
Tok! Tok!
"Alby kau belum pulang?" tanya Ryan begitu memasuki ruangan Alby.
"Belum. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan," ujar Alby sembari memijit keningnya.
Ryan pun duduk di kursi yang berada di hadapan Alby dan menatap iba kearah Alby.
"Ini tentang Devi ya?" tanya Ryan yang diangguki oleh Alby.
"Kau tahu Devi sangat sulit sekali diatur dan dia sangat keras kepala. Lalu bagaimana bisa aku mengekangnya untuk menghindari pemicu itu muncul?" tanya Alby pada Ryan. "Ini lebih sulit daripada mengembalikan ingatan seseorang."
"Kenapa kau tidak menurut saja pada Raka?" tanya Ryan.
"Entahlah aku masih belum dapat mengambil keputusan. Mencegah ingatan itu muncul kembali seperti yang diinginkan Sean atau membiarkan ingatan itu kembali seperti perkataan Raka," ujar Alby sembari menengadahkan kepalanya keatas.
Alby masih ingat betul perkataan Raka padanya tadi pagi saat ia bertanya tentang amnesia disosiatif. Jika kalian berfikir Devi-lah yang mengalami amnesia, kalian benar. Devi-lah yang mengalami amnesia disosiatif.
~Flashback on~
Pagi harinya setelah mengantar Devi pergi ke sekolah, Alby segera menghubungi Sean lewat panggilan vidio karena Alby ingin melihat ekspresi Sean begitu ia bertanya tentang 'hal itu'. Ia ingin sekali memastikan sendiri apa yang ada di pikirannya ini salah atau tidak. Ketakutan Devi tidak seperti ketakutan setelah mimpi buruk pada umumnya, ketakutan yang dialami Devi lebih seperti ia melihat kejadian sesungguhnya di depan matanya secara langsung. Dan hal itu harus dipastikan sendiri oleh Alby.
"Halo." Terdengar suara Renata yang menjawab panggilan vidio Alby.
"Ta, Sean ada? Aku ingin berbicara penting dengannya," ujar Alby langsung.
"Tunggu sebentar, Sean masih di kamar mandi. Bagaimana kabarmu? Kau tidak selalu memarahi Devi kan?"
"Tenang saja. Aku ini orangnya tidak pernah emosian," jawab Alby yang langsung mendapat cibiran dari Renata.
"Oh Sean! Alby ingin berbicara denganmu," ujar Renata di seberang sana pada Sean.
"Halo By. Ada apa? Kau tidak sedang merindukanku kan?" canda Sean.
"Kau bisa bercanda denganku artinya kau baik-baik saja. Kalau begitu aku tidak perlu bertanya bagaimana keadaanmu," ujar Alby.
"Tentu saja aku baik-baik saja. Jadi hanya itu yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Ini tentang Devi."
"Apa yang terjadi dengan Devi? Apa dia baik-baik saja?!!" panik Sean.
"Devi baik-baik saja, dia sedang di sekolah sekarang. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Orang tuamu betulan meninggal karena kecelakaan?" tanya Alby yang membuat Sean langsung terkejut. Tak hanya Sean, Renata yang berada di samping Sean pun juga ikut terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Sean dengan nada tersinggung.
"Aku tahu ini rahasia keluargamu, namun sekarang Devi menjadi tanggung jawabku. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Devi agar aku bisa menjaganya dengan benar. Beberapa hari ini Devi mengalami mimpi buruk. Mimpi pertama ia bilang ia mengalami kecelakaan dan yang terakhir tadi malam dia bermimpi ayahnya meninggal tepat di depan matanya. Begitu Devi bangun dari mimpi buruknya dia benar-benar ketakutan. Ini bukan ketakutan orang pada umumnya setelah mereka mimpi buruk. Aku seorang dokter Sean, aku tahu hanya dengan melihat keadaan Devi. Pasti ada sesuatu yang terjadi kan?" tebak Alby.
Alby dapat melihat Sean menghela nafasnya pelan, itu artinya tebakan Alby benar. Pasti telah terjadi sesuatu pada Devi.
"Kau benar, Devi memang mengalami sesuatu yang besar dan kau juga benar kedua orang tuaku tidak meninggal karena kecelakaan," jawab Sean pada akhirnya dengan sendu.
Alby yang mendengar pengakuan Sean pun mulai mendengarkan cerita Sean dengan seksama.
"Orang tuaku dibunuh dan kau benar, Devi melihat ayahku dibunuh tepat di depan matanya. Beberapa hari kemudian ibuku juga dibunuh dan salahku saat itu aku mengajak Devi pergi ke lokasi kejadian. Devi sangat terguncang melihat kejadian itu dan dia menjadi pribadi yang pendiam dan bahkan aku sendiri pun tidak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya. Sampai suatu hari, aku dihubungi pihak rumah sakit dan memberitahuku jika Devi mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu pasti bagaimana kecelakaan itu terjadi tapi polisi menyatakan kecelakaan itu murni karena sopir yang mengendarai truk tersebut dalam keadaan mabuk. Kecelakaan itulah yang merenggut semua ingatan kelam masa lalu Devi."
__ADS_1
"Amnesia?" tebak Alby.
"Iya. Amnesia disosiatif. Hilang ingatan akibat trauma psikologis," jelas Sean.
Alby menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Sean. Bukankah lima tahun yang lalu umur Devi masih empat belas tahun? Bagaimana bisa remaja empat belas tahun mengalami ini semua?
"Kenapa kau tidak bilang padaku tentang hal ini? Harusnya kau beritahu aku dari awal!!!" marah Alby.
"Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau Devi kembali bermimpi seperti itu. Tapi aku mohon padamu, tolong jangan sampai ingatan Devi itu kembali. Sudah cukup dia menderita selama ini, aku tidak mau melihatnya jatuh terpuruk lagi," pinta Sean berlinang air mata.
Alby menghela nafasnya pelan.
"Lalu bagaimana dengan pelaku pembunuhan itu?" tanya Alby.
"Aku sudah membuatnya membusuk di penjara. Itulah alasan mengapa aku menjadi jaksa."
*****
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Alby segera pergi menemui salah satu temannya yang merupakan dokter spesialis neurologi bernama Raka untuk sedikit berkonsultasi mengenai kekhawatirannya. Jawaban Sean masih belum membuatnya lega, selain itu Alby ingin berkonsultasi langsung melalui ahlinya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Alby pun membuka pintu dan segera masuk ke dalam ruangan Raka. Begitu Alby masuk, Raka pun langsung mempersilahkan Alby untuk duduk.
"Ada apa? Ini bukan tentang putri pak direktur kan?" canda Raka sembari tersenyum.
Alby dan Raka sudah berteman sejak lama bahkan mereka menjadi dokter koas bersama-sama waktu itu.
"Berhenti menggodaku. Ini tidak ada hubungannya dengan Laudya," ujar Alby malas.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Raka menatap Alby serius.
"Amnesia? Memangnya siapa yang mengalaminya?" tanya Raka.
"Adik temanku. Beberapa hari ini dia mengalami mimpi buruk. Pertama ia bermimpi ia mengalami sebuah kecelakaan dan kemarin ia kembali bermimpi tapi ia melihat ayahnya dibunuh di depan matanya sendiri. Begitu bangun dari mimpinya, ia sangat ketakutan seolah mimpi yang diimpikannya adalah sebuah kejadian nyata."
"Dia mimpi mengalami kecelakaan yang bagaimana?"
"Dia mimpi mobilnya ditabrak truk besar."
"Apa saja yang dilupakan olehnya?"
"Aku tidak tahu pasti namun sepertinya ia dapat mengingat semuanya kecuali beberapa peristiwa tertentu," jawab Alby sedikit ragu.
"Kau benar. Itu amnesia disosiatif. Penyebabnya adalah trauma psikologis. Pembunuhan yang dilihat secara langsung olehnya memiliki dampak yang sangat besar dalam hidupnya dan menyebabkan masalah psikologisnya terganggu. Selain itu, bisa jadi cedera otak yang terjadi akibat kecelakaan menyebabkan cedera cukup parah sampai mengenai bagian otak besar, kecil, dan tengah, maka pengidap amnesia seperti adik temanmu akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh," tutur Raka.
"Tapi kejadian itu muncul di mimpinya," ujar Alby.
"Amnesia disosiatif tidak sama dengan bentuk amnesia biasa. Pada amnesia disosiatif, ingatan masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran seseorang dan tidak dapat diingat. Namun memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar orang tersebut. Bisa jadi alam bawah sadarnya secara tidak sengaja mengingat kejadian tersebut dalam bentuk mimpinya sehingga begitu ia bangun, ia kembali ketakutan seperti saat kejadian itu berlangsung."
"Aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan adik temanmu sekarang karena aku hanya mendiagnosis dari ceritamu. Bisa jadi diagnosisku ini salah ya By. Untuk hasil yang lebih pasti, lebih baik kau beritahu temanmu untuk membawa adiknya kemari untuk melakukan pemindaian otak," ujar Raka yang diangguki oleh Alby.
"Sepertinya itu akan sulit," lirih Alby.
"Tunggu sebentar. Pasien ini bukan adikmu Devi kan?" tanya Raka curiga.
"Bu..bukan! Enak saja, kedua orangtuaku masih ada!" sanggah Alby yang membuat Raka tertawa kecil.
"Aku minta maaf. Oh ya kalau begitu coba kau sarankan temanmu melakukan pengobatan untuk adiknya agar ingatannya dapat kembali ke sedia kala. Temanmu pasti sangat sedih sekali," ujar Raka iba.
"Kalau cara agar dia tidak mengingat ingatan masa lalunya bagaimana?" tanya Alby yang membuat Raka terkejut.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Temanmu tidak ingin adiknya mengingat masa lalunya?!!"
"Iya. Dia takut adiknya kembali terpuruk begitu mengingat kejadian itu lagi."
"Kan bisa diatasi dengan didampingi psikolog! Aku baru tahu kali ini ada kakak yang tidak menginginkan ingatan adiknya kembali," heran Raka.
"Kau tidak tahu situasinya bagaimana. Lagipula bukankah rawan bagi penderita amnesia untuk menyakiti dirinya sendiri? Bagaimana jika nanti dia mengingat kejadian itu dan membuatnya ingin bunuh diri?"
"Kan ada keluarganya. Memangnya peran keluarga untuk apa? Kau itu dokter Alby, masa kau tidak mengerti."
Raka benar. Bukan suatu ketidak mungkinan jika Devi mengingat semuanya. Satu pemicu saja pasti sudah sangat berpengaruh pada ingatannya dan akan sangat sulit untuk Alby menghindarkan pemicu tersebut dari Devi. Satu-satunya pilihan yang tepat adalah membiarkan semuanya berjalan seperti semestinya dan jika ingatan tersebut kembali maka tugas Alby untuk mendampingi dan memberi support pada Devi, itu saja. Toh pembunuhnya juga sudah mendekam di penjara, jadi Alby tidak perlu terlalu khawatir.
"Beri tahu temanmu untuk memperlakukan adiknya seperti biasanya. Seorang pasien tidak ingin diperlakukan seolah-olah dirinya sedang sakit," pesan Raka.
"Tidak perlu memberitahuku. Aku sudah tahu, aku kan dokter," balas Alby yang langsung mendapat cibiran dari Raka.
Baiklah mulai sekarang Alby akan bersikap seperti biasanya. Jika Devi berbuat salah maka ia akan memarahinya seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari sikapnya pada Devi agar gadis itu tidak tahu jika dirinya sedang mengalami amnesia. Ya, Alby tidak ingin Devi tahu tentang fakta itu. Alby tidak ingin dengan berubahnya sikapnya pada Devi membuat Devi menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Alby akan bersikap sebelum ia mengetahui fakta mengejutkan ini.
Drtt....drt.....
"Halo."
"......."
"Baik saya akan ke sekolah sekarang."
"Siapa?" tanya Raka.
"Guru BK," jawab Alby singkat sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Adikmu Devi kenapa sampai panggilan orangtua begitu?" tanya Raka heran.
"Berkelahi. Kau tahu, sepertinya aku yang perlu melakukan pemindaian otak. Otakku rasanya ingin meledak jika berhadapan dengan kenakalannya," ujar Alby yang membuat Raka tertawa.
~Flashback off~
Alby menatap kearah Ryan dengan serius.
"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Alby.
"Menurutku emm.. bukannya lebih baik kau menurut pada Sean? Devi adalah adiknya. Sean pasti lebih tahu tentang Devi daripada kau Alby. Kita tidak tahu seberapa depresinya Devi dulu sebelum ia mengalami amnesia. Tapi kembali lagi padamu, pilihan ada di tanganmu," tutur Ryan.
Alby tampak terdiam sembari berfikir. Ryan benar, ia tidak tahu seberapa depresi dan terpuruknya Devi hingga Sean tidak ingin Devi mengingat hal itu kembali. Lagipula bukankah itu tidak masalah jika Devi amnesia? Devi hanya kehilangan ingatan tentang kejadian mengerikan itu bukan seluruh ingatan maupun jati dirinya sendiri, jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Namun kembali lagi dengan perkataan Raka padanya. Devi tidak mungkin selamanya dapat melarikan diri dari peristiwa itu. Cepat atau lambat jika ada pemicu, Devi pasti akan segera menemukan ingatannya kembali. Tapi apakah Alby rela melihat Devi yang semula ceria, penuh semangat dan kenakalannya yang membuat Alby emosi akan hilang begitu saja menjadi Devi yang pendiam dan depresi seperti kata Sean? Tentu saja tidak! Alby lebih memilih melihat Devi tertawa bahagia seperti ini saja meskipun kadang beberapa sikap nakalnya membuatnya marah.
Alby sudah menganggap Devi seperti adik kandungnya sendiri dan begitu ia mendengar Devi mengalami hal seperti ini, rasanya ia takut setengah mati jika Devi tersakiti.
"Pulanglah ini sudah malam. Devi pasti sudah menunggumu," ujar Ryan.
Hanya Ryan sajalah yang tahu tentang kebenaran Devi yang bukan adik kandung dari Alby, bahkan Raka pun yang notabene sahabat Alby sejak masa koas pun tidak tahu akan hal itu.
"Aku sudah memintanya untuk tidak menungguku. Kau pulang dulu saja," ujar Alby.
Ryan pun berpamitan pada Alby untuk pulang. Setelah kepergian Ryan, Alby membuka ponselnya dan melihat sebuah CCTV yang memang ia sambungkan dengan apartemen rumahnya. Mata Alby langsung membulat sempurna begitu melihat Devi keluar dari apartemen dalam keadaan rapi dan hendak pergi.
Alby melirik kearah jam yang tertera di layar tersebut dan mencocokkan dengan jam saat ia menghubungi Devi pada saat Devi beralasan jika dirinya sedang mandi.
"Wah sepertinya aku dibohongi," desis Alby.
Ia pun langsung menghubungi nomor Devi.
"Kau dimana?!!!"
__ADS_1
*****