Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Alarm


__ADS_3

"Hey, kok kamu nangis sih? Ayo makan! Masalahnya udah beres," ucap Bagus sambil mengusap kepala Laila.


"Aku gak nyangka semuanya selesai cepat, Mas. Aku sempat mikir kalau Mas bakal ninggalin aku. Soalnya tadi pagi Mas jawab telepon sampai marah-marah karena temennya selingkuh," ucap Laila.


"Dan itu yang akan aku lakukan kalau kamu sampai benar-benar selingkuh," ucap Bagus.


"Ih amit-amit. Mas, selingkuh itu murah. Jadi selingkuh itu cuma dilakukan sama orang-orang yang murahan. Setia itu mahal, orang murahan mana bisa buat setia. Aku sih mahal," ucap Laila.


Bagus mengangkat kedua jempolnya sembari tersenyum lebar. Senang dengan ucapan Laila. Tapi sebenarnya, tanpa Laila mengucapkan hal itu pun Bagus yakin jika Laila tidak mungkin mengkhianatinya. Bagus bisa merasakan setiap ketulusan Laila padanya.


"Memangnya teman Mas yang mana yang diselingkuhin?" tanya Laila.


"Gak ada," jawab Bagus.


"Hah? Terus tadi siapa yang nelepon?" tanya Laila.


"Gak ada," jawab Bagus.


"Gak ada gimana, aku jelas-jelas denger ponsel Mas berisik kok. Katanya harus jujur," jawab Laila sambil cemberut.


Bagus menghela napas panjang sebelum akhirnya menceritakan sandiwaranya. Tadi pagi ponselnya memang berdering. Tapi bukan panggilan telepon. Itu hanya nada alarm yang sengaja di setting oleh Bagus. Hal itu ia lakukan untuk memancing agar Laila bisa jujur padanya. Namun sayangnya Laila justru ketakutan dan memilih untuk bungkam.


"Astaga Mas, keterlaluan ya. Jadi tadi kamu ngomong sendirian?" tanya Laila.


Bagus menatap Laila. Saat pertanyaan terasa menuduh dan menyudutkan, Bagus segera mengacak rambut Laila. Apalagi saat melihat wajah Laila menahan tawa hanya untuk mengejeknya. Bagus benar-benar gemas melihat wajah Laila. Wajah yang kini sudah kembali ceria. Laila sudah menjadi istrinya lagi. Wanita ceria yang selalu menyenangkannya dalam keadaan apapun.


"Sebentar ya!" ucap Bagus saat mendapat panggilan di ponselnya.


Bagus menjawab panggilan itu saat sudah menjauh dari Laila. Masih dengan sarapannya, Laila menatap Bagus yang tengah bicara serius dengan orang yang sama sekali tidak diketahuinya.


"Siapa, Mas? Kali ini Mas beneran ngobrol sama orang kan? Mas gak lagi ngomong sendiri kan? Itu tadi beneran suara panggila. telepon apa cuma alarm lagi?" tanya Laila sambil tertawa.


Bukan hanya Laila, Bi Sumi yang mendengar pertanyaan bernada mengejek itu pun ikut tertawa. Bagus yang tidak terima dengan tuduhan Laila segera menggendong Laila dan membawanya ke kamar.


"Mas mau ngapain? Awas lepasin aku," ucap Laila.


"Kamu harus dihukum," jawab Bagus.

__ADS_1


Suara bantingan pintu kamar membuat Bi Sumi harus segera pergi dari rumah itu. Ia tidak mau sampai mendengar suara-suara yang bisa merusak pikirannya.


"Bibiiii," teriak Hasna.


Bi Sumi yang baru saja menutup pintu rumah dibuat terkejut dengan suara teriakan Hasna. Ini belum jam pulang sekolah. Tapi Hasna dan Kayla sudah pulang. Sekolah mereka sedang mengadakan acara, hingga semua siswa dipulangkan sebelum waktunya.


"Ada Papa ya?" tanya Hasna sambil mendorong pintu.


Pintu yang belum terkunci dengan mudah terbuka begitu saja. Teriakan Hasna kembali diulang saat tidak mendapati Bagus di rumah. Tanpa Hasna tahu, dua orang yang sedang berusaha mencari kenikmatan itu saling menatap dengan wajah panik.


"Hasna," ucap Laila.


Bagus segera beranjak dari ranjang. Memakai kembali kaosnya. Sedangkan Laila segera mengancingkan kemeja tuniknya. Belum sempat merapikan rambut, Hasna sudah membuka pintu kamar.


"Mama kok rambutnya kusut begitu? Sakit?" tanya Hasna.


"Gak kok. Tadi Mama tidur lagi. Jadi rambutnya berantakan," jawab Laila.


"Oh gitu ya. Papa juga ikut tidur ya?" tanya Hasna.


"Pantesan," jawab Hasna.


"Pantesan kenapa?" tanya Bagus panik.


"Pantesan kasurnya berantakan. Mama kalau tidur kan gak berantakan begini kasurnya," jawab Hasna polos.


Bagus menatap Laila yang terlihat panik. Walaupun akhirnya mereka menahan tawa atas tuduhan Hasna. Ya, Bagus memang terlalu bersemangat. Ia bergerak begitu aktif saat pemanasan itu. Walaupun akhirnya permainan yang seru itu tidak bisa diselesaikan.


"Bu, maaf ya. Saya gak bisa cegah Hasna. Dia lari karena kangen sama bapak kali," bisik Bi Sumi.


Laila merasa wajahnya panas karena malu. Ia yakin saat ini wajahnya pasti merah. Namun beruntung Kayla segera menarik tangan Laila. Hari ini Kayla mendapat PR matematika. Sekalian menghindari Bi Sumi, Laila segera membantu Kayla mengerjakan PR itu.


Hari ini dilewati dengan begitu mengesankan oleh Laila. Dari mulai masalah yang sudah selesai dan membuatnya lega, sampai akhirnya ia melihat Hasna begitu bahagia saat mendapat perhatian dari Bagus. Bahkan Laila melihat sendiri bagaimana Bagus menunggu Kayla tidur karena ingin ditemani oleh ayahnya.


Ayah? Ya, Hasna dan Kayla memang sudah menganggap Bagus adalah ayahnya. Meskipun tidak ada darah yang sama di tubuh mereka, namun kasih sayang Bagus yang begitu tulus berhasil membuat suasana baru. Kehadiran Bagus dengan cepat menggeser memori tentang Deri, ayah kandungnya.


Memory itu masih ada, namun kini terlalu banyak kenangan dengan Bagus. Kesedihan dan kerinduan pada sosok ayah itu kini sudah terbayar. Hal itu yang membuat Laila jatuh cinta pada Bagus.

__ADS_1


"Sayang, kenapa begitu? Mau lanjut yang tadi?" goda Bagus.


Malam ini mereka tidur di rumah kontrakan Laila. Rumah yang tidak begitu luas hingga Laila tidak mau melakukan apa yang ia inginkan di sana. Perlakuan Bagus selalu membuatnya tidak bisa menahan mulutnya. Selalu saja mengeluarkan ekspresi yang menggambarkan betapa indahnya semua itu.


"Eh mau kemana?" tanya Bagus sambil menarik tangan Laila.


"Mau bilang terima kasih sama Bi sumi," jawab Laila.


"Kan tadi udah," ucap Bagus.


"Kayaknya belum cukup deh Mas," ucap Laila.


Bagus melepaskan tangan Laila, membiarkan apa yang ingin dilakukan istrinya. Saat itu Bi Sumi sedang merapikan dapur. Rutinitas yang biasa dilakukan Bi Sumi sebelum tidur.


"Bi," panggil Laila.


Bi Sumi menoleh dan segera mendekat.


"Kenapa, Bu? Mau dibikinin teh?" tanya Bi Sumi.


"Saya mau ngomong sama Bibi," jawab Laila.


"Ngomong apa, Bu?" tanya Bi Sumi.


Laila segera memeluk Bi Sumi dengan erat. Tangisnya pecah. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah dilakukan Bi Sumi. Kalau saja Bi Sumi tidak merekam kejadian itu, mungkin saat ini Laila sudah menangis karena ditinggalkan oleh Bagus.


"Saya cuma lihat kalau orang itu mencurigakan Bu. Soalnya sebelum ketemu sama ibu, laki-laki itu mondar-mandir terus di sekitar sini. Makanya buat jaga-jaga saya rekam dan kirim ke Bapak," jawab Bi Sumi.


Hal luar biasa yang dilakukan oleh Bi Sumi. Setelah Bi Sumi membuat Bagus yakin untuk menikahinya, Bi Sumi juga orang menjaga rumah tangga Laila dan Bagus dari keretakan. Bagi Laila, Bi Sumi bukan hanya sekedar asisten rumah tangga. Laila sudah menganggap Bi Sumi adalah ibunya sendiri.


Tanpa sepengetahuan Bi Sumi, Laila meminta izin pada Bagus untuk memberi sejumlah uang untuk Bi Sumi. Awalnya Laila takut Bagus tidak mengizinkan, karena yang Laila tahu upah Bi Sumi hampir dua kali lipat dari upah normal. Namun siapa sangka, Bagus justru menambah nominal yang diajukan Laila.


"Beneran ini, Mas?" tanya Laila.


"Ya masa bohong sih, La. Udah kasih ke Bi Sumi besok," jawab Bagus.


Obrolan mereka selesai saat Laila terlihat sudah menguap. Bagus yang menginginkan kelanjutan aksinya tadi pagi pun harus mengurungkan niatnya.

__ADS_1


__ADS_2