
"Lepaskan aku!!" perintah Rea.
Gara pun menghentikan langkahnya dan melepaskan cekalannya pada Rea, begitupun juga Devi dan Arin yang juga ikut menghentikan langkahnya.
Devi menatap malas ke arah Rea.
"Kenapa? Mau mengataiku lagi?" tanya Devi.
"Dev!" tegur Gara.
Rea tidak mengatakan hal apapun, ia hanya menundukkan kepalanya dan bergeming.
"Jangan ikut campur urusanku lagi," ujar Rea sebelum pada akhirnya ia berlari meninggalkan Devi, Arin dan juga Gara. Berbeda dengan Devi dan Arin, Gara menatap kepergian Rea dengan penuh arti. Gara menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Rea dan Gara percaya apa yang diucapkan Rea adalah sesuatu yang bertentangan dengan isi hati gadis itu sendiri.
"Wah dia benar-benar membuatku marah," ujar Devi sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Lain kali jangan bertindak gegabah dulu, kita selidiki dulu apa masalahnya. Jika sudah begini aku yakin target selanjutnya Jessica bukan lagi Rea, tapi kau sendiri Dev," tegur Gara.
"Kau memarahiku?" tanya Devi tersinggung.
"Aku tidak memarahimu, aku hanya menasehatimu," koreksi Gara.
"Bagaimana mungkin aku hanya diam saja begitu melihat ada kejahatan di depan mataku? Jika kau jadi Rea kau pasti juga memerlukan pertolongan orang lain kan?" balas Devi.
"Tapi Rea tidak membutuhkan bantuanmu," ujar Arin mengingatkan.
"Ah kau benar, hampir saja aku lupa. Si Rea menyebalkan itu memang tidak tahu terima kasih! Pokoknya aku tidak akan mau berteman dan membantunya lagi!!" kesal Devi sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Sudahlah, lebih baik kita segera pergi ke kafe. Waktu belajar kita sudah tersita banyak karena hal tadi, sekarang waktunya kita belajar," ajak Gara.
"Kau belajar sendiri saja. Aku mau pulang," ujar Devi sembari tangannya melambai kearah taksi yang kebetulan lewat di depannya.
"Kau tidak belajar?" tanya Gara.
"Tidak! Kau belajar berdua saja dengan Arin. Suasana hatiku sedang tidak baik," teriak Devi sembari memasuki taksi tersebut.
"Gara sepertinya aku juga tidak ingin pergi belajar," ujar Arin begitu melihat Devi sudah pergi.
"Aku tidak menerima penolakan. Ayo cepat pergi sebelum kafenya tutup," ajak Gara sembari menarik tangan Arin agar mengikuti langkahnya.
"Garaaaa aku tidak mau...." rengek Arin yang sama sekali tidak digubris oleh Gara.
*****
"Halo, ini Alby."
"Oh dokter Alby ya?"
"Aku mau tanya apakah hasil pemeriksaan biopsi patologi pasien kamar tiga sudah keluar?" tanya Alby dari sambungan teleponnya.
"Mohon ditunggu ya dok, saya periksa dulu."
__ADS_1
Alby menjentik-jentikkan jarinya sembari menunggu hasil dari pemeriksaan biopsi patologi dari pasien kamar tiga. Sebenarnya itu bukan tugas Alby karena itu adalah tugas Renata yang seorang dokter onkologi. Karena resign Renata yang mendadak, direktur meminta Alby membantu menangani kondisi pasien tersebut untuk sementara waktu. Meskipun sudah ada dokter spesialis onkologi yang menggantikan Renata namun direktur masih belum bisa membiarkan dokter baru tersebut mengatasinya sendirian. Bagus! Kini tugas Alby semakin bertambah saja.
Ceklek!
Alby menatap kedatangan Devi dengan sedikit bingung. Bukankah gadis itu bilang sepulang sekolah ia ingin langsung pulang ke rumah untuk belajar? Lalu kenapa sekarang ia berada di ruang kerjanya?
"Halo dok, apakah anda masih mendengar saya?"
"Hm katakan," jawab Alby tanpa mengalihkan perhatiannya dari Devi yang kini sedang memberenggut kesal sembari melemparkan tasnya di sofa kecil yang berada di ruangan Alby.
Devi menatap Alby yang sedang serius mendengarkan penjelasan dari telepon dan Devi memutuskan untuk menunggunya dan tidak ingin mengganggu pekerjaan Alby.
"Terimakasih informasinya," ujar Alby sembari menutup teleponnya.
Tok! Tok!
Belum sampai Alby hendak menegur Devi, dokter Ayu masuk ke dalam ruangan Alby.
"Dokter Alby anda sudah tahu kondisi pasien kamar tiga?" tanya Ayu begitu memasuki ruangan Alby.
"Dev keluarlah. Aku akan menemuimu nanti," ujar Alby.
Devi pun menatap Alby sembari mengerucutkan bibirnya kesal, lalu ia membungkukkan badannya sedikit untuk menyapa Ayu. Rupanya Devi masih memiliki sopan santun meskipun ia dalam keadaan marah sekalipun.
"Saya akan memanggil keluarga pasien kemari," ujar Ayu sembari memanggil keluarga pasien.
Setelah keluarga pasien masuk, Alby masih dapat melihat siluet Devi yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.
"Pertama-tama saya ingin menjelaskan rumah sakit kami menerapkan sistem kerja sama konsultasi multidisiplin. Singkatnya dokter dari departemen bedah, klinik dan lainnya akan bekerja sama membuat rencana medis untuk mengobati pasien," jelas Ayu.
"Baik dok. Lalu bagaimana dengan keadaan putra saya dok?"
"Perkenalkan ini dokter Alby yang akan menjadi dokter bedah utama putra kalian," ujar Ayu memperkenalkan Alby.
"Halo dok," sapa keluarga pasien yang dibalas senyuman dan anggukan sopan oleh Alby.
"Kita langsung ke intinya. Letak kanker pasien Keanu berada di samping lekukan kecil lambung. Menurut kondisi ini, kami sarankan untuk melakukan gastrektomi subtotal. Yaitu sebanyak tiga perempat dari perut diangkat, termasuk semua antrum. Lambung yang tersisa kemudian dapat disambungkan kembali secara langsung ke duodenum atau ke jejunum, bagian usus yang lebih distal di luar tempat ulserasi biasanya," jelas Alby.
"Maaf dok, kami tidak begitu paham apa yang dokter katakan tapi saya sangat mempercayai dokter. Saya pasrahkan semuanya pada dokter. Apapun tindakan yang ingin dokter lakukan saya pasti menyetujuinya jika itu untuk kesembuhan putra saya," ujar ayah pasien tersebut sembari berlinang air mata.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Untuk pemberitahuan lebih lanjut atau ada hal yang ingin kalian ketahui, kalian dapat bertanya pada dokter Ayu," jelas Alby.
"Terima kasih banyak dok."
Setelah keluarga pasien tersebut keluar dari ruangannya, Alby pun beranjak dari duduknya berniat menemui Devi. Alby ingin tahu sebenarnya ada apa dengannya, kenapa ia terlihat kesal.
"Dok," panggil Ayu yang membuat Alby menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ayu.
"Terima kasih atas bantuannya ya dok. Saya masih baru dan belum berpengalaman, saya harap dokter mau membimbing saya," ujar Ayu sembari tersenyum manis.
"Itu sudah menjadi tugasku, tapi jika itu berhubungan dengan onkologi kau dapat bertanya pada dokter onkologi lainnya yang jauh berpengalaman bukannya aku. Aku ini dokter digestif bukan onkologi. Jika itu berhubungan dengan bedah baru kau dapat berkonsultasi padaku," ujar Alby datar yang membuat Ayu langsung tersenyum kikuk dan malu.
__ADS_1
"I..iya dok."
"Maaf, bisakah kau keluar? Aku ingin keluar juga," ujar Alby yang membuat Ayu langsung buru-buru keluar dari ruangannya.
Bukannya Alby tidak ingin membantunya hanya saja Alby sudah tahu modus awal Ayu padanya. Dokter baru itu sepertinya tertarik padanya dan Alby paling benci jika perasaan pribadi dilibatkan dalam pekerjaannya.
Setelahnya, Alby bergegas mencari keberadaan Devi. Gadis itu pasti sedang berada di rooftop sekarang. Yah, dimana lagi selain disana, tidak mungkin ia pergi menemui Raden kan? Lagi pula ini bukan jam istirahat dokter koas, jadi sudah dapat dipastikan Raden tidak dapat menemui Devi.
Begitu tiba di rooftop, Alby dapat melihat Devi yang sedang menatap gedung-gedung di depannya dengan bibir yang masih mengerucut menahan kesal.
"Ada apa? Bukannya kau bilang ingin langsung pulang ke rumah untuk belajar?" tanya Alby sembari berdiri di samping Devi.
"Aku sedang marah om," jawab Devi.
"Kenapa?"
"Om ingat tidak gadis yang kita temui di bawah jembatan kemarin?" tanya Devi sembari menatap Alby.
Alby berdiam diri sebentar sembari mengingat-ingat gadis yang Devi maksud.
"Aku ingat. Kenapa?" tanya Alby.
"Dia menyebalkan om!" ujar Devi sembari menghentakkan kakinya kesal.
Alby yang melihat hal tersebut sontak langsung tertawa kecil.
"Jangan tertawa om, aku sedang marah sekarang," tegur Devi.
"Baiklah, coba ceritakan kenapa kau marah padanya," ujar Alby menyudahi tawanya dan menatap Devi dengan tatapan lembut.
"Dia namanya Rea, dia satu sekolah denganku. Aku tadi menolongnya saat dia dirundung dan dilempari tepung dan juga telur di kepalanya. Aku begitu berbaik hati membalaskan perbuatan Jessica padanya tapi dia malah memarahiku dan memintaku tidak ikut campur masalahnya! Dia membuatku malu di hadapan Jessica, dia benar-benar tidak tahu terima kasih! Sudah ditolong tapi malah mengata-ngataiku, benar-benar menyebalkan!" kesal Devi.
"Kau membalas Jessica dengan apa?" tanya Alby.
"Aku menyiramnya dengan tepung yang sebenarnya hendak Jessica siramkan ke kepala Rea. Tapi Rea malah memarahiku yasudah sisa tepungnya aku siramkan saja di kepalanya Rea sekalian," jawab Devi.
"Kau ikut menyiram Rea dengan tepung?" tanya Alby menatap tidak percaya kearah Devi.
"Siapa suruh dia memarahiku di depan Jessica. Aku kan jadi malu om," ucap Devi membela diri.
"Kalau begitu kau sama saja seperti Jessica," komentar Alby.
"Tidak! Aku tidak mau disamakan dengan Jessica. Jessica sangat jahat om, sedangkan aku tidak," protes Devi.
"Tidak jahat bagaimana? Kau kan juga ikut menyiram Rea dengan tepung."
"Iya, tapi itu karena dia memarahiku om. Sudahlah om diam saja, aku sekarang jadi ikut kesal denganmu," ujar Devi sembari membuang wajahnya dari Alby.
Alby tersenyum geli melihat tingkah Devi. Devi memang belum dewasa dan masih anak-anak jadi Alby tidak heran jika Devi lebih mementingkan egonya sendiri, namun Alby cukup mengapresiasi keberanian Devi menolong Rea yang sedang dirundung. Yah meskipun hal itu membuat Devi marah-marah sedari tadi.
"Kuberi tahu alasan kenapa Rea melakukan itu padamu," ujar Alby yang membuat Devi langsung menolehkan padangannya kearah Alby.
__ADS_1
*****