
"Mas, kok lama? Gak tidur di kamar mandi kan?" tanya Laila sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Apaan sih La. Baru sebentar juga," jawab Bagus.
"Mas, saya kebelet pipis. Cepetan dong," ucap Laila.
"Ya udah masuk aja," ucap Bagus.
"Nanti aja. Saya nunggu Mas beres," ucap Laila.
Laila, kamu ini benar-benar so jual mahal. Udah kayak anak gadis aja masih malu ketemu suami. Anak udah dua harusnya udah gak heran kalau di kamar mandi berdua.
"Mas," panggil Laila.
Gerutuan Bagus terhenti saat Laila kembali mengetuk pintu kamar mandi. Tak ingin moodnya menjadi semakin buruk, Bagus mempercepat mandinya dan segera keluar.
"Maaf ya Mas," ucap Laila saat melihat Bagus keluar dengan wajah cemberut.
"Hmmmm," jawab Bagus.
Selama di kamar mandi, Laila kepikiran wajah Bagus yang terlihat cemberut. Ia menghela napas panjang. Berusaha tenang agar tidak ikut marah. Menurut Laila, Bagus sangat kekanak-kanakkan. Hanya karena diganggu saat di kamar mandi saja marah. Padahal Laila tidak tahu jika Bagus tengah kecewa karena tidak jadi buka doorprize malam ini.
Sabar La. Mungkin memang begini rumah tangga. Kamu harus inget gimana Bang Deri dulu sama Kak Yanti. Suami kamu ini jauh lebuh segalanya dibanding Bang Deri. Sabar ya!
Laila mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar saat keluar dari kamar mandi. Namun Bagus tidak ada di kamar. Ia mencoba memanggil Bagus namun tidak ada jawaban. Laila pun segera keluar dan mencari suaminya.
"Mas," panggil Laila.
Bagus yang sedang memanaskan air segera menoleh ke arah sumber suara. Menunjukkan wajah Laila yang cantik meskipun polos tanpa sentuhan makeup sedikitpun.
"Mas lagi apa? Bikin kopi?" tanya Laila.
"Iya," jawab Bagus.
"Sini biar saya yang bikinin," ucap Laila.
Laila segera merebut gelas yang ada di tangan Bagus. Ia segera mengambil alih tugasnya untuk membuat kopi.
"Mas, buat apa punya istri kalau bikin kopi aja masih sendiri. Harusnya Mas tinggal bilang sama saya," ucap Laila.
Bagus hanya terdiam. Pertama kalinya ia dilayani oleh seorang istri. Pernikahan pertamanya sama sekali tidak pernah seperti ini. Winari hanya sibuk dengan ponsel dan makeup. Semua ia serahkan pada pembantu.
Ah Bagus tidak mau berekspektasi terlalu tinggi. Mungkin Laila melakukan ini karena tidak ada siapapun di rumah itu. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Setelah ada pembantu, Laila bisa saja bersikap sama dengan Winari.
__ADS_1
"Terima kasih ya La," ucap Bagus saat menerima secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
"Sama-sama. Mas mau saya pijit gak?" tanya Laila.
"Gak usah. Kamu juga pasti cape," jawab Bagus.
"Gak apa-apa. Saya masih kuat kok. Lagi pula saya udah biasa mijitin almarhum ibu saya dulu," ucap Laila.
"Beneran gak keberatan mijitin aku?" tanya Bagus.
"Gak dong Mas," jawab Laila.
Bagus meminta Laila menunggunya di kamar. Sementara itu, ia akan menikmati secangkir kopi hitam spesial buatan istri tercinta. Selain itu, Bagus juga akan mengecek beberapa email yang masuk hari ini.
"Ya udah saya tunggu di kamar ya Mas," ucap Laila.
"Oke," jawab Bagus dengan senyum lebarnya.
Bagus segera membuka laptop. Mengecek beberapa email masuk. Semua berisi tentang pekerjaan. Bagus merentangkan tangannya. Memilih pekerjaan yang paling mudah hingga yang paling sulit menurutnya.
Saat semua pekerjaan tuntas, Bagus melihat jam di layar ponselnya. Matanya terbuka lebar saat menyadari ternyata sudah jam dua belas malam. Bagus terlalu asyik dan semangat dengan pekerjaannya.
Pikirannya sudah kacau. Bayangan dipijit Laila sudah hilang. Saat Bagus mengecek ke kamar, tenryata benar. Laia sudah tidur pulas. Namun ada yang menarik. Bagus merasa senang saat melihat Laila tertidur dengan posisi duduk di atas ranjang. Tangannya memeluk bantal. Kepalanya bersandar pada kayu di ranjangnya.
"Mas," ucap Laila saat terbangun dengan kecupan Bagus.
"Kamu tidur yang bener. Nanti lehermu sakit," ucap Bagus.
"Ayo Mas saya pijit. Maaf ya saya ketiduran," ucap Laila sambil mengucek matanya.
"Gak usah, gak usah. Kamu tidur aja," ucap Bagus.
"Saya udah janji sama Mas mau nungguin Mas beres," ucap Laila.
Bagus menyadari kalau semua ini salahnya. Ia memaksa Laila untuk segera tidur dan beristirahat. Sudah cukup bahagia melihat perjuangan Laila untuknya. Bagus bukan laki-laki tega yang akan membiarkan wanita yang dicintainya untuk memijatnya dalam keadaan mengantuk.
"Astaga," ucap Laila.
Betapa terkejutnya Laila saat membuka matanya. Pagi sudah menyapa. Membangunkan Laila dari tidur nyenyaknya. Namun pemandangan aneh terjadi, tubuhnya bagaikan dililit ular besar hingga sulit sekali bergerak.
Laila perlahan menggeser tangan dan kaki Bagus yang melingkar di tubuhnya. Namun sayangnya setiap kali Bagus merasakan kakinya digeser, sebanyak itu pula Bagus memeluk Laila dengan lebih erat.
"Mas, saya mau pipis." Laila berbisik di telinga Bagus.
__ADS_1
Bagus tidak meresponnya sama sekali. Laila hanya pasrah. Membiarkan tubuh besar itu mengunci dirinya dalam tidur nyenyaknya. Semakin lama, Laila sudah tidak bisa menahan ingin buang air kecil.
"Mas, gak kuat. Pengen pipis," ucap Laila sambil mendorong kaki dan tangan Bagus.
"Emmm," ucap Bagus sambil kembali memeluk Laila.
"Ya udah saya pipis di sini ya! Jangan salahin saya kalau nanti kasurnya bau pesing," ucap Laila.
Bagus yang mendengar ucapan itu segera melonggarkan tubuhnya. Membiarkan tubuh kecil itu keluar dari dekapannya. Dengan mata yang hanya terbuka sedikit, menyaksikan bagaimana Laila berlari ke kamar mandi sambil memegang bagian pusatnya.
"Ternyata dia beneran mau pipis. Aku pikir cuma akal-akalan dia aja biar gak dipeluk sama aku," gumam Bagus.
Bagus yang masih mengantuk melanjutkan tidurnya. Sementara Laila sedang tersenyum senang di kamar mandi. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Laila tidur dengan seorang laki-laki. Ia bangun saat tubuhnya masih didekap dengan hangat oleh laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Ah Mas Bagus, saya deg-degan tahu. Duh, semalam Mas ngapain saya ya?" gumam Laila.
Laila mengecek tubuhnya di kaca. Melihat tubuhnya yang mungkin saja ada yang berbeda. Namun sayangnya semua sama. Tidak ada yang berbeda sama sekali. Tidak ada bercak-bercak merah seperti yang ia pikirkan sebelumnya.
"Berarti Mas Bagus gak ngapa-ngapain aku? Kok begitu sih? Ini kan malam pertama buat kita. Apa jangan-jangan Mas Bagus gak napsu kali ya sama aku? Apa aku gak menarik? Gak menggairahkan? Gak menantang?" gumam Laila sambil mengamati tubuhnya di depan cermin.
Setelah pusing sendiri dengan tuduhannya pada Bagus, Laila segera mandi. Yang ia pelajari setelah menjadi seorang istri, maka harus enak dipandang suami. Laila mencari pakaian yang cantik dan berdandan. Meskipun tidak menor, namun Laila memastikan tidak sepolos biasanya.
"Mas Bagus masih belum bangun ya?" ucap Laila.
Laila pergi ke dapur. Mengecek isi kulkas. Ternyata kosong. Hanya ada buah-buahan di sana. Laila menghela napas panjang karena tidak bisa masak apapun untuk suaminya. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Eh Bi Sumi. Mana Hasna sama Kayla?" tanya Laila.
"Ada di rumah. Lagi sarapan. Ibu udah sarapan?" tanya Bi Sumi.
Ibu? Laila segera melihat ke sekeliling. Mencari sosok ibu yang dimaksud oleh Bi Sumi. Namun ternyata ibu yang dimaksud adalah dirinya. Bi Sumi sudah memutuskan untuk memanggil Laila dengan sebutan Ibu. Karena sekarang Laila sudah resmi menjadi istri dari majikannya.
"Ih, Bi Sumi. Panggil Laila aja," ucap Laila.
"Nanti Bapak marah sama saya. Saya masih mau kerja, Bu. Jangan protes ya!" ucap Bi Sumi.
Tidak ingin mendengar Laila terus-terusan protes padanya, Bi Sumi segera menyerahkan dua kantong kresek yang dibawanya. Satu kantong berisi sayuran mentah, satu kantong berisi nasi kuning.
"Masaknya buat makan siang aja Bu. Sekarang sarapan nasi kuning aja dulu," ucap Bi Sumi.
Setelah memberikan sarapan dan sayuran, Bi Sumi segera pamit. Ia senang saat Bi Sumi datang tepat waktu. Melihat sudah jam delapan, Laila segera menyiapkan nasi kuning untuk sarapan mereka berdua.
"Mas, bangun. Udah jam delapan. Sarapan dulu yu! Saya lapar," ucap Laila.
__ADS_1
Bagus yang mendapat sentuhan di bagian kepalanya berusaha membuka matanya. Rasanya dunia begitu indah saat melihat Laila menjadi orang pertama yang dilihatnya saat membuka mata.