
Entah jam berapa Laila tidur. Yang pasti, ia dibangunkan Bi Sumi saat sudah jam enam pagi. Masih dengan rasa mengantuk dan kepala sedikit pusing, Laila membuka matanya. Menatap Bi Sumi bingung.
"La, ayo mandi. Kita kan mau ketemu Pak Bagus," ucap Bi Sumi.
Mendengar nama Bagus, Laila segera mengumpulkan semangatnya. Menyingkirkan perasaan ngantuk dan berat di kepalanya. Ada yang harus ia tuntaskan hari ini. Alasan Bagus menghilang selama sebulan membuat Laila cukup lelah. Mungkin karena sedikit demi sedikit, rasa itu sudah muncul dalam hati Laila.
"Bi, Hasna sama Kayla boleh dibawa juga kan? Mereka juga pasti khawatir sama Pak Bagus," ucap Laila.
"Oh ya tentu. Mereka harus ikut," ucap Bi Sumi.
Perlahan, tangan Laila menyentuh pipi Kayla. Membangunkannya dengan begitu lembut. Setelah itu, Hasna pun mendapat aksi yang serupa. Laila memang sudah terbiasa dengan mereka. Julukan lele dumbo mungkin sekarang sudah tidak berlaku lagi untuknya.
Sudah terlalu lembut sikap Laila pada kedua keponakannya. Mungkin karena usia Hasna dan Kayla juga semakin besar, hingga mereka sudah tidak serewel dulu. Apalagi saat Laila menyadari jika kedua anak yang kini tinggal bersamanya adalah anak piatu. Memilikk ayah namun hanya sekedar status.
Tidak tega rasanya setiap kali ingin memarahi Hasna ataupun Kayla. Terlebih, Kayla yang sudah kelas lima semakin mengerti keadaan Laila. Saat terlihat lelah, Kayla selalu membantu meringankan pekerjaannya. Hal yang menurut Laila sangat manis. Meskiohn miris, mereka harus dewasa di usia yang tidak seharusnya.
"Laila, pakai baju ini! Dan ini untuk anak-anak," ucap Bi Sumi memberikan tiga pakaian pesta yang terlihat sangat mahal.
Laila menerima pakaian itu namun ia masih bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia harus memakai baju secantik itu untuk menemui Bagus? Ada rencana apa?
"Bi, ini sebenernya ada apa sih? Kenapa kayak yang mau pesta?" tanya Laila bingung.
"Laila, kamu udah cukup sabar menghadapi kerasnya hidup. Bibi rasa ini waktu yang sangat tepat. Udah waktunya kamu bahagia. Pak Bagus mau ngelamar kamu secara resmi. Dia mau mengenalkan kamu di depan publik," ucap Bi Sumi.
Laila tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menutup mulutnya sementara matanya masih membulat sempurna. Perlahan air mata itu berjatuhan. Rasanya bermimpi pun tidak sebahagia ini. Bi Sumi segera memeluk Laila dan memintanya bersiap. Bagus sudah menunggu mereka.
"Ini beneran, Bi?" tanya Laila.
Anggukan kepala Bi Sumi membuat air mata Laila jatuh lebih deras. Tangisan bahagia itu berhenti setelah Hasna dan Kayla selesai mandi dan menanyakan pakaian mereka.
"Pakai ini," ucap Laila dengan senyum lebar.
"Waaah, Hasna gak ulang tahun loh padahal." Hasna terlihat kagum dengan pakaian yang diberikan Laila.
Sementara Kayla hanya mengungkapkan rasa kagum dan bahagianya lewat ekspresi wajah saja. Tidak satu pun kata yang terucap dari mulutnya. Laila membantu mereka bersiap. Setelah itu segera mengikuti Bi Sumi ke suatu tempat yang Laila sendiri tidak tahu.
Sebuah rumah mewah. Rumah yang mengingatkan Laila pada Bu Indah dan Bu Herlin. Kini ia bisa menginjakkan lagi kakinya di rumah mewah. Meskipun ia tidak tahu rumah siapa yang kini didatanginya.
__ADS_1
Tanpa Laila tahu, itu adalah rumah Bagus. Rumah pribadi Bagus yang sengaja tidak diberitahu pada Laila selama ini. Bagus tidak memilih sebuah hotel untuk merayakan acara lamarannya. Ia tidak mau kejadian yang sama dengan Winari terulang. Selain itu, Bagus juga ingin membuat momen spesial di rumahnya sendiri.
Tidak banyak tamu yang hadir. Hanya ada puluhan teman Bagus yang ada di sana. Namun hampir setiap orang menggenggam ponsel dan mengarah pada Laila.
Laila yang datang dengan gaun maroon terlihat sangat cantik. Di tangan kiri dan kanan, terdapat Hasna dan Kayla yang menggenggam erat Laila. Saat matanya menatap Bagus, Laila tidak bisa melanjutkan langkahnya.
Pak Bagus, syukurlah. Akhirnya aku tenang karena lihat Bapak baik-baik aja.
"Laila, sini!" panggil Bagus.
Laila mengerjap dan segera melangkah. Dengan membawa dua keponakannya, Laila mendekat ke arah Bagus. Berdampingan dengan Bagus yang menggunakan kemeja senada.
"Terima kasih udah datang, calon istriku." Bagus menatap Laila penuh cinta.
"Bapak perutnya gak buncit lagi," bisik Laila.
Bagus memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya. Kata-kata dan sikap romantisnya ternyata tidak dibalas oleh Laila. Calon istri yang sangat ia cintai itu justru fokus pada perutnya.
Berat badan Bagus memang sudah menurun. Tapi Laila tidak tahu jika saat ini Bagus berusaha menahan napasnya. Karena berat badannya belum menurun sesuai target. Apalagi di bagian perutnya.
Pemandu acara memulai acara pertunangan yang digelar oleh Bagus. Tidak ada Winari di sana. Selain Bagus tidak mau ada kekacauan, Bagus juga yakin Winari akan tahu meskipun mantan istrinya itu tidak diundang.
Laila menatap kagum Bagus. Menelan salivanya dengan susah payah. Betapa rasa bahagia itu menyeruak begitu saja. Saat semua orang mencemooh dirinya dengan status sebagai janda beranak dua, Bagus justru membanggakannya.
Meskipun kenyataan yang ada tidak seperti yang Bagus ucapkan, namun Laila senang saat melihat Bagus mengenalkan dirinya dan kedua keponakannya. Semua orang bertepuk tangan mendengar penuturan Bagus. Meskipun Laila yakin wajah mereka penuh tanya. Mereka pasti mempertanyakan usianya, mengingat Hasna sudah besar.
"Gak usah mikirin apa yang gak seharusnya kamu pikirin. Aku nerima kamu dan masa lalu kamu. Apapun dan bagaimanapun," bisik Bagus.
Laila tersenyum. Wajahnya memerah. Apalagi saat sebuah cincin cantik dipasangkan di jari manisnya. Belum lagi buket uang yang begitu besar membuat Laila merasa ini terlalu indah untuk hidupnya. Kini ia merasa keadilan Tuhan. Ini jawaban atas semua rasa sedihnya. Mendapat laki-laki yang menerimanya apa adanya dan memperlakukannya seperti ratu.
"Terima kasih ya Pak," ucap Laila saat pesta sudah selesai.
"Kamu seneng?" tanya Bagus.
Laila segera mengangguk. Rupanya Bagus mempelajari bersikap romantis pada Laila. Berharap jika Laila akan bahagia. Bagus meyakini suatu saat setelah mereka menikah, bahagia Laila adalah sumber kebahagiaannya juga.
"Bapak gak malu nikah sama janda anak dua?" tanya Laila.
__ADS_1
"Kalau malu, gak bakal aku kenalin Hasna dan Kayla tadi. Aku udah bilang kalau aku nerima kamu satu paket," jawab Bagus sambil menggenggam tangan Laila.
Laila tersenyum bahagia mendengar jawaban Bagus. Hal yang tidak pernah ia duga selama ini. Akhirnya Laila merasa kutukan Deri memang sudah musnah. Ah, mengingat nama Deri sakit rasanya. Melihat dua anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dari seorang ayah, namun justru kasih sayang itu ia rasakan dari orang lain.
Bagus bukan hanya menyelamatkan masa depan Laila, tapi Bagus juga secara tidak langsung sudah membuat dua anak itu merasa memiliki dunia baru. Dunia yang memang seharusnya ia miliki. Kasih sayang yang tidak pernah dirasakan itu, kini mereka temukan pada sosok Bagus.
"Pak, saya ganti baju ya!" ucap Laila.
"Nanti dulu," cegah Bagus.
"Ada apa?" tanya Laila.
"Kita belum selfie," jawab Bagus.
Bagus segera mengeluarkan ponselnya. Berpose dengan manis layaknya ABG yang sedang dimabuk cinta. Laila yang terlihat cantik dengan riasan natural hasil tangannya sendiri membuat Bagus lebih percaya diri mengenalkan Laila di dunia maya.
Melalui sebuah akun sosial media, Bagus mengupdate foto dengan Laila. Bukan ingin memancing Winari, namun kali ini Bagus memang ingin mengenalkan Laila sebagai calon istrinya. Bahkan sebelum Bagus memposting fotonya dengan Laila, sudah ada pesan yang masuk dari Winari.
Isi pesannya menertawakan keadaan Bagus. Melepaskannya dan mencari wanita dengan status janda beranak dua. Kemudian Winari dengan terang-terangan mempertanyakan usia Laila saat menikah, mengingat usia Kayla sudah cukup besar. Namun hal itu tidak membuat Bagus bergeming. Bukan membalas pesan itu, Bagus memblokir kontak Winari. Semua aplikasi yang berhubungan dengan Winari sudah lenyap.
"Laila, kapan kamu mau pulang?" tanya Bagus saat makan malam.
"Terserah Bapak aja. Tapi kalau bisa, besok Pak. Soalnya Hasna sama Kayla harus sekolah. Minggu depan mereka udah ulangan semester," ucap Laila.
"Kamu gak mau tinggal di Jakarta aja?" tanya Bagus.
Jakarta? Kota yang menurut Laila terlalu banyak kenangan indah dan menyakitkan. Ah, rasanya Laila sudah terlanjur betah dan ingin tinggal di Surabaya. Apalagi ada toko kue yang sedang disiapkan oleh Bagus di sana. Tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja.
"Nanti kalau sudah menikah, kamu mau tetap tinggal di Surabaya?" tanya Bagus.
"Nikah? Kapan?" tanya Laila.
"Nanti kita atur lagi tanggalnya. Aku mau nanti pesta pernikahan kita kalau udah beres toko di Surabaya. Jadi sekalian ngenalin toko kue kita," jawab Bagus.
Laila tersenyum senang. Benar! Laila juga setuju. Pesta pernikahan akan menghabiskan uang banyak, jadi Laila berpikir harus ada income. Caranya ya sambil promo toko kuenya. Ah, jiwa bisnis Laila meronta-ronta seketika.
"Jadi gimana kamu mau di Surabaya aja?" tanya Bagus.
__ADS_1
"Iya dong Pak. Toko kue siapa yang pegang kalau saya di Jakarta. Itu kan bukan hanya sekedar bisnis. Mimpi saya itu Pak," ucap Laila.
Ya, Bagus mengerti. Hanya saja ia masih dilema karena belum bisa meninggalkan pekerjaannya di Jakarta. Mungkin ia harus siap dengan LDR setelah menikah. Tapi Bagus janji itu hanya sementara. Ia akan segera tinggal di Surabaya. Mengikuti Laila dan mengelola bisnis kuenya.