
Kepanikan Laila hilang saat ponselnya berdering. Nama Bagus yang terpampang di layar ponselnya membuat Laila melupakan sejenak masalah yang ada. Ah sebenarnya bukan melupakan tapi hanya menjeda. Karena ternyata Laila segera menceritakan apa yang terjadi pada Kayla.
"Benarkah? Terus dimana abangmu itu?" tanya Bagus.
"Dia bukan abangku lagi," ucap Laila.
"Ah iya maksudku dimana laki-laki itu?" tanya Bagus.
"Gak tahu," jawab Laila ketus.
Entah mengapa Laila sangat benci dengan Deri. Setelah semua kenangan buruk dalam hidupnya, kini Deri seolah hadir bagaikan teror dalam hidupnya. Padahal Laila berharap Deri benar-benar hilang selamanya dari kehidupannya.
"Jangan gitu. Bagaimanapun Kayla dan Hasna butuh dia," jawab Bagus.
"Gak. Mereka gak butuh dia. Udah ada aku sama kamu, Mas. Mereka cukup punya kita berdua," ucap Laila.
Laila tetap dengan keyakinannya bahwa ia dan Bagus bisa menggantikan peran Deri. Namun Kayla yang tumbuh makin dewasa, ada sisi dimana ia memang butuh Deri dalam hidupnya. Sebusuk apapun Deri di mata Laila, Kayla tetap berharap jika bapak kandungnya masih ada dan bisa menyayanginya.
"Ah Mas malah bikin kesel deh," ucap Laila.
Merasa mood Laila kurang baik, Bagus segera mengakhiri panggilannya. Berusaha menghindari perdebatan adalah hal yang selalu Bagus lakukan. Saat ini Laila sedang mengandung, kadang moodnya mudah sekali berantakan.
Mencari kelengkapan cerita yang belum sempat ia dapatkan dari Laila, tanpa sepengetahuan Laila maka Bagus menghubungi Bi Sumi. Mencari informasi yang begitu banyak dari Bi Sumi. Sengaja Bagus tidak mencari tahu dari Kayla langsung. Ia tidak mau Kayla merasa diawasi.
"Bi, kirim alamat sama nomor ponsel yang ada dipaketnya ya!" pinta Bagus sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telepon dengan Bi Sumi.
"Siap Pak," jawab Bi Sumi.
__ADS_1
Agak lama, karena Bi Sumi harus mencari tahu informasi itu tanpa terang-terangan meminta pada Kayla. Ia mencari tahu sendiri. Setelah yakin alamat dan nomor ponselnya, Bi Sumi segera menginformasikannya pada Bagus.
Sebuah pesan dari Bi Sumi ditatap lekat oleh Bagus. Seperti yang ia ketahui dari Bi Sumi, nomor itu memang tidak aktif. Ia mencari informasi tentang nomor dan alamat itu dari beberapa temannya.
Hasilnya memang sama. Rumah itu kosong dan hampir lima tahun tidak ada penghuninya. Bahkan alamat rumah yang dicantumkan itu rumah tua yang nyaris rusak dan tidak terurus sama sekali. Tidak ada jejak orang yang ke sana akhir-akhir ini.
Bagus sampai mengunjungi jasa ekspedisi yang digunakan si pengirim misterius itu. Sayangnya petugas tidak kenal sama sekali. Bahkan saat diputar cctv, si pengirim itu nampak mengenakan topi dan masker. Menurut Bagus si pengirim itu memang sudah benar-benar merencanakan semua ini. Ia sengaja bersembunyi agar identitasnya tidak dikenali. Lalu siapa dia? Benarkah dia Deri?
"Pak," panggil salah seorang karyawannya.
Bagus yang tengah makan siang bersama dua orang karyawannya tersadar dari lamunannya. Salah satu karyawannya memberi ide menarik. Ia akan menyewa orang untuk mengamati rumah yang digunakan sebagai alamat si pengirim misterius itu.
"Cari orang yang bisa aku percaya," ucap Bagus.
"Gampang Pak. Saya juga mau menghubungi beberapa ekspedisi di sekitar sini. Mencari informasi agar bisa menahan orang yang berusaha mengirim paket ke alamat istri Bapak," ucap karyawan itu.
Mata Bagus berbinar. Ya, ide yang sangat menarik baginya. Bagus tidak mau kalau sampai orang itu lolos lagi mengirim paket ke alamat rumah Laila. Ternyata Bagus memiliki pemikiran yang sama. Kalau saja sekarang ia bisa mengirim paket yang berisi sepatu, bukan tidak mungkin jika besok atau lusa ada paket bom yang nyasar ke rumah istrinya itu.
"Siap Pak," jawab karyawan itu.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, semua berjalan normal. Tidak ada lagi paket yang datang atas nama Deri untuk Kayla. Lagi pula kalaupun itu benar Deri, kenapa paketnya hanya untuk Kayla? Tidak kah Deri memberi paket yang sama untuk Hasna? Apakah Deri lupa jika anaknya ada dua? Alasan itu yang menjadi keraguan Bagus tentang kehadiran Deri kembali dalam kehidupan Kayla.
"Pak, barusan saya dapat kabar dari ekspedisi A. Ada orang yang mengirim paket ke alamat Ibu," ucap karyawan Bagus.
"Benarkah? Ikuti dia. Aku harus tahu dimana rumahnya," ucap Bagus.
"Baik Pak," jawab karyawannya.
__ADS_1
Dengan cepat karyawannya meminta orang untuk melakukan tugas yang Bagus perintahkan. Bagus melakukan semua ini secara diam-diam. Ia hanya ingin tahu dulu semuanya sendiri. Setelah semua jelas, baru ia akan mengabari Laila dan yang lainnya.
Hanya butuh waktu satu jam untuk tahu dimana tempat tinggal orang itu. Namun sayangnya mereka dikecoh. Sepertinya orang itu tahu sehingga ia seolah-olah masuk ke dalam salah satu rumah warga. Tentu kabar itu membuat Bagus sangat marah dan kesal.
"Kurang ajar. Beraninya dia mempermainkan kita," ucap Bagus kesal.
Akhirnya Bagus kembali ke rencana awal. Ia meminta segera menahan orang yang itu jika sampai datang ke ekspedisi lagi. Hatinya benar-benar kecewa. Padahal ia sudah senang saat tahu jika orang itu datang ke salah satu ekspedisi. Namun Bagus harus menelan kecewa atas kecerobohannya. Ia salah mengambil langkah. Tidak terpikir akan seperti ini jadinya.
Setelah beberapa hari dari kejadian itu, Laila mengabarkan bahwa pengirim atas nama Deri ini memberi buku tulis berisi catatan hariannya. Ada juga dua buah kaos bergambar BTS. Kali ini bukan hanya untuk Kayla, tapi pengirim itu mengirim baju untuk Hasna juga.
"Ya udah biarin aja lah. Syukur kalau itu memang abangmu," jawab Bagus dengan santai.
"Aku mau pindah ke Jakarta," ucap Laila.
Ucapan yang selama ini Bagus harapkan. Akhirnya Bagus bisa tersenyum lebar. Gara-gara si pengirim misterius, akhirnya Laila ingin pindah ke Jakarta tanpa harus dibujuk lagi.
"Mas, Mas. Kok diem aja?" tanya Laila.
"Eh iya sayang. Maaf tadi itu anu emmm," ucap Bagus bingung sendiri mau jawab apa.
"Gak boleh aku ke Jakarta?" tanya Laila.
"Boleh, boleh banget. Aku seneng malahan. Kapan aku jemput kamu?" Bagus menantang Laila.
"Nanti selesai tahun ajaran ini, aku mau urus surat pindah Hasna sama Kayla. Aku takut Mas," ucap Laila.
"Oke," jawab Bagus.
__ADS_1
Sebenarnya Bagus ingin bertanya tentang toko kue. Siapkah Laila meninggalkan toko kue itu? Padahal selama ini toko kue itu yang membuat Laila berat meninggalkan Surabaya. Sekarang? Tanpa Bagus memintanya lagi, Laila sendiri yang menginginkan pindah ke Jakarta. Meninggalkan toko kue yang katanya impiannya selama ini.
Wah, berkah ini namanya. Kalau aja aku ketemu sama si pengirim misterius itu, aku bakalan kasih kamu hadiah. Berkat kamu, akhirnya Laila mau ke Jakarta.