Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Pura-Pura Sakit


__ADS_3

"Apa tidak ada rencana lain?" tanya Devi gugup.


Kini mereka bertiga berada di parkiran rumah sakit tempat Raden dan Fitra menjalani pekerjaannya sebagai dokter koas. Oh jangan lupakan tentang keberadaan Alby juga yang bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter spesialis bedah digestif.


Ketiganya tampak sedang merundingkan sesuatu yang sangat penting. Bahkan mereka menyebut rencana ini sebagai misi VIP dan tentu saja perancang dari misi ini adalah Arin.


"Tidak ada. Ini adalah misi terbaik yang dapat kupikirkan. Tenang saja ini semua pasti akan berhasil selama kau mampu berakting dengan baik," ujar Arin memberi keyakinan pada Devi.


"Aku tidak mau," tolak Gara.


"Jika kau menolaknya maka aku dan Devi tidak akan mau menjadi sahabatmu lagi," ancam Arin yang langsung diangguki oleh Devi.


"Aku tidak perduli," jawab Gara beranjak pergi.


"Kutraktir makan di KFC seminggu penuh bagaimana?" tawar Arin.


"Aku bisa membelinya sendiri," jawab Gara acuh.


"Sepatu basket nike keluaran terbaru limited edision," tawar Arin yang langsung membuat Gara berubah pikiran.


"Hanya untuk kali ini saja aku mau melakukan misi bodoh ini," ujar Gara begitu mendengar tawaran terakhir Arin.


"Iya-iya. Nah sekarang kau gendong Devi," perintah Arin yang dituruti oleh Gara.


"Astaga kau-"


"Jangan mengatai Devi berat!" potong Arin sebelum Gara menyelesaikan kalimatnya, karena Arin tahu jika Gara membuat Devi marah maka rencana ini pasti akan gagal total.


"Dengarkan Arin!" ucap Devi menimpali.


"Nah sekarang kau berteriak kesakitan sembari memegangi perutmu. Sini tasmu biar aku yang bawakan," ujar Arin.


"Bagaimana jika nanti ketahuan om Alby?" tanya Devi takut.


"Tidak mungkin. Kau bilang dokter Alby adalah dokter spesialis dan sudah tidak menjadi perseptor lagi untuk kak Fitra dan kak Raden kan? Jadi kau tenang saja dokter Alby tidak akan berada di IGD kok," ujar Arin.


"Bagaimana jika nanti aku disuntik? Aku takut sakit," rengek Devi.


"Kau ingin bertemu dengan kak Raden tidak?" tanya Arin sembari melototkan kedua matanya pada Devi yang membuat Devi diam tidak berkutik.


"Ingin," cicit Devi.


"Kalau begitu lakukan saja seperti rencana awal. Anggap saja bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian," ujar Arin.


"Baiklah," ujar Devi pada akhirnya.


"Tugasku hanya membawanya menuju IGD saja kan?" tanya Gara.


"Iya. Cepat laksanakan!"


Tanpa mereka sadari, ada seorang dokter wanita yang mendengarkan rencana mereka. Dokter perempuan tersebut tersenyum geli begitu mendengar rencana gila dari ketiga remaja SMA tersebut yang rela pura-pura sakit hanya untuk bertemu dengan orang yang disukainya.


Setelah mengetahui rencana ketiga remaja tersebut, dokter wanita itu pun segera beranjak pergi dari tempatnya.


******


Begitu memasuki ruang IGD, Arin langsung memerintahkan Devi agar ia berteriak kesakitan sembari memegangi perutnya dan hal tersebut langsung mendapat respon dari Devi yang langsung berakting kesakitan.


Sembari berteriak kesakitan, kedua mata Devi dan juga Arin berkeliaran mencari keberadaan Raden dan juga Fitra yang katanya masih menjadi dokter koas di departemen IGD.

__ADS_1


"Aaaaa perutku sakit sekaliii!!!" raung Devi sembari memegangi perutnya.


"Dokter tolong teman saya! Perutnya sangat sakit dok," ujar Arin ikut berteriak.


"Tunggu sebentar ya dek, saya panggilkan dokter jaga terlebih dahulu. Ayo rebahkan dia di sini," ujar salah seorang suster bernama Ratna. "Kalian sudah memanggil keluarga teman kalian kemari? Pihak keluarga harus mengisi administrasi pasien," lanjutnya.


"Keluarganya sedang dalam perjalanan kemari sus," ujar Arin berbohong.


"Aaaaaa sakit sekali!!!! Arin mana dokter Radennya?!! Ah maksudku dokternya!!"


"Arin," panggil Fitra yang ternyata berada di belakang Devi dan juga Arin.


"Kak Fitra," senang Arin begitu melihat Fitra.


"Untung saja kalian datang. Aku baru saja akan menghubungi kalian," ujar suster tersebut begitu melihat kedatangan Fitra dan juga Raden.


"Ke mana dokter residen dan yang lain sus?" tanya Fitra.


"Mereka sedang ada rapat dadakan. Kalian saja yang menanganinya bagaimana?" tanya suster Ratna yang langsung diangguki oleh Raden.


"Dev kamu kenapa? Mana yang sakit?" tanya Raden panik.


"Perutku sakit kak huaaa!!" teriak Devi sembari menangis keras.


Raden pun langsung memeriksa perut Devi, sembari bertanya pada Devi bagian perut mana yang sakit.


"Sakit tidak?" tanya Raden sembari menekan bagian perut kanan atas.


"Sakit," ujar Devi sembari menganggukkan kepalanya.


Raden pun segera menekan bagian perut lain dan bertanya lagi pada Devi apakah bagian tersebut juga sakit atau tidak.


Gara yang jengah melihat drama sakit perut itupun memilih untuk keluar saja dari pada ikut terkena imbasnya jika mereka ketahuan berbohong. Membayangkannya saja Gara sudah tidak mau.


"Ti....tidak. Ehm aku tidak tahu juga kak," ujar Arin sembari mengedipkan sebelah matanya pada Fitra.


Fitra yang mendapat kedipan mata dari Arin pun bingung dengan apa maksud kedipan itu. Namun Arin tetap berusaha memberitahu Fitra jika yang Devi lakukan hanya berpura-pura saja agar dapat bertemu dengan Raden, meskipun pada akhirnya Fitra masih belum memahami maksud Arin juga dan hal itu membuat Arin sedikit frustasi.


"Sus sepertinya kita harus melakukan USG pada bagian perut, karena pasien mengalami sakit di semua area perut. Takutnya ada beberapa organ dalam yang bermasalah," ujar Raden pada salah suster Ratna yang memang bertugas membantunya.


"Baik dok," ujar Ratna.


"Kak," cicit Devi ketakutan begitu mendengar Raden memerintahkan suster untuk menyiapkan alat USG.


"Tidak apa-apa. Ini tidak sakit. Jangan takut, aku akan menemanimu," ujar Raden menenangkan Devi sembari menyelipkan anak rambut Devi ke daun telinganya.


Devi pun menganggukkan kepalanya patuh. Dalam hatinya ia sangat senang sekali karena ternyata kak Raden seperhatian ini padanya. Bahkan sentuhan lembut di telingannya membuatnya terbang melayang.


Fitra yang melihat Raden mengambil keputusan sendiri itupun setengah takut kalau keputusan yang diambil Raden salah, apalagi mereka sedang tidak ditemani oleh dokter Novi yang menjadi perseptor untuk mereka.


"Den kalau ternyata kanker bagaimana?" tanya Fitra yang langsung membuat mata Devi melotot.


"Kanker? Apa-apaan itu? Kenapa dari sakit perut malah ke kanker?" gerutu Devi dalam hati.


Devi mulai meragukan kemampuan Fitra dalam menangani kasus seperti ini. Bagaimana mungkin sakit perut bisa menyebabkan kanker? Devi menatap Fitra dengan bersungut-sungut. Awas saja jika Fitra berbicara yang tidak-tidak pada Raden, karena jujur saja saat ini Devi sedikit ketakutan begitu suster menyiapkan alat untuk USG.


"Kanker? Kebetulan aku seorang dokter spesialis onkologi. Bisa coba kuperiksa?"


Devi kenal suara itu! Itu pasti suara dokter Renata kan? Ah sial kenapa dia harus datang kemari?

__ADS_1


Dalam hati Devi, ia menyumpahi Fitra puluhan kali karena kesal Fitra berbicara kanker dan secara kebetulan dokter Renata mendengarnya.


Devi pun segera menutup wajahnya dengan selimut agar dokter Renata tidak mengenalinya.


"Di mana pasiennya?" tanya Renata sembari menuju ke brankar yang ditempati oleh Devi yang hanya terpisah oleh sekat-sekat antara brankar satu dengan brankar yang lain.


"Silahkan dok. Kebetulan sekali ada dokter Renata di sini," ujar Fitra mempersilahkan Renata untuk memeriksa kondisi Devi.


Arin yang melihat hal itupun menjadi panik dan berkali-kali memberi kode kepada Fitra agar menghentikan dokter Renata memeriksa keadaan Devi. Meskipun Arin tidak tahu dokter Renata siapa, tapi yang pasti begitu melihat raut wajah terkejut Devi dan Devi yang langsung menutupi wajahnya dengan selimut, sepertinya ini bukan sesuatu yang baik jika dokter Renata yang memeriksanya.


"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Renata pada Raden.


"Normal semua dok, tekanan darah 110/80, saturasi oksigen 95%, denyut jantung ehm saya rasa sekarang denyut jantungnya meningkat drastis dok, dari 60 menjadi 110," ujar Raden agak heran.


"Sepertinya ini kondisi yang cukup serius," ujar Renata. "Hubungi dokter Alby bagian bedah digestif, kurasa dokter yang cocok untuk masalah pencernaan adalah dia," lanjut Renata memerintahkan Fitra agar menghubungi Alby.


"Aku di sini," ujar Alby yang tiba-tiba saja berdiri di belakang Arin. Bahkan Arin sama sekali tidak berani menoleh ke belakang untuk memastikan suara tersebut memang Alby atau bukan.


"Kebetulan sekali kau di sini. Adikmu mengalami sakit perut, kurasa sakitnya benar-benar parah. Coba kau periksa terlebih dahulu," ujar Renata sembari menekankan kata 'adikmu' yang membuat Arin, Raden maupun Fitra bingung.


Adik? Sejak kapan Devi menjadi adik dokter Alby? itulah kira-kira yang terselip dalam pikiran mereka.


"Ya, kurasa aku kurang memperhatikannya sampai ia mengalami sakit perut yang sangat hebat," sindir Alby sembari berjalan mendekat ke arah Devi.


Devi meringis begitu mendengar penuturan Alby. Sepertinya mereka ketahuan dan dia dalam bahaya sekarang.


"Buka selimutnya," perintah Alby dingin.


Karena nada Alby yang mengintimidasinya, mau tidak mau Devi pun segera membuka selimut yang menutupi wajahnya sembari cemberut menatap Alby.


"Coba kita periksa dulu seberapa bahaya sakitmu," ujar Alby sembari menatap Devi dan mulai memeriksa perut Devi.


"Kau mengeluh perutmu sakit ya?" tanya Alby sembari mendekatkan wajahnya ke arah Devi.



"Om," cicit Devi sembari memegang ujung snelli Alby.


"Tidak perlu takut, kau hanya tinggal mengatakannya sakit atau tidak. Bagian ini sakit tidak?" tanya Alby sembari menekan perut bagian atas kanan Devi.


Devi hanya diam saja sembari menatap Alby dengan tatapan memohon agar Alby tidak melanjutkan pemeriksaannya. Maksud Devi, bukankah Alby sudah tahu kebohongannya? Jadi kenapa Alby malah mengikuti dramanya?


"Sakit tidak?" tegas Alby sekali lagi.


"Tidak," jawab Devi sembari menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Yang ini?"


"Tidak," jawab Devi lagi yang membuat Raden bingung. Bukankah bagian itu terasa sangat sakit begitu Raden menekannya tadi? Kenapa sekarang jadi tidak sakit?


"Bukankah bagian itu sangat sakit ketika kutekan?" tanya Raden bingung.


Tanpa menunggu lama lagi, Alby langsung menggendong Devi ala bridal style dan membawanya pergi keluar dari ruang IGD.


"Kau dibohongi," ujar Renata sembari menepuk pundak Raden dengan pelan.


"Arin," panggil Fitra tegas meminta penjelasan.


"Ok..oke kak. Aku akan jelaskan semua."

__ADS_1


*****


__ADS_2