Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Youtube


__ADS_3

Saat Bagus pulang, Bi Sumi izin untuk ikut pulang dulu. Alasannya karena ada barang yang harus dibawa. Padahal Bi Sumi hanya mencari alasan agar bisa mengobrol dengan Bagus.


"Pak ayo Pak," ajak Bi Sumi saat sudah jam sepuluh.


Bagus terlalu betah di rumah Laila. Padahal Bagus datang sebelum Laila dan Hasna berangkat sekolah. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang. Tapi Bagus masih anteng saja.


"Iya ayo!" ucap Bagus dengan nada kesal.


Saat di jalan, Bagus diam. Ia masih kesal karena Bi Sumi tidak bisa diajak kerja sama. Awalnya Bagus masih ingin lama berada di sana. Minimal sampai Hasna dan Kayla pulang sekolah. Namun saat Bi Sumi menceritakan alasannya mengajak Bagus untuk pulang, senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Tapi sebelumnya Bibi tanya dulu serius nih Pak. Bapak sebenarnya serius gak sama Laila? Soalnya Laila anak baik. Bibi gak terima kalau Bapak cuma manfaatin dia aja," ucap Bi Sumi.


"Memangnya saya kelihatan jahat begitu ya, Bi?" tanya Bagus.


"Ya bukannya apa-apa Pak. Kan Bapak sendiri yang bilang kalau Laila itu dipakai jadi alat balas dendam Bapak ke mantan istri Bapak," jawab Bi Sumi.


Bagus pun mengakui semuanya. Awalnya Bagus memang hanya butuh Laila sebagai alat untuk balas dendam. Namun waktu mengubah semuanya. Kebersamaannya dengan Laila membuat Bagus merasa nyaman. Bahkan jarak yang terbentang diantara mereka sudah bisa memberikan kerinduan untuk Bagus.


"Kalau gitu Bapak harus cepet-cepet. Kalau gak, Bibi takutnya bapak keduluan." Bi Sumi memanas-manasi Bagus.


"Keduluan siapa? Memangnya Laila udah punya pacar ya? Belagu bener janda aja punya pacar," ucap Bagus kesal.


Janda, janda aja. Gak tahh aja Bapak siapa Laila. Dia perawan tingting Pak. Biar tahu rasa nanti pas malam pertama.


"Memangnya gak boleh ya kalau janda punya pacar? Bapak juga duda boleh kok punya pacar. Terus kenapa Bapak gak punya pacar?" tanya Bi Sumi.


"Apaan sih Bi, kok jadi aku yang dipojokin begini?" tanya Bagus semakin kesal.


Bi Sumi hanya tertawa melihat tingkah Bagus. Laki-laki berumur dengan status duda yang terlihat bagai anak ABG. Jatuh cinta memang membuat Bagus berubah. Bi Sumi sudah lama bekerja dengan Bagus. Dan dibawa ke Surabaya sejak tanah yang diinginkannya bisa jatuh ke tangannya.


Setidaknya Bi Sumi sudah tahu banyak hal tentang Bagus. Kebiasaan dan hal yang tidak biasa Bagus lakukan. Makanya, saat bertemu dengan Laila Bi Sumi tahu betul jika Bagus mencintai Laila.


"Maaf Pak maaf. Abisnya saya gemes sama Bapak. Kenapa sih Bapak gak bilang aja kalau Bapak suka sama Laila?" tanya Bi Sumi.


"Males, dianya cuek. Kayaknya karena dia udah punya pacar juga Bi. Memangnya siapa sih pacarnya Laila? Apa si tukang masak itu ya?" tanya Bagus.


Bi Sumi tertawa. Ia memang tidak yakin kalau Chef itu adalah pacar Laila. Hanya saja, selama Laila tidak ada, laki-laki itu tiga kali ke rumah kontrakannya. Membawakan makanan dan jajanan untuk Hasna dan Kayla. Walaupun Bi Sumi tidak bicara banyak hal dengan Chef itu, tapi setidaknya Bi Sumi tahu kalau laki-laki itu punya kepedulian tersendiri pada Laila.


"Yang Bibi khawatirkan cuma satu. Dia pendekatannya sama Hasna dan Kayla. Dimana mereka berdua adalah kelemahan Laila," ucap Bi Sumi.


"Wah, enak saja. Orang mereka manggil saya Papa kok," ucap Bagus.

__ADS_1


"Tapi belum ada ikatan resmi kan kalau Bapak akan jadi Papa mereka," ucap Bi Sumi.


Bagus terdiam. Ya, hubungan yang mereka jalani hanya kerja sama saja. Bahkan untuk pertemanan pun, Bagus tidak yakin jika Laila menganggapnya teman. Tapi apa langkah yang harus Bagus ambil?


"Kalau sama Laila jangan kebanyakan kode Pak," ucap Bi Sumi.


"Masa iya saya harus ngomong langsung sih Bi? Masa begitu aja Laila gak peka?" tanya Bagus.


"Loh pada kenyataannya memang begitu kan Pak?" tanya Bi Sumi.


Bagus harus mengakui jika Bi Sumi adalah suhu dalam hal percintaan. Sepertinya keputusan Bagus untuk meninggalkan Bi Sumi di rumah Laila selama seminggu adalah keputusan terbaik. Akhirnya Bi Sumi tahu banyak hal tentang Laila dan kehidupannya.


"Terus saya harus gimana?" tanya Bagus.


"Ya langsung aja," jawab Bi Sumi.


"Langsung bilang suka gitu?" tanya Bagus.


"Iya," jawab Bi Sumi.


"Kalau dianya gak suka gimana?" tanya Bagus.


"Ya itu resiko Pak," jawab Bi Sumi.


"Lagian sejak kapan sih Bapak insecure begitu? Bapak itu punya semunya. Harta banyak, baik iya, sayang anak juga udah. Apa lagi coba?" tanya Bi Sumi.


"Tapi kan aku gak tahu selera si Laila kayak gimana. Kalau tahu-tahu suka sama yang jago masak? Aku bisa apa? Paling juga masak aer," jawab Bagus.


Bi Sumi tertawa. Tidak ada kalimat Bi Sumi yang meyakinkan Bagus kalau Laila akan mempunyai perasaan yang sama. Tapi akan lebih lelah kalau seandainya Bagus terus mengulur waktu. Bi Sumi hanya meyakinkan Bagus bahwa Laila butuh laki-laki yang bertanggung jawab.


Malam ini Bagus punya kesempatan untuk kembali ke rumah Laila. Mengantarkan Bi Sumi yang akan menginap lagi di rumah Laila. Bi Sumi mengajak Hasna dan Kayla untuk mengerjakan PR. Sengaja agar Bagus punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya sama Laila.


Bagus pamit setelah jam delapan malam. Bi Sumi tersenyum saat melihat Bagus pulang. Namun Bagus nampak menggelengkan kepalanya saat menoleh ke arah Bi Sumi.


Hah? Pak Bagus ditolak? Masa iya sih? Tinggi juga selera si Laila sampai Pak Bagus ditolak.


Setelah Hasna dan Kayla tidur, Bi Sumi mengajak Laila bercerita. Awalnya Bi Sumi hanya bercerita tentang masa mudanya. Sampai akhirnya ia bisa masuk ke pertanyaan tentang hubungan Laila dan Bagus.


"Memangnya tipe Laila yang kayak gimana sih?" tanya Bi Sumi.


"Ah, kayak orang hebat aja pake punya tipe. Udah ada yang mau sama saya aja udah syukur alhamdulilah Bi," jawab Laila.

__ADS_1


"Terus Pak Bagus masuk dong?" tanya Bi Sumi.


"Masuk kemana?" tanya Laila.


"Ya maksudnya bisa juga kalau daftar jadi calon suaminya Laila," jawab Bi Sumi.


"Bibi ini ngaco. Yang ada aku daftar jadi karyawannya. Pak Bagus kan mau bikin toko kue," ucap Laila.


Bi Sumi pun terus memancing Laila. Mencari tahu bagaimana perasaannya pada Bagus. Sejauh pengamatan Bi Sumi, Laila memang tidak mempunyai ketertarikan tersendiri pada Bagus. Tapi Laila juga tidak menganggap chef itu spesial. Artinya Bagus masih punya harapan.


Setelah Laila tidur, Bi Sumi segera menghubungi Bagus melalui sambungan telepon. Sebelum memberi tahu informasi yang diterimanya, Bi Sumi bertanya tentang alasan sikap Bagus sepulang dari rumah Laila.


"Bapak ditolak?" tanya Bi Sumi.


"Saya gak ngomong apa-apa. Bingung ngomongnya gimana," jawab Bagus.


"Aduh Pak, saya pikir Bapak berani. Ternyata menghadapi Laila aja udah gemeteran duluan," ucap Bi Sumi.


Setelah tahu jika Bagus belum sempat menyatakan perasaannya, Bi Sumi menceritakan apa yang diketahuinya. Sampai saat ini Laila memang belum sempat berpikir untuk menikah. Laila hanya khawatir kalau setelah menikah, Hasna dan Kayla kurang perhatian.


Selama ini, Hasna dan Kayla hanya memiliki Laila. Jadi ia benar-benar khawatir jika suatu saat ia akan berubah dan berimbas pada kedua keponakannya. Mereka masih sangat kecil dan butuh kasih sayang Laila.


"Aku udah siap kok sayang sama mereka. Sekarang aja mereka udah manggil aku Papa," jawab Bagus.


"Ya Bapa bilang dong sama Laila. Yakinkan dia," ucap Bi Sumi.


"Duh, susah. Aku bingung mulainya gimana," ucap Bagus.


"Ya terserah Bapak sih. Cuma jangan nyesel kalau tiba-tiba ada yang nyalip," ucap Bi Sumi.


Bi Sumi berusaha memanas-manasi Bagus. Niatnya hanya ingin membangun rasa percaya diri majikannya itu. Bi Sumi menjadi saksi betapa terpuruknya hidup Bagus setelah kegagalan dalam rumah tangganya.


Tak banyak yang tahu, bahkan mungkin tidak ada yang tahu sama sekali tentang keterpurukan Bagus. Di hadapan setiap orang, Bagus selalu terlihat baik-baik saja namun tidak saat sedang di rumah. Semua keadaan itu berubah drastis saat Laila hadir dalam hidup Bagus. Itu yang membuat Bi Sumi yakin jika Laila memang wanita yang tepat untuk Bagus.


Semalaman Bagus berpikir tentang cara yang harus dilakukannya. Ini pertama kalinya Bagus harus melakukan hal yang menggelikan menurutnya. Apalagi di usianya yang sudah bukan ABG lagi. Dulu, Winari yang mendekatinya. Tanpa ada kata ini dan itu mereka bahkan melangkah sampai ke pernikahan. Hal itu karena Winari agresif. Sedangkan Laila pasif.


Dua wanita yang berbeda. Pengalaman yang berbeda pula untuk Bagus. Wajar jika Bagus tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Namun Bi Sumi ikut tak sabar melihat sikap Bagus. Pasalnya chef itu punya perasaan yang sama dengan Bagus. Dan menurut Bi Sumi, laki-laki itu punya keberanian yang lebih jika dibanding dengan Bagus.


Tentu hal itu menjadi sebuah ketakutan tersendiri untuk Bi Sumi. Ia takut jika Bagus akan kehilangan kesempatan untuk bisa menikahi Laila. Saat ini Laila butuh orang yang bisa meyakinkannya. Jika bagus telat, besar kemungkinan chef itu yang akan duluan.


Besok paginya Bagus tidak ke rumah Laila. Ia sengaja menunggu Laila di kantor. Tidak ada Pak Jacob, tidak ada Bi Sumi. Bagus sudah berlatih cara untuk mengungkapkan perasaannya pada Laila. Tak tanggung-tanggung Bagus melihat beberapa cara itu dari youtube.

__ADS_1


Separah itukah Bagus dalam menyikapi seorang wanita? Tak heran, sejak dulu Bagus hanya sibuk mewujudkan impiannya. Membuat orang tuanya bangga. Setelah berhasil, orang tuanya justru meninggal. Ia berlarut dalam kesedihan dan keterpurukan hingga akhirnya Winari datang.


Awalnya Bagus pikir semua akan beakhir setelah kehadiran Winari. Namun nyatanya Bagus mengalami rasa sakit yang tak kalah besar. Meskipun situasinya berbeda, intinya sama. Bagus harus mengalami kehilangan lagi. Bahkan bisa dikatakan lebih menyakitkan. Karena kehilangan yang Bagus rasakan karena sebuah pengkhianatan.


__ADS_2