Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Toko kue


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Bu Indah, Bu Herlin menjemput Laila di sekolahnya. Laila yang tahu jika dirinya akan dijemput Bu Herlin pun sudah menunggunya di tempat biasa. Senyuman keduanya beradu. Tak lama Laila segera masuk ke dalam mobil.


"Kita makan dulu ya," ajak Bu Herlin.


"Iya, Bu." Laila mengangguk.


Meskipun sebenarnya ia sudah makan di kantin tadi. Tapi menolak ajakan Bu Herlin tidak akan menyenangkan hatinya. Laila tidak khawatir, karena biasanya porsi makan di cafe itu tidak membuat seperempat lambungnya terisi. Sedikit, begitu pendapat Laila saat makan di cafe kesukaan Bu Herlin.


"Gak ad masalah apapun di sekolah?" tanya Bu Herlin.


"Masalah?" tanya Laila.


Laila bingung karena selama sekolah di sana, Laila sama sekali tidak pernah membuat masalah apapun. Selama ini ia selalu menjadi anak baik dan meningkatkan prestasinya.


"Ah, maksudnya apa ada beberapa pelajaran yang sulit. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama ibu ya," ucap Bu Herlin.


"Oh, begitu. Gak kok Bu. Semuanya lancar," jawab Laila.


"Syukurlah," ucap Bu Herlin.


Mobil sudah terparkir di depan cafe. Bu Herlin menyerahkan buku menu pada Laila. Membiarkan Laila memilih menu dan memesannya. Setelah makanan datang, Laila melahap makanan yang sudah dipesan olehnya.


"Kita ke mall dulu ya!" ucap Bu Herlin.


"Iya, Bu." Laila mengangguk.


"La, bisa gak kamu jangan terlalu pasrah?" tanya Bu Herlin.


"Hah? Maksudnya pasrah gimana, Bu?" tanya Laila.


"Iya setidaknya kalau kamu diajak kemana-mana kamu tanya dong mau apa? Ke mall mana? Jangan asal iya aja," jawab Bu Herlin sambil menggelengkan kepalanya.


Laila merasa sikap seperti itu sudah benar. Karena menurutnya, kemanapun Bu Herlin dan Bu Indah membawanya pergi maka semua akan baik-baik saja. Laila selalu merasa aman saat bersama dengan kedua wanita baik itu.


Bu Herlin membuat Laila bingung. Pembelajaran dari Bu Herlin kali ini bertolak belakang dengan apa yang diajarkan almarhum ibunya dulu. Ibunya selalu mengajarkan Laila agar tidak berburuk sangka pada orang, sementara Bu Herlin mengajarkan Laila untuk selalu berhati-hati. Dimana Laila mengartikan semua itu sebagai sikap harus berburuk sangka pada orang.


"La, ini Jakarta. Beda sama di kampungmu. Di sini, orang-orangnya random. Banyak kemungkinan yang bisa saja di luar dugaanmu," ucap Bu Herlin.


Laila hanya mengangguk dan mencoba mengerti maksud Bu Herlin. Sulit rasanya saat Laila yang terbiasa percaya dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, ternyata harus waspada. Kecurigaan apa yang harus mendasari Laila waspada atas orang-orang yang begitu baik padanya.


"La, suatu saat kamu akan bertemu dengan banyak sekali orang-orang yang baru. Setelah kamu menjadi orang sukses, maka akan banyak sekali orang yang mengaku dekat dan peduli sama kamu. Terus kamu akan percaya begitu aja sama semuanya?" tanya Bu Herlin.


"Iya, Bu. Saya ngerti. Terus sekarang kita mau ngapain ke mall? Bukannya Bu Indah mau aku ikut ke toko kue itu?" tanya Laila.


"Nah kalau begitu kan enak. Kamu harus punya keberanian buat nanya kalau sekiranya semua gak sesuai sama rencana. Kita mau ke mall beli baju ganti buat kamu. Gak mungkin kamu pakai seragam ini sampai sore," jawab Bu Herlin.


Laila melihat dirinya sendiri. Ya, bahkan Laila tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang entah akan sampai di luar rumah dengan mengenakan seragam sekolahnya.


"Pilih baju yang kamu suka," ucap Bu Herlin.


"Acara kita hari ini santai kan? Gak ada pertemuan sama orang-orang penting?" tanya Laila.


"Santai. Kita hanya ngecek lokasi aja," jawab Bu Herlin.

__ADS_1


Bu Herlin duduk. Melihat Laila berjalan mendekati stand baju dan celana. Dari kejauhan, Bu Herlin memantau Laila yang memilih pakaian. Dengan senyum penuh kebanggaan, Bu Herlin senang saat melihat Laila memilih pakaian yang cocok dengan dirinya.


"Laila, biar ibu yang bayar." Bu Herlin segera menghampiri Laila yang mendekat ke arah kasir.


"Biar saya aja, Bu. Saya juga bawa uang kok," ucap Laila.


"Gak apa-apa. Simpan aja uangmu. Anggap aja ini uang bonus sebagai awal kerja sama," ucap Bu Herlin sambil tersenyum.


Laila ikut tersenyum dan mengangguk. Ia menyerahkan pakaian pilihannya ke kasir dan membiarkan Bu Herlin membayar barang belanjaannya.


"Sebentar ya Bu," ucap Laila.


Bu Herlin mengangguk dan membiarkan Laila pergi untuk menjawab panggilan telepon itu. Memang tidak terlihat siapa yang menelepon Laila, namun Bu Herlin menduga jika itu panggilan dari kampungnya.


"Deri atau kakak iparmu?" tanya Bu Herlin saat Laila selesai menelepon.


"Kak Yanti Bu," jawab Laila.


"Minta duit berapa?" tanya Bu Herlin.


Laila menatap Bu Herlin. Ia bingung kenapa Bu Herlin bisa tahu jika Yanti meminta uang padanya. Namun di satu sisi, Laila juga tidak suka dengan pertanyaan Bu Herlin. Berapapun uang yang diminta Yanti seharusnya tidak membuat Bu Herlin ikut campur. Lagi pula Laila tidak pernah merasa keberatan jika itu untuk kebutuhan dua keponakannya.


"Saya ganti baju dulu ya, Bu." Laila mencoba mengalihkan pertanyaan Bu Herlin.


Sayangnya Bu Herlin terus mencari jawaban atas pertanyaannya. Laila pun jujur jika Yanti meminta uang satu juta untuk kebutuhan Hasna dan Kayla. Namun Laila menjelaskan jika tidak keberatan sama sekali dengan permintaan itu.


"Mana nomor rekeningny? Biar ibu yang kirim," ucap Bu Herlin.


"Mana nomor rekeningnya," ucap Bu Herlin lebih tegas.


Akhirnya Laila menuliskan nomor rekening Yanti di ponsel milik Bu Herlin. Hanya dalam hitungan detik, Bu Herlin menunjukkan bukti transfer sebesar satu juta rupiah.


"Terima kasih Bu," ucap Laila.


"Sama-sama. Tapi lain kali, katakan pada kakak iparmu itu kalau kamu di sini sekolah. Bukan bekerja. Jadi jangan menganggapmu sapi perah," ucap Bu Herlin sambil berlalu meninggalkan Laila.


Laila menghela napas panjang. Bu Herlin mungkin tidak tahu bagaimana rasa sayang dan pedulinya Yanti pada Laila saat masih di kampung. Tapi kata sapi perah yang digunakan oleh Bu Herlin berhasil membuat hatinya tergores.


"Sabar Laila. Gak semua bisa ngerti keadaanmu," gumam Laila.


Dengan cepat Laila mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang baru saja dibelinya. Setelah itu, Laila menyusul Bu Herlin yang sudah menunggunya di parkiran.


"Maaf lama ya, Bu." Laila menatap Bu Herlin yang terlihat badmood.


"Gak apa-apa," jawab Bu Herlin.


Suasana dalam perjalanan menjadi hening. Laila sesekali melihat ke arah Bu Herlin yang sedang fokus menyetir. Sebenarnya Laila benci dengan keadaan seperti ini. Ingin sekali ia memulai pembicaraan namun bingung dengan topik yang akan dibahas.


Belum sempat Laila memulai bahasan untuk membuat Bu Herlin kembali membaik, Laila mendapat telepon lagi. Kali ini bukan Yanti, namun Deri. Bu Herlin nampak cuek saat mendengar nada dering dari ponsel Laila.


"Yanti lagi?" tanya Bu Herlin.


"Bang Deri," jawab Laila.

__ADS_1


"Minta duit lagi?" tanya Bu Herlin dengan senyum sinisnya.


Laila menunduk. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Menjawab telepon Deri hanya akan membuat Bu Herlin semakin badmood. Akhirnya Laila mematikan ponselnya. Membiarkan Deri memakinya nanti. Saat ini yang harus Laila lakukan adalah mengembalikan mood Bu Herlin.


"Kenapa gak dijawab?" tanya Bu Herlin.


"Ponselnya mati, Bu." Laila terpaksa berbohong.


Laila sudah sangat tidak nyaman dengan sikap Bu Herlin. Dengan memberanikan diri, Laila mencoba membuka percakapan dengan wanita yang tengah kecewa padanya.


"Bu, baju ini cocok gak sama saya? Pilihan saya bagus, kan?" tanya Laila.


Bu Herlin melirik ke arah Laila lalu tersenyum. Komentar baik untuk Laila mulai membuat Laila semangat untuk memperbaiki keadaan. Laila memuji Bu Herlin. Berharap agar mood Bu Herlin bisa menjadi lebih baik.


"Bu, terima kasih ya. Berkat ibu ngajarin saya dandan, kemarin ada yang nembak saya loh. Katanya sekarang saya gaul katanya," ucap Laila.


"Benarkah? Terus-terus gimana? Diterima gak?" tanya Bu Herlin.


"Gak ah Bu. Gak ganteng soalnya," jawab Laila.


"Kamu ini kok punya pacar milih yang ganteng," ucap Bu Herlin.


"Loh, ya kan biar memperbaiki keturunan Bu," ucap Laila.


"Kejauhan kamu La, masih SMK. Udah mikirin keturunan aja," ucap Bu Herlin sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya paling gak kan biar gak malu-maluin kalau dibawa kondangan," jawab Laila.


Bu Herlin tertawa mendengar jawaban Laila. Apa yang dikatakan Laila saat ini, persis ia katakan juga saat itu. Dulu jawaban itu sangat lucu. Beberapa laki-laki memintanya menjadi kekasih. Namun Bu Herlin selalu menolak dengan berbagai alasa.


Bahkan sampai saat ini masih terdengar lucu jika Bu Herlin mendengar kalimat itu. Meskipun pada akhirnya kadang Bu Herlin merasa miris Karena tak ada laki-laki yang benar-benar memilihnya untuk menjadi pasangan.


Sebenarnya bukan tidak ada yang memilih. Semua karena Bu Herlin terlalu memasang target yang tinggi. Matre? Saat itu mungkin iya. Namun pada akhirnya Bu Herlin mengakui jika itu hanya salah satu alasan agar ia tidak perlu menikah. Terlalu banyak tekanan dalam keluarganya.


"Bu, awas!" ucap Laila saat melihat lampu merah namun mobil Bu Herlin tetap melaju.


"Eh, astaga." Bu Herlin segera menginjak rem hingga kepala Laila tersungkur.


"Ibu kok ngelamun sih?" tanya Laila.


"Aduh maaf La. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Bu Herlin.


Laila tahu Bu Herlin menyimpan sesuatu yang tak bisa diungkapkan padanya. Namun Laila tidak mau bertanya tentang hal yang tidak mau dibicarakan oleh Bu Herlin. Laila berpikir jika Bu Herlin akan bercerita tanpa diminta jika memang membutuhkannya.


Mobil kembali melaju hingga berhenti di depan sebuah toko besar yang sudah tutup. Laila mengamati toko itu. Sudah terlihat beberapa kerusakan ringan.


"Ini tokonya Bu?" tanya Laila.


"Iya," jawab Bu Herlin sambil menghela napas panjang.


"Nanti toko ini pasti ramai lagi. Kita bisa bangun toko ini lagi," ucap Laila.


Ucapan Laila yang penuh semangat membuat Bu Herlin menatap Laila nanar. Kadang ia malu sendiri dengan sikap Laila yang selalu bersemangat. Padahal Laila tidak punya apapun dalam hidupnya. Bisa dikatakan yang Laila punya saat ini hanya semangat dan kemampuannya membuat kue. Sementara dirinya? Bu Herlin bahkan punya uang untuk melakukan apapun yang dia mau. Namun sayangnya, ia tidak bisa sesemangat dan seoptimis Laila.

__ADS_1


__ADS_2