Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Astaga


__ADS_3

"La, mau mulai kapan bikin kuenya?" tanya Yanti.


"Nanti malam aja Kak. Baru juga sampai, istirahat aja dulu. Tenang," jawab Laila.


"Eh, jangan tenang-tenang. Ini sepuluh hari lagi loh. Bukannya semua demi masa depan kamu juga? Kalau sampai gak beres, berarti yang terancam juga masa depan kamu dong?" ucap Yanti.


"Waduh jangan gitu dong Kak," ucap Laila sambil bergidik ngeri.


"Ya sudah ayo!" ajak Yanti.


Padahal Yanti baru satu jam sampai di rumah Bu Indah. Namun sudah sangat bersemangat untuk mengerjakan orderan kue itu. Yanti memang tidak seahli Laila, namun dulu ia sering membantu mertuanya. Jadi kalau soal urusan kue, tidak terlalu aneh baginya.


Semangat Yanti sangat besar. Apalagi saat tahu semua berhubungan dengan masa depan Laila. Yanti akan berusaha membantu Laila agar masa depannya bisa cerah. Semua mimpinya bisa terwujud. Yanti yakin jika Laila sukses, maka kehidupannya juga tidak akan terlalu sulit.


Tanpa bermaksud untuk memanfaatkan Laila, Yanti hanya berpikir jika Laila pasti akan membantunya. Paling tidak, ia akan ikut bekerja di toko milik Laila nantinya. Yanti bisa tenang karena biaya pendidikan anaknya juga bisa terpenuhi.


"Kak, nanti kalau aku punya toko kue sendiri namanya apa ya?" tanya Laila.


"Sebenarnya kamu bisa pakai label kita dulu, dapur Laila. Tapi karena ini Jakarta dan harus gaul, Laila Bakery kayaknya bagus deh. Ah Kakak jadi gak sabar lihat Laila Bakery berdiri mewah dan berkembang," ucap Yanti dengan sangat semangat.


"Ah, bagus ya. Tapi itu nanti Kak. Nantiii banget. Soalnya pas aku udah lulus sekolah, aku mau kerja samanya sama Bu Herlin. Jadi gak mungkin nama tokonya bisa semauku," ucap Laila sambil sibuk membuat adonan.


Yanti terus menyemangati Laila. Sambil mengecek jumlah orderan dan beberapa bahan, Yanti mengingatkan Laila tentang kerja keras. Menurut Yanti, hal utama yang harus ditanamkan Laila adalah kerja keras dan tanggung jawab. Apapun nama tokonya, semua akan kembali juga pada Laila.


"Kakak bener juga ya," ucap Laila.


Ya, Laila memang harus bekerja keras. Walaupun dibelakangnya ada Bu Herlin dan Bu Indah, namun Laila tidak bisa seenaknya. Justru tanggung jawab Laila semakin berat. Ada dua orang yang menantikan keberhasilan usahanya nanti. Banyaknya kebaikan mereka pada Laila tentu membuat Laila punya PR besar atas kerja kerasnya.


"Mama," rengek Hasna.


"Bobo sama Kakak dulu sana," ucap Yanti.


Kayla yang sudah tidur lebih awal membuat Hasna menangis karena tak ada teman. Akhirnya Yanti segera membawa Hasna ke kamar setelah Laila menyuruhnya. Laila meyakinkan Yanti jika ia akan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik meskipun tanpa Yanti.


"Tunggu bentar ya," ucap Yanti pada Laila.


"Iya udah sana," ucap Laila.


Tak terasa sejak sore, Laila berkutat di dapur. Bahkan hingga jam sembilan malam, Laila masih sibuk dengan adonan dan panggangan. Bu Indah yang sengaja memperhatikan cara Laila bekerja, tersenyum bahagia. Ia senang saat melihat Laila menikmati pekerjaannya.


"Kamu gak cape, La?" tanya Bu Indah.


"Kalau kerja kita dibarengi hobby begini, capenya gak kerasa Bu. Seneng aja," jawab Laila.


"Kamu jangan lupa istirahat. Tidur lah dulu. Besok bisa dilanjut lagi," ucap Bu Indah.


"Bu, orderannya masih banyak. Saya juga belum ngantuk. Lagi pula kalau di kampung, saya gak bisa sesibuk ini bikin orderannya. Jadi saya lagi menikmati masa-masa ini," ucap Laila.


Bibir Bu Indah tersenyum. Ia duduk sambil melihat tangan Laila yang begitu piawai memainkan adonan. Laila terlihat begitu menjaga kebersihan. Sarung tangan, celemek dan penutup kepala digunakan oleh Laila demi menjaga kebersihan orderan kuenya.


"Di kampung kalau bikin kue begini juga, La?" tanya Bu Indah.


"Begini gimana, Bu?" tanya Laila.


"Ya suka aja lihat kamu bikin kue tapi kelihatan bersih dan rapi. Berasa lihat koki-koki di cafe," jawab Bu Indah.


"Gak, Bu. Kalau di kampung saya gak ribet begini. Makanya kalau kuenya dibuat di kampung rasanya lebih gurih Bu. Campur sama keringet saya," ucap Laila sambil tertawa.

__ADS_1


"Ih, kamu jorok La." Bu Indah bergidik.


"Ya becanda lah, Bu." Laila meluruskan ucapannya.


Laila mengaku jika pembuatan kue di kampung tidak seperti saat ini. Semua ada alasannya. Biaya untuk sarung tangan dan perlengkapan lainnya tentu tidak akan sesuai dengan harga jual kuenya. Tapi meskipun begitu, Laila masih sangat menjaga kebersihan sebisanya. Laila selalu berusaha mencuci tangan dan mengelap keringat saat proses pembuatan kue. Tentu Laila tidak membiarkan keringatnya masuk bersama adonan seperti yang dibayangkan Bu Indah.


"Aku pikir beneran keringetnya meleber-meleber," ucap Bu Indah.


"Astaga. Ya gak dong Bu," ucap Laila.


Tak lama Yanti ke dapur. Menyapa Bu Indah lalu kembali membantu Laila. Laila dan Yanti mempunyai target untuk orderan kue yang banyak itu. Setidaknya lima belas persen dari jumlah orderan harus diselesaikan setiap harinya. Syukur-syukur kalau mereka bisa menyelesaikan dua puluh persen setiap hari dari total orderan.


"Ini sudah malam. Kalian tidur aja dulu," ucap Bu Indah.


Saat mendengar target yang disepakati oleh mereka, Bu Indah menganggukkan kepalanya. Ya, mereka terlihat kompak dan bekerja keras. Namun meskipun demikian mereka tidak terlihat lelah. Bu Indah melihat semangat pada Yanti dan Laila.


"Hasna sama Kayla udah tidur?" tanya Bu Indah.


"Udah Bu," jawab Yanti.


Padahal Yanti sambil mengasuh anaknya, namun bisa membantu Laila mengejar target kerjanya. Melihat cara kerja dan semangat keduanya, Bu Indah punya ide jika Yanti harus terlibat dalam toko Bu Herlin.


Bagaimanapun Laila tidak bisa kerja sendiri. Bukan ragu akan kemampuan Laila, namun Bu Indah tidak mau jika Laila terlalu cape. Laila tentu butuh partner. Dan Yanti adalah partner paling tepat untuk Laila.


Kegiatan Laila terus berjalan selama tujuh hari. Dan hari ke delapan, semua pesanan kue untuk acara pernikahan Bagus sudah selesai. Tinggal pengemasan dengan menggunakan goodiebag sesuai dengan permintaan Bagus. Laila meminta mengepak kuenya di lokasi pernikahan saja agar memudahkan pengangkutan kue ke lokasi.


"Kerja bagus," balas Bagus dalam sebuah pesan yang dikirimkannya setelah Laila mengirim foto orderan kuenya.


Laila senang walaupun balasan pesan Bagus singkat seperti itu. Namun paling tidak Bagus tentu senang saat kekhawatirannya atas ketidakselesaian orderan kuenya, tidak menghantuinya lagi. Laila juga mengatakan jika orderan kue pengantinnya sedang dibuatkan dan dipastikan akan selesai sesuai target.


"La, kamu hebat loh bisa bikin kue begini. Keren," puji Yanti saat melihat Laila membuat hiasan untuk kue pengantin.


Untuk urusan kue pengantin, Yanti sama sekali tidak bisa membantunya. Tidak ada skill apapun tentang kue pengantin. Saat di kampung dulu, Yanti hanya membantu Bu Rini untuk membuat aneka kue kering dan basahan yang sederhana saja. Meskipun begitu, Yanti senang saat ia merasa bisa memiliki kemampuan membuat kue kering.


H-1, Laila sudah menyelesaikan semuanya. Bagus meminta Laila mengirimkan semuanya ke gedung yang sudah disewanya. Laila berangkat sendiri. Hanya sopir yang menemaninya. Yanti tidak ikut karena Hasna dan Kayla tidak mungkin dibawa apalagi ditinggalkan di rumah Bu Indah.


"Pak," sapa Laila.


Bagus menyambut baik kedatangan Laila. Apalagi saat Bagus melihat kue pesanannya datang. Laila sampai menyewa mobil box untuk mengangkut orderan kuenya.


"Keren. Tolong langsung dipak ya," ucap Bagus.


"Siap," jawab Laila dengan sangat semangat.


Laila segera pergi menuju tempat pengepakan. Namun ia tidak menemukan goodiebag yang dimaksud oleh Bagus.


"Astaga, aku lupa. Ayo kita ambil dulu," ucap Bagus.


"Ayo?" tanya Laila.


"Kenapa? Apa kamu mau aku mengambilnya sendiri?" Bagus balik bertanya.


"Oh, gak begitu Pak. Maksudnya aku bisa ngambil sendiri. Bapak tunggu di sini aja," ucap Laila.


"Sekalian ada yang mau aku bawa di sana," ucap Bagus.


"Oh iya Pak siap," ucap Laila.

__ADS_1


Laila masuk ke mobil sopirnya. Namun Bagus menghampirinya dan menarik tangan Laila untuk segera keluar. Bagus mengajak Laila untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Ini kita sama siapa lagi, Pak?" tanya Laila.


"Harus berapa orang memangnya?" Bagus balik bertanya.


"Ya gak Pak. Tapi kalau berdua gini nanti Kak Winari salah paham," jawab Laila.


"Eh, calon istriku gak mungkin cemburu sama bocil kayak kamu. Jadi kamu gak usah khawatir," ucap Bagus.


Laila tenang saat Bagus meyakinkannya. Setidaknya ia sudah dijamin tidak akan dituduh sebagai pelakor oleh Winari. Perjalanan ke rumah itu terasa sangat lama. Entah Bagus yang sengaja membawa mobil dengan pelan, atau karena ketakutan Laila saat hanya berduaan dengan Bagus.


"Ah, akhirnya." Laila mengelus dadanya lega saat mobil sudah terparkir di depan rumah Bagus.


"Kenapa?" tanya Bagus.


"Gak," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.


Laila segera keluar dari mobil karena tidak mau Bagus terus mencercanya dengan tatapan yang tajam. Itu membuat Laila tersudutkan dan sangat takut.


"Permisi," teriak Laila saat di depan pintu rumah itu.


"Gak usah teriak-teriak. Rumahnya kosong," jawab Bagus dari belakang.


"Kosong? Terus kenapa kuncinya dibiarin menggantung gini? Pasti lupa," ucap Laila.


Kuncinya menggantung? Bagus segera mengecek pintu rumahnya. Beberapa saat Bagus mengernyitkan dahinya. Berusaha mengingat kenapa kunci pintu rumahnya bisa menggantung begitu saja.


"Sayang," panggil Winari yang tiba-tiba membuka pintu rumah itu.


"Kamu di sini?" tanya Bagus.


Bagus terlihat bingung karena Winari sama sekali tidak memberi tahu bahwa hari ini akan datang ke rumah itu.


"Boleh dong?" tanya Winari. "Kalian berdua?" lanjutnya.


"Iya. Aku bawa dia bawa ke sini buat ngambil goodiebagnya," jawab Bagus.


Saat Bagus akan ke dapur, Winari menahannya.


"Duduk di sini aja. Biar aku yang bawakan. Kamu mau aku buatkan kopi dulu?" tanya Winari sambil mengusap pipi Bagus dengan manja.


"Gak perlu," jawab Bagus.


Laila dan Bagus duduk membiarkan Winari mengambil goodiebag itu. Namun tiba-tiba Laila menendang sesuatu di bawah kursi. Kepalanya menunduk melihat apa yang ditendangnya.


"Sendal laki-laki?" batin Laila.


Laila tiba-tiba curiga. Ia pura-pura kebelet agar bisa mengecek apa yang disembunyikan Winari di rumah itu.


"Astaga," ucap Laila.


Dengan cepat Winari menutup mulut Laila. Tak lupa Winari mengangkat pisau untuk mengancam Laila.


"Jangan ikut campur masalahku," bisi Winari di telinga Laila.


Laila yang ketakutan hanya mengangguk. Ia tidak menyangka jika laki-laki yang pernah ia lihat dulu ada di rumah itu. Laki-laki yang katanya mantan pacar Winari ada di rumah Bagus. Untuk apa? Apakah Bagus tahu? Entahlah. Laila hanya berharap semua itu mimpi. Namun Winari yang mendorongnya begitu kuat menyadarkan Laila jika semua itu nyata adanya.

__ADS_1


"Bawa ini dan segera ajak Bagus pergi dari sini!" perintah Winari dengan nada mengancam.


__ADS_2