Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Jakarta lagi


__ADS_3

"Mas dari mana sih? Kok lama?" tanya Laila.


"Lihat-lihat toko dulu. Kenapa? Kamu mau sesuatu?" tanya Bagus.


"Gak Mas. Aku cuma mau pulang. Kayaknya aku masuk angin deh," jawab Laila sambil memijat tengkuknya.


Melihat Laila yang pucat, Bagus segera membantu Laila memijat tengkuknya. Setelah Laila merasa nyaman, Bagus mengajak Laila untuk pulang dan beristirahat di rumah. Bagus sering menonton Youtube. Meskipun mereka tidak selalu bersama, namun Bagus berusaha menjadi suami dan ayah idaman.


"Mas, maaf ya jadi ngerepotin gini." Laila memegang tangan Bagus saat sampai di kamar.


"La, kayak sama siapa aja. Aku ini suami kamu. Gak ada yang ngerepotin dong," ucap Bagus.


"Harusnya Mas ke sini kan dilayani sama aku. Bukannya malah mijitin aku gini," ucap Laila.


"La, kamu ini lagi hamil. Dulu sebelum hamil, kamu juga ngurus aku kok. Udah ah jangan banyak perhitungan gitu," ucap Bagus.


Laila tersenyum. Ia bersyukur saat Bagus mengerti keadaannya. Setelah tahu jika di tubuhnya sedang ada kehidupan buah hatinya, Laila merasa lemah. Ia tidak sekuat dulu. Mudah tersinggung dan lelah. Kadang sedih dengan keadaan itu, namun ia menyadari semua adalah bagian dari jalan hidupnya.


"Mas, aku manja ya?" tanya Laila.


"Gak. Kata siapa?" Bagus balik bertanya.


"Aku ngerasa gitu aja Mas," jawab Laila.


Bagus menggenggam tangan Laila dengan erat. Ia mengecup punggung tangan wanita yang sangat ia cintai itu. Bagus dengan penuh cinta menjelaskan bahwa rumah tangga itu tidak selalu harus istri yang melayani suami. Ada waktunya suami harus punya waktu untuk melayani istri.


"Mas aku gak tahu kalau bukan kamu yang jadi suamiku," ucap Laila.


"Heh, terus kamu pikir mau jadi istri siapa kalau bukan istriku?" tanya Bagus dengan wajah cemburu.


Bukan menjawab, Laila malah tertawa keras saat mendengar pertanyaan Bagus. Lalu tiba-tiba tawanya terhenti dan berakhir dengan air mata. Hal itu membuat Bagus bingung. Sikap Laila begitu mudah berubah.


"Kamu kok jadi nangis sih?" tanya Bagus bingung.


"Kalau gak dinikahin Mas, mungkin aku masih jadi perawan tua. Kutukan itu masih tetap abadi mungkin," jawab Laila sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Kutukan?" tanya Bagus.


Laila pun menceritakan kisah tentang kutukan yang selama ini menjadi ketakutannya. Namun akhirnya semua ketakutan itu hilang saat Bagus menikahinya. Kutukan itu sudah berakhir.


Setelah mendengar cerita Laila, Bagus justru tertarik pada laki-laki yang sudah mengutuk Laila itu. Dimana laki-laki yang dimaksud adalah Deri, ayah kandung dari Hasna dan Kayla.


"Dimana dia sekarang?" tanya Bagus.


"Gak tahu," jawab Laila sambil menggeleng.


Berbeda dengan Laila yang tidak ingin bertemu dengan Deri, Bagus justru ingin sekali bertemu dengan laki-laki itu. Apalagi status Deri adalah kakak iparnya.


"Bukan Mas. Dia bukan kakak ipar kamu," jawab Laila.


Laila pun menjelaskan apa hubungan mereka berdua. Mereka hanya satu ibu tapi beda ayah. Tanpa malu, Laila juga menceritakan tentang kehadirannya yang disebut sebagai anak haram. Bagus baru tahu cerita sampai sedetil itu dari Laila.


"Mas gak nyesel kan nikahin aku?" tanya Laila saat melihat Bagus hanya diam tanpa komentar apapun.


Menyesal? Ya, mungkin Bagus memang menyesal. Namun penyesalan itu bukan karena sudah menikahi Laila. Ia hanya menyesal baru tahu cerita hidup tentang istrinya. Seandainya ia tahu bagaimana pahitnya hidup Laila, sudah sejak dulu ia yakin untuk menikahinya.


"Terima kasih ya Mas," ucap Laila.


Dengan penuh kasih sayang Laila mengusap wajah suaminya. Pria yang sudah mencintai dan menerima keadaannya. Ah, entah harus dengan cara apa Laila berterima kasih pada Bagus. Bagi Laila, Bagus adalah cahaya kehidupan setelah gelapnya hidup yang sudah Laila lalui selama ini.


"Mama sakit?" tanya Hasna.


Hasna yang baru saja pulang sekolah segera menemui Laila saat tahu keadaan Laila dari Bi Sumi. Bagus bisa merasakan setulus apa Laila pada Hasna hingga anak itu bisa membalas semua ketulusannya.


"Hasna ganti baju dulu yu! Biarin Mama istirahat," jawab Bagus.


Bagus mengajak Hasna keluar. Membiarkan Laila istirahat di kamar. Tanpa sepengetahuan Laila, Bagus mencari tahu tentang Deri pada Kayla. Awalnya Kayla hanya menggeleng saat Bagus menyebut nama Deri.


"Dia papamu kan?" tanya Bagus pada Kayla.


Sengaja hanya Kayla yang diajak bercerita. Hasna masih SD. Menurut Bagus, tidak baik kalau sampai harus terlibat soal bicara tentang masa lalunya.

__ADS_1


"Papa gak mau jadi Papa aku lagi ya?" tanya Kayla sambil menunduk.


"Jangan mikir sejauh itu. Itu adalah sebuah ketidakmungkinan Kay. Papa akan selalu menjadi Papa kamu. Sampai kapanpun. Tapi kamu harus ketemu sama dia. Bagaimanapun, kamu adalah darah dagingnya. Kamu tahu dimana dia sekarang?" tanya Bagus.


Kayla hanya menggeleng. Ia bukan hanya tidak tahu. Baginya ia sudah tidak mau tahu sama sekali soal ayah kandungnya. Saat itu Kayla sudah mulai mengerti saat melihat sikap Deri yang dingin dan seolah tidak peduli padanya. Ia melihat bagaimana keadaan keluarganya dulu. Meskipun ia belum begitu mengerti, tapi ia tahu Deri bukanlah ayah yang baik.


"Jangan kayak dia ya Pah. Sayangi Mama Laila kayak gini terus. Kalau Mama sakit, aku juga ikut sakit. Bukan cuma sakit, aku pasti akan jadi oranh yang benci sama Papa." Kayla menatap lekat Bagus dengan mata yang berlinang.


"Sayang, maafin Papa." Bagus menggenggam tangan Kayla.


Wajah Kayla terlihat begitu sedih. Namun Bagus meyakinkan Kayla bahwa pertanyaannya soal Deri tidak akan mengubah keadaan. Ia akan menjadi Bagus yang seperti ini apapun keadaannya.


Seminggu di Surabaya membuat Bagus tahu banyak hal. Padahal sebelumnya Bagus sama sekali tidak berencana untuk mencari tahu semua itu dari Laila. Bagus menerima Laila apapun keadaan dan masa lalunya. Ia mencintai Laila apa adanya.


Waktu seminggu bukanlah waktu yang singkat saat ia di Jakarta. Seminggu terasa sangat lama dan membosankan. Namun saat di Surabaya, Bagus merasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah waktunya Bagus kembali ke Jakarta. Menghabiskan waktu untuk bekerja. Menata masa depannya meskipun taruhannya adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan Laila.


"Mas hati-hati ya!" ucap Laila.


Seperti biasa, lambaian tangan dan pelukan Laila membuat Bagus merasa semakin berat untuk pergi. Kalau saja tidak memikirkan masa depan buah hatinya, Bagus tentu akan tinggal di Surabaya. Meninggalkan semua yang ada di Jakarta begitu saja.


"Jaga diri kamu sama anak-anak ya! Kalau ada apa-apa jangan lupa cerita sama aku," ucap Bagus.


"Siap Mas," ucap Laila.


Bagus pergi saat Laila sudah melepaskan pelukannya. Bayangan Laila semakin jauh hingga tidak nampak lagi dalam pandangannya. Namun bajunya yang basah membuat Bagus merasa Laila masih ada dalam pelukannya.


"La, aku janji semua akan berubah. Kita gak bakal gini terus," ucap Bagus meyakinkan dirinya sendiri.


Bukan hanya Bagus, Laila juga merasakan hal yang sama. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berpisah. Namun Laila sudah merasakan rindu yang teramat dalam.


"Bi, Mas bagus kapan pulangnya lagi ya?" tanya Laila sambil melamun dengan tatapan kosong.


"Baru juga berangkat Bu," jawab Bi Sumi.


Laila cemberut mendengar jawaban Bi Sumi. Sungguh harapan yang tidak sesuai dengan harapannya.

__ADS_1


"Jakarta lagi, Jakarta lagi. Sebentar banget sih di sininya," geruru Laila.


__ADS_2