Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kesepakatan Ganendra


__ADS_3

"Argh perih om!" Devi meringis kesakitan begitu luka di lututnya tengah diobati oleh Alby.


"Tahan sebentar, aku akan pelan-pelan," ujar Alby.


Dengan telaten Alby membersihkan luka di lutut Devi. Bahkan tidak jarang Devi memukul bahu Alby jika dirasa lututnya terasa perih. Untung saja Alby hanya diam tanpa memprotes tindakan Devi.


"Apa lukanya parah om?" tanya Devi tanpa mau melihat ke arah lututnya.


"Lumayan," jawab Alby singkat.


"Apa tidak dijahit om?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Kau mau dijahit?"


"Tidak." Devi buru-buru menggelengkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian Alby pun selesai mengobati kedua lutut Devi dan gantian mengobati luka bekas cakaran Jessica di pipinya.


Begitu Alby mendekat ke arahnya dengan wajah yang hanya berjarak satu jengkal darinya secara otomatis Devi langsung menundukkan kepalanya. Bayangan Alby menciumnya tempo hari membuat Devi tersipu malu dan bahkan dengan kurang ajarnya kini jantungnya ikut berdetak lebih kencang.


"Jangan menunduk, aku tidak bisa mengobati lukamu," tegur Alby lembut sembari mengangkat dagu Devi menggunakan tangan kirinya.


Mata Devi menatap mata Alby yang tengah fokus mengobati luka di pipinya. Devi dapat melihat bulu mata Alby yang tipis ditambah tatapan mata Alby yang terlihat fokus membuat Alby tampak lebih mempesona.



"Om Alby tidak punya bulu mata ya?" tanya Devi dengan tangannya yang bebas menyentuh bulu mata Alby yang membuat Alby reflek memejamkan matanya.


"Punya," jawab singkat sembari kembali fokus mengobati luka Devi.


"Mana?" tanya Devi mendekatkan wajahnya ke arah Alby untuk melihat bulu mata Alby dari dekat.


Melihat Devi yang bergerak maju ke arahnya, Alby pun langsung mendorong dahi Devi menggunakan jari telunjuknya agar Devi sedikit menjauh dari wajahnya. Entahlah tiba-tiba saja dadanya berdesir aneh begitu Devi mendekat ke arahnya.


"Berhentilah bergerak biar aku mudah mengobatimu," omel Alby yang membuat Devi langsung diam di tempat dengan bibir yang mengerucut kesal.


Raden yang saat itu hendak masuk ke dalam ruangan Alby untuk menemui Alby pun menghentikan langkahnya begitu ia mendengar pertanyaan Devi pada Alby.


"Om, soal pertanyaan om Alby di mobil tadi om Alby serius?" tanya Devi yang dijawab anggukan oleh Alby.


"Kenapa om Alby melarangku bertemu dengan kak Raden? Aku kan menyukainya om," rengek Devi.


"Justru karena kau menyukainya mangkanya aku melarangmu untuk menemuinya," jawab Alby tanpa menatap Devi dan hanya fokus mengobati lukanya.


"Memangnya kenapa?"


"Kau masih kecil untuk berpacaran. Kau lupa pesan kakakmu? Kau itu masih pelajar, tugasmu hanya belajar bukan malah sibuk mencari pacar." Alby sengaja berbohong pada Devi tentang alasan kenapa Alby melarang Devi menemui Raden. Ia tidak mungkin mengatakan pada Devi jika alasannya melarang Devi bertemu dengan Raden karena Raden berniat untuk mencelakainya.


"Tapi om-"


"Tidak ada tapi-tapi. Nilaimu masih merah dan selama nilaimu merah jangan harap aku akan mengijinkanmu berpacaran dengan Raden," ucap Alby final.


"Kalau begitu aku juga boleh kan melarang om Alby bertemu tante Laudya?" balas Devi tidak terima dengan larangan Alby.


"Memangnya kenapa? Aku dan Laudya sudah cukup berumur untuk menjalin hubungan beda dengan kau yang masih anak-anak, jadi apa salahnya?" bingung Alby.


"Karena aku tidak mau om Alby berdekatan dengan tante Laudya. Aku tidak menyukainya," tutur Devi.


"Aku tidak perduli kau menyukainya atau tidak. Ini hubunganku, aku yang berhak menentukannya."


"Kalau begitu om Alby juga tidak boleh melarangku bertemu dengan kak Raden. Ini kan hubunganku," balas Devi membalikkan perkataan Alby.


Devi tersenyum penuh kemenangan begitu ia melihat raut wajah kesal Alby. Alby menggeram marah sebelum pada akhirnya perhatiannya terarah pada sosok dua orang dokter koas yang tengah berdiri di depan pintu ruangannya.


"Lho kenapa kau hanya berdiri di sini? Apa dokter Alby tidak ada?" tanya Fitra yang baru saja tiba dan menatap heran pada Raden yang hanya berdiam diri di depan pintu tanpa mau masuk ke dalam.


"Aa..aku belum mengetok pintunya," jawab Raden terbata.

__ADS_1


Ceklek!


Alby membuka pintu ruangannya yang sebelumnya memang terbuka sedikit dan menatap Fitra dan juga Raden bergantian dengan tatapan tajam. Dalam hati Alby untung saja ia tidak menjawab pertanyaan Devi dengan alasan sebenarnya karena bisa Alby pastikan Raden sedari tadi berdiri menguping di depan pintu.


"Masuk." perintah Alby dingin.


Mendengar perintah dingin Alby membuat Fitra ketakutan menatap Alby.


Devi yang melihat kedatangan Raden pun langsung melambaikan tangannya riang ke arah Raden dengan senyuman semanis madu yang sudah Devi pajang untuk membuat Raden terpesona padanya.


"Kak Raden," sapa Devi riang.


Alby memutar bola matanya malas dan segera menghentikan Devi dengan cara menggenggam tangannya. Raden yang melihat perlakuan Alby pun sedikit bingung. Bukankah Alby terlihat seperti seorang kekasih yang cemburu karena kekasihnya menggoda pria lain?


Devi berusaha melepaskan genggaman Alby supaya Raden tidak salah paham padanya namun nyatanya Alby malah semakin mengeratkan genggamannya.


"Ma...maaf dok, ada apa ya dokter Alby memanggil kami kemari?" tanya Fitra takut-takut.


"Dev kau diberitahu apa saja sama Fitra dan Raden?"


Bukannya menjawab pertanyaan Fitra, Alby malah melemparkan pertanyaan ke arah Devi. Devi yang awalnya sedikit bingung pun mulai paham ke mana arah pembicaraan mereka. Ini pasti tentang masalah tuntutan yang dilayangkan pada om Alby.


"Hanya memberitahuku jika om Alby terkena masalah karena meminta kak Raden menangani pasien yang terkena-" Devi tampak berpikir sebentar, ia lupa pasiennya terluka karena apa.


"Batang penguat," sahut Alby memutar bola matanya.


"Om Alby benar. Iya, pasien dengan batang penguat yang menancap di dadanya. Pasien tersebut meninggal dan keluarga pasien tidak terima sehingga ingin menuntut om Alby," terang Devi tanpa tahu arti tatapan tajam Alby pada Raden dan Fitra.


"Lalu?"


"Lalu kak Fitra juga memberitahuku jika orang yang menuntut om Alby adalah Ganendra yang tidak lain adalah putra pasien. Oh iya aku tahu rumahnya juga dari kak Fitra, terima kasih ya kak," lanjut Devi polos.


Raden dan Fitra yang mendengar jawaban Devi pun merutuki kepolosan Devi. Ingin sekali mereka membawa kabur Devi agar Alby tidak bertanya macam-macam pada Devi karena bagaimanapun juga Devi pasti akan berkata jujur pada Alby.


"Iya sama-sama," ujar Fitra memaksakan senyumnya.


"Dev, sekarang kau pergi ke mobil dulu nanti aku akan menyusul," titah Alby dengan pandangan mengarah pada kedua dokter koas yang sibuk berdoa demi kesalamatan mereka sendiri.


"Dev jangan pergi," rengek Fitra pelan begitu Devi keluar dari ruangan.


Alby melepas sarung tangan latexnya yang baru saja ia gunakan untuk mengobati Devi dan membuangkan ke tempat sampah khusus yang disediakan di dalam ruangannya. Setelahnya ia berjalan ke arah Fitra dan Raden sembari bersilang dada.


"Anu ehm maaf dok saya-"


"Kenapa kalian memberitahu orang lain tentang masalah di rumah sakit? Bukankah kalian tahu mana permasalahan kerja yang boleh kalian umbar ke orang luar dan mana yang tidak boleh?" tanya Alby dengan tatapan mengintimidasi.


"Kami benar-benar minta maaf dok. Kami akui kami bodoh dan tidak berpikir lebih dulu sebelum memberitahu Devi dan Arin," sesal Raden menundukkan kepalanya.


"Iya dok, kami minta maaf. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," timpal Fitra takut.


"Aku memaafkan kalian," jawab Alby singkat.


"Eh?"


"Kenapa? Kau tidak mau kumaafkan?!"


"Ah tidak dok, bukan begitu." Fitra buru-buru meralat ucapannya begitu Alby terlihat tersinggung.


"Aku seharusnya marah pada kalian berdua karena kalian memberitahu alamat detail Ganendra pada Devi yang membuat Devi pergi ke sana sendirian untuk meminta Ganendra membatalkan tuntutannya. Nyawa Devi hampir terancam karena kalian. Kalian lihat tidak luka di kedua lututnya?"


Berbeda dengan Raden yang menjawab 'iya', Fitra malah menjawab 'tidak' karena ia memang tidak begitu memperhatikan Devi apalagi lututnya yang terluka. Bukankah wajah lebih penting dari pada anggota tubuh lain?


Plak!!


"Argh kenapa dokter memukul kepala saya? Nanti kalau otak saya cedera bagaimana?" protes Fitra begitu Alby memukul kepalanya tidak pelan dan juga tidak keras.


"Toh tidak dipakai juga," jawab Alby acuh.


"Masalah ini biar aku yang menyelesaikannya bersama rumah sakit. Aku sengaja tidak memberitahu kalian beberapa informasi penting yang didapat Devi hari ini karena mulut kalian sepertinya tidak bisa dijaga dengan baik. Kalian fokus saja melakukan pekerjaan kalian dengan benar. Dan kau siput-" Alby menunjuk Fitra menggunakan jari telunjuknya.


"Jangan hanya sibuk pacaran saja, gunakan waktu luangmu untuk belajar. Sebentar lagi kalian akan menghadapi UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter). Untuk udang, gunakan masalah hari ini untuk pembelajaran ke depan. Jangan sampai ada nyawa orang melayang di tanganmu lagi," ujar Alby menatap mata Raden dengan tajam.

__ADS_1


Raden awalnya merasa perkataan Alby selalu mengenai sasaran pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kenapa Alby selalu membahas tentang nyawa kepadanya? Apa Alby benar-benar tidak mengetahui niat buruknya pada Devi? Tapi itu mungkin saja, buktinya Raden mendengarnya sendiri alasan Alby melarang Devi menemuinya, itu karena Alby ingin Devi belajar bukan malah sibuk pacaran.


"Baik dok," jawab Raden dan Fitra bersamaan.


Alby pun mempersilahkan keduanya untuk keluar dari ruangannya namun begitu mereka berada di ambang pintu, perkataan Alby menghentikan langkah mereka.


"Ada pria kaya yang meminta Ganendra untuk menuntut kita. Jika kalian mendapat informasi tentang hal itu segera beritahu aku," perintah Alby.


"Baik dok."


Berbeda dengan Fitra yang langsung menjawab dan bergegas pergi. Raden malah diam mematung dan tidak menjawab perkataan Alby.


Alby yang melihatnya pun menaruh curiga pada Raden. Apa Raden ada hubungannya dengan kasus ini? Apa perkataan Alby membuat sedikit pukulan di diri Raden karena perkataan Alby tepat sasaran?


"Sepertinya kau tahu sesuatu?" tanya Alby yang langsung membuat Raden tersadar.


"Ah tidak dok. Baiklah saya akan memberitahu dokter Alby jika saya mendapat informasi siapa pria kaya itu. Saya permisi dulu dok," pamit Raden.


"Udang," panggil Alby.


"Iya dok?"


"Batang penguat yang menancap di pasien tadi pagi masih kau simpan kan?"


"Masih dok, saya baru saja ingin membuangnya."


"Jangan dibuang. Simpan ke tempat yang aman dan jangan biarkan disentuh dengan tangan telanjang, aku membutuhkan sidik jari di batang penguat itu," perintah Alby. Meskipun awalnya Raden tampak bingung, pada akhirnya ia menuruti perintah Alby.


Raden segera pergi dari hadapan Alby sebelum Alby berpikiran macam-macam padanya.


Setelah kepergian Raden dan Fitra, Alby pun segera beranjak mengambil tas ranselnya bersiap untuk menyusul Devi di mobil. Hari sudah malam dan waktunya ia pulang.


*****


"Saya menolak permintaan anda untuk menuntut dokter Alby," ujar Ganendra pada seorang pria kaya.


"Kenapa? Bukankah tadi pagi kau bersemangat sekali begitu melihat tumpukan uang?"


Tampak Ganendra sedang berpikir sejenak. Jujur saja sebetulnya ia juga sangat menginginkan uang itu tapi karena gadis sialan yang mengetahui kejahatannya tadi siang membuatnya mengurungkan niatnya untuk menerima tawaran pria kaya di hadapannya ini. Ganendra tidak mungkin menuntut Alby karena bukankah itu sama saja dengan dia bunuh diri? Mungkin saja gadis itu memberitahu Alby tentang fakta pembunuhan itu dan Alby akan menjadikan gadis itu sebagai senjatanya di meja persidangan nanti. Jadi dari pada mengambil resiko, Ganendra memilih mundur saja toh gadis itu tidak memiliki bukti kejahatannya.


"Apa karena ada seorang gadis yang mengetahui fakta kematian ayahmu yang ternyata kau bunuh dengan tanganmu sendiri?"


Ganendra terkejut mendengar penuturan pria kaya di hadapannya ini. Dari mana ia tahu tentang hal itu? Apa gadis itu mata-mata pria kaya ini?


"Saat aku membuat kesepakatan, aku sebagai pihak pertama tidak pernah melewatkan satu informasi sedikitpun dari pihak kedua. Tenang saja gadis itu bukan mata-mataku."


Genandra terhenyak. Seberapa mengerikannya orang yang ada di hadapannya ini kah? Kenapa ia bisa mengetahui rahasia yang ia tutupi rapat-rapat.


"Jika dugaanku benar. Kenapa kau tidak mencari gadis itu dan membunuhnya saja agar ia tidak membongkar semuanya? Kau sudah berhasil membunuh ayahmu sendiri, masa membunuh tikus kecil kau tidak berani."


Ganendra tampak bimbang dengan keputusannya, tapi apa yang pria kaya ini bilang benar-benar masuk akal. Jika ia tidak membunuh gadis itu, gadis itu pasti akan segera melaporkannya pada polisi dan jenazah ayahnya pasti akan di autopsi.


Batang penguat!!


Genandra mengumpat dalam hati begitu ia sadar saat ia menancapkan batang penguat itu ke ayahnya, ia tidak memakai sarung tangan. Dan sekarang Genandra tidak tahu di mana batang penguat itu berada setelah dikeluarkan dari dada ayahnya. Apakah batang penguat itu masih berada di rumah sakit? Jika iya maka akan benar-benar tamat riwayatnya.


"Jika kau berhasil membunuhnya kesepakatan kita akan berjalan dengan lancar. Kau tetap akan mendapatkan uang dariku. Bukankah ini menguntungkanmu?"


Setelah berpikir cukup lama, Genandra pun yakin dengan pilihannya.


"Baiklah saya akan membunuh gadis itu. Tapi masalahnya saya tidak tahu siapa dia," ujar Ganendra yang membuat pria kaya tersebut tersenyum senang mendengarnya.


"Kau tenang saja. Aku tahu siapa dia."


*****


Holaa hari ini aku buat partnya sedikit panjang dari biasanya, semoga kalian tambah betah ngikutin cerita ini ya


Jangan lupa vote dan komen sayang-sayangnya akohhh


Tbc

__ADS_1


__ADS_2