
Devi memasang wajahnya dengan serius. Kini di hadapannya ada Arin yang juga menatap Devi dengan serius pula sedangkan Gara menatapnya dengan malas. Mereka sedang berada di ruang perpustakaan.
Pagi tadi begitu Devi tiba di sekolah, Devi langsung menyeret Gara dan juga Arin agar mengikutinya ke perpustakaan. Awalnya Gara menolak karena ia tidak mau terlibat lagi dengan misi bodoh mereka seperti dulu namun karena Devi mengancam akan menggigitnya Gara pun terpaksa mengikutinya.
"Kali ini apa lagi?" tanya Gara membuka pembicaraan.
"Aku ingin membuat sebuah misi." Devi menatap serius ke arah Gara.
"Misi apa? Ini tentang kak Raden lagi?" tebak Arin.
"Bukan, ini tentang om Alby," jawab Devi.
Gara yang mendengarnya pun mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa jadi Alby? "Ada apa dengan om Alby?"
"Malam ini om Alby akan makan malam bersama tante Laudya. Aku tidak mau hal itu terjadi!"
"Memangnya kenapa?" tanya Arin bingung.
"Pokoknya aku tidak mau om Alby dekat-dekat dengan tante Laudya! Kalian harus membantuku menggagalkan rencananya," ujar Devi mantap.
"Kau menyukai om Alby ya?" tebak Gara sembari memicingkan matanya ke arah Devi.
Devi terdiam sejenak dan mencerna perkataan Gara. Apakah mungkin rasa tidak suka melihat Alby berdekatan dengan Laudya adalah bentuk rasa sukanya pada Alby? Tapi apakah mungkin? Bukankah seseorang yang disukainya adalah Raden?
"Tidak! Aku menyukai kak Raden!" ralat Devi.
"Kalau begitu kenapa kau tidak pergi berkencan saja dengan kak Raden mumpung om Alby bersama tante Laudya?" tanya Gara yang membuat Devi terdiam dan berpikir lagi.
Yang dikatakan Gara benar, kenapa ia tidak memanfaatkan hal ini saja untuk berkencan dengan Raden? Mumpung Alby sedang sibuk pergi bersama Laudya seharusnya ia juga pergi kencan saja dengan Raden.
"Ah kau benar! Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak pergi berkencan saja dengan kak Raden, lagi pula tempo hari kan aku tidak jadi pergi ke restoran mewah gara-gara om Alby. Coba ku tanya dulu kak Raden, dia ada waktu atau tidak," ujar Devi sembari mengetik pesan untuk Raden.
Di sisi lain Raden yang baru saja ikut Alby menangani pasien pun duduk di samping Alby untuk beristirahat sejenak karena sebentar lagi ia akan mengikuti Alby yang akan melakukan operasi.
"Huft."
"Kenapa? Lelah?" tanya Alby pada Raden.
"Tidak dok, hanya sedikit gerah saja," jawab Raden sopan.
"Kukira kau lelah, padahal aku baru saja ingin mengataimu remaja jompo," ujar Alby sembari meminum minuman kalengnya. Raden tersenyum mendengar perkataan Alby.
Keduanya pun terdiam satu sama lain dengan pikiran Alby yang terus berpikir mencari cara untuk menggagalkan niat Raden yang akan mencelakai Devi. Selain itu Alby juga ingin tahu apa alasan sebenarnya Raden ingin mencelakai Devi.
"Hari ini apakah kita berjaga sampai malam dok?" tanya Raden pada Alby.
"Tidak. Malam ini Renata yang akan berjaga. Kau bisa istirahat dengan Fitra," jawab Alby yang diangguki oleh Raden.
"Ehm dok maaf bukankah dokter Renata adalah dokter spesialis onkologi, kenapa beliau berada di gawat darurat?"
Alby menatap ke arah Raden sekilas sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Raden. "Hanya mencari kesibukan untuk melupakan sesuatu."
Alby ingat kemarin begitu ia selesai mengobati preman-preman yang terluka, Alby menghampiri Renata dan menanyakan apa alasan Renata pindah dari onkologi ke gawat darurat. Renata mengatakan jika ia merasa tersiksa jika berada di onkologi. Bayangan Sean terus saja muncul setiap kali ia mendapat pasien penderita kanker. Renata berpikir tidak ada gunanya ia menjadi dokter onkologi sejak kematian Sean.
Ting!
Raden merogoh ponselnya dan membuka pesan dari Devi yang mengajaknya pergi keluar makan malam. Alby yang berada di sampingnya pun tidak sengaja melihatnya dan langsung membulatkan kedua matanya begitu Raden menyetujuinya.
Alby yang melihat Renata sedang berbincang dengan suster pun langsung memanggilnya. Alby harus berbuat sesuatu agar Raden tidak jadi menemui Devi.
"Ta!"
Renata membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke arah Alby.
"Hari ini waktunya kau jaga malam kan?" tanya Alby yang dijawab anggukan kepala oleh Renata. "Malam ini Raden dan Fitra akan menemanimu."
"Eh? Bukankah tadi dokter Alby bilang malam ini saya bisa beristirahat?" bingung Raden.
"Aku berubah pikiran. Ta, malam ini kuserahkan siput dan udang padamu."
"Udang?" Raden tidak perlu bertanya siapa siput karena ia sudah tahu itu adalah panggilan Alby pada Fitra, tapi udang? Siapa udang?
__ADS_1
"Ada masalah? Bukankah otakmu seukuran otak udang?" tanya Alby yang membuat Renata menahan tawanya.
"Ti..tidak dok. Baiklah saya akan ikut dokter Renata jaga malam."
Dengan sedikit kesal, Raden pun mengirim pesan pada Devi jika ia tidak jadi pergi karena ia harus jaga malam bersama Renata. Selain itu Raden juga kesal mengingat pemberian siput beracunnya pada Devi belum terealisasikan.
*****
"Yes!!! Kak Raden bisa!" senang Devi sembari memperlihatkan pesan Raden.
"Jadi?"
"Jadi apa? Tentu saja misinya batal. Malam ini aku mau berkencan dengan kak Raden, biar saja om Alby pergi dengan tante Laudya."
Gara dan Arin memutar bola matanya malas dan memilih untuk kembali ke kelas saja dari pada tetap berada di perpustakaan bersama Devi.
Begitu keduanya masih berada di ambang pintu, teriakan Devi membuat mereka terjengkit kaget dan menghentikan langkahnya.
"Arin! Gara!! Kak Raden tidak jadi bisa pergi!!! Huaaa ayo kita buat misi!!!" teriak Devi heboh yang langsung mendapat teguran dari siswa dan penjaga perpustakaan.
"Jangan berisik ini perpustakaan. Kalau ingin teriak-teriak sana ke lapangan!!" tegur penjaga perpustakaan.
*****
Dengan bermodalkan informasi dari Renata di mana tempat Alby dan Laudya makan malam. Kini Devi, Arin dan juga Gara sudah berada di restaurant tinggal menunggu kedatangan Alby.
Mereka bertiga memilih tempat VIP yang ruangannya dikelilingi kaca one way yang memungkinkan mereka dapat melihat kondisi luar namun orang luar tidak dapat melihat ke dalam.
Kini ketiganya sedang siaga kalau-kalau Alby dan Laudya sudah tiba. Devi sudah memikirkan rencana ini matang-matang dan kali ini mereka tidak boleh ketahuan.
"Kau dapat uang darimana untuk membayar VIP room seperti ini?" tanya Gara curiga.
"Dengan kartu kak Sean," jawab Devi singkat dengan mata yang terus saja mengawasi pintu masuk restaurant.
Tidak lama kemudian, Arin melihat kedatangan Alby dan Laudya yang tampak bergandengan tangan. Keduanya tampak serasi dengan pakaian casualnya.
"Dev mereka sudah datang!!" ujar Arin sembari memukul bahu Devi heboh.
Gara yang awalnya tampak acuh pun langsung ikut mendekat ke arah kaca untuk melihat Alby dan Laudya.
"Kenapa mereka bergandengan tangan?" tanya Devi jengkel.
"Mungkin saja mereka sudah berpacaran," ujar Gara yang langsung mendapat tatapan tajam dari Devi dan juga Arin.
"Kita harus melakukan sesuatu. Ayo cepat lakukan misi A," ujar Devi menginterupsi.
"Kenapa buru-buru sekali? Biarkan mereka memesan makanan terlebih dahulu," ucap Gara menghentikan Devi.
Meskipun sedikit tidak sabar, pada akhirnya Devi pun menuruti Gara. Mereka menunggu sampai Alby memesan makanan.
Begitu mereka melihat Alby dan Laudya selesai memesan makanan, Devi pun meminta Arin untuk segera keluar dan pura-pura sedang mencari keberadaannya.
Arin pun segera keluar sesuai intruksi dari Devi. Ia berjalan ke arah meja Alby dan berpura-pura sedang menelepon Devi.
"Dev kau di mana?!! Aku sedari tadi keliling restaurant untuk mencarimu tapi kau tidak ada! Kau tidak membodohiku kan?" ujar Arin dengan suara keras agar Alby dapat mendengarnya.
Alby yang berada di belakang Arin pun langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Arin.
"Lho om Alby? Om Alby di sini?" tanya Arin mematikan ponselnya dan duduk di sebelah Alby.
"Kenapa kau ada di sini?" bingung Alby.
Belum sampai Arin menjawab, Devi sudah berjalan mendekat ke arah Arin dan pura-pura tidak mengetahui keberadaan Alby.
"Arin!! Kenapa kau duduk di sini? Meja kita ada di sebelah sana. Ayo, Gara bisa mengamuk jika kita tidak cepat ke sana," ajak Devi sembari menarik tangan Arin.
"Lho bersama Gara? Kukira dengan om Alby?" Arin memasang wajah bingungnya sembari menunjuk ke arah Alby dan Laudya.
"Om Alby?" Devi langsung membalikkan badannya dan pura-pura terkejut dengan adanya Alby dan Laudya.
"Lho om Alby dan tante Laudya ada di sini?" tanya Devi yang dibalas anggukan oleh Laudya.
__ADS_1
Devi tahu Laudya tampak terkejut dengan kedatangannya dengan Arin. Tapi Devi malah senang melihat hal itu.
"Kau tidak mengikutiku kan?" curiga Alby memicingkan matanya.
"Mengikuti apanya? Aku sudah tiba di sini lebih dulu om dan aku memesan VIP room, tanya saja pada Gara. Gara sudah ada di sana," elak Devi.
"Lalu kenapa tidak minta ijin padaku kalau mau pergi bersama Gara dan Arin?" tanya Alby.
"Aku tidak mau mengganggu waktu berkencanmu dengan tante Laudya om. Lagipula awalnya aku kemari bersama kak Raden namun tiba-tiba ia tidak bisa karena perseptor gilanya menyuruhnya untuk jaga malam. Jadinya aku mengajak Arin dan Gara," jelas Devi dengan tenang. Memang benar kan awalnya Devi mengajak Raden untuk makan malam namun Raden tidak bisa.
"Apa katamu? Perseptor gila?" ulang Alby seolah tidak terima dikatai gila oleh Devi.
"Iya. Ah sudahlah jangan membahas kak Raden. Oh iya tante Laudya mau tidak bergabung bersama kami? Kami terlanjur memesan banyak makanan dan kami bingung siapa yang akan menghabiskannya," ajak Devi sembari memeluk lengan Laudya.
Laudya tampak tidak ingin ikut namun Devi mengeluarkan senyuman paksanya agar Laudya mau ikut.
"Tidak. Laudya di sini saja, kalau kau mau makan bersama Arin dan Gara di sana silahkan saja. Biar Laudya bersamaku," tolak Alby sembari meminta Devi melepaskan pelukannya dari lengan Laudya.
"Om..." rengek Devi.
"Bukankah kau kemari ingin makan bersama Arin dan Gara? Kenapa jadi mengajak Laudya? Kau kemari bukan karena ingin mangacaukan kencanku kan?" tanya Alby menatap tajam Devi.
Kencan? Laudya menatap ke arah Alby dengan mata berbinar. Apa Alby mengajaknya makan malam bersama itu karena Alby ingin berkencan dengannya? Astaga membayangkannya saja sudah membuat Laudya senang bukan main.
"Kenapa om Alby berbicara seperti itu? Kalau tidak mau ya sudah, tidak perlu menyakiti perasaanku. Ayo Arin kita pergi!"
Devi segera melepaskan lengan Laudya dan menarik tangan Arin yang duduk di sebelah Alby.
Ting!
Devi menghentikan langkahnya begitu ia mendapat pesan dari Raden. Ia segera membuka pesan dari Raden dan hal itu tidak luput dari pandangan Alby.
"Arin kau pergi ke VIP room nomor 2 dulu ya, ada Gara di sana. Aku harus pergi ke rumah sakit, kak Raden bilang ada sesuatu yang ingin ia berikan padaku. Karena kak Raden tidak bisa kemari, ia memintaku untuk mengambilnya sendiri ke sana," pamit Devi sebelum akhirnya Devi segera berlari keluar dari restaurant.
"Lho Dev rencana kita bagaimana?!" teriak Arin begitu Devi mulai menjauh.
"Batalkan saja!" balas Devi dari kejauhan.
Alby yang melihat Devi berlari keluar restaurant dan berniat menemui Raden pun tidak bisa tinggal diam. Alby menebak-nebak sesuatu seperti apa yang hendak Raden berikan pada Devi hingga meminta Devi datang menemuinya di rumah sakit.
"Laudya kau bergabung bersama mereka dulu saja ya? Aku harus kembali ke rumah sakit, aku lupa ada satu pasien yang harus kuperiksa. Setelah selesai aku akan kemari untuk menjemputmu. Arin aku titip Laudya padamu." Alby segera berlari menyusul Devi.
"Lho om?"
Arin menatap kepergian Alby dengan bingung, begitu juga dengan Laudya. Apa Alby benar-benar meninggalkannya bersama gadis SMA di hadapannya ini yang bahkan namanya saja ia tidak tahu?
Laudya menyadari raut wajah panik Alby begitu mendengar Devi hendak pergi ke rumah sakit menemui Raden.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apa Alby pergi menyusul Devi dengan alibi lupa memeriksa pasien? Alby adalah dokter yang profesional dan mementingkan keselamatan pasiennya jadi tidak mungkin Alby melupakan pemeriksaannya.
"Tante? Ayo kita pergi ke VIP room," ajak Arin yang menyadarkan lamunan Laudya.
"Tidak perlu. Aku pulang saja, jika Alby kembali beritahu saja kalau aku ada urusan mendesak," ujar Laudya sembari melangkahkan kakinya pergi.
Arin dapat melihat raut wajah kecewa bercampur kesal Laudya. Tentu saja, memangnya siapa yang tidak kecewa dan kesal jika acara kencannya berantakan begitu saja? Jika itu Arin, Arin juga pasti akan kesal.
"Lho di mana yang lain?" tanya Gara yang berjalan menghampiri Arin.
"Pulang semua. Sudahlah ayo kita habiskan makanannya, kapan lagi kita bisa makan enak gratis seperti ini," ajak Arin pada Gara.
"Gratis ya?" Gara tertawa frustasi yang justru membuat Arin melihatnya ngeri.
"Semua makanannya belum dibayar dan uangku kurang," ujar Gara sembari tersenyum.
"Apa?!!!" teriak Arin frustasi karena ia juga tidak membawa begitu banyak uang dan bisa-bisanya Devi pergi begitu saja tanpa meninggalkan uang sepersen pun.
"Lain kali jangan melibatkanku dalam misi kalian lagi. Setiap kali aku ikut, misi tersebut selalu berakhir sial."
Arin hanya membalas perkataan Gara dengan mengerucutkan bibirnya. Siap-siap saja sebentar lagi mereka berdua akan menjadi tukang cuci piring dadakan.
__ADS_1
*****