
Setelah pertempuran yang melelahkan, keduanya tidur berjejer dengan Hasna dan Kayla. Alarm yang sudah di setting di ponsel Laila membangunkannya. Meskipun matanya masih sangat ngantuk, namun hari ini Bagus harus pergi ke Jakarta.
Laila mandi dan berdandan sebelum membangunkan Bagus. Ia ingin terlihat cantik saat Bagus membuka matanya. Namun sebelum Laila membangunkan suaminya, ada pelukan hangat yang melingkar di perut Laila.
"Mas udah bangun?" tanya Laila.
"Kalau belum, gak mungkin aku peluk kamu begini. Mau kemana sih pagi-pagi udah wangi?" tanya Bagus.
"Gak kemana-mana. Memangnya gak boleh ya dandan di depan suami tersayang?" ucap Laila sambil mengusap wajah Bagus.
"Jangan menggodaku," ucap Bagus sambil membenamkan wajahnya di leher putih Laila.
"Ada Hasna sama Kayla, Mas." Laila berbisik dan menjauhkan dirinya dari dekapan Bagus.
"Kamu yang mulai. Lihat ini!" ucap Bagus sambil menunjuk bagian pusakan yang berdiri tegak dibalik celananya.
"Ihhh apaan sih," ucap Laila sambil memalingkan wajahnya.
Tidak tahan melihat wajah Laila yang menggemaskan, Bagus segera menarik Laila ke kamar mandi. Ia menuntut tanggung jawab atas sikap Laila padanya. Dibawah guyuran air, suara mereka diredam. Kembali menikmati surga dunia lagi ini dengan sensasi yang berbeda.
Makeup Laila habis sudah karena air dan sentuhan bibir Bagus di setiap bagian wajahnya. Namun meskipun begitu, Laila tetap terlihat cantik dengan rambut basah yang tergerai tak beraturan.
Lagi-lagi Bagus mendapat kepuasan dari apa yang diberikan Laila. Wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu selalu saja bisa memberinya kepuasan setiap kali membakar kalori bersama. Walaupun sampai saat ini, Bagus yang selalu memegang kendali. Laila yang minim pengalaman hanya mengikuti arahan komando.
"Mas," ucap Laila dengan suara parau.
Bagus segera membungkam mulut Laila. Ia menggelengkan kepalanya dan memberi kode untuk tidak bersuara. Laila mengangguk. Ia kembali menikmati setiap kenikmatan itu tanpa suara. Menahan semuanya hingga akhirnya napasnya tersenggal. Lelah saat keduanya sudah berhasil mencapai titik puncak.
Mereka berdua mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk di dalam kamar mandi. Dengan lutut lemas, Bagus membuka pintu kamar mandi sepelan mungkin. Melihat Hasna dan Kayla masih tidur nyenyak, Bagus segera memberi kode agar Laila ikut keluar.
__ADS_1
"Terima kasih," bisik Bagus saat menyisir rambutnya.
Laila mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memakai make up setelah mandi kedua kalinya. Setelah selesai, baru Laila membangunkan Hasna dan Kayla. Bagus yang sudah lebih dulu selesai sudah menunggunya di ruang makan.
"Papa mana?" tanya Hasna.
"Udah nunggu di luar," jawab Laila.
Laila membantu menyiapkan pakaian Hasna dan Kayla. Selebihnya, Hasna sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Laila membawa kedua keponakannya ke ruang makan. Sudah ada Bagus yang menikmati secangkir teh hangat. Sementara Bi Sumi sedang menyiapkan sarapan.
"Bi maaf ya tadi saya nungguin Hasna sama Kayla mandi dulu," ucap Laila sambil menghampiri Bi Sumi.
"Gak apa-apa. Duduk aja Bu. Saya siapkan sarapannya," ucap Bi Sumi.
Jangankan setelah menikah dengan Bagus, sebelumnya pun Bi Sumi selalu memperlakukan Laila seperti majikannya. Setelah tahu Bagus mencintai Laila, Bi Sumi berusaha menyatukan keduanya. Dan sekarang, Bi Sumi menjadi orang yang bahagia saat melihat Laila dan Bagus sudah bahagia.
Tatapan Laila membuat Bi Sumi tahu maksudnya. Tidak ingin berdebat dengan Laila, Bi Sumi segera duduk dan ikut sarapan bersama. Sudah perjanjian sebelumnya, Laila tidak menganggap Bi Sumi pembantu. Laila merasa Bi Sumi keluarganya. Kadang Laila akan membantu Bi Sumi membereskan rumah saat sempat. Begitupun sebaliknya, Bi Sumi tidak boleh canggung dan sungkan untuk makan bersama.
Lalu Bagus? Tidak sedikitpun Bagus protes. Baginya, setiap keputusan Laila sudah keharusan. Meskipun Bagus tidak biasa dengan kebiasaan yang dilakukan Laila, namun menurutnya tidak ada yang salah. Mereka sama-sama manusia. Laila selalu mengajarinya banyak hal. Termasuk hal seperti itu.
"Mas, hati-hati ya!" ucap Laila saat Bagus sudah siap untuk pergi.
Bagus hanya mengangguk. Lidahnya terasa kelu. Tak sanggup berkata apapun saat harus berpisah dengan Laila. Mereka masih pengantin baru, namun dituntut untuk berjauhan. LDR? Hal yang paling tidak disukai oleh Bagus. Namun apa daya? Ia hanya bisa pasrah.
Rasanya Bagus ingin sekali membawa Laila ke Jakarta. Tinggal di sana dan hidup bahagia bersama. Tapi keputusan Bagus untuk membuat toko kue di Surabaya menjadi penghalang terbesar untuknya saat ini.
"Aku selalu doain kamu, Mas. Sehat-sehat ya!" ucap Laila.
Pelukan erat pada Laila nyaris membuat Bagus menangis. Apalagi saat melihat Hasna menangis dan memintanya untuk tidak pergi. Hasna yang sudah menganggap Bagus sebagai ayah kandungnya sendiri merasa sedih samoau gafus menangis saat Bagus pamit.
__ADS_1
Kayla memang tidak menangis. Namun meskipun begitu, Bagus bisa melihat dengan jelas harapan Kayla agar bisa tetap bersama. Bagus janji akan menyelesaikan semuanya dan segera kembali ke Surabaya.
"Papa berangkat ya!" ucap Bagus.
Keberangkatan Bagus diantarkan oleh tangisan dan lambaian tangan. Membuat Bagus berat untuk meninggalkan semua kebahagiaannya di Surabaya. Tapi lagi-lagi Bagus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan untuk masa depan mereka juga.
Setelah dengan berat hati, Bagus akhirnya bisa menerima kenyataan ini. Ia sudah belajar untuk menerima takdirnya. Berusaha tersenyum di tengah kesepian. Berusaha tetap waras dengan segudang pekerjaan yang menunggunya.
Hari pertama Bagus bekerja, dengan status sebagai seorang suami. Namun ternyata ia tetap kesepian. Ah tidak, karena Laila menelepon di saat yang tepat. Laila bahkan memilihkan pakaian melalui panggilan video. Hal kecil dan sederhana seperti itu ternyata cukup membuatnya bahagia saat bersama orang yang tepat.
"Aku berangkat kerja ya," ucap Bagus.
Sebelum berangkat, Bagus menghela napas panjang. Mengumpulkan semua semangatnya dan tersenyum. Berusaha menyenangkan dirinya sendiri agar hari ini bisa terlewati dengan baik.
"Pagi suami orang. Kok kayak duda sih? Gak diurusin ya sama istrinya? Makanya pintar-pintar cari istri," ucap Winari.
Wanita penghancur moodnya pagi ini tersenyum senang saat melihat kedatangan Bagus. Entah tahu dari mana, Winari seolah menertawakan Bagus yang harus mengurus dirinya sendiri walaupun statusnya sudah menikah.
Tidak ingin meladeni wanita seperti Winari, Bagus berlalu tanpa menjawab sepatah katapun. Bagus sama sekali tidak menghiraukan apa yang Winari katakan. Namun bukan Winari kalau tidak membuat Bagus geram. Tangan lembut itu menarik Bagus. Berharap bisa menarik perhatian Bagus, nyatanya Winari mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
"Jangan sekalipun menyentuhku. Tanganmu terlalu kotor untukku," ucap Bagus sambil mencuci tangannya.
Winari hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia tidak menyangka jika Bagus akan bersikap begitu kejam padanya. Seketika otaknya mengingat Laila. Dengan sangat yakin, Winari menuduh Laila dalang dibalik perubahan Bagus.
Berubah? Sebenarnya tidak berubah. Sudah sejak lama Bagus membenci Winari, namun nyatanya Bagus bisa menahan kebenciannya. Tapi saat ini, Winari yang tahu Laila lah wanita penggantinya tiba-tiba semakin berulah. Bagus yang tidak suka diganggu membuatnya bertindak sangat menyebalkan bagi Winari.
"Aku akan buat perhitungan denganmu! Kalau kamu bisa menyakitiku, aku juga bisa menyakitimu. Laila, ya Laila. Dia adalah orang yang akan membuat Bagus semakin sakit," gumam Winari.
Setelah membiarkan Bagus pergi begitu saja, Winari pun pergi. Tentu ia pergi untuk membuat perhitungan dengan Bagus. Menyiapkan ide terbaiknya untuk membalas semua rasa sakit hatinya.
__ADS_1