Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Warteg Bu Dedeh


__ADS_3

"La, kita mampir ke rumah kakak mu itu ya. Ajak anak-anaknya juga," ucap Bu Indah saat mobil baru melaju.


"Hah?" tanya Laila terkejut.


Laila yang sudah merasa sedih karena tidak bisa menemui Yanti dan kedua keponakannya, tiba-tiba mendapatkan apa yang tidak terduga. Ajakan Bu Indah untuk keluarganya membuat Laila benar-benar senang. Akhirnya Laila yakin jika Bu Indah memang menerima keluarganya di Jakarta.


"Kok malah bengong?" tanya Bu Indah.


"Ah, gak Bu. Saya cuma bingung aja. Ini serius Bu?" Laila balik bertanya.


"Loh, memangnya aku kelihatan gak serius ya?" tanya Bu Indah.


"Eh bukan begitu, Bu. Saya cuma kaget aja. Gak nyangka ibu mau ajak mereka juga. Padahal makan di cafe itu mahal loh. Saya gak enak aja nanto ibu bayarnya mahal," jawab Laila.


Bu Indah menggelengkan kepalanya. Tanpa menjawab ucapan Laila, Bu Indah meminta sopir untuk menjemput Yanti dan kedua anaknya. Tidak perlu tanya alamat lagi, karena Bu Indah yakin jika sopirnya tahu dimana alamat Yanti. Selama ini, Laila sering ke kosan Yanti diantar oleh sopir. Bahkan saat mencari kosan pun, Laila ditemani oleh sopirnya.


"Kak Yanti," teriak Laila.


Yanti yang baru saja membuka pintu terkejut saat Laila memanggilnya dengan suara lantang. Ia segera menghampiri Laila dan memeluknya. Saat mendengar ajakan Laila untuk makan di sebuah cafe elit, Yanti menolak.


"Loh, kenapa?" tanya Laila.


"Jangan ah. Sayang duitnya, La. Kalau makan nasi goreng di sebelah sono paling cuma dua puluh rebu," jawab Yanti sambil menunjuk sebrang rumah kontrakannya.


"Ya kan nasi goreng itu bukanya malem. Ini kita mau makan siang menuju sore," ucap Laila.


"Sayang duitnya, La. Di Jakarta itu semua serba mahal. Kamu harus pinter simpen duit. Ya meskipun Bu Indah ngasih kamu duit banyak tiap harinya, bukan berarti kamu bisa ngabisin seenaknya. Inget kata Ibu, La. Kita harus hemat. Harus pinter nabung," ucap Yanti mengingatkan.


"Ya ampun Kak, gak tiap hari loh. Ini kan perayaan karena aku sama Kayla baru aja dapet raport. Aku rangking kelas loh. Kay gimana?" tanya Laila.


"Kay juga alhamdulilah meskipun murid baru di sekolahnya, tapi bisa masuk sepuluh besar," jawab Yanti.


"Tuh kaaaan. Anggap aja ini hadiah karena Kay berhasil masuk sepuluh besar," ucap Laila.


"Tapi kalau di kampung dia juara tiga loh, La. Jadi sebenarnya gak ada perayaan. Kay sedih peringkatnya jadi turun," ucap Yanti.


Tak lama, Kayla keluar. Benar saja, Laila melihat wajah Kay begitu sedih. Wajahnya ditekuk. Bahkan senyumnya hambar. Anak yang baru kelas dua SD itu rupanya sudah sangat mengerti jika peringkatnya menurun jauh.


"Kay, jangan sedih. Ini Jakarta, tempatnya orang pinter. Jadi kalau masuk sepuluh besar artinya Kay juga pinter," ucap Laila.


"Jadi di kampung tempatnya orang bodoh?" tanya Kayla.


"Ya bukan gitu. Maksudnya kan ini di kota besar. Banyak orang pinter di sini yang berasal dari banyak daerah. Lala juga dulu gak rangking. Sekarang karena Lala belajar, Lala jadi rangking. Nanti Kay juga belajar sama Lala ya. Pasti nanti rangking juga," ucap Laila.


Laila berusaha menumbuhkan rasa semangat Kayla. Sampai akhirnya Kay nampak senang saat Laila mengajaknya makan di cafe. Walaupun Kayla tidak tahu cafe itu apa, namun yang ditangkap dari cerita Laila di sana banyak makanan enak.


"La, jangan dibiasain begitu. Gini aja deh. Untuk merayakan hari bahagia ini, kakak traktir kamu makan di warteg sebelah SD. Warteg Bu Dedeh. Enak La. Kamu sama Kay bisa makan sepuasnya," ucap Yanti.

__ADS_1


"Aku yang bayar. Ayo!" ajak Bu Indah.


Bu Indah yang sejak tadi mengamati perdebatan Laila dan Yanti, memutuskan untum segera keluar. Awalnya Bu Indah yang tidak mengenal Yanti merasa kesal saat Laila selalu mengirim sejumlah uang untuk kakak iparnya itu. Namun setelah bertemu dengan Yanti, ternyata kakak ipar Laila itu tidak seburuk yang dipikirkannya.


Yanti bahkan sampai mengingatkan Laila agar tidak menghamburkan uang. Awalnya Bu Indah berpikir jika Yanti yang selalu membuat Laila menghabiskan uangnya begitu saja. Bu Indah malu sendiri dengan pikiran buruknya terhadap Yanti.


"Ini Bu Indah," ucap Laila memperkenalkan ibu angkatnya.


"Oh ibu salam kenal. Saya Yanti," ucap Yanti mengulurkan tangannya.


"Indah," jawab Bu Indah sambil membalas uluran tangan Yanti.


Padahal kata Laila umurnya udah gak muda lagi. Tapi cantik banget, modis. Tangannya mulus banget.


"Aduh maaf, Bu. Saya pikir ibu gak ada di mobil. Ayo masuk dulu, Bu." Yanti terlihat gugup.


"Gak usah. Kita ngobrol di cafe aja ya," ucap Bu Indah.


"Aduh tapi Bu, saya takut ngerepotin. Saya bawa dua anak yang masih kecil," ucap Yanti.


"Gak ngerepotin sama sekali. Oh ya mana satu lagi?" tanya Bu Indah.


"Ada di dalam Bu lagi nonton tv," jawab Yanti.


Nonton tv? Yanti yang baru sebentar tinggal di Jakarta sudah punya tv. Artinya ekonominya tidak terlalu rendah menurut Bu Indah. Karena itu, Bu Indah merasa tertarik untuk melihat isi kosan Yanti.


"Oh iya silahkan, Bu." Yanti mempersilahkan Bu Indah masuk.


Saat pintu kosan itu terbuka, Bu Indah melihat anak kecil yang sedang menonton tv dengan fokus. Namun saat langkah Bu Indah mendekat, Hasna melihat ke arah Bu Indah. Yanti yang mengikuti Bu Indah dari belakang segera menghampiri Hasna dan menggendongnya. Memperkenalkan Bu Indah agar Hasna tidak ketakutan.


"Hai anak cantik," sapa Bu Indah.


"Namanya Hasna, Bu." Yanti mengenalkan anaknya.


Yanti juga meminta Hasna bersalaman. Dengan cepat Hasna mengulurkan tangan dan mencium tangan Bu Indah saat uluran tangannya bersambut. Ada senyum di wajah Bu Indah. Sikap manis Hasna membuat Bu Indah merasa ada kebahagiaan tersendiri.


Bu Indah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Dengan izin Yanti, Bu Indah bahkan melihat setiap bagian di kosan itu. Sempit dan sangat berantakan. Bagian depan yang seperempatnya dipakai jajanan anak-anak terlihat bertumpuk. Belum lagi tv yang ditonton Hasna tv jadul dan kecil. Tidak seperti di rumahnya yang besar dan sudah layar datar.


"Kamu betah di sini?" tanya Bu Indah.


"Alhamdulilah betah, Bu." Yanti mengangguk sopan.


"Maaf ya, tapi ini sempit untuk tinggal bertiga. Kamu gak mau pindah?" tanya Bu Indah.


"Bu, ini udah lebih dari cukup. Biaya kosan di Jakarta mahal. Kalau mau yang lebih gede, nanti bayarnya lebih gede juga. Sayang uangnya," ucap Yanti.


Bu Indah menghela napas panjang. Ternyata Yanti sama dengan Laila. Tidak memanfaatkan orang lain. Meskipun Laila sering mengirim uang, namun Yanti masih mandiri selama semua bisa ditutupi olehnya.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita makan," ajak Bu Indah.


Yanti segera mengganti pakaiannya dan kedua anaknya. Mereka memakai pakaian terbaik yang dimilikinya. Yanti tidak mau jika Bu Indah merasa malu saat membawanya ke cafe. Bagaimanapun, ia harus menghargai Bu Indah.


Selama dalam perjalanan, Bu Indah banyak bertanya tentang kehidupan Yanti. Seperti halnya Laila, Yanti juga menceritakan semuanya sama persis. Tidak ada kepura-puraan di sana. Semua tulus dan apa adanya.


"Oh ya, Hasna masih suka nonton tv ya?" tanya Bu Indah.


"Iya, Bu. Kadang kalau udah bosen baru mainan boneka," jawab Yanti.


"Gak main gadget dia? Biasanya kan anak segede gitu udah nonton yuotube," ucap Bu Indah.


"Gak saya kasih, Bu. Ponsel saya cuma satu. Itu juga dipakai buat jualan online. Kalau dipakai youtubean habis kuota saya, Bu. Bahaya," ucap Yanti sambil tertawa.


"Oh, kamu jualan online?" tanya Bu Indah.


Yanti menjelaskan bisnis onlinenya di Jakarta berjalan semua berkat bantuan Laila. Bahkan Bu Indah baru tahu jika selama ini Laila sering pulang telat hanya untuk mengurus semua kebutuhan Yanti. Begitu dewasanya remaja yang baru kelas dua SMK itu.


"Aku yakin suatu saat nanti kalian akan jadi orang sukses," ucap Bu Indah.


"Amiiiin. Terima kasih ya, Bu. Doa orang baik biasanya dikabul," ucap Yanti.


"Ah kamu bisa aja," ucap Bu Indah.


Obrolan terus berlanjut sampai akhirnya mobil sampai di cafe. Menu makanan sudah diterima Yanti. Dengan seksama Yanti memperhatikan list menu makanan yang berjejer di sana. Namun saat Laila dan Bu Indah sudah memesan, Yanti masih memperhatikan list menu.


"Yang ini aja Kak," ucap Laila sambil menunjuk salah satu menu.


Yanti menatap Laila. Tatapan itu sangat dimengerti oleh Laila. Hanya dengan tatapan mata juga, Laila meyakinkan bahwa menu yang dipesan Laila adalah menu paling murah. Ya, Yanti selalu mengajarkan Laila jika ditraktir makan maka ia harus memilih makanan yang paling murah. Jangan sampai memberatkan orang yang memberinya traktiran. Apalagi saat pesanannya jauh lebih mahal dibanding dengan pesanan orang yang mentraktirnya.


"Iya. Itu aja Bu dua," ucap Yanti.


"Kok dua?" tanya Bu Indah.


"Hasna biar sama saya aja," jawab Yanti.


"Biarkan Hasna punya jatah makan sendiri," ucap Bu Indah.


Bu Indah pun memesan lima porsi makanan untuk mejanya. Sementara sopirnya tidak ikut masuk. Tapi Bu Indah selalu membungkus jatah sopirnya setiap kali ia makan di cafe itu.


"Malam ini kalian nginep di rumahku ya," ajak Bu Indah.


Yanti sebenarnya ingin ikut bersama Laila ke rumah Bu Indah. Selain Hasna dan Kayla yang masih rindu pada Laila, ia juga ingin merasakan tinggal di rumah mewah. Ingin tidur di kamar yang luas dengan kasur empuk seperti yang diceritakan Laila. Namun Yanti cukup tahu diri.


Kebaikan Bu Indah hari itu sudah cukup untuk keluarganya. Yanti tidak mau menjadi orang yang tidak tahu diri. Jangan sampai sikapnya bisa merubah sikap Bu Indah pada Laila. Yantu selalu berpikir masa depan Laila akan sangat cerah di tangan Bu Indah. Makanya, Yanti sangat menjaga sikap di hadapan Bu Indah.


"Kapan-kapan aja Bu," ucap Yanti.

__ADS_1


"Loh, kenapa? Kan Kayla udah beres sekolahnya," ucap Bu Indah.


__ADS_2