khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada ibu mertuanya.


"La, ada apa?" tanya Yanti cemas.


"Aku di jalan mau pulang. Ibu udah bisa pulang," jawab Laila.


"Hah? Pembayarannya gimana?" tanya Yanti bingung.


"Tadi dibantu sama Pak Lurah. Diurus masalah pembiayaannya. Ini juga pulangnya diantar sama mobil Pak Lurah," jawab Laila.


"Ah, syukurlah. Terima kasih banyak ya La. Kakak segera pulang," ucap Yanti.


"Eh, jangan lupa bawa pesanan kosmetik sama baju," ucap Laila mengingatkan.


"Tapi ibu gimana?" tanya Yanti.


"Ibu udah baik-baik aja. Kakak gak usah khawatir ya," jawab Laila.


Antara mengiyakan atau menolak. Namun Yanti juga memang butuh barang itu. Pemesanannya sudah dua hari yang lalu dan belum dikirim sampai sekarang. Akhirnya Yanti pergi ke toko kosmetik sebelum pulang. Tokonya sudah tutup, namun Yanti sudah janjian dengan pemilik toko.


"Lancar ya mba usahanya," ucap pemilik toko.


"Amiiin. Terima kasih banyak ya Bu," ucap Yanti.


Segera Yanti tancap gas setelah semua pesanan sudah dibawa pulang. Sayangnya sebelum sampai ke rumah, ban motor Yanti bocor. Beruntung tukang tambal ban tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Hai," sapa pengendara motor yang berhenti mendekat.


"Siapa?" tanya Yanti saat melihat pengendara itu mengenakan helm fullface.


Pengendara itu membuka helmnya. Yanti tersenyum saat melihat wajah pria itu. Siapa lagi kalau bukan pekerja ekspedisi yang sering membantunya.


"Bannya bocor ya Mba?" tanya pria itu.


"Iya, Mas. Mau pulang ya?" tanya Yanti basa basi.


Laki-laki itu turun dan mengambil alih motor Yanti. Sementara Yanti sendiri diminta untuk menjaga motor laki-laki itu di sana. Alasannya ingin membantu saja. Yanti awalnya menolak, tapi karena tubuhnya sudah lelah akhirnya ia mengiyakan. Lumayan hemat energi, begitu pikir Yanti.

__ADS_1


Yanti segera memberi kabar pada Laila tentang keadaannya. Ia tidak mau Deri marah kalau dia pulang. Ya walaupun sebenarnya Yanti tidak yakin jika Deri akan mengerti keadaannya saat ini.


"Mba, ini udah." Laki-laki itu menyerahkan kunci motor Yanti.


"Wah, terima kasih ya Mas. Maaf ngerepotin," ucap Yanti.


"Sama-sama. Gak ngerepotin sama sekali kok. Ini barang buat paket ya?" tanya laki-laki itu.


"Iya Mas. Besok pagi aku ke sana ya mau kirim paket," ucap Yanti.


"Siap. Kemarin-kemarin kemana? Dua hari gak ada paket," tanya laki-laki itu.


"Kemarin ibu sakit. Makanya gak ada pengiriman dulu," jawab Yanti.


"Ibunya sakit apa? Aku ikut ke rumah ya mau jenguk," ucap laki-laki itu.


Mata Yanti membulat sempurna. Dengan tegas Yanti menolak. Ia tidak mau jika kedatangan laki-laki itu akan membuat keadaan rumah tangganya memburuk.


"Jadi mba sudah menikah?" tanya laki-laki itu.


Yanti mengerutkan dahinya. Apakah selama ini ia tidak terlihat seperti memiliki suami? Ah, wajar. Deri memang tidak pernah mengantarnya ke sana dan ke sini. Berkat kemampuannya mandiri selama ini, beberapa orang yang baru mengenalnya memang akan menganggap Yanti tidak punya suami.


"Yah, aku patah hati. Aku pikir single loh," ucap laki-laki itu.


Wajah laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya. Yanti merasa tidak enak. Ia menyesal karena tidak peka akan kebaikan laki-laki itu. Bukan hanya meminta maaf, bahkan Yanti sampai membayar uang tambal ban. Namun laki-laki itu menolak.


"Ya sudah aku pulang duluan ya," pamit Yanti.


Berlama-lama di sana hanya akan membuat fitnah. Apalagi Yanti juga merasa tidak tega saat melihat wajah kecewa laki-laki itu. Selama perjalanan, Yanti berusaha mengatur perasaannya. Ia tidak mau orang rumah melihat dirinya yang tengah gelisah karena rasa bersalahnya.


"Mamaaaa," teriak Hasna yang melihat kedatangan Yanti.


Yanti panik setengah mati saat Hasna memburunya. Tragedi bocor ban membuat Yanti lupa membeli oleh-oleh untuk anak-anaknya. Akhirnya ia ingat pemberian laki-laki itu sebelum Yanti pamit.


"Ini buat Hasnaaa," teriak Yanti sambil memberikan makanan mini market yang diberikan laki-laki itu.


"Dapet bonus?" tanya Deri.

__ADS_1


"Iya," jawab Yanti yang berusaha terlihat tenang.


Yanti terpaksa berbohong karena saat jujur, hanya akan ada pertengkaran saja. Tidak ingin mendapat todongan rokok, Yanti segera pamit untuk melihat keadaan Bu Rini.


Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Bu Rini tersenyum padanya. Ia juga meminta maaf atas ketidakhadirannya saat Bu Rini pulang. Namun mertuanya memang sangat mengerti keadaan Yanti.


Setelah bercerita sebentar, Yanti pamit karena harus mandi. Saat akan kembali ke kamar Bu Rini, Laila menahannya. Bu Rini sudah tidur. Laila mengajak Rini menyiapkan paket yang harus dikirim besok.


"Ini dipakenya gimana sih, Kak?" tanya Laila saat melihat kosmetik yang menurutnya aneh.


Yanti hanya tertawa. Laila memang masih terlalu polos. Bahkan adik iparnya itu hanya menggunakan bedak milik Hasna saat akan bepergian ke luar rumah. Jangankan alat make up yang lain, lipstik saja Laila tidak punya satupun.


Laila cukup tahu semua barang itu dari Yanti. Ia juga tidak pernah mencoba mengenakan kosmetik seperti Yanti. Tiba-tiba Yanti memiliki ide agar Laila menjadi model untuk kosmetik yang dipasarkannya.


"Gak mau ah. Yang ada aku kayak ondel-ondel," tolak Laila.


"Kamu itu cantik. Ini belum dipoles loh. Apalagi kalau udah kena sentuhan make up," bujuk Yanti.


Yanti memang tidak menjual kosmetik dengan produk terkenal. Ia justru memasarkan kosmetik lokal. Kualitasnya memang standard, namun lumayan bagus jika bisa dalam pengaplikasiannya.


Bujukan Yanti berujung sukses. Ia berhasil membuat video tutorial make up dari kosmetik yang dipasarkannya di toko online. Wajah Laila yang cantik meskipun tanpa make up membuat Yanti puas dengan hasil polesannya.


"Kamu cantik banget, La." Yanti menatap wajah Laila penuh dengan kekaguman.


"Ah, Kakak bisa aja." Laila tersipu malu dengan pujian yang diberikan Yanti.


Tanpa menunggu lama, Yanti mengambil foto Laila berkali-kali. Semua ia simpan di dalam ponselnya dan siap dikirim untuk bahan promosi toko onlinenya.


"Cepat cuci muka. Kalau nanti ada yang lihat kan malu. Nanti dikira penganten baru," ledek Yanti.


Laila segera mencuci muka. Bukan karens takut disangka pengantin baru. Tapi karena ia ingin menghindar dari ocehan Deri. Apalagi Laila takut jika Deri tahu bisnis onlinenya dan meminta jatah kopi dan rokok setiap hari padanya.


"Ayo kita packing!" ajak Yanti saat Laila sudah kembali ke kamar.


"Kakak tidur aja dulu. Jangan sampai Bang Deri marah-marah lagi. Kasihan ibu," ucap Laila.


"Loh, terus ini gimana?" tanya Yanti sambil mengangkat beberapa kosmetik yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri kok," jawab Laila meyakinkan.


Yanti mengangguk. Ia yakin Laila anak yang bertanggung jawab dan bisa mengurus packingan malam ini. Yanti juga mengingatkan jika Laila tidak boleh begadang. Sesekali Yanti meminta Laila datang ke kamar Bu Rini hanya untuk memastikan jika ibunya baik+baik saja.


__ADS_2