Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Tukang masak


__ADS_3

"Terus bapak ngapain bawa saya ke sini?" tanya Laila.


"Saya mau nunjukin lahan buat toko kue," jawab Bagus.


"Oh," jawab Laila.


Setelah Laila mendengar jawaban Bagus, Laila segera melepaskan pelukannya dari Hasna dan Kayla. Akhirnya ia sedikit bisa bernapas lega. Meskipun sebenarnya Laila tidak begitu mengerti kenapa Bagus harus menunjukkan tanah itu padanya.


Menurut Laila, Bagus mau membangun toko kue di lokasi manapun itu bukan masalah untuknya. Tidak ada hubungannya dengan dirinya. Berbeda dengan Bagus yang justru ingin melibatkan Laila dari awal tentang toko kue itu.


"Jadi gimana?" tanya Bagus.


"Apanya yang gimana, Pak?" Laila balik bertanya.


"Lokasinya. Cocok gak?" tanya Bagus sambil berdecak kesal.


"Saya sih cocok-cocok aja, Pak. Tapi apa lahan segede gini gak kegedean?" tanya Laila.


"Sengaja. Aku mau buat toko yang gede banget. Jadi, dapur pembuatan kue dan toko terpisah cukup jauh biar kue yang dibuat banyak dan customer leluasa memilih." Bagus menjelaskan tentang rencananya.


Laila hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia suka dengan ide yang Bagus rancang. Namun Laila berpikir jika toko sebesar itu dibuat di sini, siapa saja pelanggannya? Ini Surabaya dan bukan daerah perkotaan.


"Kok bengong?" tanya Bagus.


"Gak. Itu saya lagi mikirin tempat tinggal saya nanti," jawab Laila.


"Kenapa memangnya?" tanya Bagus.


"Ya kejauhan kalau tokonya di sini. Harus naik ojek saya. Tapi nanti upah saya naik kan jadi di atas UMR?" tanya Laila.


Laila berdecak kesal saat mendengar pertanyaan Laila. Bagus pun menjelaskan bahwa akan ada rumah khusus untuk Laila di dekat toko itu. Anggaplah itu sebagai rumah untuk Laila. Meskipun tidak akan sebesar rumah pribadinya namun Bagus menjamin bahwa rumah itu akan lebih besar dari rumah kontrakannya.


"Tapi nanti Kay ke sekolah jadi jauh Om," ucap Kayla.


"Nanti aku siapkan sopir buat antar jemput kamu. Jadi gak usah khawatir ya," ucap Bagus.


"Siapp Om," ucap Kayla.


"Terima kasih ya Om," ucap Hasna sambil memeluk Bagus.


Bagus terkejut saat badan kecil Hasna menempel erat di tubuhnya. Tangan Hasna yang melingkar di pinggang Bagus membuat Bagus diam. Hangatnya pelukan anak kecil yang tak pernah ia dapati membuat Bagus merasa ada hal baru dalam hidupnya.


Perlahan, dengan penuh keraguan Bagus mengangkat tangannya. Membalas pelukan Hasna dengan hangat. Apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Semangat ya sekolahnya," ucap Bagus.


Laila menatap Bagus dan Hasna. Raut wajah Hasna yang begitu ceria. Tak terasa Hasna berlinang air mata. Ia merasa terhari melihat kedekatan keduanya. Laila bisa merasakan kalau Hasna benar-benar menikmati momen ini. Pelukan dari seorang laki-laki dewasa yang dianggapnya sebagai pelukan ayah untuk anaknya.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Bagus.


Laila memalingkan wajahnya. Ia berusaha menutupi kesedihannya. Tidak ingin Bagus menganggapnya berlebihan. Ia juga tidak mau jika Bagus terganggu dengan dugaannya. Bagaimanapun Laila tahu kalain Bagus belum mempunyai anak. Ia yang terlahir sebagai anak tunggal pun tidak biasa berada di sekeliling anak-anak.


"Pak, jangan terlalu dekat sama Hasna dan Kayla. Saya takut ke depannya ada kekecewaan," bisik Laila.


"Karena kamu gak mau mereka sedih pas kamu nikah sama tukang masak itu kan?" tanya Bagus.


"Bukan begitu Pak," jawab Laila.

__ADS_1


"Terus kenapa?" tanya Bagus.


Laila membawa Kayla dan Hasna ke sebuah warung yang tak terlalu jauh dari sana. Bagus hanya mengekor kemana Laila pergi. Setelah di warung, Laila membiarkan kedua keponakannya untuk jajan. Sementara Laila sendiri mengobrol dengan Bagus.


Dengan suara pelan, Laila menjelaskan jika mereka berdusa tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Laila hanya tidak mau Bagus terlalu dekat dan membuat Hasna merasa nyaman. Kesibukan yang mungkin Bagus jalani, apalagi setelah nanti kerja sama Laila dan Bagus berakhir. Laila khawatir Hasna akan sedih karena kehilangan sosok Bagus.


"Terus itu si tukang masak kamu biarin main ke rumah kamu terus. Apa kamu punya rencana akan menikah sama dia?" tanya Bagus.


"Gak ada. Tiap chef ke sini, dia gak pernah sampai sedekat ini. Saya selalu ngasih jarak sama mereka," ucap Laila.


Bagus diam. Ia mengerti maksud Laila. Bagus yang sudah menganggap Laila adalah seorang janda jadi menyimpulkan sendiri. Kalau Hasna merasa tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah, artinya Laila pun tidak mendapat kasih sayang dari suaminya.


Ternyata kita senasib Laila. Hanya saja kamu lebih kuat. Kamu bisa menyembunyikan kesedihanmu. Meskipun ada beban berat di pundakmu.


"Ya sudah biar cepat, aku mau kamu dan aku berfoto di sana." Bagus menunjuk salah satu lokasi.


Laila hanya mengiyakan dan mengekor. Ia juga bergaya sesuai yang diarahkan Bagus dan seorang laki-laki yang membawa kamera. Entah apa tujuannya, Laila hanya berusaha percaya jika Bagus bukan orang jahat.


"Udah, Pak?" tanya Laila.


"Udah. Ayo aku antar pulang!" ajak Bagus.


Bagus mengantarkan Laila dan dua anak yang dibawanya kembali ke rumah kontrakan. Tanpa turun, Bagus segera pamit. Laila sempat merasa tidak enak saat Bagus memutuskan untuk langsung pulang. Bahkan saat Hasna memintanya, Bagus hanya bilang bahwa ia sedang sibuk.


Tanpa Laila tahu jika Bagus ingin segera pulang. Ia ingin melihat bagaimana Winari cemburu padanya. Mungkin sakit yang Winari rasakan akan berkali-kali lipat. Laila yang dulu membantunya kini mengkhianatinya. Ah, sudah tak sabar Bagus ingin membalas semua kelakuan Winari padanya.


"Hahaahah, rasakan wanita jahat. Ini belum seberapa," ucap Bagus sambil mengepalkan tangannya.


Bagus mengapload foto dirinya dengan Laila di laham kosong. Tak lupa ia selipkan caption yang membuat kemarahan Winari muncul. Bagus menuliskan jika rencana membuat toko kue untuk wanita kesayangannya akan segera terwujud.


Wajah Laila yang terlihat jelas di foto itu membuat Winari mengirim sebuah pesan pada Bagus. Ia mengatakan jika apa yang Bagus dapatkan hanya sebuah sampah. Winari menegaskan jika keputusan Bagus menggantikan dengan dirinya adalah sebuah kebodohan. Namun untuk Bagus, tindakan Winari sudah menggambarkan kekecewaannya. Bagus tahu betul apa isi kepala Winari saat ini.


Setelah sukses dengan satu foto, Bagus kembali mengajak Laila untuk bertemu di sebuah restoran mahal. Tempat paling bagus yang ada di Surabaya. Bahkan memakan waktu satu jam lebih dari rumah kontrakan Laila.


"Saya gak bisa ninggalin anak-anak, Pak. Kita makan di sekitar sini aja ya!" ajak Laila.


"Yang bilang harus ninggalin mereka siapa?" tanya Bagus.


"Maksud Bapak?" tanya Laila.


"Kamu udah tahu jawabannya. Aku tunggu kalian di sini," jawab Bagus.


Bagus menunggu di teras rumah kontrakan Laila. Tiba-tiba Bu Rini yang melewat di depan rumah Laila berhenti dan menyapa Bagus.


"Nah gitu dong Pak, sering-sering tengokin anaknya. Bagusnya sih kalau rujuk aja. Hasna ssma Kayla pasti seneng," ucap Bu Rini.


"Eh ibu," ucap Bagus.


Bagus bingung harus menjawab apa karena Bu Rini sudah menganggapnya ayah dari kedua anak Laila. Bagus bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Bu Rini. Mungkin lebih tepatnya Bagus hanya takut jika sosok Laila menjadi sangat buruk. Biarlah Bagus mengakui kedua anak itu sebagai anaknya di depan Bu Rini.


"Kalau nanti mau rujuk kabari Ibu ya. Nanti ibu yang bantu urus pernikahannya," ucap Bu Rini.


"Iya, Bu." Bagus mengangguk dan tersenyum.


Sebelum Laila keluar rumah, Bu Rini sudah pamit karena ada keperluan. Bagus hanya tersenyum saat membayangkan jika dirinya benar-benar menikah dengan Laila.


"Beli satu dapat tiga," gumam Bagus.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Laila.


Laila menghentikan lamunan Bagus.. Ia segera menyudahi bagangannya yang menurutnya konyol namun mengasyikan.


"Ayo!" ajak Bagus.


Mobil putih berisi empat orang itu melaju dengan kecepatan sedang. Musik pelan yang terdengar nyaman di telinga itu membuat Hasna dan Kayla tidur selama perjalanan. Sesekali Bagus melihat mereka dari spion tengah.


Laila yang melihat Bagus pun ikut mengecek dua keponakannya. Bibir Laila tersenyum saat ingat betapa bahagianya Hasna dan Kayla saat tahu jika Bagus akan mengajaknya jalan-jalan. Meskipun mereka berdua tidak tahu kemana, namun senyum bahagia itu muncul karena sejak di Surabaya mereka belum pernah jalan-jalan.


"Kay, bangun." Laila mengguncang pelan bahu Kayla yang masih terlelap.


Kayla menggeliat dan mengucek matanya. Namun saat Laila membangunkan Hasna, Bagus menarik tangan Laila. Biar aku yang gendong," ucap Bagus.


"Gak usah, Pak. Nanti dia manja," ucap Laila.


Laila tidak mau kehadiran Bagus di tengah-tengah keluarganya hanya akan membuat Hasna dan Kayla berubah menjadi manja. Bagaimanapun Laila sudah susah payah mengajari mereka untuk hidup mandiri. Laila hanya tidak bisa membayangkan mereka akan ketergantungan pada Bagus.


"Kamu kenapa sih?" tanya Bagus.


"Pak, jangan biarkan hasil ajaran saya hilang begitu aja. Saya cape-cape ngajarin mereka," ucap Laila.


Tanpa mendengarkan Laila, Bagus segera menggendong Hasna. Sementara tangan sebelah kiri menuntun tangan Kayla. Laila yang haya berjalan di belakang hanya bisa mengikuti langkah Bagus. Perasaan Laila campur aduk. Senang, sedih, takut, gelisah.


Laila membayangkan jika seandainya laki-laki yang menggendong Hasna itu adalah Deri. Mungkin Laila akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Namun sayangnya harapan itu dipatahkan begitu saja. Deri tidak akan berubah. Laki-laki itu sudah tidak ada bahkan nomor ponselnya sudah tidak aktif.


"Laila," panggil Bagus.


"Eh iya Pak," ucap Laila.


"Kamu mikirin apaan sih?" tanya Bagus.


"Gak Pak, gak ada." Laila menggelengkan kepalanya.


Tak lama seorang pria datang membawa menu makanan. Sembari menunggu pesanannya datang, Bagus sengaja memotret Laila yang sedang menatap Hasna. Foto cabdid yang didapat Bagus benar-benar sempurna. Laila tampak cantik meskipun menurut Bagus, pakaiammya terlalu sederhana.


"Pulang dari sini kamu gak kemana-mana kan?" tanya Bagus.


"Ya ke rumah Pak," jawab Laila.


"Ya maksudku kamu gak masuk kerja kan?" tanya Bagus.


"Oh, saya libur Pak hari ini. Tapi kemarin Chef bilang mau ke rumah. Mau bahas menu spesial buat tamunya Pak Jacob," jawab Laila.


Mendengar kabar chef akan main ke rumahnya, Bagus mendengus kesal. Ia tidak akan membiarkan Laila pulang dan bertemu dengan Laila. Bagus segera memberi agenda hari ini yang akan padat sekali.


"Kita akan pulang malam," ucap Bagus.


"Loh, memangnya kita mau kemana lagi Pak?" tanya Bagus.


"Nanti juga kamu tahu," jawab Bagus.


"Terus chef gimana? Ini kan saya mau diskusi urusan kerjaan Pak," ucap Laila.


"Di tempat kerja juga bisa, kan. Atau kalau gak pakai telepon juga bisa. Kecuali kalau kamu memang mau ketemu sama dia. Kamu kangen sama dia?" tanya Bagus.


"Gak, Pak. Ya udah nanti malam biar saya telepon aja," jawab Laila.

__ADS_1


"Sekarang aja," ucap Bagus.


Bagus hanya tidak mau jika tanpa sepengetahuannya, Laila akan asyik mengobrol dengan chef walaupun hanya sebatas panggilan telepon.


__ADS_2