Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Masih newbie


__ADS_3

Laila berusaha sadar ditengah gempuran Bagus. Hal pertama yang Laila lakukan membuatnya terasa kaku. Hingga Bagus harus menjeda dan menatapnya kesal.


"Berapa lama sih kamu jadi janda? Masa mainnya begitu? Balas dong kecupanku," ucap Bagus.


Laila tidak menjawab. Ia hanya meraba bibirnya yang sudah tidak original lagi. Sudah ternoda oleh Bagus yang melahapnya dengan rakus. Bagus tidak tahu betapa berdebarnya hati Laila saat ini.


"Ma-maaf Mas, tapi aku..." Laila gugup dan menjeda ucapannya.


Ada pikiran untuk menyangkal tuduhan Bagus yang dilayangkan padanya. Ingin sekali Laila berteriak dan mengaku kalau dirinya bukan janda seperti yang dituduhkan Bagus. Namun semua itu hanya akan mengubah mood suaminya. Biarlah, Laila ingin Bagus tahu sendiri statusnya setelah semuanya terjadi.


"Tapi apa? Ayolah Laila. Apa kamu gak ngerasain betapa panasnya siang ini?" tanya Bagus sambil kembali mendekap Laila hingga membuat Laila harus menghela napas panjang.


"Mas," ucap Laila.


Ucapan yang kembali terhenti saat Laila sudah terbungkam dengan tingkah Bagus. Perlahan, Laila menutup matanya. Menyingkirkan rasa malunya saat harus beradu wajah sedekat itu dengan seorang pria. Laila berusaha bersikap lebih santai.


Perlahan Laila mulai membalas permainan Bagus. Meski tidak seperti yang Bagus inginkan, namun cukup membuat Bagus yakin jika Laila pun menginginkan hal yang sama. Jeda waktu yang lumayan lama membuat Laila mendorong Bagus.


"Engap Mas," ucap Laila sambil terengah-engah.


"La, kamu bisa napas pelan-pelan. Aku gak bau mulut kok. Gak usah kamu tahan napas sampai segitunya," ucap Bagus.


Duh, kamu ini gak ngerti banget sih Mas. Aku belum pernah beginian. Kamu nyamain aku sama orang yang udah pro. Aku ini newbie, Mas. Tolong mengertilah!


Tidak ingin membuat Bagus kesal, Laila melingkarkan tangannya di leher Bagus. Mendekat dan memulai permainan dengan sangat lembut. Sebisa mungkin menikmati semuanya walaupun kepalanya berpikir keras cara untuk membuat Bagus puas dengan kemampuannya saat ini.


Semua berjalan dengan baik. Sebelum tangan Bagus mulai nakal. Menyingkap sedikit demi sedikit bajunya. Hingga mata yang tertutup dan berusaha menikmati itu terbuka dan menjeda permainannya.


"Kenapa?" bisik Bagus di telinga Laila.


"Mas mau ngapain?" tanya Laila panik.


Hembusan napas Bagus yang sudah mulai memburu, membuat laki-laki itu tidak menjawab. Ia memilih melakukan hal yang sama sambil menuntun istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Karena semua kejadian itu terjadi sambil berdiri di balik pintu rumahnya.


Laila yang sudah mulai terbuai dengan permainan Bagus hanya mengikuti langkah suaminya. Semua berjalan dengan sangat sempurna tanpa membuat mereka berdua terpisah meskipub sambil berjalan. Bagus yang semakin merasa tertantang saat pintu kamar sudah tertutup, membawa Laila untuk berbaring di atas ranjang.


"Mas, aku masih palang merah." Laila kembali mengingatkan Bagus saat laki-laki itu sudah berada di atasnya.


"Sekali aja aku inget kok. Aku belum kakek-kakek, belum pikun. Aku tahu batasnya kok. Sampai sini kan?" tanya Bagus sambil menyentuh pusar Laila dengan bibirnya.


"Ah, iya Mas." Laila menutup wajahnya saat merasa ada sesuatu yang membuatnya semakin panas.

__ADS_1


Bagus dengan terampil menjelajahi perut ramping Laila. Mengamati betapa indahnya perut yang pernah mengandung selama dua kali. Tidak ada tanda-tanda apapun. Masih kencang dan sangat menantang. Apalagi saat sudah sampai ke bagian yang Bagus incar sejak tadi.


Kecil, kenyal dan masih sangat indah. Tidak terlihat seperti memiliki dua anak. Bagus sempat mengerutkan dahinya saat merasa sesuatu yang berbeda. Ada rasa berdosa saat pikiran Bagus melayang pada pernikahannya yang pertama.


Status yang belum mempunyai anak namun rasanya jauh berbeda dengan Laila. Apalagi saat Laila tidak sadar menjambak pelan rambut Bagus untuk mengekspresikan semua yang dirasakannya. Ah, Bagus menyudahi perbandingan itu. Ia merasa bersalah pada Laila karena sempat berpikir tentang masa lalunya saat sedang berdua mengadu rasa.


"La," ucap Bagus serak di sela aktivitasnya.


"Hemm," jawab Laila.


Laila tidak mau membuka mulutnya. Takut kalau seandainya suaranya bergetar dan membuat Bagus tahu apa yang terjadi. Saat ini Laila benar-benar nyaris dibuat tidak waras dengan setiap setiap sentuhan dan perlakuan suaminya.


Pertama kalinya Laila membiarkan seorang laki-laki menikmati apa yang ada pada dirinya. Tanpa penolakan sedikitpun. Bahkan Laila berharap semua ini tidak akan pernah selesai. Laila sangat menikmati semuanya. Namun Bagus sudah tidak bisa mengusai dirinya.


"Mas, masih palang merah." Laila segera mendorong Bagus saat terlihat sedang menyentuh resleting celananya sendiri.


"Iya tahu, tahu. Kupingku sampai panas denger kamu ngomong yang itu-itu aja. Kamu tenang aja La," ucap Bagus.


"Terus itu? Ngapain?" tanya Laila sambil menunjuk celana Bagus.


"Yang palang merah itu kamu. Aku gak. Boleh dong aku buka? Anggap aja ini DP. Dipegang-pegang aja dulu. Latihan biar kamu gak grogi lagi nanti," ucap Bagus.


"Tapi apa? Mau udahan aja? Cicilannya sampai sini dulu?" tanya Bagus kesal.


"Ah bukan gitu Mas. Ayo lanjut!" ajak Laila.


"Lanjut apa?" goda Bagus yang senang melihat wajah Laila memerah.


"Nyicilnya," jawab Laila sambil menunduk.


Astaga. Aku harus gimana ya? Masa iya aku harus tutup mata? Duh, Mas Bagus ini kebangetan. Katanya nyicil. Kok DPnya banyak banget sih?


Laila berusaha tenang saat Bagus membuka semuanya. Menunjukkan apa yang belum pernah Laila lihat sebelumnya. Namun terlalu lama berdebat, membuat pusaka Bagus lembek kembali.


Beberapa kali Laila menelan salivanya. Melihat si pusaka itu dalam keadaan sedang tidur. Sampai muncul kerutan di dahi Laila. Membuat Bagus mengangkat wajah Laila.


"Kenapa ekspresinya begitu?" tanya Bagus.


"Kok begitu Mas? Kamu gak impoten kan Mas?" tanya Laila.


"Astaga Laila, amit-amit. Kamu kalau ngomong ya jangan begitu kenapa sih? Bikin ngeri aja," jawab Bagus.

__ADS_1


"Maaf Mas. Tapi dari tadi kita udah ini dan itu tapi kok gak keras sih?" tanya Laila polos.


Bagus menepuk dahinya. Ia menggerutu saat Laila dengan polosnya menyalahkan dirinya atas kelemahan pusakanya. Padahal semua terjadi karena Laila yang dengan sengaja beberapa kali menjeda semuanya. Membuat si pusaka yang sudah mengeras harus kembali lembek.


"Kamu lihat ini!" ucap Bagus.


Ingin membuktikan jika dirinya tidak impoten, Bagus kembali membuat Laila terbang melayang. Tidak sedikitpun memberi jeda pada Laila. Membiarkan wajah polos itu menikmati semuanya hingga ia benar-benar menyaksikan si pusakan berubah mengeras.


"Mas, jadi gede. Kok bisa berubah begini ya?" tanya Laila.


"Gak usah banyak ngomong La," jawab Bagus menahan kesal.


Tidak ingin istrinya semakin menjadi dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya, Bagus kembali membungkam Laila. Pelan, Bagus mengajari cara memegang dan memainkan si pusaka. Laila melakukan yang terbaik sebisanya meskipun Laila merasa sedikit jijik saat tangannya terasa lengket.


Bagus mengajari Laila cara seperti saat ia sendiri. Meskipun Bagus tidak melakukan semua secara sempurna, namun paling tidak ini jauh lebih enak dibanding melakukannya sendiri. Laila terbuai dengan sentuhan demi sentuhan yang dilakukan Bagus sampai akhirnya ia dibuat terkejut saat perutnya hangat disembur si pusaka.


"Eh mas apaan tuh?" tanya Laila.


"Kayak jaja miharja aja," jawab Bagus sambil terbaring lemah di samping Laila.


Laila terlihat meringis saat melihat perutnya ditumpahi sesuatu yang pertama kali ia lihat. Dengan cepat Laila membersihkan perutnya. Setelah keluar dari kamar mandi, Laila terkejut saat melihat Bagus sudah kembali mengenakan pakaiannya dengan lengkap.


"Kenapa cemberut gitu? Kok kayak yang gak seneng sih dapat cicilan dariku?" tanya Bagus sambil mengambil handuk.


"Udahan ya Mas?" tanya Laila.


"Iya. Nanti malam boleh nyicil lagi ya!" pinta Bagus.


"Sekarang juga boleh," jawab Laila.


"Udah lemes," jawab Bagus.


"Tapi aku belum," ucap Laila polos.


Bagus menatap Laila dengan mata membulat sempurna. Bagaimana bisa Laila mengatakan semua itu dengan begitu polos? Mau berapa lama pun Bagus tidak akan membuat Laila puas selama palang merah belum selesai.


"Nanti ya tunggu palang merah selesai. Aku bikin kamu lemes juga," ucap Bagus.


"Ah Mas curang. Masa Mas sekarang aku nanti?" tanya Laila.


Bagus menepuk dahinya. Ia berpikir apa pengetahuannya masih kurang dibanding dengan Laila? Apakah sebagai janda anak dua Laila punya trik agar bisa mencapai titik puas meskipun tanpa menyentuh area intinya? Ah Bagus merasa dirinya begitu terhina dengan keinginan Laila.

__ADS_1


__ADS_2