
Tok! Tok!
"Hai, kau sudah mau pulang?" tanya Renata yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alby dan duduk di kursi yang berada di depan meja Alby.
"Hm," gumam Alby sembari memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.
"Devi salah paham padaku," ujar Renata sembari terkekeh kecil begitu mengingat ucapan Devi yang ia ucapkan padanya.
"Tentang apa?"
"Dia berpikir aku pacarmu," ujar Renata sembari tertawa. "Kau tahu, dia berjanji akan menjadikanku wanita satu-satunya untukmu. Itu konyol sekali haha," lanjut Renata.
"Kau yang membuatnya berfikir seperti itu. Jika dia tahu kelakuan aslimu, dia pasti menyesal berjanji seperti itu padamu," ujar Alby.
"Memangnya seperti apa kelakuan asliku? Aku ini selalu berperilaku baik tahu!"
"Tapi kau yang melaporkan rencana Devi dan dua temannya padaku. Jika dia tahu dia pasti kecewa padamu apalagi kau baru saja berpura-pura membelanya," cibir Alby.
"Aku tidak berpura-pura! Aku tulus membelanya, lagi pula kenapa perkataanmu kasar sekali pada seorang gadis SMA sepertinya! Kau tidak boleh berkata seperti itu padanya, kau harus mendidiknya dengan sedikit lebih lembut. Gadis kecil seperti dia tidak boleh dikasari apalagi hatinya mudah sekali terluka. Untuk masalah aku memberitahumu tentang rencana mereka, aku hanya ingin kau menasehatinya dengan baik saja bukan dengan marah-marah dan berbicara kasar seperti tadi. Kau ini bagaimana, sudah diberi Sean amanah untuk menjaga dan mendidik adiknya malah kau bentak-bentak dia! Aku sebagai calon kakak iparnya tentu saja tidak terima!"
"Kau yakin Sean akan kembali padamu?" tanya Alby serius.
"Tentu saja! Aku sudah mengajukan pengunduran diriku kemarin dan besok lusa aku akan langsung berangkat ke Singapura untuk merawatnya. Dia pasti kesepian dan tidak ada yang menemaninya apalagi merawatnya," ujar Renata yang tidak membuat Alby terkejut mengetahuinya karena Alby tahu seperti apa Renata. Jika ia jadi Renata, Alby pasti juga akan memilih resign dan menemani Sean melawan penyakitnya.
"Direktur menyetujuinya?" tanya Alby.
"Tentu saja! Bahkan tidak kurang dari tiga jam setelah aku mengajukan surat pengunduran diriku, dia sudah menyetujuinya. Direktur pasti senang karena penghambat putrinya akan pergi sekarang. Oh iya! Kau jangan sampai bersama si Laudya! Kau cari saja yang lebih baik darinya mengerti?"
"Dari awal aku memang tidak menyukainya. Kami hanya berteman saja," ujar Alby acuh.
"Justru pertemananmu itu yang membuatnya berharap padamu. Sudahlah, aku hanya ingin memberitahumu itu saja. Kau harus segera pulang, kasian Devi menunggumu di mobil. Kau juga harus minta maaf padanya. Oh iya ini ada buku untukmu, semoga kau bisa menjadi orang tua yang baik ya," ejek Renata sembari tertawa.
Alby menatap buku berjudul 'Cara Mendidik Anak dengan Baik dan Benar' dengan sedikit malas.
"Buku macam apa ini?"
"Tentu saja ini buku panduan untuk mengasuh Devi! Kau ini bagaimana! Sudahlah aku harus pergi, lusa kau harus mengantarku pergi ke bandara," perintah Devi sembari bangkit dari duduknya.
"Kenapa tidak naik taksi saja? Aku malas bolak-balik dari sekolah Devi ke bandara mengantarmu," tolak Alby.
"Kau ini tidak pengertian sekali pada sahabat baikmu yang akan pergi sebentar lagi! Lagi pula besok hari minggu sekolah libur!! Sudahlah, aku pergi sekarang. Besok aku sudah tidak masuk kerja jadi jangan merindukanku oke. Dadah muach!" Pamit Renata sembari melayangkan fliying kiss-nya pada Alby.
Alby menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Renata yang tidak ada bedanya dengan Devi, sama-sama masih anak-anak. Ngomong-ngomong soal Devi, Alby pun segera memasukkan buku pemberian Renata ke dalam ranselnya dan segera menggendongnya di punggung lalu bergegas pulang.
*****
Devi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sembari melihat ke sekelilingnya. Rupanya ia tadi ketiduran. Ia pun melirik ke arah jam tangan yang berada di tangan kirinya dan waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Tunggu dulu! Kenapa selarut ini aku masih ada di mobil ini? Apa om Alby tidak membangunkanku?
Devi pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah untuk memastikan di mana ia berada. Alangkah terkejutnya Devi begitu ia mendapati ia sedang berada di tengah-tengah jalan yang sepi di tengah hutan. Samar-samar ia mendengar sebuah suara.
Suara yang asing yang kini tengah memanggil namanya.
"Devi keluar kau!!"
Devi terperanjat kaget begitu sosok pria paruh baya dengan tubuh tegap itu memaksa membuka pintu mobilnya. Devi tidak dapat melihat wajah pria tersebut dengan jelas karena gelapnya malam.
"Cepat keluar sebelum kupecahkan kaca mobil ini!!!"
Devi semakin ketakutan begitu pria tersebut menggedor-gedor pintu mobilnya seolah ingin memecahkan kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
Siapa pria ini? Kenapa ia mencarinya?
Devi menutup telinganya ketakutan. Badannya bergetar hebat dan ia menutup telinganya agar tidak mendengar apapun dari luar, bahkan untuk berteriak pun Devi tidak bisa karena saking takutnya.
Seseorang tolong aku!
"Devi sayang tenanglah."
Devi segera menoleh ke arah kemudi. Di sana ada seorang pria yang cukup berumur sedang tersenyum lembut ke arahnya.
"Siapa?" tanya Devi sembari menangis. Devi tidak dapat mengenali siapa sosok tersebut tapi yang Devi yakini, pria yang berada di sampingnya ini adalah orang yang baik.
"Aku akan menyelamatkanmu. Kau tenang saja, kau akan aman."
Devi semakin menangis keras begitu melihat ketulusan pria itu yang ingin menolongnya. Devi benar-benar ketakutan dan untung saja ada pria misterius ini yang menolongnya.
"Pakai sabuk pengamanmu. Kita akan pergi dari sini!"
Devi pun menuruti perintah pria misterius itu dan mencoba mengabaikan gedoran di pintunya.
Mobil yang ditumpangi mereka pun segera melaju kencang meninggalkan sosok pria menyeramkan itu.
"Lihat mereka tidak dapat mengejar kita."
"Mereka?" Devi pun menoleh ke belakang dan begitu terkejut ketika ia tahu ternyata pria itu tidak sendirian. Di sana ada segerombolan orang lain berbaju hitam kini tengah menatap ke arahnya.
Yang Devi curiga, kenapa mereka tidak mengejarnya? Bukan! Bukannya Devi ingin dikejar tapi melihat mereka hanya diam saja begitu ia berhasil kabur adalah sesuatu yang patut dicurigai.
Begitu ia kembali menolehkan kepalanya ke depan, alangkah terkejutnya ia begitu melihat sebuah truk besar melaju kencang ke arahnya.
"Awass!!! Belokkan mobilnya, kita bisa tertabrak!!"
Devi sudah tidak dapat berkata-kata lagi begitu melihat senyum jahat itu terbit.
"Ka..kau ti..tidak menyelamatkanku?" tanya Devi terbata-bata.
"Pergilah dengan tenang sayang," ujar pria tersebut sebelum pada akhirnya ia melompat keluar dari mobil.
Brak!!!
Belum sampai sempat menghindar, truk besar itupun sudah menghantam mereka. Devi sudah tidak dapat merasakan apapun, semuanya gelap hingga ia mendengar seseorang tengah memanggilnya.
Om Alby?
"Dev!!"
"Devi!!"
"Devi bangun!"
Devi terbangun dengan nafas yang memburu disertai peluh yang membasahi keningnya. Wajahnya pucat pasi ketakutan belum lagi kedua tangannya juga ikut bergetar. Devi pun segera mengedarkan ke sekelilingnya dan melirik jam tangannya. Rupanya masih pukul tujuh malam dan ia berada di parkiran rumah sakit bukan di tengah hutan.
"Ada apa?" tanya Alby khawatir.
Bukannya menjawab, Devi malah menangis sesenggukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Alby yang melihat hal itu pun langsung berusaha menenangkan Devi dan memeluknya.
"Kau bermimpi buruk ya?" tanya Alby sembari mendekap Devi. Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dengan air mata yang masih menuruni kedua pipinya.
"Tidak apa-apa, itu semua hanya mimpi. Hust....tenanglah, ada aku di sini. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, mengerti?"
__ADS_1
Devi pun melepaskan pelukannya dan menatap Alby dengan mata sembabnya.
"Ada apa?" tanya Alby sembari menyisipkan anak rambut Devi ke belakang telinganya.
"Aku pasti sangat jelek sekarang huaaaa," ujar Devi sembari menangis kencang dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Tidak," ujar Alby sembari berusaha melepas tangan Devi yang menutupi wajahnya.
"Jangan berbohong om! Jika kak Raden tahu dia pasti tidak akan menyukaiku huaaa," ujar Devi menangis keras.
"Dengarkan aku," ujar Alby sembari berusaha menghentikan Devi yang terus saja menutupi wajahnya bahkan Devi juga membenturkan kepalanya ke pintu mobil.
"Dengarkan aku!" ujar Alby sembari menahan kepala Devi yang hendak membenturkan kepalanya lagi menggunakan sebelah tangannya.
"Dengarkan aku, Raden tidak di sini. Dia tidak melihatmu dalam kondisi seperti ini sekarang. Hanya aku, hanya ada aku di sini jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," ujar Alby yang membuat Devi menghentikan aksinya dan menatap Alby dalam.
"Lagipula kau tidak terlalu jelek kok," lanjut Alby yang membuat Devi menangis lagi.
"Kenapa? Ada apa? Apa kepalamu sakit?" tanya Alby panik sembari memeriksa kepala Devi.
"Apa artinya tidak terlalu jelek om?"
"Artinya kau cantik. Sudah jangan menangis lagi," ujar Alby sembari mengusap air mata Devi menggunakan tisu yang memang sudah tersedia di dalam mobilnya.
"Om Alby pasti berbohong," cicit Devi.
"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi menurutku kau itu tetap cantik saat menangis ataupun tidak. Tapi aku menyukai saat kau tertawa, kau seratus kali lebih cantik saat tertawa," ujar Alby sembari menatap Devi tepat pada manik matanya.
"Aku rindu kakak," ucap Devi pelan.
"Ini ada aku. Aku kan kakakmu," ujar Alby sembari tersenyum.
"Kakak palsu. Om Alby kan sering memarahiku," cibir Devi.
"Baiklah, aku minta maaf," ujar Alby.
"Aku memaafkanmu," jawab Devi.
Alby tersenyum lega begitu melihat keadaan Devi sudah sedikit membaik. Entah apa yang dimimpikan Devi, namun Alby yakin itu bukan sesuatu yang baik mengingat Devi langsung bergetar ketakutan begitu bangun dari tidurnya.
"Sudah malam, ayo kita pulang," ujar Alby sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Om jangan bilang ke siapapun terutama kak Raden ya?"
"Iya," jawab Alby.
"Janji?"
"Janji."
"Om Alby memang kakak terbaik," puji Devi sembari mengacungkan jari jempolnya pada Alby.
"Apa yang kau mau?" tanya Alby malas. Tidak mungkin seorang Devi memujinya tanpa suatu imbalan.
"Aku ingin menemui kak Raden. Aku ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya," ujar Devi sembari menghela nafasnya.
"Baiklah. Kau boleh menemuinya," ujar Alby. Alby sadar remaja seusia Devi memang masih gencar-gencarnya merasakan yang namanya jatuh cinta dan ia tidak akan menghalangi Devi apalagi sampai melarangnya karena tugas dia hanya untuk menjaga dan mendidiknya saja tidak lebih. Oh tunggu dulu! Apakah mengijinkan Devi pacaran di usianya yang masih remaja termasuk mendidiknya dengan baik? Tentu saja tidak! Alby juga tahu hal itu, lagi pula Alby hanya menginjinkan Devi bertemu dengan Raden untuk memberi kesempatan Devi meminta maaf pada Raden dan menjelaskannya, bukankah sebenarnya seseorang yang dibohongi dan dirugikan dalam kasus ini adalah Raden? Ya, Alby tahu itu makanya ia memberi ijin Devi dengan mudah. Seseorang yang bersalah memang harus meminta maaf bukan?
"Semudah itu? Kau ingin aku cium atau aku peluk om??" tanya Devi bersemangat begitu menjadapatkan ijin dari Alby untuk menemui Raden. Bahkan kedua tangannya sudah bersiap hendak memeluk Alby dari arah samping.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!" jawab Alby singkat, padat, jelas dan tegas.
*****