Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kemarahan Raden


__ADS_3

Kini Alby berkonsentrasi penuh dengan operasi yang ia lakukan untuk Devi. Operasi kali ini ia dibantu oleh beberapa dokter lain termasuk Fitra, Kevin dan juga dokter anestesi.


Sudah setengah jalan ia melakukan operasi tersebut namun sepertinya semua berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun.


"Ikat ini," perintah Alby pada Kevin yang merupakan residen tahun kedua. "Siput, perhatikan bagaimana dokter Kevin mengikat syaraf arteri limpa ini."


Fitra menganggukkan kepalanya dan memperhatikan bagaimana dokter Kevin mengikat syaraf tersebut dengan seksama.


"Syaraf limpanya putus mangkanya darahnya menyembur keluar." jelas Alby lagi.


"Dokter anestesi, berapa tekanan darah pasien?"


"98 dok, sebelumnya 60."


"Dokter anestesi anda tidak menggunakan kardiotonik¹ kan?" tanya Alby memastikan.


"Tidak dok."


"Bagus. Menggunakan kardiotonik pada pasien tamponade jantung yang sudah di puncture bisa membuat tamponade jantung itu kembali," jelas Alby sembari menatap Fitra sekilas.


Setelahnya Alby pun segera menyelesaikan operasi tersebut. Dalam hati Alby ia merasa lega sekali karena luka yang ditimbulkan tikaman dari Ganendra tidak begitu parah dan hanya membuat robekan, meskipun menyebabkan syaraf arteri limpa putus namun untung saja Alby bisa mengatasinya.


Alby memejamkan matanya sejenak sembari menghela nafasnya pelan. Alby bersyukur Devi masih bisa di selamatkan karena terlambat sedikit saja nyawanya sudah tidak dapat tertolong.



"Sudah selesai, kita tunggu pasien siuman baru kita pindahkan ke ruang ICU," ujar Alby.


"Baik dok."


Setelah menunggu beberapa saat, Devi pun mulai siuman. Fitra yang berada di dekat Devi pun segera memanggil Alby agar mendekat.


"Dok Devi sudah siuman!" pekik Fitra senang.


Alby pun bergegas berjalan mendekat ke arah Devi. Dilihatnya mata Devi yang sudah mulai terbuka dengan senyum bahagia yang tercetak di bibir Alby.


"Dev," panggil Alby pelan.


"Ini di rumah sakit. Perutmu terluka karena tertusuk Ganendra tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Operasinya berhasil dan kau selamat," ujar Alby lembut sembari mencium kening Devi. "Jika kau mengerti kedipkan matamu dua kali," lanjut Alby menatap wajah Devi.


Devi pun mengedipkan kedua matanya dua kali seperti yang diperintahkan oleh Alby. Alby melihat air mata yang mengalir begitu Devi mengedipkan kedua matanya pun menghapus air mata Devi sembari tersenyum.


"Kenapa menangis? Jangan takut, semuanya sudah baik-baik saja. Sekarang kau kami buat tidur dulu ya karena kau harus dipindahkan ke ICU. Tenang saja, aku akan tetap menemanimu," ujar Alby lembut.


Fitra yang menyaksikan hal itu pun merasakan kedua matanya mulai berair karena terharu melihat interaksi Devi dan juga Alby. Dari pada seorang kakak ke adik, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Selama ini Fitra memang belum tahu jika Devi bukan adik kandung Alby karena Raden maupun Arin belum memberitahunya.


"Ada apa denganmu?" tanya Alby begitu melihat Fitra menangis.


"Hei siput kau kerasukan setan apa?!! Kenapa memelukku?!! Lepaskan aku!! Kau ingin mati ya?!!!"

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Alby, Fitra malah memeluk Alby sembari menangis keras. Alby yang kebingungan pun mencoba melepaskan pelukan Fitra namun ia tidak berhasil, malah Fitra semakin mengeratkan pelukannya.


"Saya merasa sangat bersalah dan terharu dok. Saya terharu melihat hubungan adik-kakak kalian yang terlihat saling menyayangi dan Saya merasa bersalah karena ini semua salah saya. Kalau saja saya tidak membuat kesalahan yang membuat dokter Alby melakukan operasi untuk saya, pasti pasien yang tertembus batang penguat itu dapat selamat karena ada dokter Alby yang menanganinya. Dan saya minta maaf karena bercerita dan  memberi tahu alamat Ganendra pada Devi dok. Saya menyesal, karena saya Devi menjadi seperti ini. Saya minta maaf, seharusnya saya diam saja," ujar Fitra sesenggukan.


Perlahan tangan Alby terulur dan menepuk pelan pundak Fitra untuk menenangkannya.


"Tidak apa-apa. Kau belum pernah berhadapan dengan kasus eksternal seperti itu. Sebagai dokter koas tidak apa-apa kau melakukan kesalahan sekali namun jangan sampai kesalahan tersebut terulang dua kali. Jika kau mengulangi kesalahan yang sama lagi aku akan menebas kepalamu. Sudah jangan menangis lagi, seperti wanita saja," hibur Alby dengan disertai candaannya.


"Ayo cepat kita pindahkan Devi ke ruang ICU."


"Ba..baik dok." Fitra menatap tidak percaya ke arah Alby. Benarkah itu dokter Alby yang biasanya memarahi dan memakinya?


"Kau tunggu apalagi? Cepat pindahkan."


"Baik dok."


Setelahnya, Devi pun segera dipindahkan ke ruang ICU.


*****


Begitu Alby keluar dari ruang operasi, Raden yang saat itu sedang menunggu di depan ruang operasi pun segera menghampiri Alby.


"Dokter Alby!" pangil Raden yang membuat Alby menghentikan langkahnya.


Alby menoleh ke arah Raden. Dalam hati Alby ia ingin sekali mencekik dan menusuk perut Raden agar Raden ikut merasakan apa yang dirasakan Devi sekarang. Alby tahu kejadian ini ada pasti ikut campur tangan Raden dan hal itu yang membuat Alby langsung emosi begitu melihat wajah Raden. Namun Alby menahannya sekuat mungkin karena ia tidak boleh bersikap sembrono. Alby masih belum memiliki bukti keterlibatan Raden dan Alby akan mencari buktinya.


"Dok apa Devi baik-baik saja?" tanya Raden khawatir? Entahlah Alby juga tidak tahu Raden benar-benar khawatir atau hanya pura-pura saja.


Raden berdecak kesal begitu ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Alby. Dokter perseptornya itu malah menatap tidak suka ke arahnya dan hal itu yang membuatnya sedikit curiga dan berpikir jika Alby memang sudah tahu tujuan awalnya.


"Den!" tegur Fitra saat dirinya keluar dari ruang operasi dan melihat Raden yang tengah menatap jauh dokter Alby.


"Kenapa melihat dokter Alby seperti itu?"


"Kebetulan sekali ada kau di sini."


"Hah apa?" bingung Fitra.


"Apa yang terjadi pada Devi? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Raden.


"Kau tahu Ganendra kan?" tanya Fitra yang dijawab anggukan kepala oleh Raden. "Dia datang ke apartemen dokter Alby dan menyerang Devi. Devi mengalami luka di kepala dan luka tusuk di perutnya bahkan kau tahu, Devi sempat mengalami tamponade jantung dan syok hipovolemik. Untung saja ada dokter Alby jadi Devi masih bisa diselamatkan. Jika kau ikut tadi kau pasti akan syok begitu melihat keadaan awal Devi," jelas Fitra panjang lebar.


"Jadi Ganendra ya," gumam Raden pelan.


"Hah apa?"


"Tidak, bukan apa-apa. Sekarang Devi di mana?"


"Baru saja dipindahkan ke ruang ICU. Oh iya Den, kau pasti kaget dengar ceritaku. Tadi aku meminta maaf pada dokter Alby gara-gara aku Devi jadi seperti ini. Kupikir dokter Alby akan memarahi dan memakiku tapi ternyata tidak. Lho Den?!!" Fitra yang bercerita sembari membelakangi Raden pun mendengus kesal begitu ia berbalik menatap Raden, Raden sudah pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sialan si Raden aku belum selesai cerita juga!" kesal Fitra.


*****


Brak!!


"Kau sudah pulang?" tanya Bima santai sembari menghisap cerutunya.


"Apa paman yang meminta Ganendra untuk membunuh Devi?" tanya Raden langsung dengan amarah yang terpancar di kedua sorot matanya.


"Duduk dulu. Ibumu membuat teh melati kau harus mencicipinya."


Bima menuangkan teh melati ke sebuah cangkir dan menyodorkannya kepada Raden. Raden hanya diam bergeming. Tidak menjawab maupun tidak menerima cangkir berisi teh melati tersebut.


"Kau tidak mau?" tanya Bima heran. Bima pun meletakkan kembali teh tersebut di atas meja. "Padahal rasanya luar biasa nikmat."


"Ada apa? Apa Devi mati?" tanya Bima pada akhirnya.


"Dia selamat."


Bima mengusap dagunya sembari menganggukkan kepalanya mengerti.


"Jadi kau membuka pintu secara kasar seperti itu karena kau marah Ganendra tidak berhasil membunuh Devi?" Bima terkekeh pelan dan berdiri menghampiri Raden. "Ternyata Ganendra tidak bisa diandalkan. Kalau begitu kuandalkan kau saja," ujar Bima seraya tersenyum.


Raden menatap Bima dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Apa kita hidup hanya untuk balas dendam?" tanya Raden sembari menatap tajam ke arah Bima.


"Tidak," jawab Bima tersenyum. "Tentu saja tidak. Kau bisa menolak permintaanku dan ayahmu kalau mau. Lagi pula aku tahu orang sesuci bunga melati sepertimu memang tidak cocok berada di pusaran dendam kami. Tidak perlu dipikirkan, kau fokus saja bekerja dan mengejar cita-citamu menjadi seorang dokter. Untuk masalah Devi, kau tidak keberatan kan jika aku meminta orang lain untuk membunuhnya?"


Raden tampak tidak senang begitu ia mendengar kalimat terakhir dari pamannya bahkan ia sampai mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Apa harus dengan melibatkan orang lain dalam masalah ini?!! Kenapa paman melibatkan Ganendra?!! Jika Ganendra ditahan atas penyerangan dan percobaan pembunuhan Devi otomatis kasus kematian Rusli juga akan terbongkar! Paman masih ingatkan siapa dokter koas yang menangani Rusli?"


"Kenapa membahas Rusli?!! Itu jelas tidak ada sangkut pautnya denganmu! Itu salah Alby dan yang harus menanggung konsekuensinya adalah Alby. Bukankah kasus ini sangat menguntungkan kita?? Kita bisa melenyapkan dua-duanya sekaligus. Dan untuk Ganendra, Ganendra membunuh Devi atas kemauannya sendiri. Ia hanya berusaha melindungi dirinya sendiri kalau-kalau Devi membocorkan informasi mengenai kematian ayahnya," balas Bima yang mulai tersulut emosinya.


"Kau tidak lupa kan siapa yang telah menghancurkan keluargamu dan membuatmu menderita karena dirundung teman-temanmu? Keluarganya Devi. Dan keluarga kita menganut sistem babat tuntas. Jadi habisi semua keluarganya Devi sampai akar-akarnya. Sekarang sisa Devi dan itu tugasmu untuk membunuhnya."


"Aku tidak mau," desis Raden tajam.


"Baiklah, terserah padamu. Sedari awal kau memang ingin melihat kehancuran keluargamu sendiri. Jika itu keinginanmu maka kau berhasil. Keluarga kita memang sedang berada diambang kehancuran."


"Apa maksud paman?"


"Setelah kuberitahukan fakta ini untukmu. Aku yakin kau pasti tidak akan ragu lagi untuk membunuh Devi. Tapi kembali lagi di awal, kau boleh mengambil tanggung jawab ini atau melepaskannya namun yang pasti Devi harus mati entah itu kau sendiri yang membunuhnya atau aku menyewa orang lain."


*****


Next bakalan ada kilas balik dari Raden ya, dan kilas balik itu Loey ingin nyeritain awal dari permusuhan mereka

__ADS_1


See u


Tbc


__ADS_2