Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Mang Bro


__ADS_3

Yanti menatap Laila yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Anak yang pertama kali ditemuinya masih kelas satu SD kini sudah tumbuh menjadi anak remaja yang cantik. Sayangnya Laila belum bisa merawat diri seperti teman sebayanya.


"La, coba pakai bedak deh. Dandan gitu. Kamu itu cantik," ucap Yanti.


"Dih, memangnya mau kemana?" tanya Laila sambil mengerutkan dahinya.


"Ya gak kemana-mana. Tuh lihat si Leha. Kalau sore bibirnya sampai merah. Cakep gitu kelihatannya," ucap Yanti.


"Bibir merah kok cakep sih? Ngeri Kak, kayak drakula yang abis nyedot darah." Laila bergidik.


Yanti hanya tertawa mendengar ucapan Laila. Waktu yang akan membuat Laila mengerti tentang make up. Mungkin sekarang belum waktunya. Laila belum tertarik pada lawan jenis hingga belum bisa merawat diri.


"La, udah punya pacar belum?" tanya Yanti.


"Emang apa untungnya punya pacar?" Laila balik bertanya.


"Pacar, pacar. Cari duit yang bener," ucap Deri dengan sinis.


Laila sama sekali tidak menghiraukan ucapan Deri. Bahkan ia sudah berniat untuk tidak menganggap Deri ada di dunia ini. Bukan tanpa alasan, semua terjadi karena dari hari kenhari sikap Deri semakin membuatnya sakit.


"Bang," ucap Yanti mengingatkan.


Laila yang tidak ingin mendengar apapun memilih pergi. Entah kemana langkahnya akan berjalan, namun Laila ingin menjauh dari rumah.


Setelah Laila pergi, Yanti dan Deri berdebat. Hal itu tentu membuat Bu Rini menjadi sedih dan serba salah. Sikap Deri memang semakin keterlaluan. Ingin rasanya Bu Rini membawa Laila pergi jauh agar masalah seperti ini tak harus selalu terjadi.


"Yan, lain kali kalau suamimu begitu jangan dilayani. Laila saja diam. Kamu juga diam saja," ucap Bu Rini.


"Bu, aku tahu ibu sakit. Aku aja yang kakak iparnya sakit. Bang Deri memang keterlaluan," ucap Yanti kesal.


Benar apa kata Yanti. Saat ini hatinya memang sedang menangis. Hancur rasanya melihat Deri bersikap seperti itu pada Laila. Namun Bu Rini sudah tidak bisa mengendalikan Deri lagi.


Malam ini Deri tidak pulang. Hal yang sudah tidak aneh bagi Yanti. Setiap kali terjadi perdebatan, Deri memilih pergi. Apapun masalahnya. Apalagi saat Yanti dan Bu Rini selalu membela Laila.


Laila baru pulang saat jam delapan malam. Itu pun karena Yanti meneleponnya dan memintanya pulang. Laila terlihat lesu saat pulang ke rumah. Yanti segera memeluk Laila dan meminta maaf atas sikap Deri.


"Kak Yanti gak salah kok. Tenang aja," ucap Laila.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" tanya Yanti.


"Aku udah cari kerja," jawab Laila.


Yanti dan Bu Rini terkejut saat mendengar jawaban Laila. Bu Rini harus mengurungkan niatnya untuk membawa Laila pergi jauh, karena Laila sendiri sudah memutuskan untuk pergi jauh dari rumah itu.


"Kamu mau kemana? Kerja apa? Dimana?" tanya Bu Rini.


"Jadi pembantu Bu di Jakarta," jawab Laila.


"La, Jakarta itu kota besar. Kamu gak punya siapa-siapa di sana," ucap Bu Rini.


"Ibu tenang aja. Aku sama orang baik kok," jawab Laila.


"Kamu tahu dari mana dia orang baik?" tanya Yanti.


"Pamannya Bang Yanto yang kerja di ekspedisi itu jadi tukang kebun di Jakarta. Katanya yang punya rumah butuh jasa pembantu. Kakak tahu Bang Yanto kan?" tanya Laila.


"Yanto? Gak," jawab Yanti sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu yang kerja di ekspedisi tempat kita kirim paket. Masa gak tahu? Orang dia naksir berat kok sama Kakak. Saran aku sih kalau Kakak udah gak kuat sama sikap Bang Deri mending sama Bang Yanto aja," ucap Laila.


Laila segera masuk ke kamar. Membereskan pakaian yang akan dibawanya ke Jakarta besok pagi. Tidak terlalu banyak karena ia berangkat sendiri naik angkutan umum.


Sebenarnya Laila takut jika seandainya ia tidak sampai ke tempat tujuannya. Ini pertama kalinya Laila harus pergi sendirian. Namun rasa sakit hati dan lelah atas ocehan Deri membuat nyalinya sedikit menguasai dirinya.


"Yan, bujuk Laila biar gak jadi berangkat. Ibu takut," ucap Bu Rini.


"Iya. Ibu tenang aja. Nanti aku bujukin ya," ucap Yanti.


Bukan hanya Bu Rini, sebenarnya Yanti juga khawatir. Takut kalau seandainya keputusan Laila yang mendadak ini akan berakhir buruk. Apalagi Laila baru lulus SMP. Bahkan ijazah pun belum diambil.


Yanti memang tidak mengkhawatirkan kinerja dan kejujuran Laila dalam bekerja. Namun ia takut jika kepolosan Laila dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


"La, kakak tahu sikap Bang Deri memang keterlaluan. Tapi coba kamu pikir ulang. Masa iya kamu tega ninggalin ibu di sini?" bujuk Laila.


"Kalau aku di sini, ibu akan semakin terluka. Aku tahu meskipun ibu gak bela aku di depan Bang Deri, tapi ibu sakit saat aku dikatain begitu. Kenapa aku gak pernah marah atau nangis? Karena aku gak mau ibu lebih sakit. Tapi lama-lama diem, aku makin kesiksa. Aku harus pergi kak," ucap Laila.

__ADS_1


Bujukan Yanti sudah sampai titik darah penghabisan namun Laila tetap dengan keputusannya. Yanti tidak bisa berbuat apa-apa. Karena di satu sisi, apa yang dikatakan Laila memang benar. Tapi apa mungkin Laila harus menjadi seorang pembantu di usianya yang masih belasan tahun?


Setelah penuh drama dan derai air mata, Laila pamit pagi itu. Dimana Deri belum kembali ke rumah. Kesempatan yang bagus karena Laila pun tidak ingin membuat moodnya pagi itu jadi berantakan.


Pelukan erat nan hangat seorang ibu membuat hati Laila sangat sakit. Berat rasanya harus berpisah dengan malaikat tak bersayapnya. Padahal saat ini orderan kue sedang banyak. Seharusnya Laila ada di sana untuk membantu ibunya. Memperbaiki kondisi ekonomi tanpa harus merasakan sakit seperti ini.


Aku harus kuat. Lebih sakit sekali dari pada aku jadi gila karena kesiksa sama sikap dan ucapan Bang Deri.


"Aku pergi ya. Takut ketinggalan mobil," ucap Laila.


Lambaian tangan dan tangisan Bu Rini membuat Laila mengepalkan tangannya. Laila berusaha menguatkan dirinya sendiri. Masalah Bu Rini, masih ada Yanti. Laila percaya Yanti akan menjaga Bu Rini.


"Aku pasti telepon ibu tiap hari," ucap Laila sambil melambaikan tangan.


Mobil yang membawa melaju semakin menjauh. Perlahan sosok wanita yang sangat ia sayangi itu hilang. Kini tinggal sakit yang mendalam. Bahkan Laila beberapa kali menyeka air matanya.


Dulu Laila berpikir jika hal seperti ini hanya ada di ftv. Namun ternyata kini ia sendiri yang mengalami semuanya. Membawa alamat yang harus ditujunya di selembar kertas yang diberikan Yanto.


Laila naik angkot sesuai dengan tempat tujuannya. Setelah itu ia berjalan cukup jauh dari tempat pemberhentian angkot. Melewati beberapa deret rumah mewah yang belum ia lihat di kampungnya.


Meskipun Laila sempat di tahan saat akan masuk ke rumah itu, akhirnya Laila masuk. Pamannya Yanto mengenalkan Laila pada satpam yang bertugas di sana.


"Oh, maaf Mang. Saya pikir dia bukan orang yang ditunggu Bos," ucap satpam.


Rudi. Nama yang tertulis di pakaian yang dikenakan laki-laki itu adalah Rudi. Laila menganggukkan kepala sambil mengulurkan tangannya sambil mengenalkan dirinya. Rudi pun menyambut uluran tangan Laila dengan senyum ramah.


"Pak, ini saya kemana lagi nih?" tanya Laila.


"Panggil Mamang saja. Jangan Pak, Pak, Pak begitu. Saya bukan bosnya. Saya cuma tukang kebon," jawabnya.


"Aih, memangnya aturannya harus begitu ya?" tanya Laila.


"Ya begitu," jawabnya.


"Eh, Mamang siapa namanya?" tanya Laila.


"Panggil Mang Bro aja. Biar keren," jawab Mang Bro.

__ADS_1


Sebenarnya laki-laki itu bernama Jajang. Hanya saja nama itu terlalu pasaran dan sering dibully. Makanya Jajang lebih suka mengenalkan dirinya sebagai Mang Bro.


__ADS_2