Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Tertembak


__ADS_3

Devi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya mencoba mengenali di mana ia berada sekarang. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, mungkin karena efek benturan dan pukulan di kepalanya yang dilakukan pria itu.


Devi pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Tidak ada siapapun di sana, hanya ada suara tetesan air dari langit-langit yang bocor dan ruangan yang terasa lembab, bahkan lantainya penuh dengan genangan lumpur yang mengotori seragam Devi. Tumbuhan liar terlihat menjalar hampir menutupi tembok bangunan membuat ruangan menjadi sedikit mencekam.


Devi mencoba bangkit berdiri namun ia tidak bisa. Kedua tangan dan kakinya terikat kuat. Alhasil Devi hanya menunduk dalam sembari menangis.


Devi mengkhawatirkan keadaan Gara dan Arin. Apakah mereka baik-baik saja setelah terluka parah seperti itu? Bagaimana jika tidak ada yang menolong mereka?


Semakin lama tangisan Devi semakin terdengar, namun Devi berusaha menghentikan tangisnya dan menahan suaranya agar terdengar oleh pria yang menculiknya. Untuk sesaat ia menjadi benci kenapa ia secengeng ini!


Sebenarnya apa yang diinginkan kedua pria tersebut hingga mereka berani menculik Devi. Tapi satu hal yang Devi yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Bima. Ya, satu-satunya orang yang ingin membunuhnya adalah Bima Anggara.


"Sudah bangun?" tanya seseorang yang Devi kenal.


Devi membulatkan kedua matanya melihat siapa yang datang dan seseorang tersebut langsung mematahkan spekulasi Devi jika Bima-lah pelaku penculikan ini.


"Tante Laudya," lirih Devi menatap tidak percaya pada Laudya.


"Aku benci panggilan itu," ujar Laudya dingin.


Belum sempat Devi meminta maaf, Laudya sudah lebih dulu menjambak rambut Devi dengan kuat hingga Devi meringis kesakitan.


Argh!!!


"Kalau saja kau tidak hadir dalam hidup Alby mungkin sekarang kau masih bisa bermain bersama kedua temanmu yang sekarang sedang sekarat karenamu," desis Laudya tepat di telinga Devi.


"Karenaku?" cicit Devi.


"Tentu saja. Teman-temanmu berusaha menyelamatkanmu makanya mereka terluka. Mereka menyia-nyiakan nyawa berharga mereka demi gadis egois sepertimu!"


Devi hanya diam sembari menahan sakit akibat tarikan kuat Laudya pada rambutnya.


"Alby milikku, kenapa kau merebutnya?!! Tidak bisakah kau pergi dari kehidupan Alby? Bukankah kau menyukai Raden? Kenapa tidak bersama Raden saja?!"


"Tante dengarkan aku-"


Plak!!


"Diam, mendengar suaramu membuatku semakin ingin membunuhmu. Ah sial harusnya si tua Bima segera ke mari untuk membunuhmu," gerutu Laudya sembari melepaskan jambakannya pada Devi dan berjalan menjauh dari Devi. Laudya tampak menghubungi seseorang dan Devi yakin seseorang itu adalah Bima.


"Jadi dendam itu masih ada ya?" lirih Devi tersenyum kecut.


Devi pun kembali menangis mengingat hidupnya tidak akan lama lagi. Sebentar lagi ia pasti akan mati di tangan Bima.


"Dev," panggil seseorang yang membuat Devi langsung menolehkan pandangannya ke sumber suara.


"Om Alby," lirih Devi sembari menangis.


Alby segera masuk ke dalam celah jendela dan berjalan mendekat ke arah Devi.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Alby berlutut di depan Devi yang kini masih menangis. Melihat kondisi Devi yang seperti ini membuat emosi Alby hampir mencapai batasnya. Apalagi begitu Alby melihat luka di sudut bibir Devi dan di kepalanya benar-benar membuat Alby berang. Laudya memang keterlaluan!!


"Jangan takut, aku akan membawamu keluar dari sini," hibur Alby mengusap air mata Devi. Alby pun melepas ikatan di kedua tangan dan kaki Devi.


"Om Alby kenapa ke mari hiks? Bagaimana jika nanti ketahuan?" tanya Devi sesenggukan. "Aku sudah menyebabkan Arin dan Gara terluka, aku tidak mau om Alby juga ikut terluka karenaku," lanjut Devi.


"Kalau begitu ayo kita keluar dari sini sebelum ketahuan," ujar Alby sembari membantu Devi berdiri.


Alby dapat merasakan tubuh Devi yang bergetar ketakutan. Alby pun menggenggam kedua tangan Devi dan menatap Devi tepat di manik mata Devi.


"Jangan takut, kita akan keluar dari sini dengan selamat. Aku sudah meminta Raka datang ke mari dengan beberapa polisi. Jadi sembari menunggu mereka datang, ayo kita pergi dari sini lebih dulu," ujar Alby lembut mencoba menenangkan Devi.


"Arin dan Gara tidak apa-apa. Jangan khawatir," lanjut Alby memeluk Devi.


Setelah dirasa Devi sedikit tenang, Alby pun segera mengajak Devi agar pergi dari tempat tersebut.


Alby pun merendahkan tubuhnya di depan jendela tempat ia tadi masuk ke dalam ruangan tersebut yang bagian atasnya terbuka.


"Naiklah ke atas pundakku, aku akan membantumu menaikinya," perintah Alby lembut.


Tanpa mau mengulur waktu lagi, Devi pun menuruti perintah Alby. Dengan sedikit kesusahan akhirnya Devi berhasil menaikinya. Setelah Devi berhasil menaikinya, Alby pun segera menyusul Devi.


Begitu Alby berhasil naik, tiba-tiba Laudya datang bersama Bima.


"Alby!!" panggil Laudya terkejut.


"Sial!" umpat Alby. "Dev, lompat sekarang!" perintah Alby.


Dor!


"Argh!!!"

__ADS_1


Devi berteriak ketakutan. Untung saja tembakan Bima meleset karena mereka sudah berhasil turun lebih dulu, namun tubuh Devi bergetar ketakutan. Ia menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan yang menutup telinganya kuat-kuat. Bayangan penembakan ayahnya kembali terputar di kepalanya.


"Dev," panggil Alby pelan.


Alby akui saat ini ia sedang panik setengah mati tapi ia harus tetap tenang apalagi dengan kondisi Devi yang seperti ini.


"Om," panggil Devi.


"Ya?"


"Dev kumohon," lirih Alby dalam hati.


"Itu suara kembang api kan om?" tanya Devi yang membuat Alby tersenyum haru. Rupanya gadis itu berhasil mengatasi ketakutannya.


"Iya. Itu suara kembang api. Mau lihat?"


"Mau," jawab Devi.


"Ayo kita lari. Aku takut kembang apinya akan meletus lagi," ajak Alby yang disetujui oleh Devi.


Mereka pun berlari menembus hutan belantara untuk menyelamatkan diri.


"Semua cepat tangkap mereka!!!!!" murka Bima begitu Alby dan Devi berhasil kabur.


"Cepat tangkap mereka entah itu dalam keadaan hidup atau mati!!!!"


*****


"Om aku hosh tidak kuat lagi," ujar Devi dengan nafas tersengkal.


Alby segera berjongkok di hadapan Devi sembari menepuk pundaknya.


"Naiklah, aku akan menggendongmu. Kita tidak punya waktu sekarang," perintah Alby.


"Berhenti!!!"


Devi berbalik dan ia melihat sekelompok anak buah Bima tengah mengejar mereka dan yang membuat Devi panik adalah anak buah Bima membawa senjata api. Itu artinya mereka sedang dalam bahaya!


Devi yang melihat mereka semakin mendekat pun menjadi panik.


"Dev cepat naik!"


"Om kumohon tinggalkan aku di sini. Om Alby pergi menyelamatkan diri saja," tolak Devi berlinang air mata.


"Target mereka adalah aku. Biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau, aku ingin menghentikan pusaran dendam ini om. Biar aku saja yang mengakhirinya dengan begitu om Alby tidak akan terluka oleh mereka," jawab Devi.


"Jelaskan padaku nanti," ujar Alby. Detik berikutnya Alby langsung menggendong Devi ala bridal style dan berlari menghindari kejaran anak buah Bima.


Melihat kegigihan Alby untuk menyelamatkannya membuat Devi tidak kuasa menahan tangisnya. Alby benar-benar mengkhawatirkannya dan berniat menyelamatkannya.


Dor!


"Om!!!"


Bruk!!


Alby pun jatuh tersungkur begitu kakinya terkena tembakan oleh salah seorang anak buah Bima.


"Om!!" Devi langsung bangkit berdiri dan memeriksa kaki Alby sembari menangis.


"Dev jangan dilihat," cegah Alby sembari menutup mata Devi menggunakan telapak tangannya. "Aku tidak mau kau mengingat kenangan buruk masa lalumu begitu kau melihat lukaku," lanjut Alby.


Mendengar penuturan Alby malah membuat Devi menangis dengan keras.


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa," hibur Alby.


"Kalian tidak bisa kabur lagi," ujar salah satu anggota Bima begitu mereka berhasil menyusul Alby dan Devi.


Sontak Devi langsung berbalik badan membelakangi Alby seolah ia menjadi tameng untuk melindungi Alby.


"Jangan sakiti kami," pinta Devi.


"Kenapa? Kau takut mati?" tanya Bima yang baru saja datang.


Deg!


Tubuh Devi mendadak menengang begitu ia mendengar suara Bima. Bayangan masa lalunya kembali terputar di kepalanya membuatnya meringis kesakitan.


"Argh!"


"Dev!" pekik Alby.

__ADS_1


"Hentikan drama membosankan ini sekarang juga. Sekarang waktunya kau menyusul kedua orang tuamu ke alam baka," ujar Bima mengeluarkan pistolnya dari balik jas mahalnya.


"Aku biasanya tidak ikut turun langsung untuk eksekusi tapi kali ini demi Devi tersayang aku rela mengotori tanganku," lanjut Bima sembari menarik pelatuk pistolnya.


"Kau sakiti Devi, kubunuh kau dengan tanganku sendiri," ancam Alby yang membuat Bima tertawa namun detik berikutnya Bima langsung melepaskan pelurunya ke arah Alby hingga mengenai dada Alby.


Dor!


Argh!!!


"Om!!!"


Devi memekik begitu melihat darah segar keluar dari dada Alby. Devi menangis keras sembari memeluk tubuh Alby yang terkapar tidak berdaya di tanah. Kedua tangannya berusaha menutupi luka Alby untuk menghentikan pendarahannya.


"Om Alby!!" raung Devi.


"Dev, aku...aku tidak apa-apa. Lukanya meleset, ini...ini tidak mengenai jantung," bisik Alby mencoba menghibur Devi.


"Darahnya keluar," isak Devi.


"Hanya luka sedikit, aku tidak akan kehabisan darah," hibur Alby lagi.


"Peluruku habis. Ambilkan peluru lagi," perintah Bima pada salah seorang anak buahnya.


Mendengar hal tersebut membuat Devi membalikkan tubuhnya menatap Bima dengan berlinang air mata.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Devi bangkit berdiri namun lengannya langsung dicekal oleh Alby yang kini hampir hilang kesadarannya.


"Nyawamu?" jawab Bima sembari mengisi pelurunya.


"Kenapa?" tanya Devi.


"Bukankah Raden sudah memberitahumu? Keluarga kami menganut sistem babat tuntas itu yang artinya seluruh keluarga Wardhana harus lenyap tanpa sisa. Lagi pula kau itu satu-satunya saksi hidup yang melihat pembunuhan ayahmu, bisa saja kau melaporkanku atas kejadian itu dan kejadian saat aku mencelakaimu," jelas Bima dengan senyum menyeramkan.


"Aku kan sudah bilang ke kak Raden kalau aku tidak akan melaporkan kejadian itu pada polisi," balas Devi.


"Kau pikir aku bocah bayi yang akan mempercayai perkataan anak remaja sepertimu?!"


"Kalau begitu bunuh aku saja jangan sakiti om Alby dan teman-temanku!! Mereka tidak ada hubungannya dengan dendam keluarga kita, kenapa kalian menyakitinya?!!!" marah Devi


"Ide bagus, aku akan membunuhmu sekarang juga. Di mana Laudya?" tanya Bima pada anak buahnya.


"Di sini," jawab sebuah suara yang Devi kenal.


Saat Bima membalikkan badannya untuk melihat siapa yang menjawab pertanyaannya tiba-tiba saja peluru berhasil menembus dadanya tepat di jantungnya.


Dor!


Bima langsung jatuh tumbang.


"Ini baru tepat di bagian jantung."


Devi terkejut setengah mati begitu melihat Raden menembak pamannya sendiri hingga tewas dan yang lebih mengejutkan lagi ia melihat Laudya yang tampak berantakan dengan sudut bibir yang terluka dan tangannya terikat. Bahkan Raden menyeret Laudya saat ia tiba.


Apa kak Raden memukul tante Laudya?


"Kak Raden," cicit Devi.


"Maaf aku terlambat," ujar Raden sembari tersenyum, namun Devi melihat air mata tengah mengalir menuruni pipinya. Bagaimana tidak? Raden telah membunuh pamannya sendiri! Tentu saja itu hal yang menyakitkan untuk Raden!


"Angkat tangan dan jangan ada yang berani bergerak!!!" teriak polisi yang baru saja tiba bersama Raka.


"Alby!!" pekik Raka begitu melihat kondisi Alby yang masih setengah sadar.


Devi diam bergeming. Ia menyaksikan bagaimana polisi membekuk Raden yang kini melemparkan senyum ke arahnya.


"Dev nanti jangan lupa kunjungi aku saat aku di penjara ya!" teriak Raden begitu polisi menyeretnya pergi.


Devi sontak menangis keras bahkan ia tidak sanggup menahan beban tubuhnya, alhasil ia jatuh terduduk di tanah.


Devi mengamati sekelilingnya dan melihat betapa kacaunya akibat dirinya. Berapa nyawa orang yang dalam bahaya akibat melindunginya?


"Dev," panggil Raka lembut.


Devi mendongakkan kepalanya menatap Raka dengan mata sembabnya.


"Ayo kita pergi. Alby sudah masuk ke dalam ambulance. Kau juga harus mendapat perawatan," ujar Raka lembut.


"Apa om Alby baik-baik saja?"


Raka terdiam.

__ADS_1


Melihat keterdiaman Raka membuat Devi semakin menangis dengan kencang.


*****


__ADS_2