
Tok! Tok!
Devi menoleh ke arah pintu kamarnya dengan kesal namun ia sama sekali tidak berniat membukakan pintu. Ia tahu siapa yang mengetok pintu kamarnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Alby. Tapi Devi masih marah pada Alby karena Alby meminta Laudya dan si menyebalkan Jessica untuk mampir ke rumahnya.
Semakin lama suara ketokan pintunya terdengar semakin keras dan suara Alby yang memanggil-manggil minta dibukakan pintu pun membuat Devi semakin kesal. Devi pun membanting boneka Totonya dan segera berdiri dari ranjang sembari menutup telinganya menggunakan kedua tangannya berharap agar ia tidak mendengar suara Alby lagi.
"Dev buka pintunya!"
Devi masih diam bergeming dan semakin menutup telinganya rapat.
"Aku bisa saja membuka pintu ini menggunakan kunci cadangan, hanya saja aku ingin memintamu dengan baik-baik agar kau membuka pintunya sendiri!!" teriak Alby dari luar kamar.
"Buka saja kalau memang punya kuncinya," cibir Devi pelan yang tentu saja tidak dapat di dengar oleh Alby.
Ceklek!
Devi langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang ternyata memang bisa dibuka oleh Alby dengan mudah. Segera saja Devi langsung melompat ke atas tempat tidur dan berpura-pura tidur. Pokoknya hari ini ia mogok berbicara dengan Alby!!
"Dev," panggil Alby mendekat ke arah ranjang lalu duduk di pinggirannya.
"Kau sudah tidur?"
Refleks Devi langsung mengeluarkan suara dengkuran halusnya agar Alby percaya jika ia sudah tertidur lelap.
"Aku tahu kau belum tidur. Matamu kelihatan berkedip-kedip," ujar Alby terkekeh geli yang langsung membuat Devi membuka matanya lebar-lebar dan menatap Alby dengan kesal.
"Ada apa? Apa kau marah padaku? Aku baru saja tiba dari perjalanan jauh lho Dev dan bahkan kita sudah tidak bertemu lebih dari dua minggu, kau tidak merindukanku?" tanya Alby sembari duduk di pinggiran ranjang milik Devi.
"Tidak," jawab Devi cepat.
"Tidak apa? Tidak marah atau tidak rindu?" goda Alby.
"Aku marah padamu dan aku tidak merindukanmu!" jawab Devi penuh penekanan.
"Jahat sekali."
Devi pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersila menatap ke arah Alby dengan bersilang dada.
"Kenapa om Alby membawa tante Laudya dan Jessica kemari? Bukankah om Alby tahu aku tidak menyukainya?"
"Kau marah karena itu?"
"Bukan hanya itu, ada banyak sekali alasan dan akan memakan waktu sampai tahun depan untuk memberitahukannya pada om Alby," jawab Devi sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kalau begitu aku akan mendengarkanmu sampai tahun depan. Sekarang coba beritahu aku apa saja yang membuatmu kesal padaku?" tanya Alby lembut.
"Om Alby pasti mengenalkan tante Laudya ke hadapan om dan tante sebagai pacarnya om Alby. Benar kan?"
"Benar. Laudya kan memang pacarku," jawab Alby sedikit bingung. Memangnya apa yang salah dengan hal itu?
"Om Alby menyukai tante Laudya ya?" tanya Devi.
Alby terdiam.
"Om Alby tidak menyukainya," ujar Devi mengambil kesimpulan sendiri begitu melihat ekspresi Alby.
"Aku menyukainya. Mana mungkin aku menjadikannya sebagai pacarku kalau aku tidak menyukainya?" koreksi Alby yang membuat Devi semakin kesal.
"Kalau begitu aku juga akan berpacaran saja dengan kak Raden. Aku juga yakin kak Raden pasti masih menyukaiku," ucap Devi tidak memperdulikan tatapan tajam dari Alby.
"Tidak boleh!" larang Alby tegas.
"Kenapa tidak boleh? Om Alby saja boleh berpacaran dengan tante Laudya dan bahkan sudah mengenalkannya pada orang tua om Alby, kenapa aku tidak?" balas Devi membalas tatapan Alby.
__ADS_1
"Raden dan Laudya adalah orang yang berbeda. Raden pernah memiliki niat untuk membunuhmu tapi Laudya tidak! Kau masih ingin berpacaran dengannya?"
"Tapi kak Raden menyukaiku dan tante Laudya tidak! Tante Laudya terang-terangan memintaku untuk menjauhimu om dan dia juga memberi peringatan padaku untuk tidak mendekatimu, tapi kak Raden tidak. Kak Raden tidak pernah memintaku untuk menjauhimu," jawab Devi cepat.
"Itu karena Raden menganggap aku sebagai kakakmu. Aku kalau jadi Raden juga akan mengganggap wajar hubungan kita berdua dan tidak akan memintamu untuk menjauhiku," ujar Alby.
"Bukankah seharusnya hal itu juga berlaku pada tante Laudya? Seharusnya tante Laudya juga bisa seperti kak Raden," balas Devi tidak mau kalah.
"Berhenti membela Raden!" tegur Alby mulai marah.
"Om Alby juga harus berhenti membela tante Laudya!!" balas Devi.
Kini keduanya saling tatap dengan nafas memburu menahan amarah mereka masing-masing. Ah tidak, lebih tepatnya Alby-lah yang mencoba menahan emosinya begitu ia teringat dengan kondisi Devi.
"Baiklah aku minta maaf," ujar Alby pada akhirnya.
Devi masih diam bergeming mengabaikan permintaan maaf dari Alby. Tentu saja karena Devi masih kesal dengan Alby.
"Oh iya aku sudah membelikanmu kelinci lho," ujar Alby memperbaiki suasana.
"Kelinci?"
Berhasil! Devi sudah tidak terlihat marah lagi dan sekarang ia malah terlihat antusias.
"Hm. Bukankah dulu aku berjanji akan membelikanmu kelinci sebagai ganti siput beracun pemberian Raden yang mati di tanganku?"
"Lalu di mana kelincinya?"
"Ada, aku sudah meminta Asep untuk menyimpannya. Besok saja kita lihat bersama, sekarang sudah malam," jawab Alby lembut.
"Aku mau sekarang!"
"Besok saja, sekarang sudah gelap," tolak Alby dan tiba-tiba saja ia menyesal memberitahu Devi jika ia sudah membelikannya seekor kelinci.
"Aku tidak mau belajar om," tolak Devi mentah-mentah.
"Setelah lihat kelinci baru belajar," ralat Devi cepat begitu melihat Alby melototkan kedua matanya kepadanya. Mau bagaimanapun juga Devi masih memiliki rasa takut pada Alby.
Alby menghela nafasnya lelah. Mau tidak mau ia harus menuruti keinginan balita di hadapannya ini.
"Baiklah, ayo. Kau pakai jaket dulu biar tidak kedinginan."
Setelahnya ia pun mengantar Devi ke tempat di mana kelinci itu berada.
*****
Alby memijit keningnya pening dan sedikit frustasi begitu melihat kelinci yang berlarian kesana-kemari di dalam kamar begitu Devi mencoba menangkapnya.
Tadi begitu Alby menunjukkan kelinci pemberiannya, Devi langsung meminta kelinci tersebut di bawa masuk ke dalam rumah saja dan tentu saja Alby langsung menolaknya.
Bukan Devi namanya jika ia menuruti Alby begitu saja, Devi tetap bersikukuh ingin membawanya masuk dan tidak akan belajar sebelum Alby menuruti keinginannya. Alhasil, Alby pun mengijinkannya dengan catatan kelinci tersebut tetap harus berada di dalam kandang kecil khusus dan tidak boleh dilepaskan di dalam rumah.
Namun nyatanya sekarang kelinci itu terlepas begitu Devi membuka pintu kandang tersebut diam-diam tanpa sepengetahuan Alby karena ia ingin sekali mengelus bulu lebatnya sebentar.
"Om bantu aku menangkapnya!!" rengek Devi sembari mengusap peluh yang membanjiri keningnya.
"Tangkap sendiri saja jangan minta bantuanku," tolak Alby.
"Om Alby jangan begitu, aku kan tidak sengaja membuka kandangnya," pinta Devi lagi.
"Tidak sengaja apanya? Engsel kandang itu tidak akan lepas sendirinya jika kau hanya menyenggolnya. Sudahlah, kau tangkap sendiri saja."
"Om."
"Kan sudah kubilang jangan dibawa masuk ke dalam rumah tapi kau ngotot ingin membawanya dan malah kau bawa masuk ke dalam kamarmu. Sekarang lihat apa akibatnya jika kau tidak menuruti perintahku."
__ADS_1
"Aku membawanya masuk ke dalam kamar karena takut ketahuan om Abi dan tante Ishy," jawab Devi tanpa menghentikan usahanya menangkap kelincinya.
"Dan karena hal itu kamarmu menjadi kotor dan berantakan. Memangnya kau tidak tahu jika kelinci bisa menyebabkan penyakit tularemia? Penyakit itu-"
"Om Alby jangan hanya duduk diam dan mengomel di atas kasurku dong! Bantu aku!!" potong Devi kesal karena Alby hanya sibuk mengomel dari pada membantunya.
Alby mengedipkan matanya beberapa kali begitu mendengar Devi berani memotong perkataannya, sebelum ia melihat Devi yang sudah kelelahan dengan keringat yang membanjiri dahinya membuatnya kasihan.
"Aku tidak bawa sarung tangan dan aku tidak mau memegangnya dengan tangan telanjang," ujar Alby beranjak turun dari ranjang.
Alby membuka laci di sampingnya dan di sana terdapat sarung tangan latex yang sebelumnya memang ia siapkan untuk mengobati luka bekas operasi Devi namun ternyata ia malah tidak pulang dua minggu dan berakhir ayahnya lah yang mengobati luka Devi.
"Om Alby mau menangkap kelinci atau operasi?" cibir Devi.
"Diamlah, aku tidak akan membantumu jika cerewet seperti itu."
Devi pun menutup mulutnya rapat-rapat.
Alby mengambil wortel yang berada di dalam kandang kelinci tersebut dan mengeluarkannya, lalu ia meletakkannya di atas lantai.
"Jika kau menangkapnya seperti itu kelincinya tidak akan bisa tertangkap dan yang ada kau capek sendiri mengejarnya. Lihatlah caraku ini," ujar Alby.
Devi terdiam dan memperhatikan apa yang dilakukan Alby. Benar saja, tidak lama kemudian kelinci tersebut berjalan mendekat ke arah wortel tersebut dan memakannya. Cepat-cepat Alby segera menangkapnya berniat untuk segera memasukkannya ke dalam kandang.
"Om jangan dimasukkan kandang dulu!" cegah Devi begitu Alby membuka kandang.
"Kau mau apa lagi?"
"Serahkan kelincinya padaku dulu," ujar Devi sembari mengulurkan tangannya pada Alby.
"No. Nanti jika dia lepas lagi bagaimana?"
"Tidak, om Alby tenang saja. Cepat berikan padaku om."
Mau tidak mau Alby pun menyerahkan kelincinya kepada Devi.
Devi pun segera mengambil ponselnya dan meletakkan kelinci tersebut di atas meja belajarnya.
"Kenapa kau meletakkan kelincinya di sana? Mejamu bisa kotor Dev! Dan kenapa kau memegang ponselmu padahal kau belum cuci tangan?!!" tegur Alby.
"Hust om Alby jangan cerewet. Aku hanya ingin berfoto sebentar lalu setelahnya aku akan cuci tangan dengan bersih kok," ujar Devi seraya berfoto bersama kelincinya.
"Karena kamu pandai berlari kuberi nama kamu Naruto ya," ujar Devi berbicara pada kelinci peliharaannya.
"Dia betina," ujar Alby begitu mendengar nama yang diberikan Devi pada kelincinya.
Devi menoleh sebentar sembari berdecak kesal. Kenapa baru bilang sekarang?!!
"Biar deh kalau begitu. Jantan maupun betina sama saja, namamu tetap Naruto," ujar Devi seraya mengelus lembut bulu Naruto.
"Sudah cepat masukkan ke dalam kandang dan segera pergi mandi. Malam ini kamarmu sudah tidak bisa digunakan lagi, kau gunakan saja kamar tamu untuk sementara sampai kamarmu selesai dibersihkan," ujar Alby menginterupsi.
"Iya-iya om."
Devi pun berjalan dan berniat memasukkan Naruto ke dalam kandang kecilnya, namun pada saat ia hendak membuka kandangnya Naruto terlepas.
"Om Naruto lepas lagi, bantu aku menangkapnya!!!"
"Gezz harusnya aku tidak membelikannya kelinci!!"
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)
__ADS_1