
"ini rumah kamu?" tanya Bagas saat motor sudah berhenti di depan rumah Bu Indah.
Rumah besar dengan gaya sangat modern. Terlihat begitu mewah meski Bagas hanya melihat tampak luarnya saja. Tiba-tiba nyali Bagas ciut saat melihat kemewahan yang ada di hadapannya.
"Bukan, ini rumah majikanku. Jadi maaf ya aku gak bisa ajak kamu masuk," ucap Laila.
"Hah? Majikan?" tanya Bagas terkejut.
Ya, Bagas memang tahu kalau Laila adalah anak angkat Bu Indah. Namun penggunaan kata majikan membuat Bagas cukup bingung. Sebenarnya apa hubungan Laila dengan Bu Indah? Kalau hanya sebatas majikan dan pekerja, mana mungkin Bu Indah menyekolahkan Laila di tempat yang sangat mahal dan bergengsi.
"Udah jangan banyak tanya. Besok aku jelasin di sekolah. Eh terima kasih banyak ya buat tumpangannya," ucap Laila.
Laila berusaha mengusir Bagas dengan sangat halus. Ia tidak mau kehadiran Bagas akan membuat masalah di rumah itu. Meskipun Bu Indah menganggapnya anak angkat, namun Laila sadar diri dirinya sebenarnya.
"Siapa dia? Kenapa gak telepon sopir dan menunggu sampai menjemputmu di sekolah?" tanya Bu Indah saat Laila baru masuk ke dalam rumah.
Tenyata Bu Indah melihat kedatangan Laila yang diantar oleh Bagas. Laila bersikap tenang dan menjelaskan alasan kenapa ia bisa pulang dengan Bagas. Tidak ada kepanikan karena Laila merasa tidak bersalah. Ya, walaupun semua berbeda di mata Bu Indah.
"Aku mau kamu sekolah. Bukan pacaran," ucap Bu Indah tegas.
"Tapi saya juga sekolah Bu. Saya gak pacaran. Dia teman saya," ucap Laila.
"Anakku juga dulu mengatakan jika yang sellu mengantar pulang itu temannya. Tidak pernah dibawa ke rumah dan dikenalkan. Sekalinya dia datang ternyataa.. Ahhh," ucap Bu Indah sambil mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan Laila.
Hampir saja Bu Indah membuka apa yang terjadi dua tahun silam. Beruntung Bu Indah masih bisa mengontrol dirinya hingga Laila hanya menelan salivanya dengan ketakutan. Ia tidak tahu jika Bu Indah akan semarah itu padanya.
"Bu," panggil Laila sambil mengetuk pintu kamar Bu Indah.
"Aku ingin istirahat," jawab Bu Indah tanpa membuka pintu kamarnya.
"Bu, saya minta maaf ya. Saya sama sekali gak ada niat buat pacaran," ucap Laila.
__ADS_1
Laila berusaha menjelaskan alasannya pulang dengan Bagas. Namun sejujur apapun yang ia sampaikan pada Bu Indah, tidak ada tanggapan dari pemilik kamar. Pintu kamar tidak terbuka sedikitpun.
"Bu, saya pamit ke kamar ya. Mau kerjain PR dulu," ucap Laila setelah Bu Indah tetap bungkam dalam kamarnya.
Baru saja Laila sampai ke kamarnya, ponselnya berdering. Yanti mengabari bahwa sikap Deri semakin semena-mena padanya. Laila ikut iba namun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat ia sudah berjanji untuk tidak ikut campur semua masalah yang berhubungan dengan Deri.
"Kak, sabar ya." Laila menghela napas panjang.
Laila hanya bisa mengucapkan kalimat itu untuk menenangkan Yanti. Untuk saat ini, Laila tidak bisa membantu Yanti untuk urusan keuangan. Laila tidak berani bertanya tentang upah untuknya.
"Aku mau jadi TKW aja La," ucap Yanti menyerah.
"Astaga Kak. Jangan," ucap Laila panik.
"Bang Deri semakin hari semakin gak pernah ngehargain aku. Aku cape," ucap Yanti.
Ketakutan Laila saat itu ternyata mulai jadi kenyataan. Yanti memang wanita yang sabar. Namun Laila tahu kesabaran manusia itu ada batasnya. Apalagi sikap Deri yang kadang keterlaluan.
"Kak, inget Hasna sama Kayla." Laila mengingatkan Yanti.
Usaha Yanti juga sedang bagus. Toko onlinenya kian maju. Namun kadang Yanti menyadari jika selama ini hanya ia yang berusaha sendiri. Memperjuangkan ikatan rumah tangga yang seharusnya mereka lakukan bersama.
"La, terima kasih ya buat supportnya. Maaf kalau kakak jadi ngebebanin kamu," ucap Yanti.
Pada akhirnya Laila berhasil membuat Yanti yakin untuk bertahan. Laila bahkan meminta Yanti sabar untuk menunggu ia sukses dan membayar orang untuk mengasuh kedua anak Yanti.
"Apa aku pulang aja ya?" gumam Laila.
Laila menggelengkan kepalanya. Ia memastikan untuk tidak akan kembali ke rumah itu. Laila masih ingat betul bagaimana Deri mengusirnya bahkan di makam ibunya yang masih basah.
Cara yang Laila lakukan adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan sukses. Setelah itu ia akan membawa Yanti dan kedua keponakannya untuk hidup lebih sejahtera. Jauh dari sikap Deri yang kasar dan ucapannya yang selalu menyakitkan.
__ADS_1
Pelan tapi pasti, Laila membuktikan semua ucapannya. Ia menjadi juara kelas dan tidak pernah dekat lagi dengan Bagas. Mereka masih berteman baik namun Laila sangat membatasi diri dari Bagas. Ia tidak mau kekecewaan Bu Indah terulang untuk kedua kalinya.
"Selamat ya!" ucap Bu Indah saat pembagian raport.
Pelukan dan rasa bangga Bu Indah sangat membuat Laila terharu. Ia tidak menyangka jika hidupnya akan jauh lebih baik saat tidak ada Deri. Meskipun beberapa waktu Laila harus menangis karena menahan rindu pada kedua keponakannya.
Satu tahun berhasil Laila lalui. Selama itu juga ia mengumpulkan uang jajannya untuk kedua keponakannya. Tidak besar mungkin, namun Yanti pasti merasa sangat terbantu. Karena sejak lama Deri tidak pernah memberi nafkah untuk kedua anaknya.
"La, gak kerasa ya. Udah mau kelas dua loh. Liburan kamu mau pulang kampung gak?" tanya Bu Indah.
Bu Indah tahu kasus yang menimpa Laila. Bahkan Bu Indah sudah tahu hubungan antara Laila dengan Deri yang ternyata hanya saudara seibu. Namun Bu Indah mengingatkan ada makam Bu Rini di sana. Setidaknya Laila bisa ke sana walau hanya sehari.
"Tapi saya gak yakin, Bu. Rasa sakit dan kecewa saya bikin saya gak mau nginjekin kaki saya lagi di sana," ucap Laila.
Sebagai seorang ibu, Bu Indah tentu mengingatkan Laila tentang hubungan anak dan ibu yang tak kan putus meski sudah tiada. Akhirnya Laila luluh dan akan berziarah ke makam ibunya besok.
"Tapi aku gak bisa nemenin. Kamu sama sopir ya. Kalau mau nginep, cari penginapan aja. Jangan hiraukan apa yang bukan prioritasmu Laila. Kamu ini wanita kuat dan hebat," ucap Bu Indah.
Selama setahun ini, Laila dididik menjadi anak yang hebat dan kuat. Tidak ada waktu yang dibuang sia-sia hanya untuk memikirkan orang yang tidak peduli padanya.
"Kak, besok aku pulang. Kalau aku udah di makam nanti aku kabari ya," ucap Laila saat mobil baru saja melaju meninggalkan rumah mewah milik Bu Indah.
"Ke rumah aja dulu. Nanti kakak masakin makanan kesukaan kamu ya," ucap Yanti.
"Gak usah. Aku mau happy saat ketemu sama Kakak dan dua keponakanku yang cantik-cantik. Aku juga gak mau mood aku berantakan saat ada di makam Ibu. Aku kabari lagi nanti ya," ucap Laila.
Sambungan telepon pun terputus. Seperti apa yang Laila pinta, Yanti tidak mengabari kedatangan Laila ke makam Bu Rini. Ia hanya bersiap untuk bertemu dengan Laila di makam.
Laila sampai saat hari sudah gelap. Ini adalah hari libur hingga jalanan padat dan macet parah. Laila mengabari Yanti agar menemuinya besok pagi di makam.
Beruntung pagi itu Deri masih tidur hingga Yanti segera pergi membawa kedua anaknya. Senyuman Hasna dan Kayla disambut tangan Laila yang terbuka lebar. Pelukan hangat membuat Yanti mengusap sudut matanya. Laila tidak berubah meski hampir satu tahun tidak pulang. Adik iparnya tetap menyayangi kedua anak Yanti dengan sangat tulus.
__ADS_1
"Ini buat kalian," ucap Laila sambil memberikan kantong berisi oleh-oleh.
Hasna dan Kayla berteriak senang saat mendapat oleh-oleh dari Laila. Sementara untuk Yanti, Laila memberikan sebuah amplop. Ternyata selama ini Bu Indah menghitung upah yang seharusnya Laila terima. Namun Laila tidak memberikan semuanya pada Yanti. Ia harus tetap punya pegangan pribadi walaupun tinggal bersama Bu Indah.