Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Aku Pembunuh?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Devi sudah bangun dari tidurnya. Ia segera memakai jaket tebalnya dan keluar dari rumah secara sembunyi-sembunyi. Ia harus segera pergi ke jalan bercabang sebelum Asep memergokinya dan melaporkannya pada Alby.


Sebenarnya kemarin Devi ingin mampir dulu ke bangunan tua itu sebelum pulang namun hari sudah larut malam dan Devi tidak mungkin masuk ke dalam hutan malam-malam. Alhasil Devi pun memilih pulang terlebih dahulu dan pergi keesokan paginya.


Dengan bermodalkan sepeda milik Asep, Devi pun segera bergegas pergi. Devi hanya penasaran sebenarnya tempat apa itu, kenapa Alby melarangnya ke sana dan kenapa Devi merasa tidak asing dengan tempat tersebut?


Setelah sekitar dua puluh menit di perjalanan, Devi pun akhirnya tiba di depan bangunan tua tersebut. Devi mengamatinya dari jauh sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk memasukinya.


...



...


Dengan sangat pelan Devi mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak yang mengarah ke dalam rumah tua tersebut.


"Bukannya om Alby bilang ini pabrik terbengkalai? Tapi kenapa ini lebih terlihat seperti rumah?" gumam Devi.


Kriet!!


Suara pintu berderit pun terdengar begitu Devi membuka pintu rumah tersebut. Begitu terbuka, bau anyir langsung menyeruak memenuhi hidung Devi. Devi dapat melihat dua buah kasur mirip brankar rumah sakit yang berjejer rapi di dalamnya bahkan masih ada beberapa alat medis yang tertinggal di sana.


Devi pun melangkahkan kakinya memasuki rumah lebih dalam lagi sembari mengamati sekelilingnya.


Tidak ada yang aneh dari rumah tua itu, bahkan Devi juga tidak mengingat apapun mengenai rumah itu. Itu artinya semua kecurigaannya tidak ada artinya apa-apa.


Lalu pandangan Devi tertuju pada sebuah pisau dapur berukuran sedang yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Devi berjalan mendekat dan berjongkok untuk melihat pisau dapur itu lebih dekat. Devi dapat melihat darah kering melumuri pisau tersebut, bahkan pada pangkalnya sudah berkarat, tanda jika pisau ini telah berada di tempat itu cukup lama.


"Darah?"


Devi mengamati sekelilingnya sekali lagi dan betapa terkejutnya Devi begitu ia mendapati lantai rumah tersebut penuh dengan darah yang sudah mengering. Sontak saja Devi langsung terperanjat bangun.


'Lepaskan aku!!! Tolong lepaskan aku!!!'


'Untuk apa aku melepaskanmu? Bukankah kau ingin pergi menyusul kedua orangtuamu?'


'Aku tidak mau!'


'Hei kau cepat tahan tubuh gadis kecil ini, aku ingin sekali mengambil seluruh organnya dan akan kujual! Aku pasti akan kaya raya!! Ini adalah balasan setimpal dari apa yang dilakukan Banyu padaku hahaha!'


Bayangan itu lagi!!


Devi merasakan rasa sakit mulai menjalar ke kepalanya hingga ia jatuh bersimpuh di atas kotornya lantai yang bercampur dengan darah kering dan lumpur.


Argh!


Bukankah Devi sudah mengingat semuanya? Tapi kenapa masih terasa sakit? Apa ada hal lain yang belum diingat oleh Devi?


Devi mencoba menekan kepalanya sekuat mungkin untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya namun sepertinya sia-sia. Rasa sakit itu masih ada!


Perlahan sebuah memori kembali terputar di kepalanya.


'Aku harus membunuh orang yang telah membunuh ayah dan ibu!'


Devi menatap sebuah pisau di tangannya. Dengan tekad yang kuat, Devi pun memasuki rumah tersebut dengan sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Clek!


Crash!!!!


'Argh!!"


'Aku berhasil membunuh salah satu dari mereka!'


'Tangkap dia!! Jangan biarkan dia lolos!'


Devi berlari namun ia tertangkap.


'Lepaskan aku!!! Tolong lepaskan aku!!!'


'Untuk apa aku melepaskanmu? Bukankah kau ingin pergi menyusul kedua orangtuamu?'


'Aku tidak mau!'


'Hei kau cepat tahan tubuh gadis kecil ini, aku ingin sekali mengambil seluruh organnya dan akan kujual! Aku pasti akan kaya raya!! Ini adalah balasan setimpal dari apa yang dilakukan Banyu padaku hahaha!'


'Lihat anak buahku yang mati di tanganmu!!! Kau ini masih kecil sudah jadi pembunuh ya?!!!'


Air mata Devi mengalir dengan deras begitu ia mengingat kembali kejadian itu. Devi menatap kedua tangannya yang bergetar hebat bahkan kedua kakinya sudah terasa kebas dan tidak memiliki tenaga hanya untuk sekedar berdiri.


Devi ingat adegan selanjutnya di mana ia berhasil kabur dan berakhir mengalami kecelakaan. Namun kenapa Alby bilang padanya jika tidak pernah terjadi kecelakaan di sekitar sini? Apa Alby berbohong padanya?


Mungkin saat itu om Alby berada di kota mangkanya ia tidak tahu ada kecelakaan di sini.


Dengan susah payah Devi mencoba bangkit berdiri. Ia masih belum bisa mempercayai ingatannya. Apa benar ia pernah membunuh seseorang menggunakan tangannya sendiri?


Jadi pisau berdarah itu milikku? Lalu darah di lantai ini?


Jika benar, bukankah itu artinya ia tidak ada bedanya dengan Brama?


Devi menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menyangkal semua ingatannya.


"Ini pasti tidak benar! Aku tidak membunuh siapapun!!"


Devi memejamkan kedua matanya lagi mencoba mencari kebenaran dari ingatan yang baru saja ia ingat.


Gagal!


Devi tidak dapat mengingat apapun lagi!


Devi berulang kali memukul kepalanya namun hasilnya tetap sama. Tidak ada satu ingatan pun yang ia ingat lagi!


Devi segera bangkit berdiri. Ia berlari sekuat tenaga keluar dari rumah tua tersebut meskipun berkali-kali ia terjatuh karena kakinya yang masih terasa lemas.


Devi menangis tersedu-sedu. Bibirnya bergetar hebat, lidahnya sudah kelu dan kepalanya terasa berat. Devi jatuh tersungkur untuk yang kesekian kalinya.


"Dia pantas mati! Ayah dan ibu meninggal karena mereka. Dev, apa yang kau lakukan sudah benar. Kau tidak perlu menyesalinya," ujar Devi mencoba menghilangkan rasa bersalah dalam dirinya.


Namun detik selanjutnya ia kembali menangis dengan keras. Mau bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa manusia.


Dengan susah payah ia pun bangkit berdiri. Ia tidak boleh berada di tempat ini terlalu lama atau ia akan ketahuan.


*****

__ADS_1


"Non!! Non Devi dari mana saja? Saya mencari non Devi kemana-mana, lho ada apa ini non? Kenapa pakaian non Devi kotor sekali? Astaga non! Tangan dan lutut non Devi terluka."


Asep sangat terkejut begitu mendapati pakaian Devi penuh dengan lumpur. Bahkan lutut dan siku Devi juga ikut terluka.


"Aku terjatuh Sep. Maaf sepedamu jadi rusak."


Devi merasa bersalah telah membohongi Asep namun bagaimanapun juga ini adalah satu-satunya cara agar Asep tidak curiga padanya.


"Astaga non. Non Devi jatuh di mana? Lihatlah non Devi sampai terluka seperti ini! Non Devi tadi pergi ke mana?!!" cecar Asep.


"Hanya di sekitar sini saja. Aku hanya ingin bersepeda sebentar tapi begitu aku turun di tanjakan sana remnya tidak berfungsi dan aku menabrak pohon. Sep roda sepedamu lepas jadinya sepedamu kutinggal di sana," ucap Devi dengan pandangan kosong.


Sungguh saat ini hatinya sedang berkecambuk luar biasa.


"Jangan perdulikan sepedanya. Non Devi harus segera diobati."


Asep segera memapah Devi untuk segera masuk ke dalam rumah.


Begitu ia masuk, Ishwari yang saat itu sedang menelepon Alby pun sangat terkejut begitu melihat Devi yang baru saja tiba dengan kondisi berantakan.


Tak terkecuali Abimanyu yang juga berada di ruang tamu langsung berlari menghampiri Devi dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Astaga apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa terluka sayang?" panik Ishwari sampai ia lupa tidak mematikan sambungan teleponnya.


Devi terdiam sembari menunduk dalam. Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya.


"Non Devi jatuh dari sepeda nyonya," terang Asep.


"Kenapa tidak meminta Asep untuk menemanimu? Lihat sekarang tangan dan kakimu terluka! Tante sangat khawatir padamu begitu tante masuk ke dalam kamarmu kamu sudah tidak ada! Kamu pergi ke mana saja? Kenapa tidak berpamitan? Tante bahkan sampai menelepon Alby untuk bertanya keberadaanmu," cecar Ishwari dengan raut wajah khawatir yang kentara.


"Maaf tante, aku tidak ingin membangunkan tante Ishy dan om Abi jadinya aku menulis notes kecil jika aku pergi bersepeda dan menempelkannya di kulkas dapur," cicit Devi.


"Bi, apa bibi Jum melihat ada notes kecil di kulkas?" tanya Ishwari pada bibi Jum.


"Notes kecil?" Bibi Jum tampak mengingat-ngingat. "Ah saya lihat nyonya, maaf notes kecilnya terjatuh di lantai saya pikir itu sampah jadi saya membuangnya," terang bibi Jum.


Ishwari menoleh ke arah Devi dan mengelus lembut rambutnya.


"Kalau begitu cepat ganti pakaian dan setelahnya biar om yang obati lukamu," perintah Abimanyu.


"Ayo tante antar."


Devi menganggukkan kepalanya.


Devi meringis kesakitan begitu ia berjalan. Melihat Devi yang kesakitan, Abimanyu pun menghentikan langkah Devi.


"Biar om gendong saja."


Devi menurut dengan Ishwari yang mengekor di belakangnya.


"Dev," panggil Abimanyu.


"Hm?"


"Kaki dan tanganmu berdarah, apa kau sangat ketakutan begitu melihatnya?"


Devi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sebelum akhirnya ia menyembunyikan tangisnya di punggung Abimanyu.

__ADS_1


*****


__ADS_2