Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Bedak Cussons


__ADS_3

Kehadiran Laila di rumah itu tentu jadi buah bibir bagi pekerja yang lebih senior. Bahkan Jajang menjadi sasaran pertanyaan dan kekesalan para pekerja yang ada.


"Mang Bro bawa siapa sih sebenernya? Katanya pembantu. Kok malah tidur di kamar anaknya Bu Indah?" tanya salah seorang dari mereka.


"Ya mana aku tahu. Yang aku bawa cuma anak dari kampung. Mau kerja karena butuh uang. Itu aja," jawab Jajang.


Saat semuanya sedang mengobrol, Laila datang dan membuat semuanya bungkam. Bagaimanapun, perlakukan Bu Indah pada Laila berbeda. Mereka juga harus menjaga jarak agar tidak kena imbasnya.


"Maaf ya Mba, Kakak, saya lapar. Apa saya boleh minta makan?" tanya Laila.


Semua saling menatap dan mempersilahkan Laila makan. Bahkan mereka masih memperhatikan sikap Laila yang terlihat jauh lebih kampungan dari mereka. Mereka mungkin sama seperti Laila. Berasal dari keluarga tidak mampu dan berjuang untuk membiayai keluarga mereka. Namun jam kerja membuat mereka semakin terbiasa dengan kemewahan di rumah majikannya.


Berbeda dengan Laila yang baru pertama kali merasakan hal yang berbeda dalam hidupnya. Sebelum makan, bahkan Laila bengong saat melihat banyak sekali makanan yang tersedia di dapur.


"Ayo makan," ucap salah satu dari mereka.


"Iya, iya." Laila segera mengambil nasi dan beberapa lauk yang ada di sana.


Mereka semua bubar saat Laila sedang makan. Hanya ada seorang perempuan paruh baya yang mendekatinya.


"Duduk di sini," ajak wanita paruh baya itu.


Laila menunda suapannya saat melihat wanita itu tersenyum ramah padanya.


"Gak apa-apa Bu. Saya di sini aja," ucap Laila.


"Kenalkan, namaku Yani. Panggil aku Bi Yani," ucap Bi Yani memperkenalkan dirinya.


"Oh iya Bi Yani. Nama saya Laila," ucap Laila sopan.


"Ayo sekarang duduk di sini!" ajak Bi Yani untuk duduk di kursi.


Laila memilih makan sambil duduk di lantai. Karena menurutnya, ia harus bersikap hati-hati. Takutnya ada aturan kalau pembantu tidak boleh makan di tempat sembarangan.


"Boleh?" tanya Laila.


"Boleh. Siapa yang melarangmu?" tanya Bi Yani.


"Tidak ada," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.


Laila pun duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Bi Yani. Sementara Bi Yani mengecek kulkas dan mencatat sesuatu. Laila menebak jika Bi Yani sedang menulis barang belanjaan minggu ini.


Laila mencoba mengakrabkan diri. Karena menurutnya, Laila belum punya teman. Melihat semua pekerja yang lain, sepertinya Laila tidak cocok dengan mereka. Hanya Bi Yani yang mengajaknya bicara dengan hangat.


"Bibi udah lama kerja di sini?" tanya Laila.

__ADS_1


"Iya. Kamu kenapa gak sekolah?" Bi Yani balik bertanya.


Sekolah? Mendengar pertanyaan itu Laila menelan makanannya dengan cepat lalu mendorongnya dengan segelas air. Harus banyak ruang di mulutnya agar Laila bisa bebas bercerita pada Bi Yani.


Tapi tiba-tiba Laila berpikir ulang. Rasanya tidak perlu semua orang tahu tentang masa sedihnya. Bukankah itu hanya akan membuatnya dikasihani? Ah tidak. Laila harus terlihat kuat dan baik-baik saja.


"Sekolah itu keluar uang. Kalau kerja kan dapat uang," jawab Laila sambil menyimpang piring lalu mencucinya.


Entah tahu dari Jajang atau justru melihat tubuh mungil dan kepolosan Laila, Bi Yani tahu bahwa Laila masih kecil. Sangat disayangkan anak yang harusnya sedang menikmati masa sekolah itu justru harus pergi ke ibu kota. Bertaruh nasib dengan usianya yang masih belum pantas.


"Kamu istirahat saja. Aku ke supermarket dulu," ucap Bi Yani.


"Saya boleh ikut?" tanya Laila.


"Kamu baru sampai hari ini. Istirahat aja," ucap Bi Yani.


"Ayolah. Saya belum tahu tugas saya apa. Kalau hanya tiduran, buat apa saya ke Jakarta? Lebih baik di kampung. Bisa bantuin ibu bikin kue," ucap Laila.


Bi Yani melihat Laila yang memang sangat bersemangat. Akhirnya Laila diizinkan ikut ke supermarket. Ini bahkan sudah sangat sore. Laila bisa memastikan jika mereka akan sampai ke rumah saat sudah gelap.


Sampai di supermarket, Laila menikmati suasana yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Berjalan mengekor di belakang Bi Yani. Melihat beberapa catatan yang sudah mulai di cheklist saat saat masuk ke keranjang yang didorong Laila.


"Belanja begini biasanya berapa hari sekali, Bi?" tanya Laila.


Laila terus bertanya tentang hal yang berhubungan dengan kebutuhan dan kebiasaan di rumah Bu Indah. Jawaban atas kebingungan Laila juga terjawab. Bu Indah memang hanya tinggal sendiri, namun selalu menyiapkan banyak sekali masakan untuk para pekerjanya.


"Laila," panggil Bi Yani sambil mengguncang tubuh Laila yang sedikit bersandar padanya.


Rasa lelah membuat Laila tertidur saat pulang. Ia terkejut saat menyadari jika selama perjalanan tadi ia tidur dan mengabaikan Bi Yani.


"Bi, maafin saya ya. Saya ketiduran," ucap Laila.


"Gak masalah. Ayo turun!" ajak Bi Yani.


Laila sibuk mencari barang belanjaannya namun ternyata semua sudah dibawa oleh sopirnya. Karena sudah malam, Laila masuk ke kamar dan tidur.


"Laila, kamu sedang apa?" tanya Bu Indah.


Saat Bu Indah membuka pintu kamarnya, Laila nampak duduk di samping pintu. Menunggu pemilik kamar keluar untuk menanyakan tugasnya di rumah itu apa saja. Pasalnya semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan.


"Kamu mandi aja," jawab Bu Indah.


"Ya ampun Bu, saya udah mandi dari subuh. Masa gak kelihatan?" tanya Laila sambil memegang rambutnya yang masih sedikit lembab.


"Kamu gak pakai bedak? Lip balm?" tanya Bu Indah.

__ADS_1


"Udah Bu, udah. Aku pakai bedak cussons. Lip balm aku gak punya. Tapi ini aku pakai vaselin. Katanya biar bibir merah merona alami," jawab Laila.


Bu Indah menahan tawanya. Ia beberapa kali bertemu dengan anak SMP yang baru lulus. Namun sepertinya tidak sepolos Laila. Banyak diantara mereka yang sudah terlihat berpenampilan menarik. Bahkan ada yang sudah menggunakan mascara dan lipstik.


"Masuk sini!" ajak Bu Indah.


Bu Indah kembali masuk ke dalam kamarnya. Menarik Laila dan memintanya duduk di meja rias. Mulai menata rambut Laila yang lepek. Lalu memoles sedikit make up natural.


"Kamu cantik," ucap Bu Indah.


"Ah masa sih Bu?" tanya Laila malu-malu.


"Ganti baju," pinta Bu Indah.


"Ini udah baju paling bagus Bu. Ini baju lebaran saya tahun ini," ucap Laila.


Bu Indah merasa pakaian Laila tidak cocok. Namun ia tidak punya pakaian lain yang bisa digunakan oleh Laila. Sementara ini, Bu Indah membiarkan Laila memakai baju seadanya. Tapi nanti, Bu Indah akan membelikan baju yang cocok untuk Laila.


"Nanti, kamu kenalan sama teman-temanku ya. Kenalkan diri kamu sebagai anak angkatku," pinta Bu Indah.


"Hah? Nanti kalau teman-teman ibu ngetawain saya gimana Bu? Apa ibu gak ikut malu juga? Saya mendingan nunggu di mobil aja," ucap Laila.


Laila sudah panik sendiri. Padahal ia belum tahu mau dibawa kemana oleh Bu Indah. Tapi kemanapun Bu Indah pergi, tempat dan orang yang ditemuinya pasti akan membuat Laila merasa minder. Namun Bu Indah tetap memaksa. Mengajak Laila pergi meskipun Laila menolak.


"Ayo turun!" ajak Bu Indah.


Laila melihat tulisan yang terpampang di depan parkiran mobil melalui kaca yang terbuka.


"SMK Permata Hati," baca Laila pelan.


"Laila, ayo!" ajak Bu Indah yang sudah keluar dari mobil lebih dulu.


"Kita mau ngapain ke sini Bu?" tanya Laila saat sudah keluar dari mobil.


"Kamu harus sekolah," jawab Bu Indah.


"Astaga Bu. Jangan," tolak Laila.


"Kenapa?" tanya Bu Indah.


"Saya mau kerja bukan mau sekolah. Nanti biar saya daftar sekolah paket C di kampung. Bisa dapat ijazah kok," ucap Laila.


"Kamu sekolah biar pintar. Bukan cuma buat dapat ijazah," ucap Bu Indah.


"Tetangga saya aja lulusan terbaik di SMA malah jadi TKW bu. Sama aja Bu," ucap Laila.

__ADS_1


Bu Indah menggelengkan kepalanya. Tidak ingin berdebat lebih panjang dan lama, akhirnya Bu Indah menarik tangan Laila dan masuk.


__ADS_2