
Dengan gontai Devi memasuki ruang rawat Alby. Ia masih kepikiran dengan jawaban Meira padanya.
Devi menghela nafasnya pelan. Meira tidak terlibat dalam bisnis haram ayahnya dan bahkan Meira tidak tahu menahu tentang bisnis tersebut. Satu-satunya petunjuk berada di rumah tempat tinggalnya dulu.
Pertanyaannya hanya satu. Sanggupkah Devi kembali ke dalam rumah tersebut sedangkan trauma itu masih ada?
"Sudah pulang?"
Devi langsung mengubah ekspresi sendunya dan tersenyum riang ke arah Alby.
"Sudah. Lho om Alby mau ke mana?" tanya Devi bingung begitu melihat Alby yang sudah bersiap dengan tas berisi pakaiannya.
"Pulang," jawab Alby.
"Om Alby sudah boleh pulang?"
"Sebetulnya belum. Tapi om keras kepalamu itu memaksaku menginjinkan dia pulang," jawab Raka yang baru saja tiba.
"Om Alby kenapa tidak menuruti dokter Raka?" tanya Devi sembari bersilang dada.
"Aku sudah sembuh. Raka hanya berlebihan," elak Alby sembari bangkit berdiri.
Paham dengan Alby yang kesusahan berdiri, Devi pun segera membantu memapah Alby dan memintanya duduk di kursi roda yang dibawa oleh Raka.
"Tidak perlu pakai kursi roda. Aku bisa jalan sendiri," tolak Alby.
"Om jangan keras kepala. Om Alby sekarang adalah pasien, jadi om Alby harus menuruti dokter Raka!" tegur Devi yang membuat Alby mau tidak mau menuruti perintahnya.
"Baiklah aku duduk di kursi roda," ujar Alby pada akhirnya.
"Dokter, om Alby betulan boleh pulang?" tanya Devi pada Raka.
"Jika kularang pulang apakah om-mu akan menurutiku?" tanya Raka membalikkan pertanyaan Devi.
"Tidak," jawab Alby yang membuat Devi melototkan matanya ke arahnya.
"Om Alby kan dokter, seharusnya om Alby tahu bagaimana repotnya mengurusi pasien yang sulit diajak kerja sama seperti om Alby ini. Om Alby tidak kasihan pada dokter Raka yang sudah susah payah menyelamatkan om Alby?"
"Aku tahu, tapi aku betulan sudah sembuh sayang."
Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Alby membuat Devi mau tidak mau mengumbar senyum bahagianya. Entahlah, satu kata itu membuat hatinya menghangat seketika.
"Baiklah ayo kita pulang," ujar Devi pada akhirnya sembari mendorong kursi roda Alby keluar dari ruangan.
"Eh semudah itu?" ujar Raka menatap tidak percaya ke arah Devi dan juga Alby.
Di sepanjang perjalanan Devi hanya diam mengamati lalu lalang kendaraan tanpa berniat membuka pembicaraan. Pikirannya melayang terbang memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil untuk menyelesaikan semua ini. Devi juga ingin tahu bagaimana kelanjutan bisnis haram ayahnya. Apakah bisnis haram itu sudah lama berakhir sejak kematian ayahnya atau malah masih berjalan hingga sekarang. Devi harus mencari tahu hal itu sendiri dan mengakhirinya.
Alby menoleh ke arah Devi. Devi yang peka terhadap tatapan Alby punĀ menolehkan kepalanya ke arah Alby.
"Tante Ishy dan om Abi tahu tidak kalau om Alby memaksa pulang ke rumah?" tanya Devi galak.
"Tahu."
"Lalu mereka bilang apa?"
"Tidak masalah. Toh memang kondisiku sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Alby yang membuat Devi menghela nafasnya pelan.
"Awas kalau sampai terjadi apa-apa pada om Alby!" ancam Devi.
"Tenang saja, aku baik-baik saja. Haruskah kupanggil sayang lagi agar kau berhenti mengkhawatirkanku?" goda Alby.
"Om!"
"Baiklah, aku tidak menggodamu lagi," ujar Alby sembari tertawa.
*****
Setelah membantu Alby ke kamarnya dan merapikan pakaiannya, Devi pun kembali ke kamarnya.
Setelah mandi air hangat, Devi pun duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya sembari menikmati dinginnya angin malam yang berhembus menerpa kulitnya.
Devi sudah membuat keputusan. Ia harus mengakhiri semua ini dari akar-akarnya. Besok pagi ia harus mendatangi kediaman lamanya untuk mencari informasi tentang bisnis illegal tersebut. Tapi ada satu hal yang membuat Devi penasaran. Devi teringat dengan jalan bercabang yang dulu pernah ia tanyakan pada Alby namun Alby melarangnya pergi ke sana. Memangnya ada apa di sana? Kenapa Alby melarangnya?
Tok! Tok!
__ADS_1
Devi beranjak dari duduknya dan berlari membuka pintu. Di sana ada Alby yang berdiri sembari membawa es krim kesukaan Devi.
"Mau es krim?"
"Mau," jawab Devi riang sembari menerima es krim pemberian Alby.
"Om Alby kan masih sakit, jadi es krimnya buat aku semua saja," ujar Devi merebut satu es krim lagi yang berada di tangan Alby.
Alby tersenyum simpul sembari mengacak pelan rambut Devi. Setelahnya Alby pun duduk di sofa yang berada di kamar Devi. Tanpa sengaja mata Alby menangkap pintu balkon yang terbuka.
"Pintu balkonnya terbuka. Kau baru saja dari sana?" tanya Alby.
"Iya, hanya menikmati dinginnya angin malam sebentar," jawab Devi ikut duduk di sebelah Alby.
"Jangan sering-sering keluar untuk menikmati angin malam. Selain menyebabkan penyempitan saluran pernafasan, angin malam juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru basah," tutur Alby.
"Iya," jawab Devi sembari memakan es krimnya.
Keduanya pun hanya saling diam dengan Devi yang sibuk melahab es krimnya dan Alby yang hanya memperhatikan Devi dengan senyum tipisnya.
"Om Alby ada apa ke mari? Om Alby tidak hanya ingin memberiku es krim saja kan?" tanya Devi.
"Iya."
"Ada apa om?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu," ujar Alby yang membuat Devi menghentikan makan es krimnya.
"Kemarin, kemarinnya lagi dan hari ini kan sudah bertemu. Masa masih rindu," bingung Devi.
Alby tersenyum simpul sembari merapikan anak rambut Devi yang sedikit menutupi matanya.
"Aku ingin memelukmu tapi aku tidak bisa. Di sini masih sakit," ujar Alby menunjuk luka tembaknya.
Sontak rasa bersalah kembali memenuhi rongga dada Devi. Akibat dirinya, nyawa Alby hampir saja dalam bahaya dan bahkan karena dirinya pula Alby mengalami luka tembak seperti ini.
"Aku minta-"
"Lihat! Kau masih saja merasa bersalah!" potong Alby menghentikan permintaan maaf Devi. "Ini adalah alasanku ke mari selain membawakanmu es krim. Sudah kubilang kan jika ini semua bukan salahmu. Kau tidak harus menanggung kesalahan ayahmu Dev. Kau hanya korban di sini," ujar Alby memeluk Devi. Bahkan Alby mengabaikan rasa sakit di lukanya yang belum sepenuhnya kering.
Devi hanya diam dan hanya membalas pelukan Alby. Sebetulnya apa yang dikatakan Alby memang benar hanya saja perasaan bersalah itu tetap saja hinggap di hatinya tanpa ia minta.
"Om."
"Hm?"
"Boleh tidak aku yang merawat om Alby sampai luka om Alby sembuh?" lirih Devi.
"Boleh," jawab Alby sembari tersenyum. Alby tahu ini adalah kompensasi dari Devi karena telah membuatnya terluka.
"Kalau merawat Arin dan Gara juga?"
Alby langsung melepaskan pelukannya pada Devi dan menatap Devi dengan tatapan tidak terimanya.
"Tidak boleh," jawab Alby.
"Kenapa?"
"Kau kan hanya satu, bagaimana bisa merawat tiga orang sekaligus?" alibi Alby karena sebenarnya ia ingin Devi hanya merawat dirinya saja dan tidak ingin membagi Devi pada Arin ataupun Gara.
"Om Alby benar. Kalau begitu aku merawat om Alby dulu saja. Nanti kalau om Alby sudah sembuh baru aku akan merawat Arin dan Gara," ujar Devi.
"Gadis pintar." Alby tersenyum senang sembari mengacak rambut Devi pelan.
"Om."
"Hm?"
"Aku mau tanya," lirih Devi.
"Tanya apa?"
"Jalan bercabang yang dulu aku tanyakan pada om Alby ehm kenapa aku tidak boleh ke sana?" tanya Devi takut-takut.
Alby mengulum senyum sembari mengelus rambut Devi sayang.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa sebetulnya. Hanya saja di sana ada tempat terbengkalai. Seperti pabrik tua mungkin? Entahlah aku belum pernah ke sana," jawab Alby.
"Lalu kenapa aku tidak boleh ke sana om? Kan hanya bangunan tua terbengkalai! Om Alby ini benar-benar membuatku berpikiran macam-macam. Aku pikir om Alby menyembunyikan sesuatu yang besar yang tidak boleh diketahui olehku," protes Devi.
"Tidak ada sesuatu besar yang kusembunyikan darimu. Aku hanya takut jika kau pergi ke sana ingatan akan masa lalumu kembali membuatmu ketakutan. Kau kan waktu itu masih belum baik-baik saja dan baru keluar dari rumah sakit," sanggah Alby yang membuat Devi mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku ingin ke sana," ujar Devi.
"Untuk apa?"
"Aku penasaran om. Aku seperti tidak asing dengan jalan itu," ujar Devi yang membuat Alby sedikit bingung.
"Bukankah kau sudah ingat semuanya?"
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya ada beberapa hal yang belum kuingat sepenuhnya," jelas Devi. "Om bolehkan aku pergi ke sana?"
"Tidak," tolak Alby langsung.
"Kenapa tidak boleh?" rengek Devi.
"Apa ingatan yang sudah kembali tidak cukup untuk membuatmu menderita? Kau ingin ingatan yang bagaimana lagi?"
"Om," cicit Devi memegang ujung kaos Alby mencoba membujuk Alby.
"Aku bilang tidak ya tidak. Bukankah kasus ini sudah selesai? Kau ingin akhir yang bagaimana?"
"Bukan seperti itu maksudku om. Aku hanya-"
"Hanya apa? Masalah ini sudah selesai. Bima sudah mati dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari itu. Tidak inginkah kau hidup bahagia dan tenang tanpa bayang-bayang masa lalumu?" potong Alby lembut.
"Tempat itu kan hanya pabrik terbengkalai saja. Aku yakin itu tidak akan menimbulkan efek apa-apa padaku," kekeuh Devi.
"Tapi kau bilang kau tidak asing dengan tempat itu Dev. Bukannya tidak mungkin kau pernah pergi ke sana di masa lalu, saat kau diculik misalnya," ucap Alby tanpa sadar yang membuat Devi seketika teringat sesuatu.
"Om Alby benar! Bisa saja itu tempat Bima menculikku dan hendak mengambil organku!! Kalau begitu berarti kejadian kecelakaanku terjadi tidak jauh dari rumah om Alby," ujar Devi mengambil kesimpulan sendiri.
"Kecelakaan apa? Di sekitar sini tidak ada kecelakaan seperti itu, sudahlah lebih baik sekarang kita tidur. Ini sudah malam, bukankah pasien sepertiku butuh istirahat yang cukup?"
"Kalau begitu om Alby tidur dulu saja."
Alby menatap Devi garang. Sepertinya sifat keras kepala Devi mulai kembali lagi. Tapi itu malah membuat Alby merasa lega. Devi telah kembali seperti semula.
"Aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu," ujar Alby yang membuat Devi mengedipkan kedua matanya beberapa kali seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Alby.
Alasan macam apa itu?!
"Baiklah ayo tidur," ujar Devi pada akhirnya.
Devi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang namun Alby menahan lengannya.
"Ada apa om?" bingung Devi.
Cup!
Devi membulatkan kedua matanya begitu Alby mengecup bibirnya tiba-tiba.
"Manis," ujar Alby.
"Om!" pekik Devi sembari memukul lengan Alby.
"Es krimnya bukan bibirmu. Ada es krim di sudut bibirmu," ujar Alby.
Devi mencebikkan bibirnya kesal. Alby benar-benar menguji kesabarannya.
"Kalau begitu om Alby tidur di luar saja!" kesal Devi berbalik menuju ranjang. "Satu lagi! Kalau bibirku tidak manis, awas saja kalau om Alby menciumku lagi!!!" lanjut Devi sembari membalikkan badannya dengan satu tangannya menunjuk ke arah Alby.
Alby menahan pinggang Devi yang hendak berbalik menggunakan tangan kekarnya dan setelahnya Alby langsung mencium bibir Devi lama.
"Kita tidur bersama," lirih Alby melepaskan pagutan bibirnya dari Devi.
******
Berhubung Gara bilang janji dibuat untuk diingkari, author yang niat awalnya mau up cepet jadi ngingkari janji deh hehe.
Maaf banget lama up dan udah bikin kalian nunggu,, semoga chapter ini sedikit mengobati rindu kalian ya xixi
__ADS_1