Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
List tugas


__ADS_3

Bu Indah masuk ke ruangan pendaftaran. Kedatanganny tentu disambut hangat oleh beberapa orang di sana. Sementara Laila masih bungkam. Ia hanya mengekor dan tersenyum ramah. Bingung dengan apa yang harus disampaikannya.


"Ini anak saya," ucap Bu Indah memperkenalkan Laila dengan begitu bangga.


Saat ditanya tentang jurusan apa yang akn diambil, Bu Indah dengan tegas dan yakin menjawab jurusan tata boga. Seolah Bu Indah sangat mengenal Laila yang suka memasak. Meskipun yang Bu Indah pernah dengar, Laila suka membantu ibunya membuat kue. Namun Bu Indah yakin Laila pasti akan senang masuk ke kelas itu.


"Baik Bu. Ini silahkan dibaca tentang rincian pembayaran dan beberapa aturan yang ada di jurusan itu," ucap salah satu penerima siswa baru sambil menyerahkan lembaran kertas pada Bu Indah.


Laila yang penasaran, ikut melihat apa isi kertas yang diterima Bu Indah. Saat melihat rincian biaya, Laila membuka mulutnya lebar-lebar. Namun Bu Indah segera menutupnya sebelum kalimat-kalimat yang tidak diperlukan itu keluar dari mulut Laila.


"Bu, kenapa ibu sekolahin saya di tempat yang mahal begitu?" tanya Laila saat mereka sudah berada di mobil.


"Sekolah itu jangan lihat biaya. Tapi kamu harus lihat kualitasnya. Biar nanti pas kamu lulus, kamu juga bisa jadi orang yang berkualitas. Ada ilmu yang bisa kamu terapkan," ucap Bu Indah.


"Iya sih Bu. Tapi kan sayang aja uang segitu dipakai bayar sekolah. Nanti gimana cara saya balikin uang Ibu?" tanya Laila.


"Apa aku bilang minta diganti?" tanya Bu Indah.


"Ya gak sih Bu. Tapi kan hari gini gak ada yang gratis. Setidaknya kita bisa barter pakai apa gitu. Tapi saya gak bisa ngasih apa-apa. Ngasih tenaga aja gak bisa. Semua kerjaan di rumah udah ada yang pegang Bu. Saya gak kebagian jatah," jawab Laila.


"Nanti aku buatkan daftar kegiatan yang harus kamu lakukan selama tinggal di rumahku," ucap Bu Indah.


"Siap Bu," ucap Laila senang.


Laila bisa tersenyum dan bernapas lega. Akhirnya kedatangannya ke rumah itu bisa bermanfaat juga. Setelah seharian kemarin ia hanya diam dan mengekor Bi Yani. Walaupun ia belum tahu tugas apa yang harus ia jalani. Baginya yang penting kerja dan dapat uang.


"Laila," panggil seseorang sambil mengetuk kamar Laila.


Laila sudah mengenal suara itu hingga ia segera membuka pintu dan menyambut Bi Yani. Matanya masih merah, Laila baru bangun tidur.


"Kamu baru bangun tidur?" tanya Bi Yani.


"Maaf saya ketiduran," jawab Laila sambil menunduk.

__ADS_1


Tangannya menggulung ujung baju. Sebisa mungkin Laila menyembunyikan rasa bersalahnya. Ia benar-benar merasa tidak enak.


"Ah tidak apa-apa. Ini list tugas yang dibuatkan Bu Indah untukmu," ucap Bi Yani sambil menyerahkan selembar kertas.


"Oh iya terima kasih. Saya janji akan menjalankan semua tugas ini dengan sangat tanggung jawab," ucap Laila.


"Harus," ucap Bi Yani sambil mengusap punggung Laila lalu pamit.


Laila tersenyum setelah Bi Yani pergi. Rasa bersalahnya hilang saat Bi Yani tidak terlihat marah atau kesal padanya. Laila juga tahu kalau Bi Yani baik dan tidak akan melaporkan apapun pada Bu Indah.


"Ayo Laila! Semangat," ucap Laila sambil mulai membaca kertas yang diterimanya.


Perlahan dahi Laila mengerut tanda bahwa ia tidak mengerti dengan list tugas yang diberikan padanya. Semua yang ditugaskan padanya bukan tugas yang menurutnya layak. List itu berisi kebiasaan sehari-hari pada umumnya. Bahkan Laila merasa itu adalah kegiatan orang malas.


Tugas itu hanya mandi, belajar dandan, sekolah dan istirahat yang cukup. Laila yang sudah terbiasa dengan kegiatan padat yang lebih berarti hanya menggelengkan kepalanya.


"Tugas macam apa ini? Apa Bu Indah tidak punya tugas yang lebih bermanfaat?" ucap Laila lesu.


Kertas itu masih dipegang. Ia duduk lesu di tepi ranjang. Mengingat keluarganya di kampung. Semua kehangatan itu hilang dari hidupnya. Di rumah Bu Indah juga banyak orang, tapi hanya Bu Indah dan Bi Yani yang hangat padanya. Yang lainnya justru terkesan dingin dan iri padanya.


Masa depan? Ya, tentu. Laila pergi ke Jakarta bukan hanya untuk lari dari perseteruan dengan Deri. Ia ingin merubah nasib keluarganya. Laila ingin mengumpulkan uang dan membuka toko kue suatu saat nanti.


"Ah, aku harus bicara sama Bu Indah," gumam Laila.


Laila segera pergi menemui Bu Indah. Protes Laila tidak didengar sama sekali. Bagi Bu Indah, semua yang ditugaskan padanya sudah menjadi kewajiban Laila tanpa harus protes.


"Laila, lakukan semua itu dengan benar. Jangan banyak protes," ucap Bu Indah mengingatkan.


"Tapi Bu, ini bukan tugas. Saya ke sini mau kerja. Mang Bro juga meminta saya jadi pembantu. Bukan jadi pemalas seperti ini," ucap Laila.


"Siapa yang memintamu jadi pemalas? Aku minta kamu belajar yang bener," ucap Bu Indah.


"Bu, saya tahu belajar itu harus. Tapi saya bisa bekerja disela-sela tugas sekolah saya," ucap Laila.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu mendapat nilai yang jelek. Aku mau melihatmu naik ke atas podium saat kenaikan kelas. Aku mau kamu menjadi siswa berprestasi dan bisa dibanggakan. Apa itu kurang? Apa tugas itu terlalu mudah? Ingat! Kamu tidak sedang di kampung. Ini Jakarta dan pesaing kamu berat," ucap Bu Indah.


Laila diam. Ia bungkam saat ditantang oleh Bu Indah. Ya, jelas sangat berat. Laila memang bukan orang yang bodoh. Tapi ia tidak sepintar itu. Tiba-tiba Laila merasa ingin mundur. Rasanya ia lebih ingin sekolah paket C sambil tetap membantu ibunya di kampung. Setelah mendapat ijazah, ia ingin melamar kerja di pabrik.


Namun situasinya tidak semudah itu. Laila sudah mulai berjalan. Tidak mungkin bisa mundur begitu saja. Namanya sudah terdaftar di salah satu sekolah berkualitas. Dimana setiap orang mendambakan posisinya saat ini. Lagi pula, jusrusan yang ia ambil akan menunjang cita-citanya.


"Baiklah," ucap Laila.


Satu kata yang membuat Bu Indah senang. Laila pamit setelah perdebatan panjang dan akhirnya menyetujui semua perjanjian itu. Namun selang beberapa menit, Laila kembali mengetuk pintu kamar Bu Indah.


"Ada apa lagi?" tanya Bu Indah.


"Di sini gak ada aturan yang boleh dan gak bileh saya lakuin, Bu. Apa saya boleh main ponsel? Saya belum mengabari keluarga di kampung, Bu. Saya rindu mereka. Mereka pasti khawatir sama saya," ucap Laila.


"Kamu belum mengabari mereka?" tanya Bu Indah terkejut.


"Belum," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.


"Astaga Laila. Cepat kabari ibumu," ucap Bu Indah.


"Beneran Bu?" tanya Laila sambil menatap Bu Indah tidak percaya.


"Beneran. Masa bohongan. Ibu kamu pasti nunggu kabar dari kamu. Nanti disangka kamu ditipu sama saudaranya Jajang," jawab Bu Indah.


"Ya kan belum ada aturan Bu. Saya takut tidak diizinkan main ponsel. Kalau nanti diem-diem terus kelihatan dari cctv kan bahaya. Rumah ibu banyak cctv nya," ucap Laila.


"Ah, kamu ini ada-ada aja. Ayo cepet telepon ibumu. Jangan membuatny khawatir," ucap Bu Indah.


"Siap Bu. Saya permisi dulu ya," ucap Laila.


Laila segera menelepon keluarganya. Mengabarkan jika ia baik-baik saja. Mendengar suara Bu Rini, Laila tidak menyadari jika air matanya terus berhamburan. Dadanya sesak saat mendengar suara lembut itu mengutarakan kerinduan untuknya.


"Ibu maafin Laila ya. Ibu baik-baik di sana sama Kak Yanti. Nanti Laila pulang, kita bikin toko kue yang besar ya. Ibu sabar," ucap Laila.

__ADS_1


Panggilan itu tidak lama. Bukan karena Laila sibuk atau tidak merindukan ibunya, namun berlama-lama bicara dengan ibunya hanya membuatnya semakin sakit. Untuk sementara, Laila harus menguatkan dirinya sebelum nanti ia yang harus menguatkan ibunya tentang jarak ini.


__ADS_2