
"La, ayo!" ajak Bagus.
"Lagi, Mas? Ayo!" ucap Laila sumringah.
"Lagi?" tanya Bagus sambil mengerutkan dahinya.
"Hah?" ucap Laila bingung.
"Ayo katanya mau ketemu Hasna sama Kayla. Mereka pasti kangen sama kamu," ucap Bagus.
"Ah iya. Maksudku juga begitu. Ayo kita ke sana lagi. Tadi kan gak jadi," ucap Laila membela diri.
Laila sangat malu. Ia berusaha membuang muka agar wajah merahnya tidak terlihat oleh Bagus. Sampai akhirnya Bagus benar-benar menarik tangan Laila dan pergi ke rumah kontrakannya.
Duh, kenapa otakku jadi kotor begini ya?
Ya, setelah tahu kenikmatan yang diajarkan oleh Bagus, Laila memang ketagihan. Menginginkan hal yang berhak ia terima sebagai seorang istri. Walaupun palang merah itu belum juga usai.
Kini bukan lagi Bagus, namun Laila yang terus berharap. Sementara ini Bagus tidak memikirkan hal itu karena sudah tuntas. Tapi Bagus tidak tahu jika Laila masih terus membayangkan kejadian yang baru saja ia lewati.
"La, kok ngelamun terus sih?" tanya Bagus.
"Gak Mas. Lagi nikmati pemandangan," jawab Laila.
"Pemandangan apa? Orang kamu aja tiap hari lewat ke sini," ucap Bagus.
Belum sempat Laila menjawab, ternyata mobil sudah sampai di depan rumah kontrakannya. Teriakan Hasna dan Kayla yang menyambut kedatangan mereka membuat Laila segera keluar dan memeluknya. Meluapkan rasa rindunya setelah sempat berpisah rumah selama semalam.
"Kangen banget," ucap Laila.
"Iya. Mama udah hamil? Perutnya udah ada dede bayinya?" tanya Hasna sambil mengusap perut Laila yang masih rata.
Bukan hanya Laila, Bagus juga ikut membulatkan bola matanya. Tahu dari mana Laila tentang hamil?
"Kata Bi Sumi Mama dan Papa tidurnya di rumah itu dulu. Nanti kalau udah hamil, baru kita ikutan pindah biar bisa jagain dede bayi di perut Mama," ucap Kayla menjawab pertanyaan Laila dan Bagus yang tidak terucapkan.
"Bi Sumi," ucap Bagus geram.
"Eh Pak, saya mau ke dapur dulu. Mau bikin minum. Permisi," ucap Bi Sumi.
Tidak ingin terkena murka Bagus, Bi Sumi segera pergi untuk menyelamatkan diri. Membiarkan Bagus dan Laila menjawab sendiri pertanyaan Hasna. Bi Sumi tidak mau ikut campur lagi. Takut semakin kena semprot.
"Minumnya Pak, Bu." Bi Sumi meletakkan dua buah gelas berisi es jeruk segar untuk Laila dan Bagus.
Tidak lama, Bi Sumi segera pergi lagi ke dapur. Ia tidak mau berlama-lama di depan Laila dan Bagus. Saat ini introgasi kedua majikannya itu terlalu mengerikan baginya.
"Bibi," panggil Bagus.
Suara bariton Bagus membuat Bi Sumi terkejut. Ia sama sekali tidak tahu jika Bagus mengikutinya ke dapur. Bi Sumi tampak tersenyum lebar.
"Maksud saya ini baik loh Pak," ucap Bi Sumi.
"Apanya yang baik?" tanya Bagus.
"Biar Bapak sama ibu gak diganggu mereka. Mereka juga seneng kok pas tahu Bu Laila mau hamil," jawab Bi Sumi.
"Hamil? Kamu pikir gampang apa hamilin anak orang?" tanya Bagus.
"Lah, Bapak gak bisa? Masa harus saya ajarin?" tanya Bi Sumi.
"Sembarangan," ucap Bagus.
__ADS_1
"Lagian Bapak apa susahnya sih? Bapak kan sudah berpengalaman, masa gak bisa sih?" goda Bi Sumi.
Bagus merasa bicara dengan Bi Sumi hanya akan membuatnya tambah kesal. Akhirnya ia kembali menemui Laila. Tapi Bi Sumi menahannya.
"Apa lagi sih Bi?" tanya Bagus kesal.
"Gimana? Udah sukses Pak?" tanya Bi Sumi.
Jujur saja, Bi Sumi penasaran dengan malam pengantin mereka berdua. Seharusnya Bagus terkesan, tapi Bi Sumi melihatnya biasa saja. Bi Sumi yang meyakini jika Laila memang masih gadis jadi ragu. Pikirannya tiba-tiba meyakini jika Laila memang seorang janda. Tapi Bi Sumi tahu bahwa Hasna dan Kayla bukan anak Laila. Lalu apakah Laila ini gadis nakal? Hingga akhirnya ia berlindung di balik keberadaan Hasna dan Kayla yang mengakuinya sebagai seorang ibu?
"Apaan sih?" tanya Bagus dengan wajah memerah.
"Pak, saya serius. Gimana? Udah sukses belum?" tanya Bi Sumi.
"Bi Sumi, aku gak suka ditanya-tanya begitu." Bagus menatap tajam Bi Sumi.
Bi Sumi berpikir keras agar mendapat jawaban. Paling tidak, Bi Sumi butuh penjelasan atas keyakinannya. Ia tidak mau jika ternyata Bagus jatuh cinta pada wanita yang salah. Kalau seandainya kesucian Laila sudah ternoda, maka Bi Sumi akan menjadi orang yang paling bersalah pada Bagus.
"Pak, maaf. Tapi maksud saya minimal Bapak udah sukses aja dulu maleman mantennya, baru saya ajak Hasna sama Kayla ke rumah Bapak. Biar gak keganggu gitu Pak. Biar Bapak fokus," ucap Bi Sumi.
Bagus tidak berniat menjawab. Ia melanjutkan langkahnya menjauhi Bi Sumi. Namun lagi-lagi Bi Sumi menahan Bagus. Bahkan kali ini Bi Sumi hingga menarik tangan majikannya itu.
"Pak, kasihan mereka. Kalau Bapak belum jawab, saya anggap belum sukses. Jadi saya gak bakal biarin Hasna sama Kayla ikut sama Bu Laila. Bukan cuma mereka yang sedih, tapi Bu Laila juga pasti sedih. Ayo masa Bapak masih gak mau jawab?" ancam Bi Sumi.
"Mereka mau aku bawa," ucap Bagus.
Mau aku bawa? Bi Sumi menyimpulkan jika Bagus sudah menyelesaikan semuanya. Tapi ekspresi Bagus datar? Apa artinya Laila benar-benar tidak seperti yang ia pikirkan?
"Cieeee, gimana Pak? Mantap kan rasanya?" pancing Bi Sumi.
"Mantap apanya? Dia lagi palang merah," jawab Bagus spontan.
"Hah? Belum dibuka dong Pak?" tanya Bi Sumi.
"Ya udah Bapak bawa dulu Hasna dan Kayla. Nanti kalau Bu Laila udah selesai palang merahnya kabari saya ya! Saya bawa mereka ke sini lagi," ucap Bi Sumi.
Bagus hanya menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Bi Sumi. Mereka mengobrol sebentar lalu mengajak Hasna dan Kayla pulang ke rumahnya. Tidak semua baju dibawa ke rumah Bagus, karena setelah Bagus kembali ke Jakarta mereka akan kembali ke rumah kontrakan.
Letak sekolah yang cukup jauh dari rumah Bagus membuat Laila memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakannya saja. Meskipun Bagus keberatan, namun ia hanya mengikuti keinginan istrinya.
Masa-masa pengantin baru Bagus nikmati dengan sebaik mungkin. Meskipun di sela-sela berbagi waktu dengan Hasna dan Kayla, namun Bagus selalu mencari waktu untuk berdua. Bahkan setiap malam, Bagus harus menunggu Hasna tidur sebelum melanjutkan cicilannya. Itu pun harus pelan-pelan karena takut Hasna terbangun.
Sampailah pada hari yang dinanti-nanti, saat Laila selesai palang merah. Bagus tersenyum lebar saat tahu jika Laila sudah tidak palang merah lagi. Namun sekarang kendalanya adalah waktu. Hasna yang selalu ingin tidur bersama Laila dan Bagus membuat mereka tidak bebas.
Tiba-tiba Bagus teringat ucapan Bi Sumi yang siap membantunya. Bagus berpikir, mencari ide agar Bi Sumi tahu kalau Laila sudah selesai palang merah. Meskipun malu, namun Bagus harus melakukan semua ini karena ia butuh waktu berdua dengan Laila. Apalagi sebentar lagi Bagus harus segera kembali ke Jakarta. Bagus tidak mau pulang dengan hampa.
"Bi, Laila kok haidnya udahan ya? Memangnya normal kalau cuma empat hari begitu?" tanya Bagus saat sore hari.
Bi Sumi yang mengerti ucapan Bagus segera tersenyum dan merespon.
"Tuhan itu adil. Biasanya sih seminggu, tapi karena manten baru kayaknya ada diskon deh jadi cuma empat hari. Bonus buat orang baik kayak Bapak. Tenang nanti malam saya bawa Hasna dan Kayla pulang ke kontrakan," ucap Bi Sumi sambil mengangkat jempol tangannya.
"Bibi ngapain?" tanya Laila.
Bi Sumi yang masih mengangkat jempolnya menatap Laila bingung. Ia mencari jawaban agar tidak mencurigakan.
"Ini Bu, Pak Bagus sekarang makin oke. Badannya udah makin keren," ucap Bi Sumi.
"Iya sekarang udah gak buncit lagi ya Bi," ucap Laila sambil menahan tawa.
"Saya gak ikutan ya Pak, permisi." Bi Sumi segera pergi meninggalkan Bagus dan Laila.
__ADS_1
Bi Sumi segera membujuk Hasna dan Kayla agar pulang ke rumah kontrakan. Meskipun sempat ada drama, namun akhirnya Bagus mengantarkan mereka ke rumah kontarakan. Rumah itu kembali sepi. Hanya ada mereka berdua.
Tatapan mata Bagus membuat Laila mengerti. Usia pernikahan yang sudah menjelang empat hari membuat Laila tidak malu lagi seperti di hari pertama mereka menikah. Laila sudah belajar banyak hal. Salah satunya menggunakan pakaian dinas yang ia dapat dari kado pesta pernikahannya.
"Laila, kamu benar-benar menggodaku?" tanya Bagus dengan senyum nakal.
"Tapi Mas suka kan?" bisik Laila di telinga Bagus.
"Ah, Laila. Kamu memang selalu tahu apa yang aku butuhkan," ucap Bagus.
Tanpa basa basi, Bagus mengawali dengan pemanasan yang luar biasa. Pemanasan yang benar-benar membuat Laila panas hingga merasa terbakar. Laila benar-benar terbuai dengan cicilan yang sudah biasa didapatnya setiap malam.
"Aduh Mas pelan-pelan," ucap Laila saat pertama kalinya benda pusaka itu beradu kesaktian.
"Eh maaf," ucap Bagus.
Bagus mengernyitkan dahinya. Kenapa janda beranak dua ini begitu sulit ditaklukan? Apa karena sudah terlalu lama menjanda? Bagus merasa harus berjuang lebih ekstra.
"Mas sakit," ucap Laila.
"Maaf La. Tapi ini kok sempit sekali?" tanya Bagus sambil mengelap keringat di dahinya.
"Masa sih? Terus aku harus gimana?" tanya Laila bingung.
"Bukan masalah posisi. Posisi kamu udah bener kok. Kamu janda berapa lama sih?" tanya Bagus.
"Aku bukan janda Mas," jawab Laila.
"Apa?" tanya Bagus.
"Jangan banyak ngomong Mas. Nanti pusakanya lembek lagi," jawab Laila.
"Pinter banget jawabnya. Dosa tahu balik-balikin ucapan suami," ucap Bagus.
"Ya udah cepetan Mas," ucap Laila.
"Beneran kamu bukan janda?" tanya Bagus.
"Iya," jawab Laila.
"Terus Hasna sama Kayla?" tanya Bagus.
"Mas nanti aja ngobrolnya. Ayo lanjutin dulu!" ucap Laila.
"Iya, iya," ucap Bagus.
Pernikahannya yang pertama tidak membuat Bagus tertantang seperti ini. Ini adalah pengalaman dan sensasi baru untuk Bagus. Dengan lembut Bagus memperlakukan Laila penuh cinta. Bagus bahkan tidak bisa menyelesaikan semuanya hingga tuntas karena melihat air mata Laila yang tidak sengaja menetes.
"La, sakit ya?" tanya Bagus.
"Kok udahan Mas?" tanya Laila bingung.
"Gak tega aku La," jawab Bagus.
"Lanjut aja Mas. Enak kok," jawab Laila.
"Bener?" tanya Bagus.
"Iya. Tapi pelan-pelan ya!" pinta Laila.
Bagus kembali memulai hingga akhirnya pertahanan Laila yang sudah dijaganya sejak dulu runtuh sudah. Bagus pemenangnya. Bagus adalah orang pertama yang melakukan semua itu.
__ADS_1
Dengan mata kepalanya sendiri Bagus melihat Laila meremas sprei menahan sakit yang dialaminya. Sampai akhirnya Bagus melihat sedikit bercak merah tersisa saat permainan sudah selesai.
"La, terima kasih." Bagus mengecup dahi Laila dengan senyum penuh kemenangan.