Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Paket


__ADS_3

Selesai acara pertunangan, Laila segera berkemas. Besok harus sudah pulang karena Hasna dan Kayla sekolah. Ada kekecewaan di wajah Bagus, namun Laila berjanji akan selalu menjaga hatinya untuk Bagus.


"Gak bakal genit-genit kan sama si tukang masak itu?" tanya Bagus.


"Gak dong," jawab Laila.


Sebelum kepulangan Laila ke Surabaya, Bagus ingin menikmati momen kebersamaan mereka di Surabaya. Sebuah tempat makan dipilih Bagus. Hal yang mencengangkan adalah, Bagus memilih cafe dekat sekolah Laila dulu.


"Jangan nangis," ucap Bagus sambil menarik tangan Laila.


Bahkan Bagus memilih sebuah meja yang dulu sering ditempatinya dengan Bu Herlin dan Bu Indah. Seketika bayangan mereka berdua tergambar jelas di kepala Laila. Membuat air matanya jatuh tak bisa ditahan.


"Menangislah," ucap Bagus sambil mengusap kepala Laila.


Laila masih sibuk dengan kesedihannya, sampai ia lupa bertanya apa yang membuat Bagus melakukan semua ini. Cafe itu memang sudah sedikit berubah, namun Laila masih merasa semua sama. Sama hangatnya namun membuat dadanya sesak.


"Aku sengaja membawamu ke sini," ucap Bagus.


Laila menatap Bagus. Menuntut penjelasan dari ucapan laki-laki yang ada di hadapannya itu. Mereka hanya berdua, karena Hasna dan Kayla sudah mengantuk dan tidak mau ikut. Kesempatan yang dimanfaatkan Bagus sebaik mungkin.


Sebuah diary diberikan Bagus pada Laila. Tangannya bergetar saat membuka lembar demi lembar kertas pada buku yang ada dalam genggamannya. Apalagi saat sebuah kalung terselip diantara lembaran kertas.


"Bu Indah," ucap Laila gemetar sambil berderai air mata.


Ya, setelah beberapa kali Bagus memposting fotonya dengan Laila, ternyata Bu Indah melihat postingan itu. Rupanya ada sebuah postingan yang Bagus lupa untuk memprivasinya. Hingga Bu Indah segera mengabari Bagus. Menanyakan wanita yang bersama Bagus.


Saat tahu wanita itu Laila, Bu Indah segera mengirim paket ke alamat Bagus. Bukan hanya Laila, Bagus bahkan sampai terkejut membaca buku itu. Bu Indah memang meminta Bagus untuk membacanya sebelum diberikan pada Laila. Jika menurut Bagus tidak masalah, maka buku itu boleh diberikan pada Laila. Namun jika sekiranya tulisan di buku itu hanya akan menyakiti Laila, Bu Indah meminta buku itu dibuang saja.


Isinya sangat mengharukan. Dari mulai curahan hatinya atas perasaan tulus Bu Indah menyayangi Laila, hingga kegelisahannya saat Zara, anak kandungnya sudah kembali. Dua anak yang tidak bisa dibandingkan oleh Bu Indah. Namun tidak ingin Zara menyakiti Laila, Bu Indah memilih untuk membiarkan Laila bahagia dengan Bu Herlin.


Sayangnya Bu Herlin tidak bisa menjaga karena meninggal dalam tragedi kecelakaan itu. Bu Indah tidak tahu jika selama ini Laila begitu menderita mengurus dua anak yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawab Laila.


Saat Bagus mengatakan status Laila sebagai janda beranak dua, Bu Indah tersenyum. Namun seperti Bi Sumi, Bu Indah tidak mau membeberkan siapa Hasna dan Kayla. Bu Indah hanya ingin melihat Bagus menerima Laila dengan tulus, itu saja.


Selain itu, rencana Bu Indah tentang Dahlia Bakery pun tidak luput dalam tulisan itu. Membuat Laila memegang dadanya yang terasa semakin sesak. Laila tidak menyangka jika Bu Indah sesayang itu padanya.


"Dahlia Bakery," ucap Laila sambil mengusap pipinya.


"Kamu boleh pakai nama itu buat toko kita nanti," ucap Bagus.


Laila mengangkat wajahnya. Ia menatap Bagus dengan bingung. Benarkah? Dahlia bakery adalah nama yang diberikan Bu Indah. Nama Dahlia diambil dari nama Indah dan Laila. Sementara toko itu dibuat oleh Bagus. Meskipun Laila akan menjadi istrinya nanti, namun Laila merasa tidak punya hak sama sekali.


"Aku suka namanya. Dahlia bakery. Cantik banget," ucap Bagus.


"Tapi kan toko kuenya punya Bapak," ucap Laila.


"Ya jadi boleh dong kalau aku mau pakai nama Dahlia Bakery," ucap Bagus.


Laila tersenyum dan menarik tangan Bagus. Menggenggamnya dengan erat dan tersenyum manis. Berterima kasih atas semua kebahagiaan yang diberikan untuknya.


Makan malam kali ini benar-benar membuat Laila bahagia. Berkesan dan melahirkan rasa baru pada Bagus. Rasa sayang yang kian tumbuh semakin besar membuat Bagus tak ingin kehilangan Laila. Ia sudah yakin jika Laila adalah satu-satunya orang yang bisa membahagiakannya.


"Pulang yuk!" ajak Bagus.

__ADS_1


Laila sampai lupa jika ini sudah terlalu malam. Bahkan ia lupa jika Hasna dan Kayla tidak ikut bersama mereka. Waktu dan momen yang tercipta saat itu terlalu indah. Laila merasa cepat sekali waktu berlalu.


"Besok aku gak bisa antar kamu. Gak apa-apa kan?" tanya Bagus.


"Gak masalah Pak. Saya udah biasa kok mandiri," jawab Laila.


Bagus menghentikan mobilnya. Ia menatap Laila tidak suka. Jujur saja, Bagus lebih suka Laila bergantung padanya. Meskipun ia tahu jika memang kenyataannya Laila memang wanita mandiri. Ia mampu menjalani hidupnya yang keras seorang diri dengan mengurus dua anak sekaligus.


"Paling tidak jangan terlalu mandiri saat bersamaku," ucap Bagus.


"Iya maaf," ucap Laila.


Laila yang memang sudah terbiasa hidup mandiri justru bingung saat harus belajar manja. Merengek dan mencoba membujuk Bagus untuk mengantarnya pulang? Itu sungguh bukan Laila.


"Lain kali jangan gitu lagi ya," ucap Bagus.


"Siap Pak," ucap Laila.


"Satu lagi," ucap Bagus.


"Apa?" tanya Laila.


"Jangan panggil aku Bapak," jawab Bagus.


"Terus?" tanya Laila.


"Ya panggil Papa lah kayak anak-anak," jawab Bagus.


"Mas aja ya!" pinta Laila.


"Boleh lah. Asal jangan panggil Bapak lagi ya," ucap Bagus.


"Siap," ucap Laila.


"Siap apa?" tanya Bagus.


"Siap mas," jawab Laila sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Bagus tersenyum dan kembali melajukan mobilnya. Beristirahat setelah sampai ke rumah. Tak lupa Bagus mengatur alarm di ponselnya lebih pagi agar bisa membantu Laila bersiap untuk pulang.


"Mas udah bangun?" tanya Laila saat membuka pintu kamarnya.


Ya, malam ini Bagus dan Laila tidur bersama di rumah Bagus. Tapi tidak hanya mereka berdua. Banyak orang yang tidur di rumah itu. Jadi Laila tidak protes saat mereka tidur satu atap. Yang penting belum satu kamar.


"Udah dong," jawab Bagus.


Laila membangunkan Hasna dan Kayla. Membantu kedua keponakannya untuk bersiap. Setelah siap, Laila mencari Bagus untuk pamit.


"Saya pulang ya Mas," ucap Laila.


"Iya. Hati-hati ya," ucap Bagus.


"Iya. Oh ya Mas, buket uangnya boleh saya bawa pulang?" tanya Laila.

__ADS_1


"Boleh dong. Itu kan hak kamu. Itu semua milik kamu," jawab Bagus.


"Terima kasih ya," ucap Laila senang.


Saat Bagus melihat Laila membawa buket uang itu, Bagus mengernyitkan dahinya. Laila benar-benar membawa buket bunganya. Padahal Bagus pikir, Laila akan membawa uangnya saja.


"Katanya boleh dibawa pulang," ucap Laila.


"Tapi gak begini juga La. Ini bikin ribet di jalannya," ucap Bagus.


Ya, ukuran buket yang besar tentu membuat perjalanan pulang Laila akan ribet. Namun Laila merasa sayang jika buket itu diacak. Menurutnya, ini buket tercantik yang diterimanya. Dulu Laila pernah mendapat buket bunga saat lulus SMK.


"Nanti kalau aku di Surabaya, aku janji bakalan bawain lagi buket yang jauh lebih besar buat kamu. Tapi nanti ya," ucap Bagus.


Laila sempat terlihat kecewa saat Bagus meminta mengacak buket uang itu. Padahal yang Laila inginkan adalah menyimpan buket bunga itu di kamarnya. Bukan hanya nominal uang dari isi buketnya yang ia inginkan.


Namun setelah Bagus berjanji akan membuatkannya buket uang lagi di Surabaya, Laila baru bisa tersenyum. Ia percaya jika Bagus akan menepati janjinya.


"Yang mirip begini ya Mas," ucap Laila.


"Iya gampang," ucap Bagus.


Bagus membantu Laila mengacak buket itu. Ia juga merapikan dan memberikan uang itu pada Laila. Tidak dihitung, Laila hanya menerimanya dan segera menyimpannya ke dalam tas. Hal yang sangat membuat Bagus senang. Laila sama sekali tidak pernah membahas nominal. Sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Winari dulu.


Lambaian tangan Laila, Hasna dan Kayla membuat Bagus kehilangan senyumnya. Pekerjaannya yang sedang sangat padat membuatnya tidak bisa mengantar mereka ke Surabaya. Bahkan Bagus harus bekerja di hari pertama setelah pertunangannya.


"Ciee, calon manten." Salah satu teman kerjanya menggoda Bagus.


"Kok lemes sih? Perasaan baru tunangan deh, belum ijab kabul." Teman yang lain ikut menimpali.


Belum lagi beberapa karyawan yang mengucapkan selamat dengan senyum penuh arti. Namun Bagus hanya menggelengkan kepalanya.


Belum sehari berpisah dengan Laila membuat Bagus merasa sangat kesepian. Saat sudah pulang, Bagus segera melakukan panggilan video dengan Laila. Padahal sejak tadi siang Bagus sudah sibuk chattingan dengan Laila. Bagaikan ABG yang sedang dimabuk asmara, laki-laki dengan status duda itu terlihat begitu gelisah.


Tepat seminggu setelah pertunangannya, Bagus bisa mendapat jadwal libur. Tanpa pikir panjang, Bagus segera pergi ke Surabaya. Menemui Laila dan kedua anak yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya. Bahkan, oleh-oleh yang Bagus siapkan pun untuk Hasna dan Kayla. Untuk Laila sendiri, Bagus hanya memesan buket uang yang sama persis dengan buket yang diberikannya saat pertunangannya.


"Laila," panggil Bagus.


Laila yang baru pulang kerja mengernyitkan dahinya saat melihat Bagus sudah berdiri di depan rumah kontrakannya. Ia bingung karena Bagus tidak mengabarinya jika akan ke Surabaya hari itu. Apalagi saat melihat Bagus membawakan sebuah buket uang besar. Sama dengan yang ia terima saat Bagus melamarnya.


"Itu buketnya udah jadi Mas?" tanya Laila dengan wajah bingung.


"Iya dong. Memangnya kenapa? Gak suka? Mirip kok," jawab Bagus.


"Mirip sih Mas. Tapi kan uangnya masih di tas saya," ucap Laila.


"Uang apa?" tanya Bagus.


"Uang buketnya," jawab Laila.


Bagus tertawa saat tahu jika Laila berpikir uang dari buket yang dibawanya itu akan dibuatkan buket kembali. Padahal kenyataannya Bagus sama sekali tidak pernah meminta uang itu lagi. Semua itu sudah menjadi milik Laila. Sementara untuk membuat buket lagi, Bagus tentu akan mengeluarkan budget lagi dari dompetnya.


Laki-laki yang akan menjadi suami Laila itu bukan tipe orang yang perhitungan. Apalagi untuk wanita yang paling ia cintai. Sepertinya Laila belum tahu itu. Dan saat ini Bagus menunjukkan semua itu hingga membuat Laila benar-benar merasa beruntung memiliki Bagus dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2