Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Aku bukan janda


__ADS_3

Bagas segera pulang saat mendapat telepon dari seseorang. Padahal ia masih sangat ingin mengobrol banyak hal dengan Laila. Tapi tak apa. Bagas masih bisa bertemu dengan Laila besok.


"Gas, terima kasih banyak ya." Laila terlihat menatap Bagas lekat.


"Buat?" tanya Bagas.


"Buat waktunya. Akhirnya aku ngerasa beneran punya temen," jawab Laila.


Bagas tersenyum menggenggam tangan Laila. Meyakinkan Laila jika dirinya akan selalu ada meskipun hanya dalam dunia maya. Karena waktunya di Jakarta hanya seminggu. Setelah itu Bagas akan kembali ke Jakarta.


"Lala," panggil Hasna.


"Hasna udah bangun?" tanya Laila sambil menghampirinya.


"Astaga, kamu demam. Pusing?" tanya Laila panik.


Hasna tidak menjawab. Ia hanya memeluk Laila dengan erat. Beberapa kali Hasna bertanya tentang ibunya. Laila yang tak kuasa menahan tangis akhirnya ikut menangis.


"Hasna sama Kay yang kuat ya! Ada Lala di sini," ucap Laila.


Laila segera pergi membawa Hasna berobat. Dengan menggendong Hasna dan membawa Kayla, Laila mencari angkot. Setelah sampai di puskesmas, kedatangan Laila menjadi pusat perhatian.


"Ya ampun, bapaknya kemana?" tanya salah seorang ibu-ibu.


"Gak ada Bu," jawab Laila.


"Ya ampun masih muda begini udah jadi janda? Kasihan bener nasib kamu dek. Yang sabar ya," ucap ibu-ibu itu.


"Gak, bu bukan begitu. Mereka ini," ucapan Laila terhenti saat ibu-ibu itu sudah dipanggil untuk diperiksa.


"Dek, makanya kalau masih kecil jangan nikah dulu. Bikinnya sih enak tapi ngurusnya repot. Kalau udah begini kan cewek juga yang nanggung resikonya," ucap ibu-ibu yang lain.


"Tapi mereka bukan anak-anak saya Bu," ucap Laila.


"Gak usah minder. Jaman sekarang banyak kok anak yang udah janda waktu masih muda begini. Akuin aja, kasihan anak-anaknya. Kesalahan kita di masa lalu gak bisa jadi beban anak-anak. Mereka gak tahu apa-apa," ucap ibu itu.


Astaga. Ini ibu-ibu kok sok tahu banget sih. Udah dibilangin bukan anak aku. Kalau aku gak gendong Hasna, udah aku tampol juga nih.


Wajah Laila memerah menahan amarah. Berkali-kali Laila menghela napas yang dalam agar lebih tenang. Sudah dua ibu-ibu yang menyebutnya janda siang ini. Belum lagi ibu-ibu yang lain. Walaupun mereka tidak ikut mengungkapkan tuduhan mereka, namun tatapan mereka jelas menggambarkan jika pemikiran mereka semua sama terhadapnya.


"Anak Hasna," panggil salah seorang perawat.


Laila segera membawa Hasna ke ruang pemeriksaan. Hatinya tak karuan saat melihat wajah Hasna yang pucat. Namun cukup lega saat dokter mengatakan jika Hasna tidak mengalami sakit yang parah.


"Dek, lain kali kalau ke puskesmas anak yang gak sakit jangan dibawa ya!" ucap dokter dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Oh iya maaf Dok. Tapi di kontrakan gak ada siapa-siapa. Kasihan kalau ditinggal sendiri," jawab Laila.


"Oh, memangnya bapaknya gak ada? Kerja ya?" tanya dokter.


Laila kembali badmood saat mendengar pertanyaan dokter. Lagi-lagi dokter pun berpikiran yang sama. Mengira jika kedua anak yang dibawanya adalah anak kandungnya. Tapi paling tidak, dokter itu masih berusaha berpikir positif. Tidak langsung mengiranya sebagai seorang janda.


Aku bukan janda!


Laila mengumpat dalam hatinya dengan tuduhan semua orang yang tidak mengenalnya sama sekali. Ingin rasanya Laila menangis saat situasi seperti ini, ia justru harus disudutkan. Dituduh tanpa didengar penjelasannya.


"La," rengek Hasna.


Laila yang sudah kesal dengan tuduhan beberapa orang padanya seketika hilang saat melihat Hasna yang merengek. Tubuhnya yang masih panas membuat Laila tidak tega. Dengan cepat Laila segera membawa Hasna dan Kayla pulang.


Setelah minum obat, Laila menidurkan Hasna. Sementara Kayla hanya duduk sambil melamun menatap ke luar jendela. Laila segera menghampirinya. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


"Kay, Mama udah di surga. Jangan sedih ya," ucap Laila.


"Kay sekolahnya gimana, La?" tanya Kayla dengan nada sedih.


"Ya gak gimana-gimana. Nanti Lala daftarin sekolah ya," jawab Laila.


"Terus duitnya gimana?" tanya Kayla.


Duit? Laila merasa sangat sedih saat mendengar anak sekecil Kayla harus ikut memikirkan tentang biaya pendidikannya. Laila semakin semangat untuk bisnis online. Bagaimanapun Laila harus bisa mengahsilkan uang.


"La, besok dibagi raport. Lala datang kan?" tanya Kayla.


"Datang dong," jawab Laila.


Tanpa pikir panjang, Laila segera mengiyakan. Padahal besok Laila ada janji dengan pemilik toko baju untuk transaksi. Dengan cepat Laila mengabari pemilik toko untuk menggeser waktu yang sebelumnya sudah disepakati.


Bersyukur pemilik toko yang tahu keadaan Laila bisa mengerti. Bahkan saat mengambil raport pun, Laila membawa Hasna. Seperti biasa, beberapa orang yang tak mengenalnya berpikir jika Laila adalah seorang janda beranak dua.


Semakin lama, Laila sudah terbiasa dengan anggapan seperti itu. Walaupun dalam hatinya ada rasa kesal yang masih terselip setiap kali anggapan itu mampir padanya. Ah, Laila tidak mau fokusnya terganggu. Saat ini ia hanya ingin membesarkan Hasna dan Kayla semaksimal mungkin. Apapun akan Laila kerjakan untuk merawat mereka.


"La," panggil Ratna.


Tidak sengaja Laila bertemu dengan Ratna. Ternyata anak Ratna juga sekolah di tempat yang sama dengan Kayla. Mereka bertemu saat pembagian raport. Banyaknya jumlah siswa dan berbeda kelas membuat Kayla tidak mengenal anak Ratna.


"Kamu gimana kabarnya?" tanya Ratna.


"Kak Ratna, kangen banget. Aku sehat," jawab Laila sambil memeluk Ratna.


Ratna merasa malu saat Laila memperlakukannya dengan sangat manis. Ratna berpikir jika Laila akan membencinya setelah keluar dari rumahnya. Namun ternyata Laila terlalu baik di mata Ratna.

__ADS_1


"La, maaf ya!" ucap Ratna.


"Ah, udahlah. Jangan maaf-maafan terus. Lebaran masih lama," jawab Laila.


Laila selalu berusaha mengalihkan pembicaraan saat Ratna mengingatkan Laila ke masa enam bulan silam. Masa-masa saat Laila terseok-seok berjuang sendirian untuk mengurus dua anak diusianya yang belum pantas.


Dengan sekuat tenaga Laila berusaha membuang setiap kebencian pada siapapun. Laila hanya berusaha bersyukur dengan setiap yang ia jalani saat ini. Dengan begitu, Laila masih bisa waras sampai saat ini.


Sebenarnya Laila manusia biasa. Dalam kesendirian, ada masanya kekuatan Laila runtuh. Tangisnya pecah saat mengingat nasibnya yang begitu perih. Sempat bahagia saat ditinggal ibu kandungnya. Dijadikan ratu oleh dua orang ibu yang belum lama ia kenal. Namun akhirnya satu persatu dari mereka pergi. Laila kembali sendiri.


"Kak, kenapa Kakak pergi? Kenapa gak aku aja yang pergi?" gumam Laila sedih.


Saat itu Hasna dan Kayla sedang tertidur. Rumah kontrakan yang hanya sepetak itu membuat Laila merasa miris dengan kehidupannya. Ia merasa gagal menjaga Hasna dan Kayla.


Perjalanan hidup Laila terus berlalu. Tidak terlalu buruk, tapi tidak kunjung membaik juga. Laila berpikir jika ia harus pergi dari Jakarta. Biaya hidup dan pendidikan di Jakarta membuat Laila merasa tidak sanggup. Apalagi tahun depan Hasna sudah masuk SD. Biaya sekolah akan bertambah. Sementara penghasilan dari jualan onlinenya tidak bisa menutupi kebutuhannya per bulan.


"Kay, nanti pas kamu naik ke kelas lima kita pindah ya. Kita ke Surabaya," ucap Laila.


"Hah? Ke Surabaya? Kita mau ke siapa?" tanya Kayla bingung.


Seingat Kayla, mereka tidak punya saudara di Surabaya. Namun Laila mendapat kabar jika di Surabaya sedang ada pembuatan pabrik baru cabang Jakarta.


"Lala mau kerja di pabrik?" tanya Kayla.


"Nanti kan Kay udah kelas lima. Jadi udah gede. Bisa jagain Hasna ya kalau Lala kerja," ucap Laila.


Kayla mengangguk. Ya, Kayla yang sudah mulai mengerti belajar untuk bersikap dewasa. Bahkan lebih tepatnya dipaksa dewasa oleh keadaan. Mungkin kisah Kayla jauh lebih menyedihkan dibanding kisah hidupnya dulu.


"Atau Kay mau ke kampung aja sama Papa?" tanya Laila.


"Gak mau," jawab Kayla sambil menggelengkan kepalanya.


Laila sebenarnya pernah menghubungi Deri setelah kecelakaan itu terjadi. Namun nomornya sudah diganti. Bahkan saat Laila mencoba menghubungi tetangganya saat di kampung dulu, Laila mendapat kabar buruk. Deri tak lagi di kampung itu. Rumah itu pun sudah dijual dan ditempati orang lain.


Laila merasa beban di pundaknya sangat berat. Namun kadang Laila berpikir jika Tuhan sudah sangat baik padanya. Meskipun ia merasa lelah dan nyaris menyerah saat mengurus kedua keponakannya, namun Laila kuat sampai saat ini. Selalu ada saja rejeki untuk membiayai kehidupan mereka.


Selain itu, hadirnya Bagas menjadi sedikit obat bagi Laila. Setidaknya Laila tidak benar-benar merasa sendirian. Meskipun Bagas sering meminta nomor rekening Laila, namun Laila tidak pernah memberinya. Satu-satunya yang diterima Laila hanyalah pulsa. Itupun karena Bagas selalu memberinya tanpa mengatakan apapun sebelumnya.


Saat rencana ini muncul, orang pertama yang dikabari Laila pun Bagas. Sempat menahan Laila untuk pindah, namun Bagas tidak bisa berkata apapun saat Laila menjelaskan faktor utamanya adalah uang. Bagas tahu Laila adalah wanita mandiri. Tidak mungkin dengan mudah Laila menerima uang darinya.


"Kalau kamu nikah sama aku, kamu gak harus cape kerja sampai pindah ke Surabaya. Kamu cukup ngurus rumah sama anak-anak," ucap Bagas.


"Dih nikah. Masih bocah kita, Gas. Jangan ngadi-ngadi deh," jawab Laila sambil tertawa.


Lagi-lagi Bagas mengalami penolakan untuk yang kedua kalinya. Ternyata sebaik apapun Laila padanya, tidak lebih dari seorang teman. Laila bahkan hanya tertawa saat Bagas mengucapkan hal yang serius menurutnya.

__ADS_1


Laila dan Bagas memang masih berusia sembilan belas tahun. Mungkin beberapa bulan lagi akan menginjak usia dua puluh tahun. Usia yang sudah cukup untuk menikah jika saja Laila tinggal di kampungnya dulu. Hanya saja, sudah terbiasa hidup di Jakarta, Laila merasa usia dua puluh tahun masih terlalu jauh untuk menikah.


Wanita cantik bertubuh ideal dan cantik yang sering Laila temui menjadi patokannya. Para karyawan sebuah perusahaan dengan usia di atas dua puluh lima masih setia dengan status gadisnya. Apalagi Laila yang sudah terbiasa mengurus dua anak. Baginya kehidupan rumah tangga sudah terbayang akan seperti apa.


__ADS_2