
Begitu tiba di rumah sakit, Alby langsung menuju ruang IGD. Namun sebelum itu ia sudah mensterilkan kedua tangannya terlebih dahulu.
Begitu ia datang, Raden dan Fitra sudah ada di dalam ruang IGD tersebut dengan beberapa dokter lainnya. Alby menatapnya sekilas.
"Jelaskan kondisi pasien!" perintah Alby sembari mulai memeriksa pasien.
"Pasien overdosis alkohol tetapi masih sadar," ujar Fitra.
"Lalu?"
"Denyut jantung 120-"
Alby langsung menatap Fitra dengan tajam begitu ia tahu jika Fitra salah menyebutkan detak jantung pasien. Fitra yang mendapat tatapan tajam tersebut langsung tergugup dan mulai panik.
"Tenang, jangan panik," bisik Raden pada Fitra.
"Ulangi," perintah Alby.
"Denyut jantung 100, tekanan darah 120/85, saturasi oksigen 90%," ralat Fitra dengan lancar.
"Pasien mendapat pukulan di bagian kepala dengan keras. Luka tidak terlalu parah tapi sepertinya ia mengalami gegar otak dok," tambah Fitra.
"Bagaimana kau tahu?"
"Pasien mengeluh sakit kepala dan mual. Selain itu, ia sensitif terhadap suara dan cahaya. Jika dilihat dari gejalanya mungkin ia mengalami gegar otak dok," jawab Raden.
"Baiklah kita buktikan diagnosamu benar atau tidak. Lakukan pemindaian otak sekarang dan kita lihat hasilnya," perintah Alby yang langsung dilaksanakan oleh Raden.
*****
Alby menatap secangkir kopi di meja kerjanya dengan kosong. Ini pekan keduanya sejak ia berada di departemen instalasi gawat darurat. Ia diminta direktur agar merangkap menjadi dokter IGD untuk sementara karena salah satu dokter IGD sedang cuti melahirkan. Dengan kata lain saat ini rumah sakit sedang kekurangan dokter emergency. Yah itulah yang setidaknya Alby ambil sisi positifnya.
Alby sebenarnya adalah dokter spesialis bedah digestif. Meskipun demikian, Alby cukup kompeten dalam menangani berbagai macam penyakit. Alby pernah menjadi dokter IGD selama beberapa tahun sebelum pada akhirnya ia memutuskan menjadi spesialis digestif.
Tok! Tok!
"Apa aku boleh masuk?" tanya seorang dokter wanita seusia Alby. Alby hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dokter bernama Renata itupun langsung duduk di kursi yang berada di depan meja Alby.
"Kau pasti senang sekali bukan karena kau menjadi dokter spesialis bedah digestif lagi?"
"Tidak juga," jawab Alby acuh.
"Harusnya kau melawan saat direktur menyebalkan itu memintamu menggantikan dokter Novi cuti di IGD. Toh di IGD sudah banyak dokter spesialis emergency, bukankah berkurang satu orang saja karena cuti melahirkan tidak akan menjadi masalah? Kenapa harus memerintahkanmu yang seorang spesialis digestif ke sana?" kesal Renata sembari menggebrak meja Alby. "Aku yakin itu pasti karena kau menolak cinta putrinya," lanjut Renata memberikan pendapatnya.
"Bisa jadi, tapi aku tidak perduli," ucap Alby tenang.
__ADS_1
"Sebagai seorang direktur, dia sama sekali tidak profesional. Kenapa dia membawa masalah pribadi ke pekerjaan??!!"
"Jadi sebenarnya yang membuat dokter spesialis onkologi kemari hanyalah untuk bergosip dan memaki-maki direktur?" tanya Alby yang membuat Renata memberenggut kesal.
"Aku ini sedang membelamu tahu! Harusnya kau berterima kasih padaku!"
"Baiklah, terima kasih. Pergilah, aku ada keperluan sebentar," pamit Alby sembari bangkit dari duduknya.
"Kau mau ke mana? Aku belum selesai bergosip! Alby!! Alby!! Beritahu dulu putri pak direktur cantik tidak?! Alby!!" teriak Renata begitu Alby melenggang melewatinya dan menghilang dari balik pintu.
*****
Devi duduk termangu di depan televisi. Tidak ada saluran televisi yang menarik baginya. Sudah beberapa kali ganti chanel tapi tetap saja tidak dapat mengatasi rasa jenuh yang Devi rasakan. Harusnya ia masuk sekolah saja tadi daripada harus berdiam diri di apartemen besar ini sendirian.
Devi pun bangkit dari duduknya dan menengok ke arah jam yang terpaku di dinding. Masih pukul sepuluh pagi, itu artinya masih kurang enam jam lagi untuk menunggu kedatangan Arin dan Gara sahabatnya. Ya, Devi meminta Arin dan Gara untuk datang menemuinya. Ia butuh teman yang ingin ia ajak curhat dan sepertinya hanya mereka berdua lah yang cocok untuk dijadikan buku diary.
Devi mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia benar-benar sangat bosan. Tidak ada yang menarik di apartemen milik Alby yang serba monoton ini. Apa selera dokter memang seperti ini? Tidak juga, mungkin dari sekian juta dokter hanya Alby saja yang memiliki selera monoton seperti ini.
Pandangan Devi tertuju pada meja makan di mana telah tersaji makanan di atasnya. Devi pun berjalan mendekatinya dan membuka penutup makanan tersebut.
"Bubur? Aku tidak suka bubur," ucap Devi sembari menutup kembali penutup makanan tersebut. Tapi tiba-tiba ia merasa lapar. Sejak bangun tidur tadi ia sama sekali belum sarapan, bahkan ia juga belum meminum obat dan vitaminnya.
Devi pun berjalan menuju kulkas dan membukanya. Kulkas tersebut terisi penuh oleh berbagai jenis buah, sayuran dan juga ada daging sapi. Hanya saja Devi tidak pernah memasak dan ia tidak tahu bagaimana mengolah sayuran dan daging tersebut menjadi sebuah masakan. Jangankan memasak, cuci piring pun Devi tidak tahu caranya. Jadi tidak heran kenapa Sean mengatakan pada Alby jika Devi sudah terbiasa di manja sejak kecil. Devi pun memutuskan untuk mengambil sebuah apel dan juga pisang untuk mengganjal perutnya. Bagaimana pun juga perutnya harus terisi.
Ting tung!
Devi pun berjalan mengendap-endap menuju pintu dengan sebuah sapu di tangannya untuk berjaga-jaga jika ternyata ada pencuri. Devi pun mengintip dari layar samping pintu dan ternyata seseorang tersebut adalah Arin dan juga Gara.
"Astaga kau lama sekali! Aku sudah lelah menunggumu! Untuk apa kau membawa sapu? Kau menganggap kami pencuri ya?" kesal Arin begitu Devi membukakan pintu.
"Aku tidak tahu jika itu kalian. Aku pikir kalian tidak kemari. Tunggu dulu! Bukankah ini masih jam sekolah?" tanya Devi sembari memberikan sandal rumah kepada Arin dan Gara.
"Arin mengatakan jika kau sedang sakit mangkanya aku menyetujui ide gilanya untuk bolos sekolah. Apa kau benar-benar sakit? Kemarikan kepalamu," ujar Gara sembari menarik tangan Devi agar mendekat kepadanya dan setelahnya ia memegang dahi Devi untuk mengetahui apakah Devi betulan sakit atau tidak.
"Tidak demam," ujar Gara.
"Aku sudah sembuh. Ngomong-ngomong kau tidak takut ketahuan ibumu jika hari ini kau bolos sekolah?" tanya Devi pada Gara.
"Tidak. Jika ibuku bertanya maka akan aku jawab Arin yang mengajakku," ucap Gara acuh.
Mereka bertiga pun duduk di ruang tamu sembari meletakkan beberapa makanan yang Arin dan Gara bawa ke atas meja.
"Kau ingin aku dipukul ibumu?!!" protes Arin.
"Tentu saja! Kau kan yang mengajakku kemari!" balas Gara.
"Sudah hentikan! Kemarikan makanan yang kalian bawa. Aku sangat lapar sekali," ucap Devi menengahi.
__ADS_1
"Kau baru saja sakit tapi malah kelaparan. Kau tidak sarapan ya?" Tebak Arin yang diangguki oleh Devi yang sibuk membuka bungkus pizzanya.
"Wah om-om yang kau bilang pasti memang pria jahat. Lihat saja sekarang, kau baru saja sembuh malah tidak diberi makan," ujar Arin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia memasakkanku bubur tapi aku tidak suka bubur," jawab Devi.
"Lalu di mana buburnya?" tanya Gara antusias.
"Ambil saja di atas meja makan," ujar Devi.
"Aku mau!!" ucap Arin sembari berlari ke meja makan.
Gara pun tidak tinggal diam begitu Arin ingin ingin merebut buburnya. Ia pun berlari mengejar Arin.
"Ini milikku!" ujar Gara sembari merebut mangkuk berisi bubur tersebut.
"Ini milikku! Aku yang mengambilnya terlebih dahulu!!" balas Arin tidak mau kalah.
"Tapi aku yang bertanya lebih dulu pada Devi!"
Devi yang melihat keduanya saling rebut pun mencoba untuk menengahi mereka. Jangan sampai bubur itu terjatuh dan mangkuknya pecah. Devi tidak ingin kena marah oleh Alby.
"Teman-teman dengarkan aku! Jangan berebut seperti ini!! Jika nanti terjatuh-"
Pyar!!!!
Belum sampai Devi selesai berbicara, bubur tersebut benar-benar sudah jatuh dan berserakan di mana-mana.
"Bagus, kalian memang luar biasa," ucap Devi sembari tersenyum horor.
"Ini semua gara-gara kau Gara! Harusnya kau mengalah pada perempuan!" kesal Arin pada Gara.
"Salahkan saja terus laki-laki!! Jika kau tidak merebutnya bubur ini tidak akan terjatuh dan pecah!" balas Gara tidak terima.
"Aku yang mengambilnya terlebih dahulu!" balas Arin.
"Tapi ini milikku!!"
"Diam!!!!!!" teriak Devi menghentikan pertikaian keduanya.
"Ada apa ini?" tanya sebuah suara berat yang Devi kenali.
Devi diam mematung dengan mata berkedip beberapa kali mencoba untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Mati aku!"
*****
__ADS_1