
Melihat Laila sudah lebih tenang, Bi Sumi mulai berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Bagus. Walaupun perannya hanya sebagai seorang asisten rumah tangga, namun Bi Sumi selalu berusaha menjadi sosok yang dibutuhkan. Bi Sumi mulai menceritakan apa yang ia tahu dari Bagus.
"Terus Bibi percaya?" tanya Laila.
"Memangnya Ibu gak percaya?" Bi Sumi balik bertanya.
"Ih Bibi kebiasaan kalau ditanya suka balik nanya," ucap Laila.
"Lagian Ibu, sama suami sendiri kok gak percaya sih?" tanya Bi Sumi.
"Ya kan namanya juga manusia, Bi. Siapa yang bisa jamin kalau Mas Bagus gak bohong?" ucap Laila.
"Memang gak ada yang jamin Bu. Tapi setahu saya, gak ada alasan buat saya gak percaya sama Pak Bagus. Selama saya kenal sama Bapak, Bapak itu orang yang jujur. Apalagi soal seperti ini," ucap Bi Sumi.
Memang benar. Bagus bukan tipe orang yang suka berbohong. Selama Laila mengenalnya pun, tidak pernah membohonginya. Kalaupun ada kebohongan yang dilakukan Bagus, itu hanya sebuah cara untuk membuat kejutan saja.
"Kak Winari memangnya beneran di penjara ya, Bi?" tanya Laila.
"Loh memangnya Ibu gak percaya soal itu juga?" Bi Sumi balik bertanya dengan kerutan di dahinya.
"Kebiasaan deh Bibi," ucap Laila kesal.
Laila selalu kesal saat Bi Sumi menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan lagi. Laila memang tahu soal Winari yang sudah masuk penjara. Hanya saja Laila belum percaya sepenuhnya jika Bagus tega memasukan mantan istrinya ke penjara. Lagi pula, Laila juga malas bertanya lebih jauh soal Winari.
Setelah mendengar penjelasan Bagus soal Winari, Laila hanya mengangguk dan berusaha mengganti topik. Jujur saja, meskipun Bagus sudah bicara berkali-kali bahwa tidak ada lagi perasaannya untuk Winari, Laila tidak suka saat Bagus membahas tentang Winari.
Mungkin hal itu yang dinamakan cemburu. Laila merasakan hal itu setelah menikah dengan Bagus. Padahal sebelumnya, Bagus yang sering mengingatkan Laila agar tidak membahas soal Winari. Ia bisa melihat wajah kesal saat pembahasan soal Winari dilakukan olehnya. Tapi kini, justru ia yang merasa kesal saat Bagus berusaha membahas soal Winari.
Semakin lama menjadi istri Bagus, Laila merasa perasaannya kian bertambah. Ada perasaan takut saat kehilangan suaminya. Apalagi jarak yang terbentang membuat Laila tidak bisa menyaksikan sendiri bagaimana keseharian Bagus selama di Jakarta.
__ADS_1
"Bu, kalau ibu mikirnya jelek apapun yang Bapak lakuin pasti jelek aja tanggapannya. Saran saya sih Ibu percaya sama Bapak. Lagian kan sekarang ibu harus fokus ngurus toko," ucap Bi Sumi mengingatkan.
Ah, iya. Laila terlalu sering berpikir hal yang buruk tentang banyak hal. Terlebih soal suaminya. Namun sekarang Laila harus berusaha menyingkirkan pikiran buruknya. Ada toko yang akan menguras waktu dan pikirannya.
"Bi, terima kasih ya. Aku gak tahu deh kalau gak ada Bibi," ucap Laila.
"Gak usah begitu. Udah jadi tugas Bibi. Oh ya kata Bapak, besok bakalan ada chef yang bantu-bantu Ibu di toko." Bi Sumi menyampaikan informasi dari Bagus.
"Astaga, Mas Bagus ini kelewatan." Laila segera meraih ponselnya.
"Loh, sebentar Bu." Bi Sumi berusaha menahan tangan Laila.
"Apa sih, Bi? Saya mau nelepon Mas Bagus," jawab Laila.
"Kok Ibu marah? Harusnya Ibu seneng dong?" tanya Bi Sumi.
Bi Sumi berusaha mencegah, namun Laila terus saja bersikeras membantah. Bahkan Laila meminta Bi Sumi keluar dari kamarnya dengan alasan ingin beristirahat. Padahal Bi Sumi yakin itu hanya akal Laila agar bisa menelepon Bagus. Tentu saja Bi Sumi bisa memastikan kalau telepon itu sudah terhubung, akan terjadi pertengkaran jilid dua.
Sebagai orang yang peduli dengan rumah tangga Laila dan Bagus, Bi Sumi berusaha menahan dan menjelaskan. Namun kali ini Bi Sumi merasa jika Laila sedang tidak baik-baik saja. Dari pada terjadi salah paham, lebih baik Bi Sumi keluar.
Dengan cepat ia mengirimkan pesan pada Bagus. Meskipun telat, namun akhirnya Bagus membaca pesan yang dikirimnya. Awalnya Bagus merasa lelah dengan sikap Laila yang menurutnya berlebihan. Tinggal berjauhan bukanlah keinginannya. Namun Laila seolah membuat semuanya jadi masalah besar. Bagus nyaris menyerah.
Beruntung Bi Sumi menjadi penenang di saat yang tepat. Naluri seorang ibu dalam diri Bi Sumi sangat berperan aktif. Ia mengingatkan Bagus agar lebih sabar. Bisa saja Laila sedang hamil. Bukan hanya Bagus, Bu Sumi juga sebenarnya merasakan apa yang Bagus rasakan.
"Biasanya ibu hamil lebih sensitif, Pak. Mengalah kan bukan berarti kalah Pak. Semangat ya Pak," ucap Bi Sumi.
Kalimat yang ringan sekali masuk ke telinga Bagus namun berat saat sampai ke otaknya. Lelah. Pernikahannya dengan Winari memang tidak lama, hingga tidak merasakan hal seperti ini. Ia merasa sangat berbeda saat menjalani dengan Laila.
Saat ini Bagus sedang pusing dan lelah karena pekerjaan dan urusan lain. Namun saat mendengar hamil, tiba-tiba bibir Bagus mulai melebar. Bayangannya melayang jauh pada kisah masa depan yang akan menggambarkan seorang bayi kecil dalam pangkuannya.
__ADS_1
Setelah penjelasan itu, Bagus mulai sering mencari informasi tentang kehamilan. Setelah ia cocokkan, ternyata hampir mirip dengan keadaan Laila saat ini. Bagus pun mulai berusaha menurunkan egonya.
"Iya, iya. Maaf ya sayang," ucap Bagus.
Selalu seperti itu saat Laila mulai marah hanya karena perdebatan sepele. Ia pun menyadari tanggung jawab seorang suami dan calon ayah itu begitu berat. Hingga Bagus berusaha menjalaninya dengan baik.
"Mas, maaf ya!" ucap Laila.
Kalimat itu yang ditunggu Bagus setiap kali mereka berdebat. Bagus selalu tersenyum melihat sikap Laila. Naik turun dan membuatnya sering menggelengkan kepala.
Bagus semakin yakin, saat ia berusaha mengalah maka Laila pun akan mengalah. Walaupun kadang-kadang harus membuatnya menahan kesal yang cukup besar. Ini adalah resikonya saat memilih wanita yang usianya terpaut cukup jauh dengannya. Namun cinta membuatnya mengalah. Ia harus jadi laki-laki yang bisa menyenangkan istrinya. Apalagi saat keadaan hamil seperti ini.
"Sayang, dua minggu lagi aku ke Surabaya. Kamu mau aku bawain apa?" tanya Bagus.
Bagus membaca artikel jika wanita sedang hamil muda biasanya melewati fase ngidam. Fase manja yang biasanya berharap selalu dituruti suami. Sayangnya jarak memisahkan mereka berdua. Bagus hanya berusaha melakukan apa yang bisa ia lakukan.
"Aku gak pengen apa-apa, Mas." Laila menjawab dengan datar.
"Masa? Gak mau dibawain apa gitu? Coklat atau bunga misalnya?" tanya Bagus.
"Ah di sini juga banyak, Mas." Laila menolak.
"Oh ya udah kalau gitu," ucap Bagus.
Baru saja lima menit panggilan itu berakhir, tiba-tiba beberapa pesan dari Laila mulai masuk. Bagus dibuat membulatkan bola matanya saat membaca pesan itu.
"Katanya gak mau apa-apa. Terus ini apa?" gumam Bagus.
Laila meminta Bagus untuk membawakan bakso, batagor dan es jeruk yang ada di dekat sekolahnya dulu. Bukan masalah banyaknya pesanan Laila, namun Laila sendiri yang bilang kalau coklat dan bunga banyak di Surabaya. Apa kabar dengan bakso, batagor dan es jeruk? Bagus menggelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya. Ia menghela napas panjang agar tetap tenang menghadapi istrinya yang sedang hamil.
__ADS_1