Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Deal


__ADS_3

Bu Indah terus menggerutu selama perjalanan. Bahkan Bu Indah sampai mengingatkan Laila agar tidak melakukan hal itu lagi. Menurutnya, Laila bisa kena hukuman kalau sampai membawa batu sebesar itu dalam tasnya.


"Iya, Bu." Laila mengangguk.


Lebih baik Laila dimarahi karena membawa batu besar dalam tasnya. Asal Bu Indah jangan sampai tahu alasan yang sebenarnya kenapa Laila membawa batu itu. Bisa-bisa kecewa berat saat tahu anak angkatnya sudah menuduh akan menjual Laila pada om-om hidung belang.


"Nanti sore Bagus sama calon istrinya akan ke sini. Jangan lupa mandi dan pakai baju yang bagus. Dandan yang rapi," ucap Bu Indah.


"Iya Bu," jawab Laila.


Hanya iya dan iya yang Laila jawab. Ia tidak mau salah jawab atas pertanyaan ataupun perintah dari Bu Indah. Walaupun sebenarnya Laila menyimpan tanda tanya besar.


Kenapa harus dandan rapi? Kan Om Bagus ke sini sama calon istrinya. Apa aku mau diajarkan jadi pelakor?


Laila menggelengkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa ada niat untuk tidur, tiba-tiba Laila ketiduran. Waktu yang sudah dijanjikan Bu Indah pun berlalu begitu saja. Sampai Bi Yani membangunkan Laila dan segera memintanya bersiap.


"Sudah ada Pak Bagus sama calon istrinya. Kamu kok masih tidur?" tanya Bi Yani.


Mata Laila membulat sempurna saat tahu jika tamunya sudah datang sementara ia sendiri belum mandi. Dengan cepat Laila ke kamar mandi. Melakukan mandi tercepat sepanjang sejarah dalam hidupnya.


Pakaian terbaik dan minyak wangi ia kenakan. Rambut barunya dirapikan dengan sisir dan memberikan jepit kecil untuk menahan rambutnya agar tak berantakan. Sedikit bedak yang dibelikan Bu Herlin ditap-tap ke wajahnya. Tak lupa bibirnya dioles lipstik bernuansa nude yang sangat mahal.


"Maaf terlambat," ucap Laila.


"Oh ya tidak masalah," ucap Bagus.


Ada yang berbeda. Wajah calon pengantin perempuan nampak terkejut saat melihat kedatangan Laila. Bahkan setelah mereka beradu tatap, wanita itu menundukkan wajahnya dan selalu membuang muka saat Laila ikut mengobrol.


"Apa kamu hanya bisa membuat kue kering saja?" tanya Bagus.


"Kue basah juga bisa," jawab Laila.


"Emm, maksudku kue pengantin. Kamu bisa?" tanya Bagus.


"Bisa. Hanya saja aku belum mencoba mendekor dengan dekorasi kekinian," ucap Laila.


"Bisa kamu coba dulu buatkan tester kuenya? Masalah hiasan, aku pastikan akan memberi contoh kue yang standar. Bisa?" tanya Bagus.


"Oh bisa Pak. Akan saya buatkan segera," jawab Laila.


"Baguslah. Kamu tenang saja, semua kamu hitung, biar nanti kita kalkulasikan dalam pembayaran." Bagus meyakinkan Laila jika tidak akan ada kerugian untuknya.


Ya, Laila hanya perlu membuatkan contoh kue pengantin saja. Kue kering yang dipesan Bagus sudah pernah dicicipi dan cocok dengan seleranya. Laila berharap kue pengantin juga bisa cocok dengan lidah Bagus.


Tidak lama, setelah pemesanan kue itu selesai Bagus dan calon istrinya pulang. Laila yang sudah kembali ke kamar duduk di tepi ranjang. Ia segera mengecek ponselnya. Rasa-rasanya masih ada satu foto dalam ponselnya yang tersimpan.


"Tuh kan bener," ucap Laila.


Ya. Saat bertemu dengan calon istri Bagus, Laila melihat ada sesuatu yang berbeda. Seperti tidak terlalu asing baginya. Laila merasa pernah bertemu dengan wanita itu beberapa waktu lalu.


Wanita itu memang perempuan yang sempat bertemu dengannya hampir dua tahun lalu. Saat Laila masih SMP dan sedang studytour. Ia ingat betul bahwa ponselnya dipinjam oleh sepasang kekasih yang tengah berbahagia. Namun laki-laki yang ada di foto itu bukan Bagus.


"Hebat ya kalau punya wajah cantik. Pacarnya ganteng-ganteng euy," ucap Laila sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sambil tiduran, Laila mencari ide untuk membut hiasan kue pengantin yang paling menarik. Sederhana tapi terlihat cantik. Sampai akhirnya ia melihat satu foto yang benar-benar membuatnya tertarik.

__ADS_1


"Aku coba rekomendasiin ke Pak Bagus ah. Kali aja dia suka. Sekalian mau ngecek, selera orang kota sama anak kampung bisa sama gak ya." Laila tertawa kecil sambil menatap foto kue yang ada di layar ponselnya.


"La," panggil Bu Indah.


"Iya Bu," jawab Laila.


Belum sempat Laila membuka pintu, Bu Indah sudah masuk ke kamarnya. Dengan sangat serius, Bu Indah meminta Laila untuk membuatkan kue terbaiknya.


"Ini tantangan besar untukmu. Jangan hitung masalah bayaran dulu. Kalau sampai kamu berhasil membuatkan kue untuk pernikahan Bagus nanti, itu akan sangat berpengaruh untuk masa depanmu. Jangan lupa dandan yang bener," ucap Bu Indah.


"Iya, Bu." Laila mengangguk.


"Oh ya besok kan libur, Bagus meminta kamu mengantarkan kue itu ke rumahnya." Bu indah menambahkan.


"Bu, maaf. Kalau masalah kue saya bisa melakukan semaksimal mungkin. Tapi kalau dandan, untuk apa? Apalagi saya harus mengantar ke rumah Pak Bagus. Ibu tidak meminta saya untuk jadi pelakor, kan?" tanya Laila.


"Astaga Laila. Nyebut kamu. Mana mungkin aku meminta anakku sendiri jadi pelakor," ucap Bu Indah sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya maaf Bu. Tapi jujur aja saya gak tahu hubungan pesanan kue dan penampilan saya. Bahkan ibu sampai harus meminta bantuan Bu Herlin agar merombak penampilan saya," ucap Laila.


Sesaat suasana hening. Laila menjadi takut saat Bu Indah menatapnya dengan begitu lekat. Namun setelah menjelaskan alasan Bu Indah membuat penampilan Laila, membuat remaja kelas 2 SMK itu malu sendiri karena sudah berburuk sangka.


Bagus adalah orang yang sangat suka dengan kebersihan. Pesanan kue itu tidak mungkin dilanjutkan jika melihat keadaan Laila yang selalu tampil dengan terlalu natural, bahkan cenderung dekil.


Semua Bu Indah lakukan untuk masa depan Laila. Akhirnya Laila meminta maaf dsn berterima kasih. Semua yang diberikan dan dilakukan Bu Indah memang selalu yang terbaik untuknya. Kadang Laila bingung sendiri memikirkan cara terbaik untuk membalas kebaikan Bu Indah.


Malam ini Laila tidur cepat agar bisa bangun lebih pagi. Pembuatan kue itu harus dibuat sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Bagus. Benar kata Bu Indah, pesanan saat ini akan menjadi taruhan untuk masa depannya nanti.


"Laila, aku mau ada urusan dulu. Nanti kamu ke rumah Bagas sama sopir aja ya. Dia udah tahu alamatnya kok. Kamu tinggal bawa kuenya ke sana dan tunggu responnya. Semoga Bagus suka ya sama kue buatanmu," ucap Bu Indah.


"Oh iya Bu. Amiiin, semoga aja ya, Bu. Terima kasih udah ngenalin saya sama Pak Bagus," ucap Laila.


"Siap Bu," ucap Laila.


Dengan sangat semangat Laila menyelesaikan tester kue yang akan diantarkannya sore ini. Setelah selesai, Laila siap mengantar kue. Sopir sudah menunggunya di parkiran. Tanpa menunggu lama, mereka segera menuju rumah Bagus.


"Yang ini?" tanya Laila.


"Alamat yang diberikan Bu Indah sih ini," jawab sopir.


Dengan keraguan Laila, akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu rumah itu. Rumah sederhana dan terletak bukan di kawasan elit, membuat Laila ragu dengan alamat itu. Bukan tanpa alasan, Bagus adalah pria yang diceritakan sangat kaya. Bahkan kata Bu Indah, Bagus jauh lebih kaya dibanding dengan Bu Indah.


Masa iya rumah orang kaya begini? Rumah Bu Indah aja udah mewah. Kok yang katanya tajir melintir rumahnya biasa aja ya? Ini sih sama kayak rumah Bu RT di kampung.


Saat seorang wanita keluar dari rumah, membuat Laila membuyarkan lamunannya. Calon istri Bagus membuka pintu rumah itu dan menyambut kedatangannya dengan kaku.


"Ayo masuk dulu," ajak wanita itu.


"Oh iya terima kasih," ucap Laila.


Saat wanita itu mempersilahkan duduk, Laila segera mengisi salah satu kursi yang ada di sana. Kue yang ia bawa segera disimpan di atas meja. Ukurannya kecil karena hanya digunakan sebagai tester saja.


Suasana hening saat wanita itu ke dapur untuk membawakan air minum.


"Minum dulu sambil menunggu Bagus," ucap wanita itu.

__ADS_1


"Oh iya Kak, terima kasih." Laila meneguk air yang dihidangkan untuknya.


"Katanya kamu anak angkat Bu Indah ya?" tanya wanita itu.


"Iya Kak," jawab Laila.


"Kenal Bu Indah dari mana?" tanya wanita itu.


Laila pun menceritakan perjalannya hingga sampai dianggap anak oleh Bu Indah. Namun saat mendengar nama tempat asal Laila membuat wanita itu menelan salivanya dengan kasar.


"Oh gitu. Kita pernah ketemu gak sih?" tanya wanita itu.


"Hah? Ketemu?" tanya Laila.


Laila mengamati wanita dengan wajah cantik yang ada di hadapannya itu dengan seksama. Ya, mereka memang pernah bertemu. Saat itu. Saat wanita itu dengan laki-laki lain, bukan Bagus. Tapi benarkah wanita itu masih mengingatnya?


"Iya. Kamu pernah ketemu sama aku gak sebelumnya?" tanya wanita itu.


"Aduh, saya ketemu kakak dimana ya? Saya udah hampir dua tahun sih di Jakarta. Tapi kalau bukan ke sekolah, saya paling keluar itu ke supermarket. Memangnya Kakak pernah lihat saya sebelumnya?" Laila balik bertanya.


Belum sempat pertanyaan Laila terjawab, Bagus datang. Tubuh tingginya membuat Laila sampai harus mendongak saat melihat wajah Bagus.


"Udah lama nunggunya?" tanya Bagus dengan suara baritonnya.


"Gak kok, Pak. Saya belum lama," jawab Bagus.


"Sayang, udah dicoba kuenya?" tanya Bagas sambil membelai kepala istrinya.


"Belum. Nunggu kamu," jawab wanita itu.


Bagus pun menyuapkan kue itu dan mulai menikmatinya. Rasanya sangat nikmat dan pas dengan selera Bagus. Sementara Laila tengah memegang dadanya. Jantungnya berdebar karen takut Bagus tidak menyukai kue buatannya.


"Ini enak. Menurut kamu?" tanya Bagus pada calon istrinya.


"Kalau katamu enak, buatku juga enak." Wanita itu tersenyum manja pada Bagus.


"Ini kamu yang buatkan?" tanya Bagus pada Laila.


"Dijamin seratus persen asli buatan saya," jawab Laila dengan penuh keyakinan.


"Oke. Aku mau satu paket dengan kue pengantinnya. Nanti saya kirim gambarnya. Semoga kamu bisa. Tapi seharusnya kamu bisa sih," ucap Bagus.


"Saya siap berikan yang terbaik," jawab Laila dengan semangat.


"Deal ya!" ucap Bagus sambil mengulurkan tangannya.


"Deal," jawab Laila dengan senyum lebar.


"Oke. Nih buat ganti testernya," ucap Bagus sambil memberikan uang seratus ribuan lima lembar dari saku celananya.


"Ya Alloh Pak, kebanyakan. Dua ratus aja. Seratus buat bahan, seratus buat upah saya." Laila menyerahkan kembali uang tiga ratus ribu.


"Ambillah. Anggap saja ini uang kerja sama kita," ucap Bagus.


Laila berpikir keras untuk mengambil atau menolak uang yang diberikan Bagus. Ia takut disebut serakah dan membuat Bagus hilang respect padanya. Namun di sisi lain, ia harus mengumpulkan uang mengingat nasib Yanti yang harus mengurus kedua anaknya tanpa dibantu siapapun. Kini hanya Laila yang diandalkan oleh Yanti saat ibu dua anak itu kehabisan bekal.

__ADS_1


"Beneran ini, Pak?" tanya Laila.


"Iya," jawab Laila.


__ADS_2