Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Puncak Aksi Ganendra 2


__ADS_3

Happy Reading!!


Devi meraih botol shampo berukuran besar yang ada di dalam kamar mandi untuk dijadikannya senjata. Tidak lupa ia juga membuka aplikasi perekam suara dan menghidupkannya lalu meletakkan ponselnya di dalam laci meja kecil yang berada di dekatnya. Devi sengaja tidak menutup rapat laci tersebut agar ia bisa merekam suara dengan baik. Yah setidaknya jika ia akan berakhir hari ini, ia bisa menjebloskan Ganendra dengan rekaman suara ini.


Brak!!


Dada Devi bergemuruh hebat begitu Ganendra berhasil mendobrak pintu kamar mandi yang membuatnya terjengkang ke depan.


Lututnya yang terluka kini kembali terasa sakit. Namun itu tidak seberapa begitu ia merasakan tarikan kuat di rambut panjangnya. Devi merasa kepalanya hendak lepas saja dari badannya karena saking kuatnya tarikan Ganendra di rambutnya.


Devi langsung meraih botol shampo yang ia siapkan dan langsung memukulkannya pada Ganendra namun sepertinya Ganendra tidak merasakan efek apa-apa.


"Kau tidak bisa membunuhku hanya dengan menggunakan botol shampo baby," ujar Ganendra menyeramkan. Bahkan kini dengan kurang ajarnya mata Ganendra menelisik menatap seluruh tubuh Devi dengan tatapan lapar.


"Lepaskan aku!!" hardik Devi namun Ganendra malah tertawa jahat padanya. Semakin Devi meronta-ronta minta dilepaskan, semakin kuat pula Ganendra menjambak rambutnya.


"Lepaskan apa? Nyawamu?"


Devi bergidik ngeri melihat betapa menyeramkannya Ganendra. Bahkan air matanya kini sudah mengalir membanjiri pipinya.


Ganendra menyeret tubuh Devi hingga mereka keluar dari kamar mandi. Ganendra ingin tempat yang lebih luas untuk melancarkan aksinya.


"Arghh sakit!! Tolong lepaskan aku," pinta Devi namun Ganendra sama sekali tidak menggubris permintaan Devi.


Ganendra melemparkan tubuh Devi ke ranjangnya. Melihat tubuh Devi yang sempurna membuat Ganendra gelap mata dan ingin melakukan sesuatu pada Devi sebelum membunuhnya.


Rasa pening begitu Ganendra meleparkannya ke atas ranjang membuat Devi tidak sempat melarikan diri begitu Ganendra sudah berada di atasnya menindih tubuhnya dan mencekik lehernya.



"Apa yang kau dengar saat berada di rumahku?" desis Ganendra tepat di depan bibir Devi membuat Devi mual.


"Ak...aku ti...tidak dengar apapun. Sungguh, aku tidak mendengar apapun," jawab Devi menangis. "Tolong lepaskan aku."


"Lalu kenapa kau ke rumahku?" tanya Ganendra mengeratkan cekikannya di leher Devi.


"Ak.....ak-"


Melihat Devi yang kesulitan berbicara akibat cekikan tangannya, Ganendra pun melepaskan tangannya dan memberi kesempatan Devi untuk menjelaskannya.


Uhuk! Uhuk!


"Aku tidak ke rumahmu," jawab Devi sesenggukan.


Plak!!


"Bohong."


Ganendra menampar pipi Devi dengan keras.


"Ak....aku hanya ingin menemuimu dan memintamu membatalkan tuntutan itu pada dokter Alby," jujur Devi pada akhirnya. Devi sengaja tidak menggunakan panggilan 'om' agar Ganendra tidak berpikir jika ia dekat dengan Alby. Devi tidak ingin Ganendra juga mencelakai Alby.


"Kau pasti jalangnya Alby."


Ganendra menatap Devi buas. Sebuah seringaian terbit di bibir hitam milik Ganendra. Kedua matanya menelisik ke seluruh tubuh Devi seakan ingin merasakannya membuat Devi semakin ketakutan.


"Lepaskan aku, aku janji tidak akan bilang pada siapapun tentang perbuatanmu. Aku janji," pinta Devi berderai air mata.


"Layani aku dulu lalu kulepaskan dirimu. Bagaimana?" tawar Ganendra yang jelas-jelas berbohong pada Devi. Mana mungkin Ganendra melepaskan Devi begitu saja padahal tujuan awalnya adalah membunuhnya.


"Tolong jangan sakiti aku. Kamu sudah punya kekasih, kasian kekasihmu jika kamu melakukan ini padaku. Dia pasti akan kecewa padamu." Devi menggeleng lemah tanda ia tidak menyetujui penawaran Ganendra.


Ganendra tidak menggubris perkataan Devi. Ia mengangkat sebelah tangannya yang bertumpu di sisi tubuh Devi untuk merobek pakaian atas Devi. Namun belum sampai Ganendra berhasil melancarkan aksinya, Devi sudah lebih dulu menendang Ganendra dengan keras.


"Argh!! ****!! ****** sialan!! Harusnya aku memang membunuhmu lebih dulu!!" murka Ganendra menahan sakit.


Devi berlari keluar kamar berniat untuk kabur namun Ganendra berhasil menangkap kaki kanannya dan membuatnya terjatuh. Devi meronta-ronta dan berteriak minta tolong namun sama sekali tidak ada sahutan.

__ADS_1


Ganendra bangkit berdiri dengan menahan rasa sakit yang belum kunjung reda. Ia menarik rambut panjang Devi dan langsung melemparkan Devi dengan keras hingga tubuh kecil Devi terpelanting membentur dinding.


Devi meringis kesakitan akibat benturan keras tepat mengenai dahi dan dadanya. Kini Devi dapat mencium bau anyir seperti darah yang mulai mengalir melewati pipinya.


Belum sampai ada lima detik Devi selesai menikmati rasa sakitnya, Ganendra kembali menghampiri Devi. Kini ia menarik lengan Devi dengan kasar dan memintanya untuk berdiri.


Begitu Devi berdiri, Ganendra langsung mencekik leher Devi hingga Devi kesulitan bernafas. Kedua tangan Devi berusaha melepaskan cekikan di lehernya namun ia tidak bisa. Cekikannya terlalu kuat hingga Devi yakin ajalnya pasti sudah dekat.


Devi menatap Ganendra dengan tatapan mengiba dan berderai air mata berharap Ganendra memberi pengampunan padanya namun begitu melihat mata gelap Ganendra Devi merasa putus asa.


Ganendra merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalamnya. Mata Devi membola begitu pisau itu hendak di hujamkan di perutnya.


"Kau takut?" Ganendra tertawa senang begitu melihat Devi bergetar ketakutan. Bahkan pisau tersebut mulai bermain-main di depan wajahnya.


"Om Alby, tolong aku," lirih Devi dalam hati berharap Alby datang menyelamatkannya.


"Mati kau!"


Clek!!!


Devi tersentak kaget begitu benda tajam itu berhasil mengoyak perutnya. Rasa panas dan nyeri langsung terasa seketika. Darah segar langsung mengalir hingga menuruni betisnya membuat Devi teringat sesuatu.


Darah!


Devi kembali mengingat potongan memorinya saat ia melihat ayahnya meregang nyawa di hadapannya dengan bersimbah darah. Devi juga ingat ibunya meninggal dengan luka tusuk di perutnya. Persis seperti dirinya saat ini.


Kejadian demi kejadian kini telah terangkai di kepalanya membuatnya meringis kesakitan.


Devi tidak tahu rasa sakit yang ia rasakan di kepalanya adalah efek lukanya atau karena pulihnya memori kelam dalam hidupnya. Ah mungkinkah ini kilas balik sebelum ia mati di tangan Ganendra? Sepertinya jawaban terakhir lah yang benar. Devi rasa hidupnya hanya sampai pada hari ini saja.


Ayah, ibu dan kak Sean tunggu aku. Sebentar lagi aku menyusul kalian.


Ganendra yang saat itu hendak melayangkan hujaman pisaunya pada tubuh Devi bagian lain pun harus terhenti begitu Alby dan beberapa polisi datang.


"Stop! Hentikan!!!" teriak Alby menginterupsi Ganendra.


Alby terkejut setengah mati melihat kondisi Devi yang sangat mengenaskan dan bersimbah darah. Alby dapat melihat Devi yang kini tampak sayu dan menatap pasrah ke arahnya.


Kaki Alby terasa lemas dan tidak berdaya namun saat ini yang harus ia lakukan adalah membawa Devi segera pergi ke rumah sakit menggunakan ambulance. Ya, sebelum berangkat Alby sengaja meminta satu unit ambulance lengkap dengan dua dokter pembantu termasuk Fitra untuk ikut pergi bersamanya untuk berjaga-jaga jika sampai Devi terluka. Namun Alby tidak menyangka lukanya akan separah ini.


Alby sengaja tidak mengajak Raden jika itu bersangkutan dengan Devi. Alby tidak ingin Raden memanfaatkan situasi ini untuk mencelakai Devi.


Dor!!


Polisi menembakkan pelurunya untuk memberi peringatan pada Ganendra agar menghentikan aksinya. Ganendra tidak langsung melepaskan Devi, malah ia semakin kuat mencengkeram leher Devi.


Merasa peringatannya tidak diindahkan oleh Ganendra, polisi itupun langsung menembakkan timah panas ke kaki Ganendra yang membuatnya langsung melepaskan Devi.


"Argh!!!" pekik Ganendra kesakitan.


Dengan tanggap polisi tersebut langsung membekuk Ganendra dan langsung menyeretnya untuk diamankan.


"Argh!!! Lepaskan saya!! Lepaskan saya sialan!!!" teriak Ganendra meronta-ronta minta dilepaskan.


Segera setelah polisi mengamankan Ganendra, Alby, Fitra dan satu dokter pembantu bernama Kevin segera mendekat ke arah Devi dengan membawa tandu ambulance.


"Om," panggil Devi lirih yang masih bisa di dengar oleh Alby.


Alby mendekatkan telinganya ke arah bibir Devi agar ia dapat mendengar Devi dengan jelas.


"Aku mengingat semuanya," ujar Devi sebelum ia kehilangan kesadaran.


Alby terkejut begitu mendengar penuturan Devi namun ia tidak memiliki waktu lagi. Mereka harus segera membawa Devi ke rumah sakit sebelum nyawanya tidak tertolong.


"Kita harus cepat, Devi sudah mulai kehilangan kesadaran!" perintah Alby menginterupsi. Alby mengusap matanya yang berair dan kembali fokus untuk memberi pertolongan pertama pada Devi sebelum terlambat.


"Berapa tekanan darahnya?" tanya Alby pada Kevin.

__ADS_1


"Sistolnya 60 namun sebentar lagi tidak bisa dideteksi," jawab Kevin.


"****!" umpat Alby tertahan. "Cepat bawa ke ambulance, aku ingin melakukan puncture¹."


"Puncture?" tanya Fitra bingung.


Krek!


Alby merobek pakaian atas Devi sedikit untuk menunjukkan memar berwarna merah keunguan di dada bagian kiri Devi.


"Tamponade jantung?" tebak Fitra.


"Benar. Ini dia penyebab kacaunya tekanan darah dan pasien tidak sadar. Dadanya pasti terbentur dengan keras."


"Kita harus cepat!"


Ketiganya pun segera membawa Devi menuju ambulance. Melihat kondisi Devi yang mengenaskan pun membuat mata Alby berair, Alby segera mengalihkan pandangannya begitu Fitra menatapnya dengan iba.


"Apa yang kau perhatikan siput?!! Perhatikan jalanmu, kita harus cepat!!!"


"Iya dok." Fitra langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Fitra tahu bagaimana perasaan Alby melihat adiknya seperti ini, sehingga kali ini Fitra bertekad akan melakukan tugasnya dengan baik tanpa melakukan kesalahan sedikitpun yang membuat nyawa Devi semakin terancam.


Setelah tiba di ambulance, Alby segera mensterilkan tangannya kembali dan langsung memakai sarung tangan latexnya.


"Tolong siapkan ultrasound dan spinal needle²."


Kevin segera memberikan alat yang dibutuhkan oleh Alby.


"Perhatikan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya dua kali. Lakukan 45° sebelah kiri xiphoid process³."


Meskipun Alby kalang kabut mengkhawatirkan kondisi Devi, Alby tetap melakukan pekerjaannya dengan baik yaitu mengajari Fitra dan juga Kevin bagaimana cara melakukan puncture.


"Tekanan darahnya sudah kembali normal," ujar Kevin senang.


"Kevin kau awasi terus tanda vitalnya dan aku akan memeriksa luka tusuknya." Alby segera mengambil beberapa kasa dan kain bersih yang berada di perut Devi yang tadi digunakan Kevin untuk menghentikan pendarahan di perut Devi.


"Baik dok."


Begitu Alby mengusap luka di perut Devi, mata Alby membola begitu ia melihat lukanya sudah tidak mengeluarkan darah lagi.


Sial!!


Syok hipovolemik!!⁴


Sruatt!!!


Darah langsung menyembur dari perut Devi yang membuat Fitra kalang kabut.


"Dokter Alby!" pekik Fitra terkejut.


"Siput cepat kau hubungi dokter Renata agar ia menyiapkan ruang operasi sekarang juga dan minta tambahan kantong darah!" perintah Alby sembari menghentikan pendarahannya.


"Baik dok."


Maaf aku terlambat. Kumohon bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu.


*****


FYI


¹Puncture : memasukkan jarum yang tengahnya berlubang untuk mengambil cairan.


²Spinal needle : jarum untuk mengambil cairan.


³Xiphoid Process adalah tulang rawan ekstensi di bagian bawah sternum.


⁴Syok Hipovolemik adalah ketidakmampuan jantung memasok darah yang cukup ke tubuh akibat adanya kekurangan volume darah.

__ADS_1


Cr. Google + webtoon Trauma Center


*****


__ADS_2