
"Ayo kita ke gedung lagi," ajak Laila.
Seperti ancaman Winari, jangan sampai membuat Bagus curiga. Karena kalau sampai semua ini ketahuan, bisa-bisa ada pertumpahan darah. Laila tidak bisa menyaksikan semua itu.
"Udah?" tanya Bagus.
"Udah ayo!" ajak Laila menarik tangan Bagus.
Melihat Laila yang sedang memegang tangan Bagus, membuat Winari menatapnya tidak suka. Laila segera melepaskan tangannya saat menyadari ketidaksukaan Winari.
Jahat kamu. Bisa-bisanya aku percaya sama cerita bohongmu. Dasar wanita ular.
"Sayang, aku ke gedung lagi. Kamu istirahat aja ya," pamit Bagus.
Sebuah kecupan hangat dan pelukan singkat dengan nyata disaksikan oleh Laila. Wanita yang menurut Laila baik, ternyata hanya memanfaatkan kepolosannya saja. Benci rasanya jika Laila harus mengingat bagaimana ia membujuk Bagus agar tidak membatalkan pernikahan itu.
"La, kok kamu diam terus? Ngelamunin apaan sih?" tanya Bagus.
Ya, selama perjalanan Laila memang nampak menatap kosong ke jalanan. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut Laila. Untuk menjawab pertanyaan Bagus pun, Laila hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya saja.
"Pak, saya pulang ya!" pamit Laila saat sudah menyelesaikan tugasnya.
Bagus masih mengamati perubahan Laila. Namun tidak ada alasan untuk melarang Laila pulang. Pekerjaannya sudah selesai. Laila juga menolak untuk menceritakan penyebab perubahan Laila secara tiba-tiba.
"La, terima kasih banyak ya!" ucap Bagus sesaat sebelum Laila pergi.
Laila tersenyum dan mengangguk. Setelah itu ia berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Sampai di dalam mobil pun, Laila masih bengong. Bayangan Winari yang mengancamnya dengan begitu kejam membuat Laila ketakutan.
"La, La," panggil sopir.
"Eh iya Mang," jawab Laila sambil berusaha menyadarkan dirinya sepenuhnya.
"Kamu sakit?" tanya sopir.
"Gak, Mang. Saya baik-baik aja kok," jawab Laila.
"Masa mamang tanya udah tiga kali gak jawab-jawab. Kalau kamu baik-baik aja, gak mungkin kamu diem aja dari tadi. Kamu kenapa?" tanya sopir itu lagi.
Beruntung Bu Indah meneleponnya hingga Laila bisa mengalihkan pertanyaan si sopir. Sampai akhirnya pertanyaan 'kenapa' dari si sopir untuk Laila lenyap.
"Terima kasih ya Mang," ucap Laila.
Tanpa menunggu jawaban, Laila segera pergi. Masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Kebetulan sudah jam sepuluh malam. Suasana di rumah Bu Indah sudah sunyi. Laila punya alasan untuk segera menyendiri.
"Bisa-bisanya aku ketipu sama si wanita ular itu. Nyesel aku bantuin dia buat nikah sama Pak Bagus. Kalau tahu begitu, aku gak bakalan bantuin dia." Laila menggerutu kesal.
Laila memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Rasanya terlalu banyak beban yang disimpan dalam kepalanya. Ingin sekali berbagi dengan siapapun yang bisa mendengarkannya. Namun Laila harus menutup mulut. Jangan sampai kabar ini tersebar dan menyulitkan hidupnya nanti.
"Tapi taruhannya masa depan Pak Bagus. Gimana ini?" gumam Laila sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Laila berjalan ke depan cermin. Menatap wajahnya dari pantulan cermin. Wajahnya memang tidak segelap saat di kampung. Apalagi kini Laila mulai suka merawat diri. Namun jika dibandingkan dengan saat berangkat, sekarang wajahnya begitu lusuh dan lesu.
Langkahnya berlanjut ke kamar mandi. Kedua telapak tangannya mengumpulkan air yang mengalir dari kran. Dengan sengaja mengangkat dan membuang kumpulan air dalam genggamannya itu ke wajahnya. Satu kali, dua kali, tiga kali, entah sampai berapa kali Laila mengulangnya.
Setelah merasa tenang, Laila kembali ke kamarnya. Duduk di depan cermin dan memakai serum setelah sebelumnya mengusap wajahnya dengan toner. Laila menghela napas panjang dan berusaha menenangkan diri. Setelah itu berbaring di atas ranjangnya.
Matanya masih menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Namun ingatannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Saat Winari mengangkat pisau itu dan mengancamnya. Laila segera menggelengkan kepalanya dan menutup dengan bantal.
"Bisa gila aku kalau gini terus," ucap Laila.
Kembali Laila berdiri. Berjalan dari ujung pintu kamarnya ke ujung jendela yang bersebrangan dengan pintu kamarnya. Entah berapa kali Laila berjalan dengan rute yang sama. Antara pintu kamar dan kaca jendela.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Satu jam sudah berlalu tanpa ada rasa ngantuk sedikitpun. Padahal Laila sudah melakukan banyak hal hari ini. Seandainya tidak ada kejadian yang membuatnya kepikiran, mungkin malam ini Laila akan tidur dengan nyenyak.
Entah jam berapa Laila bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan Laila sampai kesiangan. Seharusnya hari ini Laila berangkat pagi ke gedung itu. Menjadi pihak yang paling bahagia dengan pernikahan Bagus dan Winari. Namun pada kenyataannya Laila bahkan enggan pergi ke pernikahan Bagus.
"Kamu jangan aneh-aneh Laila. Semua sudah kamu kerjakan dengan maksimal. Lalu kamu gak datang? Sama artinya kamu buang-buang waktu," ucap Bu Indah.
Laila memang beberapa kali diingatkan Bu Indah tentang tujuannya menjalin kerja sama dengan Bagus. Semua bukan tentang nominal. Tapi semua hanya tentang rencana pengenalan siapa Laila dan bagaimana kue buatannya. Tidak lebih dari itu bagi Bu Indah.
"Tapi Bu," ucapan Laila terhenti.
Lidahnya terkunci. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang terjadi kemarin. Sama artinya ia akan menggagalkan pernikahan Bagus. Tapi kalau ia tidak datang Bagus akan bertanya-tanya. Ah, Laila benar-benar gelisah.
Bu Insah terus memaksa Laila agar segera bersiap. Bahkan pakaian yang akan digunakan Laila sudah disiapkan. Laila terpakasa segera mandi dan bersiap karena Bu Indah menunggunya.
"Sebentar ya Bu," ucap Laila.
"Saya kok mules ya Bu?" tanya Laila.
"Laila, yang mau menikah itu mereka. Kamu jangan macam-macam ya. Kok ikutan demam panggung segala sih," ucap Bu Indah.
"Sebentar aja Bu. Janji gak lama," ucap Laila.
"Ya udah cepet," ucap Bu Indah.
Laila segera berlari ke kamar mandi. Di sana Laila memegang dadanya. Ia memejamkan matanya berusaha menyingkirkan pikiran buruknya. Namun bayangan menyeramkan kemarin kembali mengisi kepalanya.
"Ya Tuhaaaan, apa yang harus aku lakukan?" ucap Laila.
"Laaaa, ayo! Kita bisa terlambat," teriak Bu Indah.
Laila segera keluar dari kamar mandi. Polesan make up di wajah cantik Laila membuat wajahnya aman. Andai saja tidak ada make up, mungkin Bu Indah akan melihat dengan jelas wajah pucat Laila karena kegelisahannya.
Saat sampai di lokasi, hal pertama yang Laila lakukan adalah mencari sosok Winari. Setelah menangkap sosok cantik dengan gaun menjuntai ke lantai, Laila mencari sosok laki-laki lain selain Bagus. Laki-laki yang katanya mantan pacar Winari namun masih bersamanya sehari sebelum pernikahan dengan Bagus.
"Dimana dia?" gumam Laila.
Saat melihat tangan Bagus yang berjabatan dengan laki-laki tua berjas hitam, Laila merasa dadanya sakit. Laki-laki yang mungkin ayah Winari itu dengan begitu meyakinkan melafalkakan beberapa kata yang membuat Bagus menjawab kalimat itu. Ijab kabul pun telah selesai. Ucapan 'Sah' serempak terdengar dari berbagai penjuru.
__ADS_1
Riuh tepuk tangan dan ungkapan kebahagiaan membuat suasana gedung itu terdengar menggema. Mungkin satu-satunya orang yang tidak bahagia dengan pernikahan itu hanya Laila. Bukan bahagia, Laila justru merasa sangat bersalah karena sudah membuat pernikahan itu terjadi.
Harusnya aku membiarkan Pak Bagus membatalkan pernikahan ini. Maafkan aku, Pak.
Laila duduk di deretan tamu undangan. Saat Bagus mengambil alih pusat suara di gedung itu, Laila menatapnya sedih. Laki-laki yang sedang berbahagia itu pada dasarnya sedang ditipu. Rasa bersalah terus menguasai dirinya. Apalagi saat dengan bangga, Bagus mengenalkan Laila karena berhasil menyelesaikan orderan kue sesuai keinginannya.
"Laila, ke sini." Bagus memanggil Laila.
Laila terlihat tegang saat melihat Bagus melambaikan tangannya. Bu Indah segera mendorong Laila agar maju. Meskipun ragu, namun Laila maju. Berdiri di samping Bagus. Membiarkan Bagus mengenalkan Laila.
Rasa bangga dan bahagia yang Bagus rasakan ternyata membuat Laila semakin sakit. Apalagi saat melihat Winari berdiri dengan senyumnya. Terlihat sangat datar dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Laila, ada yang ingin disampaikan?" tanya Bagus.
Laila menatap Bagus sebentar lalu mengambil microphone.
"Perkenalkan, saya Laila. Pertama saya ingin sampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kepercayaan Pak Bagus. Semua saya buat dengan semaksimal mungkin. Semoga tamu undangan di sini suka dengan kue buatan saya. Kedua, saya ucapkan selamat atas pernikahannya." Liala mengangguk hormat setelah selesai bicara.
Laila kembali ke kursinya. Lagi-lagi harus menyaksikan Winari yang terlihat sangat bahagia walaupun menyembunyikan rahasia jahatnya. Ingin rasanya Laila menampar Winari. Wanita tidak tahu diri yang berhasil mengelabuinya. Ah, mungkin Laila saja yang terlalu polos dan ikut campur urusan Bagus.
Setelah pernikahan itu selesai, Laila pulang dan menangis. Tangisnya pecah saat ia tidak bisa menguasai dirinya. Saat Laila merasa ia adalah penyebab pernikahan yang tak seharusnya terjadi itu berlangsung hari ini.
Laila berusaha menutup telinga dengan pernikahan Bagus dan Winari. Setelah kejadian itu Laila bahkan menganggap tidak kenal dan berharap tidak bertemu lagi dengan keduanya. Soal pernikahan, Laila hanya berdoa jika pernikahan mereka sampai akhir hayat.
Semakin Laila berusaha melupakan Bagus, semakin Laila mengingatnya. Pasalnya setelah pernikahan Bagus, beberapa orang menghubunginya untuk order kue. Awalnya Bu Indah melarang, namun Laila takut jika penolakan ini akan mempengaruhi toko kuenya nanti.
"Tapi kamu janji gak ganggu sekolahnya ya," ucap Bu Indah.
"Iya Bu, dijamin." Laila mayakinkan Bu Indah.
Orderan kuenya tidak terlalu banyak. Laila bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan Yanti. Lagi pula Yanti sudah tidak mau tinggal di rumah Bu Indah. Alasannya malu dan tidak enak menumpang terlalu lama.
Sudah waktunya Laila kembali masuk sekolah. Selama sekolah, Laila banyak menerima orderan. Meskipun kadang-kadang keteteran antara waktu istirahat dan membuat kue, namun asal tidak mengganggu waktu sekolah.
Semakin mendekati waktu ujian kelas tiga, Laila justru semakin mendapat banyak orderan. Mau tidak mau ia menarik Yanti untuk tinggal kembali di rumah Bu Indah.
Nama Laila yang semakin dikenal sampai ke telinga anak Bu Indah. Bahkan secara diam-diam anak Bu Indah menyelidiki rumah Bu Indah. Mencari tahu tentang keadaan di sana. Saat tahu ada banyak orang baru di rumahnya, maka anak Bu Indah segera mendesak Bu Indah agar segera mengusir mereka.
"Ma, aku mau pulang ke rumahku. Tapi aku gak mau ada banyak orang baru di rumahku," ucap Zara, anak Bu Indah.
"Sayang, mereka orang baik. Nanti Mama kenalkan sama mereka ya," ucap Bu Indah.
"Aku mau mereka semua pergi dari rumah, bukan mau berkenalan. Buat apa sih Mama menampung gembel kayak mereka?" ucap Zara.
"Astaga Zara, jangan begitu. Mereka adalah orang yang menemani Mama saat Mama sendiri," ucap Bu Indah.
"Jadi Mama lebih memilih dia dibanding aku? Anak kandungmu?" tanya Zara.
"Zara cukup. Kalian itu berbeda. Mama gak perlu memilih kalian. Kalian itu berarti dengan porsi yang berbeda," jawab Bu Indah.
__ADS_1
"Minggu depan aku akan ke rumah dan tolong usir mereka. Aku gak mau kalau nanti aku ke sana, mereka masih ada di rumah. Mama tinggal pilih, Mama yang usir merek atau aku." Zara memutuskan sambungan teleponnya.