Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Minuman basi


__ADS_3

Laila menolak saat Bagus ingin membantunya ke kamar mandi. Ia sudah tidak terlalu ngilu di bagian itu. Hanya saja ia merasa badannya terasa begitu sakit.


"Eh Mas, jangan. Aku bisa sendiri," ucap Laila saat Bagus tanpa aba-aba menggendong Laila dan membawany ke kamar mandi.


"Gak usah terlalu mandiri. Aku gak suka. Kalau kamu butuh bantuan, aku selalu siap buat kamu. Aku ini kan suami kamu," ucap Bagus.


"Mas tapi kesannya aku ini jompo. Kemana-mana digendong. Harusnya aku yang layanin Mas. Nah ini aku bangun aja kesiangan," ucap Laila.


"Udah cepetan mandi. Aku nunggu di luar. Gak kuat lapar," ucap Bagus.


Bagus tidak mau mendengar Laila selalu merasa bersalah. Sebenarnya ini hanyalah rasa terima kasih Bagus pada Laila. Tanpa merasa direndahkan, Bagus ingin melayani Laila sebaik mungkin. Sebagaimana Laila melayaninya tadi malam.


"La, udah?" tanya Bagus.


"Sebentar lagi Mas," jawab Laila.


Saat Laila membuka pintu kamar mandi, Bagus sudah berdiri tegak. Siap sedia menggendong Laila. Namun Laila menolak. Ia ingin berjalan sendiri. Sudah cukup melihat Bagus melayaninya sejak malam.


"La, kamu jangan gitu dong. Aku ini kan suami kamu," ucap Bagus.


"Iya karena Mas ini suamiku, jadi aku harus berbakti sama Mas. Aku yang harusnya melayani Mas," ucap Laila.


Laila meraih piring yang berisi nasi uduk. Suapan pertama ia berikan untuk Bagus. Sempat menolak, namun Laila ingin membalas kebaikan Bagus padanya.


Pagi ini terjadi dengan penuh kasih dan keromantisan. Bagus dan Laila menikmatinya sampai akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumah kontrakan. Sebenarnya Bagus ingin mengulang hal indah itu lagi, namun ia tidak mau membuat Laila takut padanya. Bagus tahu kalau hal ini pertama kalinya untuk istrinya. Ia tidak mau membuat Laila menilainya hiper.


"Mas kenapa sih lihatin akunya begitu banget?" tanya Laila.


"Kamu cantik," jawab Bagus.


"Ah, gombal terus." Laila mengusap wajah Bagus yang menatapnya tajam.


Laila segera mengajak Bagus saat jam sudah semakin siang. Hasna dan Kayla pasti sudah menunggunya. Namun sayangnya saat sampai, ternyata rumah sepi.


"Mana Hasna sama Kayla?" tanya Laila.


"Tidur Bu," jawab Bi Sumi.


"Tidur? Tumben tidur siang," ucap Laila.


"Iya Bu. Tadi abis ngerjain PR langsung tidur. Katanya di sekolah abis olahraga," ucap Bi Sumi.


Laila segera ke kamar, melihat Hasna dan Kayla yang tengah terlelap. Tangannya mengusap lembut kepala Hasna dan Kayla bergantian. Tak lama, Laila ikut berbaring di tengah. Entah karena rindu tidur bersama, atau memang Laila benar-benar mengantuk. Laila pun ikut tertidur.


Sementara di ruang tengah, Bi Sumi mengajak ngobrol Bagus. Melihat cara berjalan Laila yang sedikit berbeda, membuat Bi Sumi curiga.


"Gimana, Pak?" tanya Bi Sumi.


"Gimana apanya?" tanya Bagus.


"Udah belum?" Bi Sumi balik bertanya.


"Bikinin kopi sana Bi. Gak usah nanya-nanya begitu ah," ucap Bagus.


Bi Sumi segera pergi ke dapur. Membuatkan kopi hitam kesukaan Bagus. Setelah itu, Bi Sumi segera kembali menemui Bagus. Membawakan kopi hitam yang masih mengepul.

__ADS_1


"Pak, Bu Laila masih ori kan?" tanya Bi Sumi tiba-tiba.


Bagus mengangkat wajahnya dan menatap Bi Sumi penuh tanya. Bi Sumi yang mengerti arti tatapan itu segera menjelaskan pada Bagus tentang status Laila yang sebenarnya. Cerita Bi Sumi sama persis dengan cerita Laila malam tadi.


"Kok Bibi gak cerita sama aku?" tanya Bagus.


"Ya sengaja, Pak. Biar kejutan. Makanya saya dari awal dukung Bapak sama Bu Laila, karena saya tahu Bu Laila itu orang baik. Cocok buat Bapak," jawab Bi Sumi.


Bagus tersenyum dan berterima kasih. Ya, bagaimanapun, Bi Sumi memang berjasa atas pernikahan Bagus dan Laila. Bi Sumi adalah orang yang selalu meyakinkan dan menyemangati Bagus untuk segera menikahi Laila.


"Oh ya Bi, Laila mana?" tanya Bagus setelah menyeruput kopi hitam buatan Bi Sumi.


"Tadi sih ke kamar lihat Hasna sama Kayla Pak," jawab Bi Sumi.


Bagus melihat pergelangan tangannya. Sudah hampir dua puluh menit Laila tidak kembali padanya. Ia segera mengecek keadaan Laila. Takut kalau terjadi apa-apa pada istrinya. Namun akhirnya Bagus bisa tersenyum senang dan tenang saat melihat Laila tidur diantara Hasna dan Kayla.


Tidak ingin mengganggu mereka bertiga, Bagus kembali keluar kamar. Ia memainkan ponselnya. Mengecek email lalu membuka aplikasi media sosialnya. Sudah beberapa hari ia tidak update. Namun Bagus sudah terlanjur merasa nyaman. Ia merasa tidak perlu melaporkan apapun yang ia rasakan dan dimanapun ia berada saat ini.


"Hoeeek, hoeeeek," Laila terdengar muntah-muntah.


Bagus yang asyik memainkan ponselnya sangat terkejut. Ia segera memburu Laila dan membawanya ke ruang depan. Membuat Laila lebih leluasa dengan udara yang lebih bebas. Hasna dan Kayla pun ikut mengikuti Laila dan Bagus.


"La, akhirnya kamu hamil. Alhamdulilaaaah," ucap Bagus bahagia.


"Hah? Hamil?" tanya Laila bingung.


"Asiiiik, perut Mama udah ada dede bayinya. Horeee," ucap Hasna senang.


"Wah, aku mau punya ade baru. Senengnya," ucap Kayla.


"Loh kenapa? Kok Bibi kayak yang gak seneng sih?" tanya Bagus.


"Bapak ini seenaknya menuduh Bu Laila hamil. Kalau tetangga dengar bisa rame urusannya," ucap Bi Sumi.


"Kenapa memangnya? Ini ada bapaknya. Apa yang mau digosipkan sama tetangga?" tanya Bagus.


"Bapak itu baru semalam gunting pitanya. Masa iya udah nuduh Bu Laila hamil," ucap Bi Sumi.


"Kok menuduh? Ini fakta. Aku yang bikin. Aku juga baca kalau istri mual-mual itu artinya lagi hamil," jawab Bagus.


"Pak, waktu semalam itu gak bisa langsung hamil. Ada prosesnya. Gak secepet itu," ucap Bi Sumi.


"Aku minum air di kamar Mas," ucap Laila.


"Ya ampun Ma. Itu sisa minuman dua hari yang lalu," ucap Kayla.


"Kay, kamu kalau minuman basi begitu buang dong jangan disimpen di kamar. Bahaya tahu," ucap Bagus panik.


"Sebentar Bu, saya buatkan susu. Biar netral," ucap Bi Sumi.


"Ah lama. Ayo ke dokter aja!" ajak Bagus.


"Gak usah Mas. Aku gak apa-apa kok," ucap Laila.


"Gak apa-apa gimana? Kamu ini abis minum minuman basi," ucap Bagus.

__ADS_1


"Gak apa-apa Mas. Aku minum susu aja," ucap Laila.


Bi Sumi segera pergi ke dapur membuatkan susu untuk Laila. Tidak lama, susu hangat itu segera diminum oleh Laila.


"Maaf ya jadi bikin panik semuanya," ucap Laila.


"Aku yang minta maaf Ma. Aku lupa gak buang minuman itu," ucap Kayla dengan mata berkaca.


Bagus segera mendekap Kayla. Meminta maaf dan menenangkan Kayla. Ia tidak sadar sudah marah pada Kayla tadi. Kekhawtiran Bagus yang berlebih membuat semuanya panik.


Laila melihat ketulusan saat Bagus memeluk dan meminta maaf pada Kayla. Selama ini, Laila belum pernah ada laki-laki yang memperlakukan Kayla begitu manis. Deri? Ah, sudah tidak perlu dibahas. Sama sekali tidak ada sosok ayah pada diri Deri.


"Papa jangan marah lagi ya!" ucap Kayla sambil memunduk.


"Gak. Papa janji gak bakal marah lagi. Maafin Papa ya," ucap Bagus sambil mencium tangan Kayla.


"Terima kasih Pah," ucap Kayla sambil memeluk Bagus.


Malam ini terakhir Bagus berada di Surabaya. Seharusnya masih dua hari lagi. Namun urusan kerja terpaksa membuatnya pulang lebih cepat. Bi Sumi memberi kode pada Bagus agar tidak membawa Hasna dan Kayla ke rumahnya. Namun Bagus tetap mengajak keduanya menginap di rumahnya.


"Terus nanti malam gimana?" tanya Bi Sumi sambil berbisik.


"Ah, Bibi mikirin itu terus. Udah lah gak apa-apa. Aku kangen sama mereka," ucap Bagus.


Dan ternyata benar kata Bi Sumi. Malam ini Bagus kebingungan saat ingin kembali menikmati keindahan duniawi yang sangat nikmat.


"Mas kenapa gelisah begitu sih?" tanya Laila.


"Hasna kalau malam suka bangun gak sih?" tanya Bagus.


"Memangnya kenapa?" tanya Laila.


"Siap. Aman dong kalau gitu. Yuk ah start!" ajak Bagus.


Laila menatap Bagus dengan senyum yang penuh arti. Permainan kedua harus dilakukan dengan penuh tantangan. Tanpa pakaian dinas yang menggoda, Laila sudah mampu membuat Bagus tergoda dengan sentuhan nakalnya.


Tidak ingin mengganggu tidur Hasna dan Kayla, Bagus dan Laila melancarkan aksinya di lantai. Dengan alas kasur yang tidak terlalu empuk, keduanya beradu keringat. Saling memadu kasih layaknya orang bisu. Wajah mereka hanya terlihat memerah. Semua terjadi saat menahan suara yang seharusnya lepas untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan.


"Ahhh," ucap Bagus sampai mencapai titik akhir.


Laila segera membungkam mulut Bagus yang tidak terkontrol. Suaranya terdengar sangat nyaring dan membuat Hasna sedikit terganggu dalam tidurnya. Hal itu membuat keduanya segera tiarap dengan degup jantung yang tak beraturan.


"Hampir aja," ucap Bagus sambil mengusap dadanya.


"Makanya hati-hati Mas," ucap Laila.


"Iya. Ayo cepetan pakai lagi bajunya. Takut mereka bangu beneran," ucap Bagus.


Keduanya memakai pakaian dengan cepat layaknya sedang lomba agustusan. Lutut yang gemetar pun membuat Laila dan Bagus mengabaikannya. Semua itu kalah dengan rasa takut.


"La, lucu ya!" ucap Bagus sambil tersenyum.


"Apanya yang lucu?" tanya Laila.


"Kita ini pasangan halal, tapi kayak yang takut di gerebek RT. haha," jawab Bagus.

__ADS_1


Laila pun tertawa saat mendengar ucapan Bagus. Dan memang Laila menyadari apa yang diucapkan Bagus benar adanya. Permainannya kali ini benar-benar memacu adrenalin. Tapi semua menjadi kesan tersendiri untuk keduanya.


__ADS_2