Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Siuman


__ADS_3

"Ayo kita pulang," ajak Abimanyu pada Ishwari yang terus saja menangis di samping tubuh Alby.


"Aku ingin menemani Alby di sini. Aku tidak mau pulang," tolak Ishwari sembari menggenggam tangan Alby.


Abimanyu mendesah pelan, ia pun berjalan mendekat ke arah istrinya dan memegang pundaknya dari belakang.


"Alby baik-baik saja. Kita hanya menunggunya siuman setelah itu ia akan melewati masa kritisnya. Lukanya memang parah tapi paru-paru Alby masih dapat diselamatkan. Jangan menangis, Alby pasti segera siuman," ucap Abimanyu menenangkan Ishwari.


"Kita harus pulang. Kamu harus istirahat apalagi kamu sudah menangis seharian. Kamu pasti kelelahan dan Alby pasti tidak ingin melihat ibunya tampak berantakan seperti ini," ujar Abimanyu.


"Tapi aku masih ingin di sini," lirih Ishwari.


"Sayang, kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Ayo kita segera pulang ke apartemen Alby dan besok kita kembali lagi ke mari untuk menemani Alby. Kamu tenang saja, aku sudah meminta Raka untuk mengawasi Alby. Kita pulang ya?"


Tampak Ishwari terdiam sejenak mencoba memikirkan saran sang suami. Setelah beberapa saat berpikir, Ishwari pun menyetujui suaminya.


"Bilang pada Raka jika Alby bangun ia harus segera menghubungiku," pinta Ishwari yang diangguki oleh Abimanyu.


Setelahnya Abimanyu pun menggiring istrinya pulang.


Devi dan Raka mengamati mereka dari jauh. Begitu melihat Abimanyu dan Ishwari keluar dari ruang rawat Alby, Raka pun mengajak Devi untuk masuk.


Devi menurut dan berjalan di belakang Raka. Begitu Raka membuka pintu, Devi dapat melihat kondisi Alby yang sangat memprihatinkan. Alat medis dipasang di beberapa tubuh Alby dengan alat bantuan pernafasan juga tak luput dari pandangan Devi membuat mata Devi berkaca-kaca seketika.


Raka menoleh ke arah Devi yang kini terisak pelan.


"Kondisi Alby sudah membaik, kerusakan paru-parunya sudah dapat diatasi. Luka tembak di bagian kakinya juga tidak sampai mengenai tulangnya. Kita harus bersyukur Bima seorang penembak yang buruk," jelas Raka.


"Aku keluar dulu. Kau boleh tidur di sini, esok pagi aku akan membangunkanmu sebelum tante Ishwari dan om Abi datang. Kau masih belum ingin bertemu mereka kan?" lanjut Raka.


"Iya dok. Saya masih takut," jawab Devi pelan.


"Sebenarnya tidak ada hal yang perlu kau takutkan. Aku yakin mereka tidak akan memarahimu," ujar Raka.


Devi hanya diam sembari menundukkan kepalanya. Raka menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Perlahan Devi berjalan mendekat ke arah Alby dan duduk di kursi yang berada di brankar Alby.


Devi mengamati wajah Alby lama sebelum akhirnya ia kembali menangis tersedu-sedu dengan tangannya menggenggam tangan Alby.


Tidak ada kata yang bisa Devi gambarkan mengenai rasa bersalah dan khawatirnya pada Alby selain isak tangis yang mampu ia luapkan sekarang. Ketakutan terbesarnya adalah ditinggalkan oleh Alby dan kedua sahabatnya apalagi itu karena dirinya.


Selama tiga hari pula dirinya selalu menjaga Alby secara sembunyi-sembunyi begitu Ishwari dan Abimanyu pulang untuk istirahat. Devi juga sudah beberapa kali melihat keadaan Gara dan juga Arin dari jarak jauh karena Devi masih belum berani bertemu langsung dengan kedua orang tua sahabatnya. Katakanlah Devi seorang pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas apa yang menimpa Alby dan kedua sahabatnya, bagaimanapun juga seorang gadis berumur delapan belas tahun tentu saja masih memiliki ketakutan yang luar biasa apalagi bersangkutan dengan nyawa. Nanti jika Devi sudah siap ia berjanji akan meminta maaf secara langsung pada kedua orang tua Gara dan juga Arin, oh tentu saja dengan Abimanyu dan Ishwari juga.

__ADS_1


Hari ini hari keempat Alby terbaring di ranjang rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bahkan Raka juga bilang pada Devi jika Alby sudah bangun, hal itu langsung membuat Devi menangis haru dan lega di saat yang bersamaan. Setidaknya Alby tidak meninggalkannya secepat ini.


Seperti sebelumnya begitu Ishwari dan Abimanyu pulang, Devi langsung masuk ke dalam ruang rawat Alby. Devi melihat raut wajah Alby yang tampak terlihat segar daripada sebelumnya yang terlihat sangat pucat.


Devi pun duduk di kursi yang berada di samping brankar Alby. Tiba-tiba saja air matanya mulai lolos menuruni pipinya saat ia melihat perban di dada dan kaki Alby.


"Kenapa menangis?"


Devi langsung tersentak kaget begitu mendengar suara lemah Alby.


Dilihatnya kini Alby yang telah bangun dari tidurnya dengan pandangan mata yang mengarah padanya. Bukannya mereda, tangis Devi malah semakin menjadi. Devi malah menangis tersedu-sedu membuat Alby tersenyum sembari mengelus rambut Devi pelan.


Setelah beberapa saat kemudian, Devi pun berhenti menangis. Kini ia menggenggam tangan Alby dan menempelkannya pada pipi kanannya sembari terus menatap ke arah Alby.


"Maaf karena aku menangis om Alby jadi bangun," cicit Devi.


"Tidak masalah, aku sudah tidur seharian ini dan kurasa sekarang waktunya bangun apalagi kau sedang berada di sini. Aku merindukanmu."


Devi hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Alby. Bagaimana bisa dalam keadaan sakit seperti ini Alby malah berkata manis seperti itu.


Tangan Alby tergerak untuk melepas alat bantu pernafasannya membuat Devi langsung menghentikan tangan Alby.


"Jangan dilepas, nanti kalau om Alby kesulitan bernafas bagaimana? Dokter Raka bilang paru-paru om Alby masih dalam proses pemulihan," tegur Devi.


"Tapi sekarang om Alby adalah seorang pasien, jika om Alby melepasnya aku akan panggil dokter Raka," ancam Devi yang membuat Alby tersenyum kecil sebelum akhirnya ia menuruti perintah ratunya.


"Baiklah tidak jadi lepas," ujar Alby pada akhirnya.


Devi menghela nafasnya pelan sembari menatap Alby lekat.


"Apa sangat sakit?" tanya Alby seraya menyentuh pelan perban di kepala Devi.


Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi lebih sakit lagi melihat om Alby seperti ini. Aku tidak mau lagi melihat om Alby terluka, aku sangat membencinya." Alby hanya diam memperhatikan Devi yang kini kembali mengeluarkan air matanya. Alby hanya memberi ruang untuk Devi melampiaskan kesedihannya.


"Kenapa menangis lagi?" tanya Alby sembari mengusap air mata Devi.


"Aku hiks aku takut om Alby meninggalkanku seperti kak Sean. Aku juga takut om Abi dan tante Ishy membenciku karena aku om Alby terluka. Gara dan Arin juga, mereka kan terluka karenaku. Bagaimana jika mereka pergi meninggalkanku?" tangis Devi tersedu-sedu.


Alby tertawa kecil sembari mengusap air mata di pipi Devi.


"Jangan menangis lagi, matamu sudah sangat bengkak," ujar Alby lembut.

__ADS_1


Devi pun menyudahi tangisnya dan mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya.


"Om Alby harus janji tidak boleh terluka seperti ini lagi."


"Iya, aku janji."


Devi pun berhambur ke pelukan Alby dan tanpa sengaja siku Devi mengenai luka Alby yang membuat Alby langsung meringis kesakitan.


"Argh!!"


"Om maafkan aku, aku tidak sengaja," panik Devi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda, tanganmu tidak mengenai lukaku," dusta Alby karena ia tidak ingin Devi merasa bersalah untuk kesekian kalinya.


"Tiga hari ini kau tinggal di mana?" tanya Alby.


"Tinggal di sini. Aku seperti penghuni tetap rumah sakit om. Saat pagi sampai malam aku berada di ruang kerja om Alby nanti kalau om Abi dan tante Ishy pulang baru aku ke mari."


"Kau pasti sangat tidak nyaman. Kenapa tidak pulang ke hotel? Bukankah kau juga terluka? Bagaimana dengan lukamu? Apa diobati dengan baik? Lalu bagaimana dengan makanmu? Apa kau makan dengan teratur? " cecar Alby.


"Aku tidak mau meninggalkan om Alby sendirian," jawab Devi mengabaikan cecaran Alby.


"Tapi kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Kau tidak boleh seperti ini lagi. Sebelum mengkhawatirkan orang lain kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri," nasehat Alby.


"Om Alby jangan menasehatiku jika om Alby tidak melakukan seperti yang om Alby katakan. Om Alby kan juga tidak memperhatikan diri sendiri dan malah nekat pergi menyelamatkanku," balas Devi. "Aku benar-benar tidak suka saat om Alby terluka," lanjut Devi memeluk Alby.


Alby tersenyum seraya mengelus rambut Devi lembut.


"Kau pasti sangat tertekan dan ketakutan," lirih Alby.


"Tidak. Aku ini kuat om meskipun sedikit-sedikit menangis. Aku sudah beberapa kali dimintai keterangan polisi dan aku berani berangkat sendiri tanpa om Abi yang menemaniku. Aku pemberani kan om?" tanya Devi melepas pelukannya pada Alby seraya menatap Alby lekat.


"Iya, kau sangat pemberani. Aku sangat bangga padamu," ujar Alby.


"Tapi aku masih tidak berani bertemu om Abi dan tante Ishy," lanjut Devi kembali memeluk Alby.


"Kenapa?"


"Aku takut mereka membenci dan memarahiku. Om, aku sudah sangat bahagia memiliki keluarga hangat seperti keluarganya om Alby tapi sepertinya sekarang sudah tidak bisa lagi. Om Abi dan tante Ishy pasti membenciku, aku akan kehilangan kehangatan keluarga lagi. Aku belum siap om mangkanya aku tidak mau bertemu mereka," jelas Devi.


"Tidak mau bertemu siapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang membuat Devi diam membeku.


Bukankah tanten Ishy sudah pulang?

__ADS_1


*****


__ADS_2