
"Kay, Lala mau berangkat ya. Doain semoga lancar kerjanya. Titip Hasna," ucap Laila.
"Lala semangat ya. Semoga Lala banyak uang," ucap Kayla.
Laila mengusap kepala Kayla. Ini masih jam tujuh pagi. Sebenarnya Laila janjian jam delapan dengan si penelepon. Namun karena tak ingin terlambat, Laila lebih baik menunggu di sana dari pada harus mengecewakan.
"Jaga Hasna. Diem di rumah. Nasi sama lauknya udah disiapin di dapur ya," ucap Laila.
Laila melihat Kayla mengangguk. Kayla sudah mulai besar dan sudah bisa diandalkan oleh Laila. Keadaan memaksa Laila dan Kayla harus dewasa sebelum waktunya.
Laila berangkat sebelum Hasna bangun. Untuk menghemat uang, Laila berjalan kaki menuju pabrik. Mentari pagi yang menghangatkan itu perlahan membuat tubuhnya berkeringat.
Saat Laila tiba di depan gerbang, Laila berdiri sebentar. Melihat dua orang yang bertugas di pos. Laila mendekat dan menyebutkan tujuannya ke sana. Salah satu dari mereka menunjukkan gedung yang terpisah di sana.
"Oh iya Mas, terima kasih." Laila menunduk hormat dan pergi.
Sesekali Laila berpapasan dengan orang-orang yang memakai seragam biru muda dan celana hitam. Laila meyakini jika mereka adalah karyawan pabrik di sana. Bibir Laila tersenyum.
Mudah-mudahan besok aku udah bisa pakai seragam itu ya.
"Laila," panggil salah satu wanita cantik dengan rok mini dan pakaian ketatnya.
Laila segera mendekat. Ia masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan wanita tadi. Sudah ada pria berkumis tebal di sana. Setelan jas dan dasi yang serasi membuat pria itu terlihat sangat berwibawa.
"Namanya Laila?" tanya pria itu sambil mendorong pelan meja.
Laila sedikit mundur. Memberi ruang agar pria di hasapannya bisa lebih leluasa. Perut buncitnya terlihat lebih jelas sekarang. Membuat Laila meyakini jika pria ini adalah bos besar di sana.
"Iya Pak," jawab Laila.
"Dari lamaran yang saya terima kamu mau jadi karyawan pabrik di sini. Tapi saya lihat ijazah kamu kok dari tata boga?" tanya pria itu.
"Iya Pak. Maaf Pak memangnya tidak boleh ya kalau ijazah saya dari tata boga?" tanya Laila.
"Ah, tidak. Bukan begitu. Sebenarnya bisa saja. Karena pabrik baru, di sini bisa menerima karyawan dari mana saja asal mereka mampu. Hanya saja apa kamu gak mau kerja di tempat yang lain? Ini kan pabrik tekstil," jawab pria itu.
"Sebenarnya cita-cita saya punya toko kue, Pak. Tapi keadaan membuat saya harus siap kerja dimana saja. Saya janji meskipun saya tidak punya pengalaman apapun di bidang tekstil, saya akan berusaha semaksimal mungkin." Laila meyakinkan pria itu.
"Ya, memang ada masa training selama sebulan. Jadi upah yang diberikan belum UMR. Paling upah harian dulu," jawab pria itu.
"Gak masalah Pak. Saya siap," ucap Laila.
Meskipun sebenarnya Laila sedikit kecewa dengan jawaban pria itu. Laila berpikir selama sebulan ia harus cari sampingan dari mana? Tapi tak apa. Semua butuh proses. Lagi pula masih ada tabungan yang bisa Laila pakai.
"Ini seragam kamu. Besok kamu mulai kerja," ucap pria itu.
"Wah, terima kasih banyak Pak. Terima kasih banyak," ucap Laila dengan wajah ceria.
Masalah upah tak jadi masalah. Laila cukup senang saat mendapat seragam itu. Artinya ia masih bisa punya harapan untuk masa depannya. Setelah semua selesai, Laila segera pulang.
Dengan senang hati Laila menelepon orang yang sudah membantunya masuk ke pabrik itu secara gratis. Padahal biasanya minimal harus bayar tiga juta untuk bisa masuk jadi karyawan di pabrik itu.
__ADS_1
"Tugasku sekarang cari sekolah buat Kayla," ucap Laila saat di jalan.
Laila bertanya tentang sekolah ke Bu Rini. Ternyata, sekolah untuk Kayla tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Laila benar-benar senang. Tidak perlu ada uang transport, cukup uang jajan untuk Hasna dan Kayla.
"Kay," panggil Laila saat pulang.
"Iya," jawab Kayla.
Saat Laila masuk, matanya nyaris mengeluarkan cairan bening. Terharu sekali saat melihat Kayla sedang membantu Hasna mengenakan baju.
"Nih, buat kalian." Laila menyerahkan sebuah kantong plastik hitam.
Hasna memburunya dengan wajah ceria. Sementara Kayla hanya menatap Hasna lekat. Sepertinya Kayla sedang mengingat masa-masa dulu. Saat apa yang dilakukan Laila sama persis dengan yang dilakukan ibunya dulu.
"Lala beli buat kamu juga kok," ucap Laila sambil merangkul Kayla.
"Iya, makasih La." Kayla memeluk Laila.
Keduanya sama-sama menahan tangis. Berpura-pura kuat padahal ia sama-sama menyimpan sakit. Keduanya harus terlihat kuat satu sama lain. Meskipun pada akhirnya mereka akan menangis saat menjelang tidur.
"Kay, besok Lala masuk pagi. Kamu jaga Hasna lagi ya!" ucap Laila.
"Lala udah masuk kerja?" tanya Kayla.
"Udah," jawab Laila sambil mengangguk.
"Tapi Kay bisa tetep sekolah, kan?" tanya Kayla.
Laila pun menjelaskan jika pulang dari pabrik, ia langsung mengecek sekolah untuk Kayla dan Hasna. Kayla yang sudah bisa diajak diskusi pun mendengarkan semua ucapan Laila. Meskipun sekolahnya baru lagi, namun Kayla senang akhirnya ia tidak putus sekolah. Ia bisa tetap sekolah bahkan sambil menjaga adiknya. Karena Hasna pun akan masuk SD tahun ini.
Sore ini Laila mengajak Hasna dan Kayla jalan-jalan. Melihat daerah Surabaya yang asing bagi mereka. Bahkan Laila menunjukkan sekolah untuk Hasna dan Kayla.
"Deket juga ya La," ucap Kayla.
"Iya tapi hati-hati ya. Jaga Hasna!" ucap Laila.
Selalu Laila ucapkan jaga Hasna. Jujur saja, Laila sebenarnya khawatir saat Hasna tidak bersamanya. Namun mau bagaimana lagi? Keadaan menuntut Laila harus mempercayakan Hasna pada Kayla.
"Lala tenang aja. Kay pasti jaga Hasna," ucap Kayla.
Pagi pertama saat Laila masuk kerja. Jam enam pagi Laila sudah mandi dan membeli sarapan untuk mereka bertiga. Dengan seragam barunya, Laila memperhatikan tubuhnya di depan cermin. Ia menyadari jika tubuhnya jauh lebih kurus.
"Gak apa-apa La. Orang-orang justru harus olah raga sampe ngeluarin duit biar langsing. Tapi kayaknya aku kurus deh bukan langsing. Ah, udah lah ngapain mikirin badan. Pikirin masa depan," gumam Laila.
Jam tujuh, Laila sudah berangkat. Seperti baisa, Hasna masih tidur. Kayla mengantar Laila sampai di depan rumah dan melambaikan tangannya. Setelah itu segera menutup kembali pintu rumahnya. Bukan hanya ditutup, namun Kayla juga sampai mengunci pintu rumahnya seperti pesan Laila.
"Pagi," sapa Laila pada dua orang satpam yang berbeda dengan hari kemari.
"Pagi," jawab mereka berdua.
Setelah Laila pergi, kedua satpam itu saling tatap. Mungkin hal aneh karena tidak ada karyawan seramah Laila. Apalagi saat jam istirahat, Laila sengaja membawakan roti dan air mineral untuk keduanya.
__ADS_1
"Buat kita?" tanya salah satu satpam.
"Iya, Mas. Tadi saya sekalian jajan ke kantin," jawab Laila.
Laila segera pamit untuk kembali ke tempat kerjanya. Makan bersama teman-teman yang baru ia temui hari ini. Laila berusaha mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lain. Hal baru yang Laila nikmati. Laila bisa bekerja sembari bertemu dengan banyak orang.
Biasanya Laila hanya bermain dengan kedua keponakannya. Paling keluar saat belanja dan mengirim paket untuk konsumennya. Sekarang, Laila bisa punya kenalan baru dan bertemu setiap hari.
Laila sangat menikmati pekerjaannya. Meskipun Laila harus menjalani dua shift. Seminggu shift pagi, masuk jam delapan pulang jam empat sore. Seminggu berikutnya Laila masuk shift malam. Masuk jam delapan malam, pulang jam empat pagi.
"Kamu jalan kaki?" tanya Rena, teman baru Laila.
"Iya," jawab Laila.
"Nanti ikut sama aku aja," ajak Rena.
"Bawa motor?" tanya Laila.
"Iya. Rumahku lumayan jauh dari sini," jawab Rena.
"Aku nebengnya kalau shift malem aja. Shift pagi sih aku bisa berangkat sama pulang jalan kaki," ucap Laila.
"Udah, kita barengan aja. Sekalian aku pulang. Rumahku ngelewatin rumah kontrakan kamu," ucap Rena.
"Ngerepotin gak nih?" tanya Laila.
"Ya ampun La, bawa bocah sekurus begini sih gak kerasa." Rena tertawa sambil memijat pundak Laila.
Ya, Laila memang kurus. Bahkan terlihat sangat kurus jika dibanding Rena yang beratnya tujuh puluh kilo dengan tinggi badan seratus lima puluh tiga senti. Namun wajah Rena manis dengan kulit sawo matangnya. Apalagi Rena sangat ramah dan baik. Laila bersyukur bisa satu shift dengan Rena.
Sikap Laila yang baik pada kedua satpam juga berkat cerita Rena. Menurut Rena, kedua satpam itu adalah mereka yang hidup membiayai orang tuanya meskipun sudah berkeluarga. Bahkan mereka mencari sampingan dengan berjualan pulsa. Sesekali mereka juga narik ojeg.
Laila benar-benar salut pada perjuangan kedua satpam itu. Seandainya ibunya masih ada, mungkin ia juga akan banting tulang untuk ibunya. Sayangnya Bu Rini sudah tidak ada. Kini perjuangannya hanya untuk kedua keponakannya.
Seminggu berjalan dengan baik. Laila menikmati pekerjaannya dengan bahagia. Teman-teman baru yang membuat Laila merasa sesuai umurnya. Tidak ada yang menganggapnya janda. Belum lagi Kayla yang semakin bisa diandalkan untuk menjaga Hasna setiap hari.
Kini giliran Laila shift malam. Pertama kalinya Laila harus meninggalkan mereka berdua di malam hari. Cemas dan terus kepikiran saat sedang bekerja. Namun akhirnya semua berjalan dengan baik. Meskipun Kayla ketakutan dan susah tidur, namun tidak pernah mengatakan semua itu pada Laila. Kayla tidak mau membebani pikiran Laila.
Semakin lama, Kayla yang awalnya ketakutan kini mulai terbiasa. Tidur bersama adik semata wayangnya setelah Laila pergi untuk bekerja. Bahkan saat bangun pagi, Kayla menyapu dan mengepel.
"Kay," panggil Laila saat pulang kerja.
"Lala udah pulang?" tanya Kayla.
Kayla segera mencium tangan Laila, sementara tangan kirinya masih setia dengan lap pel.
"Jangan ngepel. Biar Lala aja. Tugas kamu cuma buat jaga Hasna," ucap Laila.
"Gak apa-apa, La. Kay belajar. Bersih kan?" tanya Kayla dengan bangga.
Laila segera memeluk Kayla. Ada rasa bangga dalam dirinya saat melihat rumah sudah rapi dan bersih saat ia sudah pulang. Namun lebih besar rasa bersalahnya. Ia merasa Kayla tidak seharusnya mengerjakan semua ini. Meskipun Laila sangat lelah setelah pulang kerja, namun ia lebih suka mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.
__ADS_1