
Hampir setiap waktu luangnya Laila habiskan hanya untuk belajar. Baik itu pelajaran sekolah maupun belajar tentang cara menghias kue pengantin. Ini pengalaman pertamanya. Tentu ia tidak mau mengecewakan. Apalagi ini akan sangat mempengaruhi impiannya di masa depan.
"La, kemarin aku ketemu si Bagas loh. Ternyata dia sekolah di SMA Negeri deket rumahnya," ucap teman Laila.
"Oh ya?" ucap Laila.
Berbeda seperti sebelumnya yang terlihat antusias saat ada yang membahas tentang Bagas. Kali ini Laila terlihat santai dan datar. Bahkan saat informasi itu sampai ke telinganya, Laila masih anteng dengan ponselnya. Ia tengah memperhatikan chanel youtube kesukaannya.
"La, kamu kok biasa aja sih? Gak wah gitu? Aku bawa informasi penting loh ini," ucap temannya.
Ya, mungkin beberapa waktu lalu informasi mengenai Bagas memang sangat penting baginya. Saat ia berusaha mencari keberadaan Bagas. Entah atas dasar kehilangan atau hanya sekedar rasa bersalah. Namun perkenalannya dengan Bagus mengubah segalanya.
Tak ada lagi hal yang menarik tentang Bagas. Kini yang ada dalam kepalanya adalah Bagus. Mungkin karena urusan pekerjaan yang sudah terjalin diantara mereka. Atau mungkin juga karena tampan Bagus yang jauh lebih tampan dari pada Bagas. Belum lagi kemapanan Bagus yang sudah tak perlu diragukan lagi.
Matre? Mungkin. Laila memang belajar dari pengalaman. Bukan berarti harus kaya, namun setidaknya laki-laki yang dipilihnya harus bertanggung jawab dari segala sisi. Tidak seperti Deri.
Ah, Laila bergidik saat mengingat Deri. Kakak laki-laki yang seharusnya melindunginya ternyata justru selalu menyakitinya. Setiap katanya selalu saja membuat hati Laila bagai teriris sembilu. Bahkan semakin lama, Laila semakin kebal dengan apa yang diucapkan Deri.
Kadang Laila juga sengaja menutup telinganya rapat-rapat hanya karena tidak mau hatinya terluka karena orang yang sama. Baru saja Laila berusaha melupakan kisah kelamnya dalam kehidupan masa lalunya, nomor baru masuk.
Laila tidak menjawab panggilan itu karena sedang ada guru di kelas. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Setelah jam pulang, Laila melihat sebuah pesan dari nomor baru itu.
'Jangan belagu, Le. Mentang-mentang udah jadi anak orang kaya lupa sama yang di kampung. Inget ya, kamu yang udah bikin bapa meninggal. Gak ada niat buat balas budi gitu? Seenggaknya kan pernah juga belasan tahun tinggal di rumah bapa. Anggap aja cicilan buat bayar biaya numpang hidup.'
Liala memegang dadanya yang terasa sesak. Sakit rasanya saat Deri menyalahkan dirinya atas kepergian bapaknya. Masalah balas budi? Seharusnya ia balas budi pada bapak dan ibunya. Bukan pada Deri yang hanya bisa menyakitinya saja.
Pesan itu membuat Laila harus mengatur napasnya. Menghirup udar segar agar tubuhnya bisa kembali membaik. Kata-kata yang dikirim Deri berhasil membuat ia hancur dan nyarus menangis. Namun sopir sudah memberi klakson. Laila terperanjat dan segera menghampirinya.
"La, kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya sopir.
"Gak, mang." Laila berusaha berbohong.
"La, kadang mamang suka pengen jadi kamu. Kayaknya enak ya datang ke Jakarta tapi bisa jadi anak Bu Indah. Tapi akhir-akhir ini mamang lihat kamu kok kayak banyak beban. Memang tuntutan dari Bu Indah banyak ya?" tanya sopir.
"Ah gak juga mang. Aku hanya belum terbiasa aja sama kehidupan di kota," jawab Laila.
"Tapi kamu sekarang udah berubah. Udah kayak anak-anak kota. Gaul," ucap sopir.
"Ah, bisa aja mang. Aku masih begini aja kok," ucap Laila.
"Kok gak kayak orang-orang sih La? Pulang sekolah nongkrong gitu di cafe-cafe. Gak dibolehin sama Bu Indah ya?" tanya sopir.
Cafe? Mendengar cafe, Laila langsung ingat jika hari ini Laila ada janji dengan Bu Herlin di cafe biasa. Padahal cafe itu sudah terlewat jauh.
"Mang, mang, mang, puter balik, puter balik." Laila panik saat menyadari kalau cafe itu sudah terlewat.
Mobil direm mendadak karena sopir terkejut dengan teriakan Laila.
"La, puter balik kemana? Ada apa?" tanya sopir yang jadi ikut panik.
__ADS_1
"Itu ke cafe yang deket sekolah. Aku ada janji sama Bu Herlin," jawab Laila.
"Oh, kirain ada apa. Biasa aja dong La. Hampir aja jantung mamang copot," ucap sopir.
"Heee, maaf ya Mang. Tapi bisa lebih cepet kan sampe ke cafenya?" tanya Laila.
"Oh, mau ngebut? Oke. Pegangan La," ucap sopir.
Laila sampai memegang dadanya dan memejamkan matanya. Ia sangat takut saat mobil melaju dengan begitu cepat.
"Mang, pelan-pelan. Aduh," ucap Laila.
"Tadi katanya minta cepet. Jadi gimana mau ngebut gak?" tanya sopir.
"Gak, gak jadi. Biarin telat juga mang," ucap Laila.
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan standar. Laila bisa bernapas lega saat semua sudah membaik. Meskipun terlambat, namun akhirnya Laila sampai ke cafe itu dengan selamat.
"Bu, maaf ya saya telat." Laila datang sambil terengah-engah.
"Oh gak apa-apa. Ayo silahkan duduk," ucap Bu Herlin.
Laila segera menarik kursi dan duduk di hadapan Bu Herlin. Melihat Bu Herlin yang menatap pergelangan tangannya, Laila segera menunduk.
"Jangan diulang ya. Gak ada orang sukses yang ngaret," ucap Bu Herlin sambil tersenyum.
"Iya, Bu maaf. Tadi kelewat. Jadi puter baliknya jauh. Saya lupa kalau ada janji hari ini," ucap Laila.
Laila mengangguk. Ya, pembelajaran besar untuk hari ini. Ia tidak boleh sampai mengecewakan orang yang sudah membuat janji dengannya. Apalagi jika mereka bertemu untuk urusan pekerjaan. Tentu kemungkinan membatalkan kerja sama sangat besar.
"Oke, gak apa-apa. Ibu bilang begini karena ibu mau kamu akan menjadi pengusaha yang disiplin. Kemampuan yang kamu miliki akan tercoreng kalau kamu gak punya kedisiplinan," ucap Bu Herlin.
Bu Herlin memulai pembelajaran hari ini. Pertama ia membahas kembali perpaduan warna yang kemarin sudah perna dibahas. Lalu Bu Herlin melanjutkan pembelajaran tentang cara makan yang baik di depan tamu.
"No, bukan begutu Laila." Bu Herlin segera menahan tangan Laila yang akan menyimpan pisau di atas meja.
Bu Herlin segera mengajari Laila cara makan dengan menggunakan pisau dan garpu. Meskipun kesulitan, akhirnya Laila bisa. Bu Herlin tidak lupa mengajari cara Laila duduk yang baik. Sesekali Bu Herlin merapikan rambut Laila yang menghalangi mulutnya saat menunduk untuk makan.
"Kamu ini pinter. Gampang banget diajarinnya. Kalau bisa, apa yang sekiranya kamu butuhkan suatu saat nanti, tulis hal penting itu di buku catatan. Yang paling penting, praktekkan semua itu dalam setiap kesempatan. Perbaiki kalau masih ada yang kurang," ucap Bu Herlin.
Ya, hari ini Laila mendapat pelajaran yang sangat banyak. Namun hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Deri terus meneleponnya hingga Bu Herlin menatap Laila.
"Siapa? Gak diangkat?" tanya Bu Herlin.
Ponsel Laila memang tidak menggunakan nada, namun Deri yang menghubunginya tanpa henti membuat getar di dalam tas Laila mencuri perhatian Bu Herlin. Sementara Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan wanita di hadapannya itu.
"Pacar kamu?" tanya Bu Herlin.
"Bukan," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus?" tanya Bu Herlin.
Karena Laila butuh teman untuk bercerita, akhirnya Bu Herlin adalah orang yang dipilih Laila untuk mencurahkan semua perasaannya. Air matanya tak bisa dibendung saat ia mengungkapkan semua beban di dalam hatinya.
"Ayo kita pulang!" ajak Bu Herlin.
Laila bingung. Bu Herlin sendiri yang memintanya untuk bercerita, namun Bu Herlin juga yang menghentikan obrolan itu sebelum semua cerita tuntas dibicarakannya. Dengan penuh kebingungan, Laila hanya mengikuti langkah Bu Herlin yang membawanya ke dalam mobil.
"Lanjutkan tangismu! Lepaskan semua beban dalam hatimu, La. Semuanya," ucap Bu Herlin sambil memeluk Laila.
Tangis Laila sudah terlanjur reda. Kebingungannya yang semakin meningkat membuat Laila kehilangan kesedihannya. Ia malah mengerutkan dahinya saat Bu Herlin memeluknya erat.
"Kamu kok gak diterusin nangisnya?" tanya Bu Herlin saat pelukannya sudah dilepaskan.
"Udah ilang sedihnya Bu," jawab Laila.
"Oh, kok cepet ilang ya sedihnya? Bagus dong," ucap Bu Herlin.
"Iya Bu," ucap Laila.
"Maaf ya La. Ibu sengaja ngajak kamu ke sini. Ibu gak mau lihat kamu nangis di depan umum. Inget ya La, kamu itu gak boleh tunjukkin kesedihan kamu di depan orang lain. Suatu saat kamu akan menjadi pusat perhatian. Bahkan bukan tidak mungkin kalau kamu akan memiliki musuh. Kamu akan terlihat lemah di mata musuh kamu," ucap Bu Herlin.
"Bu, jangan begitu dong. Saya gak mau cari musuh. Sebisa mungkin saya gak mau ada salah paham sama siapapun," ucap Laila.
Bu Herlin menjelaskan bahwa saat Laila berusaha mewujudkan impiannya yang begitu tinggi, maka terpaan angin pun tentu akan semakin besar. Banyak hal yang mungkin saja di luar dugaan, akan Laila hadapi tanpa bisa menghindar.
Laila memang tidak yakin dengan ucapan Bu Herlin dalam hal ini. Namun apapun yang ia dapatkan akan ia simpan dalam memorinya. Siapa tahu hal ini memang benar akan dibutuhkan suatu saat nanti.
Ponsel Laila berdering kembali. Bu Herlin menatap Laila. Tanpa pertanyaan yang keluar dari mulut Bu Herlin, Laila mengerti arti tatapan itu. Laila menggelengkan kepalanya saat melihat nama nomor yang sama dalam layar ponselnya.
"Jawab dan yakinkan dia kalau Laila yang sekarang bukan Laila yang dulu," ucap Bu Herlin.
"Gak usah Bu," jawab Laila.
"Lakukan Laila. Semakin kamu terlihat lembek, maka kamu dia akan tetap semena-mana sama kamu. Mulai bersikap tegas sama siapapun yang berusaha merendahkanmu," ucap Bu Herlin.
Banyak hal yang Laila pertimbangkan. Bisakah ia bersikap seperti itu pada Deri? Deri yang nada bicaranya saja tak bisa dikondisikan. Bagaimana mungkin ia bisa melawan Deri? Selama ini saja ia hanya bisa diam.
"Ayo Laila! Kalau orang sepert itu dibiarkan, dia akan terus mengganggumu. Kamu mau seperti itu?" tanya Bu Herlin.
"Nanti saya transfer aja sedikit. Lagi pula Bang Deri paling minta buat rokok sama kopi," jawab Laila.
"Ya, sekarang sedikit. Besok dan besoknya lagi sedikit. Begitu terus. Kamu mau hidup dibawah ancaman dan tekanan orang lain?" tanya Bu Herlin.
Laila menatap Bu Herlin. Ia mulai mempertimbangkan apa yang Bu Herlin sampaikan. Memang ada benarnya juga. Kenapa Deri harus meminta uang padanya?Padahal sudah jelas-jelas kakaknya itu tidak pernah memperlakukan dia dengan baik. Bahkan saat meminta uang pun, cara Deri sama sekali tidak baik.
"Iya Bu, saya akan tegas sama Bang Deri." Laila meyakinkan dirinya sendiri di hadapan Bu Herlin.
Bu Herlin mengangguk dan menggenggam tangan Laila. Menguatkan Laila dan meyakinkannya jika apa yang akan Laila lakukan adalah hal terbaik yang memang seharusnya dilakukan.
__ADS_1
"Apa sih Bang?" tanya Laila saat sambungan telepon.
Deri marah saat mendengar kalimat dan nada bicara Laila. Ia sama sekali tidak menyangka jika Laila berubah dengan begitu drastis.