
Sudah lebih dari setengah jam Devi menunggu kedatangan temannya Alby yang bernama Ryan namun rupanya Ryan sama sekali belum kelihatan batang hidungnya.
Keadaan sekolah sudah mulai sepi dan Devi juga telah meminta Gara dan Arin agar tidak menemaninya menunggu kedatangan Ryan karena Arin dan Gara harus belajar untuk ujian try out besok.
Devi yang lelah pun menyenderkan kepalanya di sebuah pot bunga yang berukuran lumayan besar yang terletak tidak jauh dari tempatnya. Tanpa terasa mata Devi mulai terpejam karena sapuan angin sore yang menenangkan membuatnya sedikit mengantuk.
Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah kertas yang jatuh mengenai kepalanya. Ah tidak! Bukan jatuh tapi seperti dilemparkan. Devi pun membuka matanya dan mendapati uang seratus ribu yang telah diremas-remas sehingga berbentuk seperti bola berada di bawah kakinya.
Devi pun mendongakkan wajahnya dan melihat Jessica dan beberapa temannya tengah berdiri di hadapannya dengan senyum menyebalkannya.
Devi pun memilih tidak perduli dan kembali menyenderkan kepalanya ke pot besar itu lagi. Toh mau melawan ia juga tidak bisa karena kalah jumlah, selain itu kondisi kakinya juga belum begitu sembuh. Lalu apa itu uang seratus ribu? Apa ia semurah itu? Sean saja yang menjualnya kepada Alby dengan seratus juta ia anggap murah apalagi ini hanya uang seratus ribu? Ayolah jangan bercanda, Devi tidak semurah itu!
"Dimana kedua pengawal pribadimu?" tanya Jessica sembari tertawa mengejek.
"Pengawal seperti teman-temanmu itu?" tanya Devi sembari menunjuk teman-teman Jessica yang tengah berdiri di belakang Jessica. "Aku tidak punya. Yang kupunya hanyalah sahabat. Kedua sahabatku tidak pernah berjalan di belakangku, kami selalu berjalan beriringan," lanjut Devi seraya tersenyum penuh kemenangan begitu melihat raut wajah Jessica yang merah padam menahan amarah.
"Kau benar-benar menyebalkan," desis Jessica. "Clara cepat bawakan aku sebuah tali," perintah Jessica pada Clara. Clara pun segera menyerahkan tali yang sudah dipersiapkannya kepada Jessica.
Devi yang sadar dengan apa yang dilakukan Jessica padanya pun langsung bangkit berdiri dan mencoba pergi namun teman-teman Jessica berhasil menangkapnya.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Jessica dengan tersenyum.
"Sepertinya lebih seru Devi deh Jess daripada si gelandangan Rea," celetuk Clara yang membuat Devi ingin menendang tulang keringnya.
"Lepaskan!" desis Devi tajam namun mereka sama sekali enggan melepaskannya. Oh ayolah apa sekarang ia menjadi target bullying dari Jessica dan kawan-kawannya? Ah sial! Tahu begitu ia tidak akan menolong Rea kemarin dan ngomong-ngomong soal Rea, dimana gadis itu berada? Apa ia tidak lihat karena dia Devi menjadi target bully Jessica sekarang. Ternyata apa yang dikatakan Alby benar-benar terjadi.
Pada saat tangan Devi hendak ditarik paksa oleh Jessica, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menepis tangan Jessica sebelum tangan Jessica menyentuh tangan Devi.
"Kak Raden!" ujar Devi senang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Raden sembari melepaskan tali yang melilit tubuh Devi.
"Aku baik-baik saja," jawab Devi sembari tersenyum.
Untuk seperkian detik Jessica melihat Raden dengan penuh rasa kagum. Baru kali ini ia melihat laki-laki setampan Raden dan aura laki-laki di hadapannya ini benar-benar mampu menghipnotisnya. Namun belum sampai habis rasa kagumnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan cengkeraman tangan laki-laki bernama Raden itu di dagunya.
"Apa ini tindakan yang pantas dilakukan seorang siswi SMA?" tanya Raden dengan tatapan tajam pada Jessica.
"Ak..ak-" Jessica kesulitan untuk berbicara karena Raden menekan lehernya. Teman-teman Jessica hanya melihat kejadian tersebut dengan bergidik ngeri tanpa berani membantu Jessica.
"Pulanglah! Jika aku melihatmu merundung temanmu lagi, aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini," ancam Raden sembari melepaskan cengkeramannya.
Jessica dan teman-temannya pun segera menunduk dan meminta maaf sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Raden dan juga Devi.
"Whoaaa kak Raden sangat keren!" ujar Devi sembari bertepuk tangan.
"Kenapa kau diam saja saat dirundung mereka?" tanya Raden.
"Kakiku sedang sakit. Kalau kakiku tidak sakit pasti kak Raden melihat adegan aku berkelahi dengan Jessica bukan adegan aku dirundung oleh Jessica," ujar Devi sembari menunjukkan kakinya yang masih sakit.
Raden pun tersenyum sembari mengacak rambut Devi pelan.
"Banyak alasan."
"Ngomong-ngomong kenapa kak Raden ada disini?" tanya Devi bingung.
"Oh dokter Alby memintaku untuk menjemputmu," jawab Raden.
Devi yang mendengarnya pun sontak langsung tersenyum dan merasa senang sekali. Nanti ia akan beri hadiah ciuman saja ke Alby sebagai rasa terima kasihnya. Tidak disangka ternyata Alby begitu baik padanya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Hah?"
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Raden.
"Tidak. Ayo kita pulang," ajak Devi sembari menarik tangan Raden namun Raden tetap bergeming di tempatnya.
"Ada apa kak?" tanya Devi bingung.
"Kakimu kan sakit," ujar Raden. Raden pun berjongkok di depan Devi dan meminta Devi agar menaikinya. "Naiklah, aku akan menggendongmu sampai mobil," ujar Raden.
Dengan hati yang semakin membuncah bahagia, Devi pun segera menaiki Raden dengan tangan yang ia kalungkan di leher Raden dengan erat. Padahal kakinya sudah tidak begitu sakit, namun jika Raden ingin menggendongnya karena berpikir kakinya masih sakit Devi juga tidak masalah. Devi malah senang jika Raden menggendongnya. Kapan lagi bisa digendong kak Raden kalau bukan sekarang?
"Aku akan langsung mengantarmu pulang. Kata dokter Alby hari ini kau harus belajar dan dokter Alby sudah menyiapkan seorang tutor untukmu," ujar Raden pada Devi yang sibuk memainkan rambut belakang Raden.
"Tutor?"
"Iya."
"Om Alby memang sudah memberitahuku sih, tapi tiba-tiba saja aku tidak ingin seorang tutor. Tidak bisakah kak Raden saja yang mengajariku?" rengek Devi yang membuat Raden tertawa kecil.
"Tentu saja tidak bisa. Aku kan masih dokter koas, lagipula aku tidak memiliki waktu luang. Lain kali saja ya?"
"Tapi kenapa kak Raden bisa menjemputku sekarang?"
"Kalau itu coba kau tanya sendiri pada dokter Alby," jawab Raden sembari tersenyum.
*****
Sesampainya di rumah, Devi segera membersihkan diri dan memakai pakaian santainya. Sembari menunggu tutor yang dimaksudkan Alby datang, ia pun memilih untuk rebahan di sofa ruang tengah sembari menonton drama Korea kesayangannya.
Devi melirik kearah jam dinding yang menggantung di dinding sebelah televisi. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam namun Alby belum juga pulang.
Devi pun merogoh ponselnya dan mengirimi pesan kepada Alby untuk menanyakan kapan ia pulang namun setelah menunggu beberapa menit kemudian Alby tidak kunjung membalas pesan Devi.
Dengan malas, Devi pun beranjak dari sofa dan berjalan untuk membukakan pintu. Bukannya Devi malas untuk belajar, hanya saja Devi tidak ingin belajar bersama tutor barunya. Menurutnya ia lebih nyaman belajar sendirian atau paling tidak ada Alby yang mengajarinya.
Begitu membuka pintu, Devi terkejut begitu melihat Laudya yang tengah tersenyum manis kearahnya.
"Tante?"
"Hai, selamat malam," sapa Laudya ramah.
"Tante kenapa ada disini? Mau cari om Alby? Om Alby belum pulang," ujar Devi.
"Aku tidak mencari Alby. Aku disini untuk mengajarimu belajar," jawab Laudya.
"Lho kok bisa?!" tanya Devi terkejut.
"Bolehkah aku masuk ke dalam? Kakiku terasa pegal." Belum sampai Devi mengijinkan Laudya, Laudya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam.
"Tante bercanda?" tanya Devi sembari berjalan di belakang Laudya yang sibuk mengamati seisi ruangan apartemen Alby.
"Tidak," jawab Laudya.
Devi menatap tidak suka kearah Laudya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Aku tidak mau belajar bersamamu tante," tolak Devi terus terang.
"Memangnya kenapa? Aku ini dulu tutor profesional lho," ujar Laudya.
Devi teringat janjinya pada Renata jika dia harus menjauhkan Laudya dari Alby. Jika Laudya menjadi tutornya, otomatis Laudya menjadi sering berkunjung ke apartemen Alby dan bisa saja lama-lama Alby mulai membuka hatinya untuk Laudya. Tidak! Devi tidak akan membiarkan hal itu terjadi!
__ADS_1
"Aku tidak perduli tapi yang pasti aku tidak mau belajar bersamamu tante!" tolak Devi lagi.
Tampak raut wajah Laudya yang tampak tidak suka dengan perkataan Devi, namun Laudya mencoba menahan amarahnya.
"Duduk dulu dan beritahu aku alasannya apa dengan baik-baik," bujuk Laudya sembari tersenyum.
"Tante pasti sengaja membujuk om Alby untuk menjadi tutorku agar tante bisa datang kemari sesuka hati kan? Tante pasti memiliki niat untuk mendapatkan hati om Alby, iya kan? Aku tidak akan membiarkan hal itu! Aku tidak mau om Alby bersamamu tante!!"
"Kau ini bicara apa," ujar Alby yang baru saja tiba sembari meraup wajah Devi pelan.
"Om kau sudah pulang? Om aku tidak mau belajar bersama tante Laudya," rengek Devi.
"Memangnya kenapa?" tanya Alby.
"Om, tante Laudya pasti memaksamu untuk menjadi tutorku agar tante Laudya bisa mendekatimu kan om?"
"Berhenti berhalusinasi. Aku sendiri yang meminta Laudya untuk mengajarimu. Sudahlah, aku lelah. Kau jangan nakal dan cepat belajar. Lihat, Laudya sudah terlalu lama menunggumu," perintah Alby pada Devi.
"Tapi om-"
"Jangan mengujiku. Aku sedang tidak ingin marah-marah padamu. Sekarang cepat ambil buku pelajaranmu dan jangan mempersulit Laudya. Jika kau tidak melakukan seperti perkataanku maka jangan harap kau bisa bertemu dengan Raden lagi," ancam Alby yang membuat Devi tidak bisa berkutik.
"Ck kau menyebalkan om. Padahal tadi aku ingin menciummu karena sudah meminta kak Raden menjemputku," ujar Devi yang membuat Alby dan Laudya membulatkan matanya terkejut.
"Ap..apa?"
"Tapi tidak jadi!! Om Alby menyebalkan, aku tidak mau menciummu!!!!" marah Devi sembari berlalu menuju kamarnya untuk mengambil buku pelajarannya.
"Adikmu pasti sangat menyayangimu ya?" tanya Laudya begitu mendengar perkataan Devi.
"Ah ehm iya," jawab Alby kikuk karena jujur saja ia masih cukup terkejut dengan perkataan Devi. Bagaimana bisa ia mengatakan ingin menciumnya dengan nada setenang itu?
"Kau ingin sesuatu?" tanya Alby.
"Air putih saja," jawab Laudya sembari tersenyum.
"Akan kubawakan untukmu. Kau tunggu Devi sebentar ya dan jika dia menyulitkanmu bilang saja padaku," ujar Alby.
"Iya."
Alby pun segera ke dapur untuk mengambil air putih dan beberapa buah untuk ia sajikan kepada Laudya.
"Om bukuku hilang!!!" teriak Devi dari dalam kamarnya.
Alby pun menghela nafasnya pelan sembari melangkahkan kakinya ke kamar Devi.
"Jangan banyak alasan," tegur Alby malas.
"Bukuku memang hilang," ujar Devi meyakinkan Alby.
"Akan kucari, jika sampai ketemu aku benar-benar akan melarangmu bertemu dengan Raden," ancam Alby yang membuat Devi bergidik ngeri.
"Tidak om! Bukuku tidak hilang, aku hanya bercanda hehe," ujar Devi sembari mengambil buku pelajarannya yang ia sembunyikan di dalam lemari pakaiannya. "Aku akan pergi belajar bersama tante Laudya sekarang. Om Alby jangan melarangku bertemu dengan kak Raden ya?" lanjut Devi sembari berlari keluar.
Alby menghela nafasnya pelan dan kemudian ia berjalan menuju kamarnya, ia lelah sekali karena hari ini ia menjalani serangkaian operasi besar yang menguras tenaga dan pikirannya. Alby hanya butuh istirahat dan semoga Devi tidak kembali mengganggunya.
"Om pulpenku hilang!!!!" teriak Devi yang masih dapat didengar Alby.
"Eh tidak jadi om!!!" teriak Devi lagi.
"Sean kenapa adikmu sangat menyebalkan," desis Alby tertahan.
__ADS_1
*****