Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Datang Bulan


__ADS_3

Devi tersenyum bahagia begitu mendengar dari Alby jika hari ini Laudya tidak bisa menjadi tutornya karena kakinya masih sakit akibat terkilir tadi sore.


Devi sudah membayangkan betapa asyiknya menonton drama Korea kesukaannya sembari menikmati camilan serta minum cola, namun ternyata khayalannya langsung sirna begitu Alby memberitahunya jika Alby sendirilah yang akan menjadi tutornya sampai Laudya mengajar kembali.


Baru tiga puluh menit Devi belajar, Devi sudah berulang kali menguap dan tidak jarang ia tertidur begitu Alby menerangkan pelajarannya padanya. Tentu saja hal itu membuat Alby memijit keningnya pusing. Harus menggunakan cara apa supaya Devi mau belajar?!


"Perhatikan bukumu! Kenapa kau malah tidur?!!" tegur Alby sembari memukul meja menggunakan penggaris besinya.


"Om aku sangat mengantuk sekali. Om Alby lupa dua hari yang lalu om Alby melarangku untuk tidak tidur semalaman? Karena itu sekarang aku jadi mengantuk om," ujar Devi mencari alasan.


"Itu sudah dua hari yang lalu dan kau mengeluh rasa kantuknya sekarang? Kemarin kau kemana saja? Kenapa kemarin tidak mengeluh mengantuk padaku?"


Devi yang mendengarnya pun langsung mengerucutkan bibirnya menahan kesal dan mulai kembali fokus ke pelajarannya.


"Aku tidak akan mengijinkanmu berkencan dengan Raden sebelum kau masuk peringkat tiga besar," ancam Alby.


Raden? Tunggu dulu! Bukankah tujuan Devi pergi ke rumah sakit tadi sore adalah untuk bertemu Raden?!! Astaga bagaimana bisa Devi melupakan hal penting seperti itu?!!


"Kenapa?" tanya Alby begitu melihat perubahan raut wajah Devi yang tampak panik.


"Mana ponselku?" Devi pun langsung mencari ponselnya dan langsung membuka pesan Raden yang tadi belum sempat dibacanya.


'Sepertinya kau tidak datang, aku kembali bekerja dulu ya. Lain kali kubelikan es krim di kafe dekat rumah sakit sekalian ada hal yang ingin kuberitahukan padamu;)'


"Huaaa ini semua karena om Alby!!" teriak Devi histeris sembari bergulung-gulung di lantai.


"Aku kenapa?" bingung Alby.


"Gara-gara om Alby jalan berdua dengan tante Laudya, aku jadi melupakan janji temuku dengan kak Raden di kantin rumah sakit!!" kesal Devi namun detik berikutnya ia langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya karena ia keceplosan memberitahu Alby tentang niat awalnya.


"Oh jadi kau pergi ke rumah sakit untuk berkencan dengan Raden?"


"Bu..bukan begitu om! Ada hal yang ingin kutanyakan pada kak Raden, itu saja."


"Kenapa tidak bertanya lewat ponsel? Aku kan sudah melarangmu berkencan dan kau harus fokus belajar, tapi kenapa kau sama sekali tidak pernah menuruti perintahku atau menghindari laranganku?"


"Ini adalah hal penting om dan tidak dapat dibicarakan melalui ponsel," elak Devi.


"Seberapa penting hal itu? Coba beritahu aku," tantang Alby yang membuat Devi terdiam.


"Tidak mau!! Ini rahasia om! Om Alby tidak boleh tahu!"


"Oh jadi tidak mau memberitahu ya?" tanya Alby sembari berjalan mendekat kearah Devi.


Devi pun langsung bangkit dari lantai berniat untuk lari namun tangannya berhasil dicekal oleh Alby dan Alby langsung melemparnya ke ranjang.


Belum sempat Devi bangkit, Alby sudah lebih dulu menindihnya agar Devi tidak bisa kabur lagi. Kedua tangan Alby ia tumpukan tepat di samping kanan-kiri kepala Devi sehingga ia tidak dapat menoleh kearah manapun dan hanya bisa menatap kearah Alby.


"Apa yang ingin kau tanyakan pada Raden?" tanya Alby dingin.


Devi diam sembari menatap takut kearah Alby sehingga ia memilih untuk memejamkan matanya.


"Kenapa kau menutup matamu?"


"Takut."


"Buka!"


"Tidak mau!!" tolak Devi.


"Aku hanya ingin tahu alasanmu ingin menemui Raden, itu saja! Jika alasanmu karena ingin berkencan dengannya kau kan tinggal jawab, tidak perlu menunggu aku memaksamu," ujar Alby.


Devi pun membuka kedua matanya dan menatap Alby lama.

__ADS_1


Deg!


Ada sesuatu yang aneh yang tiba-tiba dirasakan oleh Devi. Mengapa jantungnya berdebar begitu menatap Alby? Perasaan macam apa ini?


"Kau beritahu aku atau aku telepon Gara untuk bertanya padanya langsung?" ancam Alby yang membuat Devi langsung tersadar.


Sebenarnya bukan apa-apa bagi Alby jika Devi ingin menemui Raden, hanya saja Alby ingin memastikan perihal apa yang ingin Devi sampaikan pada Raden. Alby takut jika ini berhubungan dengan amnesia yang Devi alami dan secara sembunyi-sembunyi Devi ingin bertanya lebih lanjut tentang amnesia itu pada Raden yang notabenenya seorang dokter.


"Aku akan memberitahu om Alby tapi om Alby jangan menelepon Gara."


Alby pun menganggukkan kepalanya menyetujui persyaratan Devi.


"Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada kak Raden," dusta Devi pada Alby. Devi tidak ingin Alby mengetahui niat awalnya bertemu dengan Raden karena bisa jadi Alby akan memaksanya melakukan pemeriksaan seperti tempo hari. "Aku takut om Alby memarahiku karena berkencan dengan kak Raden padahal nilaiku merah semua, mangkanya aku merahasiakan hal ini dari om Alby."


Alby pun menghembuskan nafasnya pelan. Ia pun bangkit berdiri dan duduk di tepi ranjang.


"Kalau begitu belajarlah agar nilaimu bagus jadi aku punya alasan untuk mengijinkanmu berpacaran dengan Raden," ujar Alby.


Devi pun segera bangkit dari ranjangnya dengan semangat. Rupanya kebohongannya berhasil dipercayai oleh Alby!


"Om Alby mau kucium tidak?" tanya Devi senang.


"Tidak. Cepat selesaikan belajarmu," tolak Alby.


Devi pun segera beranjak untuk segera belajar. Namun begitu bangun Devi merasakan ada yang aneh dengan celananya. Ia merasa celananya basah padahal ia tidak mengompol. Devi pun berbalik dan ia sangat terkejut begitu mendapati darah pada spreinya.


"Om!!!!" teriak Devi yang membuat Alby terjengkit kaget.


Alby yang saat itu sedang membuat latihan soal untuk Devi pun langsung membalikkan badannya dan mendapati Devi yang berteriak histeris.


"Ada apa?" tanya Alby khawatir.


"Om Alby jangan melihat kemari!!" tegur Devi disela tangisnya.


"Aku berdarah," tunjuk Devi sembari menangis.


Alby pun langsung melarikan pandangannya kearah yang ditunjuk Devi dan ia sangat terkejut begitu melihat darah di atas sprei Devi.


"Kau terluka?!" panik Alby sembari mengecek tubuh Devi.


"Tidak hiks."


"Lalu darah ap-" Alby tidak jadi menyelesaikan kalimatnya begitu ia tahu sesuatu. Alby melirik sekilas celana yang dipakai oleh Devi dan disana memang ada bercak darah.


"Hust tidak apa-apa. Jangan menangis," ujar Alby menenangkan Devi.


"Bagaimana ini om?" cicit Devi sembari terus menangis.


Alby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur saja juga tidak tahu harus bagaimana karena dia kan pria, manatahu dia hal-hal yang berbau perempuan seperti ini.


"Huaaaa darahnya tidak mau berhenti om. Apa aku akan mati kehabisan darah om?!!"


"Ti..tidak! Ka.kau tenang saja kau tidak akan mati. Ak..aku akan pergi membelikanmu pembalut. Kau tunggu disini, aku akan menghubungi bi Tari untuk membantumu," ucap Alby sedikit tergagap.


Alby pun segera pergi keluar ke mini market terdekat untuk membeli keperluan Devi dan Alby juga tidak lupa segera menghubungi bi Tari untuk meminta bantuan.


Sesampainya di minimarket, Alby pun segera pergi ke etalase khusus pembalut. Disana tersedia beraneka ragam merek yang malah membuat Alby kebingungan.


Alby menolehkan pandangannya ke sekelilingnya berharap ada orang yang membantunya meskipun dalam hatinya ia akan merasa malu begitu meminta tolong untuk memilihkan 'barang' itu.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?"


Alby mendesah lega begitu ada pelayan wanita yang mendekat kearahnya dan menawarkan bantuan padanya.

__ADS_1


"Untuk masa nifas istrinya ya mas?" tanya pelayan tersebut ramah.


"Bu..bukan."


"Oh untuk pacar ya mas? Wah romantis sekali," goda pelayan tersebut. Alby ingin sekali menenggelamkan pelayan wanita ini ke laut selatan biar sekalian menjadi tetangga nyi loro kidul!


"Bukan mbak. Ini buat adek saya yang baru pertama kali datang bulan," koreksi Alby.


"Oh untuk adik ya mas? Biasanya datang bulan pertama pasti lagi deras-derasnya. Kalau menurut saya lebih baik menggunakan pembalut yang ada sayapnya lalu-"


"Berikan saya satu tolong," potong Alby tidak ingin mendengar lebih lanjut penjelasan pelayan tersebut.


Pelayan tersebut pun langsung memberikan sebuah pembalut pada Alby. Setelah mendapatkannya, Alby pun segera beranjak pergi namun pelayan tersebut menghentikannya.


"Mas biasanya datang bulan pertama perut akan terasa sakit. Mas tidak mau beli kompres air hangat sekalian?"


Alby mengusap wajahnya kasar sembari tersenyum paksa kearah pelayan tersebut. Oh ayolah, yang Alby inginkan hanya ingin segera pergi dari tempat tersebut karena ia sudah merasa malu setengah mati hanya untuk membeli pembalut itu, tapi pelayan di hadapannya malah memberi penjelasan panjang padanya.


"Baiklah aku mau satu."


"Kompres ini-"


"Tidak perlu dijelaskan aku sudah tahu. Permisi."


*****


Raden menatap pria paruh baya di hadapannya dengan senyum tipisnya. Sudah lama ia tidak melihat pria dihadapannya ini dan ini kali pertamanya bertemu setelah lima tahun yang lalu. Setelah berita penangkapan ayahnya beredar luas di media sosial, Raden mengalami tekanan mental dan perundungan di sekolahnya sehingga pamannya terpaksa mengirim Raden untuk bersekolah ke luar negeri.


"Kau sudah dewasa rupanya. Bagaimana kabarmu?" tanya pria paruh baya bernama Brama.


"Jangan khawatirkan aku. Seharusnya ayah mengkhawatirkan diri ayah sendiri," ujar Raden sembari mengedikkan dagunya kearah luka lebam di sudut bibir Brama. "Cara bermain ayah kurang rapi mangkanya polisi dan Sean dapat menahan ayah dengan mudah," lanjut Raden yang membuat Brama mendongakkan kepalanya menatap putranya.


"Kau benar, padahal saksi utama tidak turut hadir menjadi saksi tapi si bajingan Sean tetap saja berhasil memenjarakanku," desis Brama marah.


"Kau harus segera menyingkirkan Devi sebelum ia mengingat semuanya. Jika dia mengingat kejadian itu maka bukan hanya aku saja yang semakin membusuk disini, tapi kau dan juga pamanmu juga akan turut andil."


Untung saja di dalam ruangan tersebut tidak ada petugas satupun yang berjaga karena mereka hanya mengamati dari luar pintu. Raden dan Brama bahkan harus melirihkan suaranya agar penjaga tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Ayah tenang saja. Devi menyukaiku dan kesempatan ini akan kugunakan sebaik-baiknya untuk menyingkirkannya. Aku akan bermain dengan bersih sebelum Devi mendapatkan kembali ingatannya," ujar Raden dengan aura menyeramkannya.


Ceklek!


"Ayah tenang saja, mulai besok aku akan memasang perangkap agar 'tikusnya' tidak bisa lepas," ujar Raden begitu seorang polisi datang membuka pintu karena curiga pada mereka berdua yang berbicara pelan.


"Apa yang kalian bicarakan?!!" tanya seorang petugas.


"Apa? Kami hanya berbicara tentang tikus. Di sekitar kami banyak sekali tikus dan aku meminta saran pada ayah perangkap apa yang cocok untuk menangkapnya," bohong Raden.


"Tapi kenapa harus berbisik-bisik?!! Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu kan?"


"Merencanakan apa? Aku hanya bertanya pada ayahku apa yang membuat seorang pria bahagia dan ayahku berbisik padaku jika harta dan wanita lah yang membuatnya bahagia. Aku bertanya seperti itu karena aku sekarang sudah dewasa dan butuh menikmati hidup tapi ternyata jawaban ayah benar-benar membuatku geli. Aku bertanya lagi pada ayah kenapa wanita yang membuat pria bahagia tapi ayah menjawabnya dengan hal vulgar. Itulah alasan kami berbisik-bisik. Lagipula aku juga tidak menyukai jawaban ayahku mangkanya aku mengalihkan pembicaraan tentang tikus," alasan Raden. Brama yang mendengar kecerdasan putranya pun tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Putranya benar-benar dapat diandalkan.


"Aku pulang dulu yah. Aku harus segera menyiapkan perangkap tikusnya," pamit Raden pada Brama.


"Beritahu ayah berapa tikus yang berhasil kau tangkap."


Tanpa menjawab perkataan ayahnya, Raden pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


Raden pun merogoh ponselnya dan mengirimi sebuah pesan pada Devi.


'Sepertinya kau tidak datang, aku kembali bekerja dulu ya. Lain kali kubelikan es krim di kafe dekat rumah sakit sekalian ada hal yang ingin kuberitahukan padamu;)'


"Let's play the game baby," ujar Raden sembari tersenyum mengerikan.

__ADS_1


*****


__ADS_2