Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Pondasi Hubungan


__ADS_3

Abimanyu menatap Alby dengan tajam sembari bersilang dada. Keduanya sedang berada di ruang keluarga menunggu Devi dan juga Ishwari yang sedang berada di dalam kamar mandi untuk memastikan kebenaran dari informasi yang didengar oleh Abimanyu.


Abimanyu menunggu dengan gugup sedangkan Alby hanya diam saja sembari sesekali tertawa kecil begitu mengingat perkataan spontan Devi untuk lepas darinya. Padahal niat Alby mencium Devi pada saat Abimanyu menguping pembicaraannya hanyalah untuk memberitahu ayahnya jika ia tidak akan melepaskan Devi begitu saja dan akan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan Devi di sisinya. Tapi siapa sangka Devi malah berpikir Alby benar-benar mengajaknya untuk membuat bayi sehingga kalimat spontan itu keluar begitu saja dari mulut Devi.


"Kenapa tertawa? Lucu?" sinis Abimanyu sembari menatap Alby tidak suka begitu Abimanyu memergoki Alby yang tengah tertawa kecil.


"Tidak lucu yah," jawab Alby cepat dan langsung merubah ekspresinya menjadi serius.


"Hidupmu hanya bergantung pada hasil testpack Devi. Jika hasilnya positif maka persiapkan lehermu, ayah akan menebas kepalamu," ancam Abimanyu yang membuat Alby bergidik ngeri.


"Tega sekali," lirih Alby.


"Kenapa tidak tega? Memangnya kalau anak berbuat salah harus dibela dan dimaklumi?! Alby ayah peringatkan ya, Devi sudah seperti putriku sendiri jadi jika sampai terjadi sesuatu pada Devi seperti ini misalnya, ayah adalah orang pertama yang akan menghajarmu," ujar Abimanyu penuh penekanan.


"Jangan hajar om Alby om huaaa," raung Devi yang baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk Alby. "Jika om Abi menghajar om Alby, anakku akan kehilangan ayahnya bahkan sebelum ia mampu melihat keindahan dunia yang kejam ini," lanjut Devi dramatis.


"Jadi hasilnya positif?" tanya Abimanyu terkejut.


"Iya om," lirih Devi sembari terus memeluk Alby.


Abimanyu menoleh ke arah istrinya untuk meminta kebenaran dari apa yang disampaikan Devi padanya. Begitu Ishwari menganggukkan kepalanya tanda bahwa apa yang dikatakan Devi memang benar, amarah langsung mencapai ubun-ubunnya.


Abimanyu segera menarik kerah baju Alby agar Alby berdiri. Devi berusaha menghentikan Abimanyu namun ia kalah tenaga. Sedetik kemudian Abimanyu langsung memukul Alby hingga Alby jatuh terpental dengan sudut bibirnya terluka.


"Om hentikan!! Jangan sakiti om Alby!!" histeris Devi sembari memeluk tubuh Alby.


"Kau-" Abimanyu tidak mampu melanjutkan lagi perkataannya, ia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali perkataannya. "Ayah tidak tahu kalimat apa yang pantas menggambarkan emosi ayah padamu By. Kau sudah merusak putri ayah. Aku tidak pernah sekalipun mengajarimu menjadi seorang bajingan! Ayah tahu kau mencintainya tapi tidak dengan cara seperti ini By!!"


Bugh!


Abimanyu kembali melayangkan tinjunya ke arah Alby yang malah membuat Devi semakin histeris.


"Kau tahu masa depan Devi masih panjang kan? Kau tidak dengar dia ingin melanjutkan sekolahnya ke UI? Devi punya cita-cita, lalu bagaimana caranya dia bisa mewujudkan cita-citanya jika ia mengandung anakmu?!!"


Bugh!


"Hentikan om kumohon hentikan!! Ini hanya bohongan, aku tidak hamil. Aku menyerah, aku mengaku berbohong. Kumohon jangan pukul om Alby lagi," tangis Devi menghentikan Abimanyu yang hendak memukul Alby lagi.


"Dev," protes Alby begitu Devi mengakui kebohongannya. "Aku sudah bersusah payah membuat ibu mau bekerja sama dengan kita tapi kau malah mengacaukan semuanya."


"Aku tidak perduli yang penting om Alby baik-baik saja. Aku tidak mau om Alby terluka. Aku tidak mau melihat om Alby dipukuli lagi," tangis Devi tersedu-sedu sembari memeluk Alby.


Abimanyu menoleh ke arah Ishwari yang langsung menampilkan senyum menyesalnya. Abimanyu tidak percaya jika putra dan istrinya bekerja sama untuk membohonginya. Benar-benar luar biasa. Pantas saja ia merasa heran kenapa istrinya diam saja saat ia memukul putranya.


"Om jangan pukul om Alby lagi. Aku minta maaf, ini semua salahku. Aku yang memberi ide om Alby, om Abi hukum aku saja," ujar Devi terisak.


"Heh kau ini bilang apa?!! Ayah jangan hukum Devi, hukum aku saja," ujar Alby.


"Cukup!!!! Kalian benar-benar mengecewakan! Menyusun rencana seperti ini hanya untuk menolak menjadi saudara. Apa kalian tidak memikirkan ayah? Alby apa kau tidak tahu betapa hancur hati ayah saat tahu kau telah merusak Devi? Devi apa kau juga tahu kalau om sangat sakit hati saat tahu kamu hamil? Om merasa bersalah dan gagal melindungimu dari putra om sendiri. Sebagai seorang ayahmu dan ayah Devi sekaligus aku menanggung sakit hati dua kali lipat karena hal ini. Pertama karena Alby putraku dan yang kedua Devi adalah putriku juga. Apa kalian dapat membayangkan betapa hancurnya hati ayah?" tanya Abimanyu berkaca-kaca.


Alby, Devi dan Ishwari menunduk dalam menyadari kesalahan mereka.


"Maafkan kami yah," ujar Alby menyesal.


"Sudahlah kalian tidur saja sudah malam. Dev besok kita batal memasukkanmu ke dalam kartu keluargaku," ujar Abimanyu seraya berjalan menuju kamarnya.


Devi maupun Alby yang mendengarnya pun merasa bahagia. Apa artinya Abimanyu telah merestui mereka? Namun perasaan bersalah pada Abimanyu masih mencekik diri mereka.


Plak!


"Awh!!" Alby mengaduh kesakitan begitu Ishwari memukul punggungnya.


"Lihat! Ayahmu jadi kecewa karena kalian! Besok kalian harus meminta maaf dan menebus kesalahan kalian," ujar Ishwari memperingati keduanya.


"Baik bu. Alby minta maaf."


"Devi juga minta maaf tante," cicit Devi.


"Tidak masalah, lagipula tante sebetulnya juga bahagia karena akhirnya kalian mendapatkan restu dari Abi. Berjanjilah bahwa kalian akan hidup bahagia berdua dan akan terus bersama sehingga ibu tidak akan menyesali pilihan ibu membantu kalian," ujar Ishwari.


"Kami berjanji," jawab Devi dan Alby bersamaan.


"Ya sudah cepat istirahat dan obati lukamu. Ibu harus meminta maaf dan menghibur ayahmu, aku yakin ayahmu pasti sedang menangis sekarang."


"Baiklah, aku pasrahkan ayah pada ibu. Besok aku akan kembali minta maaf pada ayah sampai ayah benar-benar memaafkan kami," jawab Alby.


*****


"Awhh!!" aduh Alby meringis kesakitan begitu lukanya diobati oleh Devi.


"Sakit ya om?" cicit Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Sedikit," jawab Alby.

__ADS_1


Tes!


Melihat Devi menangis, Alby sontak langsung memeluk Devi untuk menenangkannya.


"Kenapa menangis?" tanya Alby lembut.


"Kenapa om Alby tidak menggunakan rencana A lebih dulu? Kenapa langsung ke rencana B?" tangis Devi.


"Rencana A kan sudah dilakukan," alibi Alby.


"Dilakukan apanya? Kita hanya bertengkar sebentar sebelum akhirnya om Alby langsung menciumku. Itu semua salah om Alby ah tidak! Itu semua salahku, harusnya aku tidak mengatakan ada bayi di perutku di depan om Abi. Harusnya aku tidak memberi ide itu pada om Alby," sesal Devi.


"Gara-gara aku om Alby terluka lagi dan gara-gara aku juga om Abi jadi marah. Aku minta maaf, aku menyesal," lanjut Devi.


Alby mempererat pelukannya dan mencium puncak kepala Devi untuk menenangkannya.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Harusnya kita senang, kita sudah dapat restu dari ayah," hibur Alby.


Devi melepaskan pelukannya dan menatap Alby dengan mata sembabnya.


"Besok aku harus menemui om Abi untuk meminta maaf secara langsung," ucap Devi.


Alby tersenyum dan membelai rambut Devi dengan lembut. "Iya."


Devi pun kembali melanjutkan kegiatannya mengobati luka Alby.


"Sakit tidak om?"


"Sedikit sakit tapi tidak apa-apa. Pukulan ayah tidak terlalu kuat, mungkin karena ia sangat menyayangiku," ujar Alby sembari terkekeh pelan.


"Dasar di saat seperti ini masih bisa bercanda," cibir Devi.


Alby hanya membalas cibiran Devi dengan tawa kecilnya.


"Om."


"Hm?"


"Kalau ada kak Sean om Alby pasti sudah masuk rumah sakit."


"Kau benar, mungkin aku sudah terbaring di ruang ICU ah tidak! Mungkin Sean malah akan mengirimku ke kamar mayat," jawab Alby menimpali.


Hening...


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya membayangkan saja om Alby babak belur dihajar oleh kak Sean karena menghamiliku. Om Alby pasti jadi jelek sekali haha," canda Devi menutupi kesedihannya.


"Jahat sekali."


Devi tertawa kecil sebelum pada akhirnya ia mencium pipi Alby sekilas yang membuat Alby sedikit terkejut.


"Aku menyukai om Alby," ujar Devi seraya tersenyum manis.


"Aku mencintaimu," balas Alby hendak mencium Devi namun Devi langsung mencegah niat Alby.


"Lukanya belum selesai diobati," ujar Devi menolak ciuman Alby.


Alby pun mengerucutkan bibirnya kesal sembari pasrah begitu saja membiarkan Devi kembali mengobati lukanya.


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sekuat apapun rintangannya," ujar Alby menatap Devi tepat di manik matanya.


"Aku janji. Aku tidak akan meninggalkan om Alby," jawab Devi mantap.


*****


Pagi-pagi sekali Devi sudah bangun dari tidurnya. Ia sengaja bangun lebih awal untuk bertemu dengan Abimanyu sebelum Abimanyu sudah berangkat bekerja.


Devi sudah mencari keberadaan Abimanyu di setiap sudut rumah, namun Devi masih belum menemukan di mana keberadaan Abimanyu.


Begitu Devi melewati paviliun, mata Devi tidak sengaja menangkap keberadaan Asep. Ia pun segera memanggil Asep dan memintanya untuk berhenti di tempatnya.


"Sep!"


"Non Devi, ada apa non?"


"Apa kau melihat keberadaan om Abi?"


"Tuan Abi tidak di rumah?" tanya Asep yang dibalas gelengan kepala oleh Devi.


Melihat raut wajah masam Devi membuat Asep berpikir pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka dan sepertinya itu cukup parah.


"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Asep perhatian.

__ADS_1


Devi menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Asep.


"Kalau begitu tuan Abi pasti sekarang sedang memancing di sungai tempat kesukaan non Devi," jawab Asep.


"Eh?"


"Itu juga tempat kesukaan tuan Abi kalau tuan Abi sedang ada masalah. Coba non Devi cari di sana," ujar Asep.


Tanpa menunggu waktu lagi, Devi segera berlari ke tempat Abimanyu berada.


"Non hati-hati jangan lari!!" teriak Asep yang sama sekali tidak digubris oleh Devi.


Setelah berlari sekuat tenaga, akhirnya Devi pun tiba di sungai tempat kesukaannya. Di sana ia melihat Abimanyu yang tengah memancing ikan.


"Dev, kenapa berlari seperti itu?" tanya Abimanyu bingung begitu Devi menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan. "Ada apa?"


"Aku hosh mencari om Abi," jawab Devi dengan nafas tersengal.


Abimanyu segera bangkit dari duduknya dan segera memberi air minum pada Devi.


Setelah dirasa Devi sudah dapat mengatur nafasnya kembali, Abimanyu pun mempersilahkan Devi untuk duduk di kursinya sedangkan ia memilih untuk duduk di batu besar yang berada di pinggiran sungai.


"Om Abi duduk di kursi saja biar aku yang duduk di situ," tolak Devi sembari duduk lebih dulu di atas batu besar.


Abimanyu tersenyum sekilas sebelum akhirnya ia kembali duduk di kursi kecilnya semula.


"Sudah dapat ikan om?" tanya Devi berbasa-basi.


"Sudah," jawab Abimanyu sembari menunjuk periuk berisi beberapa ikan sungai.


"Wah banyak sekali. Om Abi memang hebat," puji Devi menatap kagum ke arah ikan tersebut.


"Ada apa mencariku?" tanya Abimanyu.


"Eh?"


"Kamu berlari dari rumah ke mari pasti karena ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku kan?"


Devi mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Tapi om, apa tidak apa-apa jika aku mengatakannya sekarang?"


Abimanyu menoleh ke arah Devi dengan sedikit bingung.


"Aku takut ikannya pergi tidak mau memakan umpan om Abi begitu mendengar suaraku. Kak Sean pernah bilang padaku jika kita tidak boleh bersuara saat memancing atau kalau tidak ikannya akan lari," lanjut Devi polos yang membuat Abimanyu tertawa kecil.


"Tidak apa-apa katakan saja. Lagipula aku sudah dapat banyak ikan," ujar Abimanyu terkekeh pelan.


Devi menganggukkan kepalanya. Devi menatap ke arah sungai sembari meremas tangannya gugup.


"Om."


"Hm?"


"Maaf," lirih Devi. "Aku minta maaf atas kejadian kemarin malam. Aku benar-benar menyesal telah berbohong dan merencanakan hal memalukan seperti itu, tapi sungguh om itu semua murni ideku. Om Alby dan tante Ishy hanya membantu saja."


Abimanyu diam dengan waktu yang cukup lama membuat Devi semakin was-was.


"Dev," panggil Abimanyu.


"Iya om."


"Kau betulan mencintai Alby?"


Devi menolehkan kepalanya menatap Abimanyu.


"Aku bukannya tidak merestui hubungan kalian, hanya saja perbedaan usia, karakter dan sifat kalian memiliki perbedaan yang sangat jauh membuatku sedikit ragu untuk merestui hubungan kalian. Itulah alasan kenapa aku menguji kalian dengan memintamu menjadi putriku. Aku akui caraku cukup salah dan rencanamu juga tidak dapat dibenarkan. Tapi satu hal yang kusadari, itu semua bukan salah kalian tapi salahku. Andai jika aku tidak memiliki ide bodoh untuk menguji kalian, mungkin kalian tidak akan merencakan hal itu padaku."


Devi mendengarkan dengan seksama setiap perkataan yang keluar dari mulut Abimanyu.


"Dan aku juga menyadari satu hal lain."


"Apa itu om?"


"Melihatmu berusaha menghentikanku memukul Alby dan berusaha melindunginya pun sebetulnya sudah cukup sebagai bukti bahwa kau mencintai Alby. Begitu juga sebaliknya, Alby yang rela terluka demi dirimu juga sudah cukup sebagai bukti cinta kalian berdua. Namun ada hal yang lebih penting dari itu semua."


Abimanyu menoleh ke arah Devi dan menatap Devi dengan serius.


"Kepercayaan dan kesetiaan. Dua hal itu adalah pondasi yang kuat untuk sebuah pasangan. Asal punya pondasi yang kuat, aku yakin semua perbedaan itu tidak akan menjadi masalah."


"Jadi apakah kamu bisa menjaga dua pondasi itu untuk Alby?"


*****

__ADS_1


__ADS_2