Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Batik Tulis


__ADS_3

"Ayo aku bantu bangun! Mandi dulu," ucap Bagus.


"Iya Mas," ucap Laila.


Bagus mempersilahkan Laila mandi lebih dulu. Sembari menunggu, Bagus memainkan ponselnya. Memeriksa email agar tidak ketinggalan informasi perusahaan. Meskipun sedang libur, Bagus tidak sepenuhnya liburan. Ada waktu untuk tetap bekerja disela liburannya ke Surabaya.


"Mas," panggil Laila.


"Hai," ucap Bagus sambil menyimpan ponselnya.


Setelah berhadapan dengan Laila, Bagus berusaha untuk tidak memainkan ponsel. Ia ingin membuat Laila nyaman saat bersamanya.


"Mas, bajunya jadi begini ya?" ucap Laila sambil mengamati penampilannya di depan cermin.


"Kenapa? Apanya yang salah?" tanya Bagus sambil memeluk Laila.


"Aku gendut," ucap Laila cemberut.


"Kamu cantik," ucap Bagus sambil mengecup dahi Laila.


"Tapi gendut," ucap Laila.


"Tapi cantik," ucap Bagus meyakinkan Laila.


Laila tersenyum saat Bagus berhasil meyakinkannya. Rasa tidak percaya diri Laila lenyap dengan cara Bagus yang selalu memuji kecantikannya. Laila bersyukur Bagus bisa menerima keadaannya sekarang.


"Mas, aku takut." Laila menatap Bagus cemas.


"Takut?" tanya Bagus.


Laila mengangguk.


"Takut kenapa?" tanya Bagus.


"Nanti kalau hamilnya makin gede, perut aku pasti ada batik tulisnya. Gimana dong?" tanya Laila.


"Bagus dong," jawab Bagus.


"Kok bagus sih, Mas?" tanya Laila.


"Jadi kamu itu Indonesia banget," jawab Bagus sambil tertawa.

__ADS_1


"Mas," ucap Laila kesal.


Bagus segera menenangkan Laila dengan cara memeluknya. Tak lupa ia juga berbisik di telinga Laila. Baginya yang terpenting saat ini adalah kesehatan Laila dan buah hatinya. Bukan tidak peduli. Hanya saja bagi Bagus, cintanya tidak akan pernah berubah hanya karena perut Laila yang semakin membesar. Jadi Bagus tidak mau Laila stres memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkannya.


"Terima kasih ya Mas," ucap Laila.


"Buat apa?" tanya Bagus.


"Karena Mas udah mau terima aku apa adanya," jawab Laila.


"Justru aku yang harusnya terima kasih. Terima kasih udah jaga bayi kita. Maaf aku gak bisa selalu deket sama kamu. Nemenin kamu dan manjain kamu," ucap Bagus.


"Gak apa-apa Mas. Aku ngerti kok. Aku cuma minta jangan jijik sama badan aku yang nanti makin bengkak ya," ucap Laila.


"Harus berapa kali aku bilang sama kamu? Jangan mikirin hal yang gak perlu kamu pikirin. Buat aku kamu gak pernah berubah. Kamu tetep gurih," ucap Bagus sambil tersenyum nakal.


Laila menatap Bagus dengan tatapan kesal sambil memukul tangan Bagus. Sedangkan Bagus hanya tertawa sambil mengecup singkat bibir Laila yang mengerucut. Bagus terlalu menikmati kebersamaannya dengan Laila.Sementara ia lupa bahwa sampai saat ini ia belum bertemu dengan Kayla.


"Ma," panggil Kayla sambil mengetuk pintu.


"Iya," jawab Laila.


Laila melepaskan pelukan Bagus yang melingkar di pinggangnya. Ia segera membuka pintu dan menemui Kayla. Sebuah tas sudah digendong Kayla dan membuat Laila memghela napas panjang.


"Lagi?" tanya Laila.


"Ada lagi tugas kelompok," jawab Kayla.


"Biar Papa antar!" ucap Bagus.


"Papa kan baru datang. Istirahat aja," ucap Kayla.


"Kalau kamu tahu Papa baru datang, kenapa kamu pergi? Gak suka sama kedagangan Papa? Keganggu sama Papa?" tanya Bagus dengan nada tegas.


Hal itu membuat Kayla menundukkan kepalanya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Kayla. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo berangkat!" ucap Bagus.


"Gak jadi Pah," ucap Kayla.


"Kenapa? Takut? Gak usah takut sama Papa. Lakukan semua yang mau kamu lakukan. Tapi ingat, selagi kamu ada di rumah ini maka kamu tanggung jawab Papa dan Mama. Mengerti?" ucap Bagus.

__ADS_1


Semakin lama, nada bicara Bagus semakin keras dan tegas. Membuat Kayla menangis. Hal yang tidak pernah Bagus lakukan sebelumnya. Wajah takut Kayla sangat terlihat jelas saat melihat Bagus marah padanya. Kayla segera meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Duduk!" ucap Bagus.


Setelah Kayla mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah temannya, Bagus mengajaknya bicara. Hanya berdua tanpa Laila dan yang lainnya.


"Apa yang bikin kamu berubah?" tanya Bagus.


Lagi-lagi Kayla hanya bisa menggeleng. Selama di Jakarta, Laila memang sering menceritakan perubahan Kayla akhir-akhir ini. Namun meskipun begitu, Bagus tidak mau membahas masalah itu dengan Kayla melalui telepon. Sekarang, waktu yang tepat untuk membahas tingkah Kayla yang mulai berubah.


"Kay, cerita sama Papa. Ada apa?" tanya Bagus.


"Gak ada apa-apa Pah," jawab Kayla.


"Udah gak betah di rumah? Kamu tahu kan Mama lagi hamil. Harusnya kamu jaga Mama, bukan malah pergi-pergi ninggalin rumah. Kamu ini anak perempuan," ucap Bagus.


Kayla mulai menangis. Tangisan takut akan kemarahan Bagus. Namun entah mengapa Kayla merasa ada sisi bahagia saat Bagus memarahinya. Ia merasa ada sosok yang peduli padanya. Peduli? Apa artinya Laila selama ini tidak peduli? Ah tidak!


Anak yang tidak mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya itu merasa rindu atas apa yang tidak ia dapatkan sejak dulu. Melihat anak lain yang berhubungan baik dengan keluarganya, kadang membuat Kayla sakit. Ia merasa berbeda dengan yang lainnya.


"Maafin Kay ya Pah," ucap Kayla disela tangisnya.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Bagus.


Suasana hening. Kayla menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan menjawab pertanyaan dari Bagus, Kayla hanya berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar oleh laki-laki di hadapannya itu.


"Kamu gak sendiri Kay. Maafin Papa karena gak bisa kayak yang lain. Papa masih harus membagi waktu buat kerjaan dan Mama. Tapi Papa usahain biar kamu bisa ngerasain apa yang kamu mau. Kasih Papa waktu ya!" ucap Bagus.


"Pah," ucap Kayla.


Tanpa menunggu lama, Kayla memeluk Bagus. Menangis dalam pelukan Bagus mengungkapkan semua sakit atas kerinduannya pada sosok ayah. Bagus memang pria baik. Namun semakin Kayla remaja, ia semakin tumbuh dan berkembang. Tahu betul jika Bagus bukan Deri, ayah kandungnya.


"Jangan bikin Mama takut Kay. Dia sayang banget sama kamu. Jangan berubah. Tetap jadi Kayla yang Mama kenal. Mau tumbuh seperti apapun kamu, buat Mama kamu tetap anak kecil. Anak yang selalu butuh Mama. Gak pergi-pergi begini," ucap Bagus.


Kayla mengangguk dalam pelukan Bagus. Bukan hanya Kayla, Laila yang memperhatikan keduanya dari kamar pun ikut menangis. Ia terharu melihat sikap Bagus yang begitu tulus pada Kayla. Itu yang Kayla butuhkan. Pelukan dan kasih sayang tulus dari seorang ayah.


Selama ini, Kayla tidak pernah membahas tentang Deri pada Laila. Hal itu hanya membuat hubungan keduanya menjadi tidak baik. Kayla memilih Bi Sumi untuk tempat berceritanya. Namun Bi Sumi selalu memberitahukan apa yang ia dengar dari Kayla. Semua atas permintaan Laila sendiri.


"Sayang, sini!" panggil Bagus saat melihat Laila mengintip dari pintu kamarnya.


Laila sedikit terkejut. Ia segera mengusap air mata yang membasahi pipinya. Setelah itu duduk di samping Bagus. Melanjutkan bahasan tentang perubahan Kayla. Tangis Kayla pecah saat tahu jika selama ini, Laila berusaha mencari keberadaan Deri.

__ADS_1


"Belum ada info. Tapi Mama masih berusaha mencari," ucap Laila.


"Terima kasih ya Ma," ucap Kayla sambil memeluk Laila.


__ADS_2