
Laila memang tidak memakai pakaian yang terbuka. Tapi jarak mereka yang terlalu dekat membuat Bagus bisa melihat bagian dada Laila dengan sempurna meskipun tertutup baju. Otak Bagus sudah melayang jauh. Berharap bisa melakukan aksi lain dengan sukses tanpa diketahui Laila.
Bagus yang pernah berumah tangga merindukan apa yang sempat terjadi meskipun hanya beberapa kali. Namun Laila bukan miliknya. Itu diakui oleh Bagus. Sayangnya, posisi Laila saat ini sangat mengganggu kewarasan Bagus.
Tangan Bagus dengan ragu mendekati apa yang menjadi pusat perhatiannya. Beruntung Hasna mengetuk pintu mobil. Dengan cepat Bagus menyadarkan dirinya.
"Om, ngantuk." Hasna merengek.
"I-iya sebentar ya!" ucap Bagus gugup.
Bagus membangunkan Laila dengan menepuk pelan pipinya. Saat belum berhasil, Bagus menjepit hidung Laila dengan jarinya. Berhasil, Laila bangun dengan napas tersenggal.
"Bapak ngapain sih? Mau bunuh saya, ya?" tanya Laila sambil mengatur napasnya.
"Maaf, aku pikir kamu udah mati. Susah banget dibanguninnya. Hasna udah ngantuk tuh. Mana kunci rumah?" tanya Bagus.
"Astaga Hasna," ucap Laila.
Laila segera keluar dari mobil. Membuka pintu rumahnya dan membawa kedua keponakannya ke dalam. Bagus yang melihat tingkah Laila hanya mengerutkan dahinya. Ia bahkan tidak dianggap sama sekali.
"Udah di ajak jalan-jalan, udah di bayarin makan, dibelanjain, eh malah dicuekin." Bagus menggerutu kesal.
Bagus menarik napas dalam-dalam. Berusaha memaklumi sikap Laila yang begitu menyebalkan menurutnya. Dengan kesal Bagus menurunkan barang belanjaannya lalu menyimpannya ke dalam rumah.
"Laila, belanjaannya aku simpan di kursi ya! Jangan lupa kunci pintunya!" ucap Bagus.
Bagus menunggu jawaban Laila. Namun sampai berkali-kali Bagus memanggilnya, masih tidak ada jawaban. Bagus mencoba menelepon Laila namun ponselnya tertinggal di dalam mobilnya. Akhirnya Bagus berinisiatif untuk mengunci rumah kontrakan Laila dari luar dan membawa kuncinya pulang.
"Setidaknya malam ini kamu aman. Pintu rumah udah aku kunci," gumam Bagus.
Bagus pulang. Bayangan apa yang sudah dilakukannya membuat Bagus tersenyum bahagia. Ada rasa senang saat bisa mengecup dahi Laila meskipun Laila tidak ikut menikmati apa yang ia nikmati tadi.
Saat Bagus tidur, tiba-tiba ia dibangunkan dengan mimpi buruk. Dalam mimpinya, Bagus mendapat tamparan keras di pipinya. Tapi rasa sakit yang Bagus terima bukan karena tamparan Laila, melainkan karena Laila menamparnya di hadapan Chef.
Sakit yang dirasakan Bagus semakin menjadi saat Laila membandingkan sikap Bagus yang diam-diam mengecup keningnya dengan sikap Chef yang sangat baik. Bagus berkali-kali meminta maaf namun Laila masih tetap marah padanya.
Bagus terbangun dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Matanya melirik dinding kamar yang menunjukkan jam dua malam. Berkali-kali Bagus mengusap wajahnya dengan kasar. Berharap bayangan itu hilang.
Apa yang sebelumnya menyenangkan, tiba-tiba menjadi rasa bersalah yang teramat dalam. Masih terlihat jelas bagaimana Laila marah dan kecewa padanya. Bagus tidak siap dengan situasi seperti itu. Ia pun berjanji akan memperbaiki sikapnya.
"La, maaf ya. Aku janji gak bakalan gitu lagi. Aku janji gak bakalan manfaatin situasi lagi," ucap Bagus sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Bagus terbangun saat suara alarm terdengar nyaring di telinganya. Ia segera bangun saat ingat kunci rumah Laila ada padanya. Dengan cepat Bagus bersiap dan berangkat. Tak lupa ia membawa sarapan untuk Laila, Hasna dan Kayla.
"Pagi," sapa Bagus.
"Om," panggil Hasna ceria.
Seperti biasa, Hasna selalu memeluk Bagus dengan penuh kasih sayang. Hal yang selalu mengganggu Laila. Membuat ketakutan Laila menjadi-jadi setiap kali melihat Hasna dan Bagus terlalu dekat.
"Sarapan dulu," ucap Bagus.
Hasna dan Kayla segera melahap sarapan yang dibawa oleh Bagus. Sementara Laila hanya mengamati ketiganya sambil menyapu. Pemandangan yang tidak pernah ia dapati saat Hasna dan Kayla bersama Deri dulu.
Laila yang tahu jika kunci rumahnya dibawa oleh Bagus tidak terkejut dengan kedatangan Bagus pagi ini. Namun Laila terkejut saat Bagus membawakan sarapan bahkan sarapan bersama kedua keponakannya.
Hal lain yang tak pernah Laila bayangkan sebelumnya adalah saat Bagus mengantar kedua keponakannya ke sekolah. Padahal biasanya mereka berdua berangkat berjalan kaki tanpa diantar oleh siapapun.
__ADS_1
Kehadiran Bagus memang membawa pengaruh besar untuk kedua keponakan Laila. Mereka jauh lebih bahagia dengan adanya Bagus di tengah-tengah mereka. Bagus yang awalnya tidak terlalu suka dengan anak kecil, tiba-tiba merasa nyaman saat bersama mereka.
"Pak, gak usah terlalu dekat sama mereka. Harus berapa kali saya bilang sama Bapak?" ucap Laila saat Bagus sudah kembali ke rumahnya.
"Kamu gak lihat betapa mereka senang sama kehadiran aku? Mereka butuh aku," ucap Bagus.
"Tahu Pak, saya tahu. Tapi mereka akan kecewa kalau bapak tiba-tiba pergi. Saya cuma gak mau kalau mereka kecewa. Tolong Bapak ngerti dong," ucap Laila.
"Aku gak akan bikin mereka kecewa. Cuma kamu yang bisa bikin mereka kecewa," ucap Bagus.
"Saya menyayangi mereka dengan tulus. Jadi gak mungkin saya bikin mereka kecewa," ucap Laila.
"Kalau kamu mengecewakanku, aku akan pergi dan membuat mereka kecewa. Jadi, jangan buat aku kecewa kalau kamu gak mau mereka kecewa. Gimana?" ucap Bagus.
Ucapan Bagus terdengar menjadi sebuah ancaman bagi Laila. Ia merasa Bagus memanfaatkan Hasna dan Kayla untuk bisa membuat dirinya mengikuti semua kemauannya. Kesal, namun Laila tidak bisa berbuat apapun.
"Ayolah Laila, apa yang aku lakukan sama sekali tidak akan merugikanmu," ucap Bagus.
Ya, memang benar. Apa yang Bagus lakukan selama ini tidak pernah membuatnya rugi. Bahkan Bagus sering membantunya dari segi ekonomi. Namun Laila merasa dibatasi. Ia tak lagi bisa berteman dengan laki-laki manapun termasuk chef.
"La," panggil Rena.
Rena yang kebetulan melihat Bagus di rumah itu segera berdeham. Membuat Bagus salah tingkah sedangkan Laila bingung menjelaskan status dirinya dengan Bagus seperti apa.
Akhirnya Laila hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada Rena. Membiarkan Rena berasumsi dengan apa yang dilihatnya.
"Dia siapa?" tanya Bagus.
"Temen saya," jawab Laila.
"Oh," ucap Bagus.
"Eh, si Bapak dilihat-lihat makin sering ke sini. Ada niatan rujuk nih kayaknya," ucap Bu Rini.
"Iya Bu. Doain ya. Dalam proses nih," ucap Bagus.
"Waduh, ikut seneng dengernya. Ayo Pak semangat usahanya. Perbaiki kesalahannya Pak," ucap Bu Rini.
"Siap Bu," ucap Bagus.
Laila yang mendengar percakapan Bagus dan Bu Rini hanya mengepalkan tangannya. Ia kesal saat Bagus dengan sengaja mengiyakan dugaan Bu Rini. Seharusnya Bagus membantunya menjelaskan tentang kondisi dirinya. Namun kenyataannya Bagus malah ikut meyakinkan Bu Rini bahwa dirinya adalah seorang janda.
"Pak, bisa gak sih jangan bikin orang-orang jadi mikir jelek tentang saya? Berapa kali saya udah bilang kalau saya ini bukan janda. Mereka bukan anak saya," ucap Laila.
"Eh, kamu itu harusnya berterima kasih sama aku. Kalau aku bilang gak, pandangan mereka sama kamu makin buruk. Anak-anak tanpa Bapak. Bukan cuma kamu, tapi anak-anak juga bakalan ikut sakit hati. Kamu jangan egois Laila," ucap Bagus.
Laila terdiam dan mengusap wajahnya dengan kasar. Bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Bagus. Percuma ia bicara panjang lebar karena di kepala Bagus memang sudah terpahat bahwa dirinya adalah janda beranak dua.
"Ayo!" ajak Laila.
Sebenarnya Laila sudah kehilangan moodnya untuk pergi ke pasar. Namun Bagus tidak akan pulang selama ia belum melakukan apa yang diinginkan Bagus.
"Astaga Laila, bau sekali." Bagus menutup hidungnya saat melewati jongko sayuran.
"Ya udah kalau gitu kita pulang," ajak Laila sambil tersenyum.
Melihat Laila mencoba untuk mencuranginya, Bagus segera merogoh sakunya. Ia memakai masker agar penciumannya tidak terlalu terganggu dengan bau pasar yang aneh menurutnya.
__ADS_1
"Ayo lanjut!" ajak Bagus.
Laila menghela napas saat melihat Bagus berusaha tetap bertahan. Laila terus membawa Bagus muter di sekitar jongko sayuran. Berharap Bagus menyerah dan segera pulang.
"Laila, mau sampai kapan kita muter-muter di tempat sayuran? Tujuan kamu kan mau beli baju di pasar buat aku," ucap Bagus.
Laila menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ketahuan jika ia mencoba membuat Bagus menyerah. Bahkan Bagus menghitung berapa kali mereka melewati jongko sayuran itu. Akhirnya Laila yang menyerah. Ia segera pergi ke salah satu toko pakaian yang ada di sana.
Toko yang Laila kunjungi adalah toko langganannya. Barangnya bagus meskipun harganya murah. Setiap kali punya uang lebih, Laila selalu pergi ke toko itu untuk membeli pakaian kedua keponakannya.
"Aduh, Laila bawa siapa nih?" tanya pemilim toko.
"Kenalin Bu, saya calon suaminya." Bagus mengulurkan tangannya untuk mengenalkan dirinya.
Laila hanya bisa mengerutkan dahinya saat melihat Bagus melakukan hal itu. Ia bahkan belum menjawab pertanyaan pemilik toko.
"Waduh, calon suaminya ganteng banget. Wangi lagi," ucap pemilik toko.
"Ah biasa aja Bu," ucap Laila.
Jawaban Laila membuat Bagus kesal. Padahal Bagus berharap Laila bisa sadar bahwa ucapan pemilik toko itu memang benar. Meskipun sekarang badannya lebih gemuk, namun jenggot itu sudah dipangkas habis. Bagus juga mengenakan parfum terbaik yang ia punya. Tapi Laila sama sekali tidak senang dengan pujian untuk Bagus.
"Mau belanja apa nih? Jangan-jangan mau belanja buat seserahan ya?" goda pemilik toko.
"Gak Bu. Dia cuma mau beli baju buat ganti aja," jawab Laila.
Bagus mendengus kesal. Ia hanya melihat Laila memilih beberapa stel pakaian untuknya. Tidak terlalu buruk, meskipun sama sekali tidak ada brand yang biasa ia beli.
"Yang ini berapa?" tanya Laila sambil memegang kaos coklat.
"Seratus aja deh kalau buat calon manten," jawab pemilik toko.
"Ya ampun mahal banget. Tujuh puluh aja deh," tawar Laila.
Astaga Laila. Kira-kira kenapa jadi orang. Masa udah murah begitu ditawar lagi? Kamu pikir gampang apa bikin baju?
"Duh belum dapet. Sembilan puluh deh," ucap pemilik toko.
"Bu, saya mau beli banyak ini. Tujuh lima deh," ucap Laila.
"Ya udah tengah-tengah deh. Delapan puluh aja," ucap pemilik toko.
Bagus hanya mengernyitkan dahi saat melihat Laila adu harga dengan pemilik toko. Bahkan sampai menelan salivanya saat pemilik toko itu memberikan harga diskon untuk Laila.
"Kalau celana ini berapa?" tanya Laila membawa celana pendek selutut.
"Seratus dua puluh lima aja," jawab pemilik toko.
"Bu, pasnya dong. Masa mahal banget sih?" tanya Laila.
"Itu udah murah La. Sama kamu aja aku kasih segitu. Sama orang lain gak aku kasih," jawab pemilik toko.
"Pas aja deh seratus," tawar Laila.
"Jangan dong La. Kamu suka tega kalau nawar. Seratus dua puluh deh. Udah pas jangan ditawar lagi ya," ucap pemilik toko.
"Ya udah deh iya," ucap Laila.
__ADS_1
Bagus menggelengkan kepalanya saat melihat Laila adu harga dengan pemilik toko. Ada tiga stel pakaian yang dibeli Laila. Semuanya dapat potongan harga yang lumayan.
Seperti perjanjian sebelumnya. Bagus hanya boleh mencoba pakaian yang dipilihnya tanpa ikut campur urusan pembayaran. Bagus baru tahu kalau ini yang membuat Laila membuat perjanjian ini sebelum pergi ke pasar.