Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Wanna Kiss?


__ADS_3

Devi menggeliatkan tubuhnya dari balik selimut hangatnya. Hari ini Alby memintanya untuk beristirahat saja di rumah dan tidak perlu pergi ke sekolah karena meskipun demamnya sudah turun namun Alby tetap ingin Devi beristirahat sampai benar-benar sembuh.


Devi melirik jam weker yang terletak di samping nakasnya dan menunjukkan pukul sepuluh siang. Devi terdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawanya yang masih belum terkumpul sepenuhnya.


Setelah nyawanya benar-benar sudah terkumpul, Devi pun segera bangkit dari tempat tidurnya berniat untuk mandi.


Tidak butuh waktu lama untuk Devi menyelesaikan mandinya. Devi segera berjalan ke meja makan dan ia melihat segelas jus alpukat dan satu piring tumis daging kesukaannya sudah tersaji di meja makan. Oh tidak lupa dengan buah-buahan dan sayur sup juga sudah tersedia lengkap dengan beberapa obat yang berjajar di sampingnya.


Devi mengambil catatan kecil yang terletak di bawah gelas jus alpukatnya dan membacanya dengan seksama.


'Aku memasakkan tumis daging kesukaanmu karena aku tahu kau tidak menyukai bubur. Habiskan semua makanannya dan setelah itu minum obat agar kau cepat sembuh'


Devi tersenyum senang begitu selesai membaca catatan tersebut. Devi jadi teringat bagaimana semalam Alby mendekatkan wajahnya ke arahnya untuk mengajarinya cara mencium seseorang. Pipi Devi langsung memanas jika ia mengingat kejadian itu. Entah kenapa Devi merasakan kesal bercampur senang saat Alby melakukannya.


Devi pun segera memakan sarapannya dengan lahab dan setelah selesai makan ia langsung meminum obatnya.


Ting!


Devi melihat pesan masuk dari Gara. Tanpa menunggu lama, Devi pun segera membacanya.


Gara: Kenapa kau tidak masuk sekolah? Kau baik-baik saja kan?


Devi: Aku demam tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Kalian tidak ingin bolos kemari? Xixi


Gara: Aku tidak mau dimarahi om Alby seperti dulu.


Devi: Aku akan meminta ijin padanya. Bagaimana?


Gara: Tergantung jawaban om Alby.


Devi pun segera menghubungi ponsel Alby untuk meminta ijin pada Alby untuk mengajak Gara dan Arin ke apartemennya. Cukup lama Devi menunggu akhirnya Alby menjawab teleponnya.


"Om," sapa Devi manis.


"Ada apa? Kau sudah memakan sarapanmu dan meminum obatmu kan?" tanya Alby dari seberang sana.


"Sudah. Om aku boleh tidak mengajak Gara dan Arin berkunjung kemari? Aku sangat bosan om."


"Tidak," jawab Alby langsung.


"Kenapa tidak boleh? Aku sangat bosan dan om Alby tidak mengijinkanku untuk pergi kemana-mana," protes Devi.


"Kau harus istirahat jangan main terus bersama Gara dan Arin. Lagi pula ini masih jam sekolah, jangan memintanya bolos hanya karena kau bosan. Sudah dulu aku ada pasien."


Tut.... Tut... Tut..


Devi berteriak kesal begitu mendengar panggilannya diputus sepihak oleh Alby. Kenapa Alby kembali menjadi pria yang menyebalkan?!


Devi menggeram frustasi dan segera memberi kabar pada Gara jika ia tidak boleh membawa mereka ke apartemen.


Alhasil seharian Devi habiskan hanya untuk makan dan tidur setelah itu menonton drama Koreanya sampai bosan.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Alby belum juga pulang. Devi pun kembali menonton drama Koreanya dengan satu bungkus keripik besar di pangkuannya.


Ceklek!


Devi langsung berlari ke arah pintu begitu ia mendengar suara pintu terbuka. Devi tampak tersenyum sumringah begitu melihat Alby sudah pulang, namun senyumnya langsung luntur begitu melihat seseorang yang berdiri di samping Alby.


"Kenapa tante Laudya ikut kemari om?" Devi menunjuk Laudya dengan pandangan tidak suka.


"Kenapa apanya? Laudya kan tutormu, tentu saja ia kemari untuk mengajarimu," jawab Alby sembari berjalan mendekat ke arah Devi.


"Kemarikan dahimu, aku ingin memeriksa demamnya sudah benar-benar turun atau belum."


Alby pun menyentuh dahi Devi menggunakan telapak tangannya yang sebelumnya sudah ia beri handsanitizer terlebih dahulu.


"Kau sudah sembuh," ujar Alby.

__ADS_1


Setelahnya Alby mempersilahkan Laudya untuk masuk ke dalam diikuti Devi yang mengekor di belakangnya dengan tatapan jengkel.


"Om aku tidak mau belajar," tolak Devi bersedekap dada.


"Jangan mulai. Bukankah kau sendiri yang bilang padaku ingin membanggakanku? Jika kau tidak belajar bagaimana bisa kau membanggakanku?"


"Tapi aku tidak mau belajar bersama tante Laudya, aku mau om Alby sendiri yang mengajariku," tolak Devi dan tetap berpegang teguh pada pendiriannya.


"Aku lelah Dev dan kau jangan membuatku marah. Cepat pergi belajar bersama Laudya sekarang!" perintah Alby tegas.


Dengan langkah kesal, Devi pun segera pergi menuju kamarnya untuk mengambil buku pelajarannya dan beberapa alat tulis. Laudya hanya tersenyum melihat keduanya. Sepertinya Devi juga tidak jauh berbeda dengan Jessica.


"Kau ingin minum apa?" tawar Alby lembut.


"Air putih saja By," jawab Laudya sembari tersenyum manis.


Devi yang melihat pemandangan tersebut merasa kesal dan memutar bola matanya mencibir Laudya yang tersenyum manis pada Alby.


Devi pun duduk di samping Laudya dan mulai membuka buku pelajarannya dengan bibir yang tidak henti-hentinya mengerucut sebal.


"Kenapa bibirmu seperti itu? Minta dikuncir?" tegur Alby yang datang membawakan air putih dan beberapa buah untuk Laudya.


"Minta dicium," ketus Devi sembari membuka bukunya dengan kasar.


Laudya yang melihat interaksi Devi dan Alby pun tampak tersenyum geli. Bagaimana bisa mereka tinggal bersama jika mereka sering bertengkar seperti ini?


"Akan kucium nanti, jadi sekarang kau fokus dulu saja belajar. Aku mau pergi mandi."


Laudya langsung menghentikan senyumnya begitu mendengar jawaban Alby. Ia begitu terkejut jawaban seperti itu keluar dari bibir Alby. Apakah Alby sering mencium Devi? Tapi apakah hal itu mungkin? Bukankah Alby hanya menganggap Devi sebagai adiknya saja? Tapi kenapa sampai harus menciumnya? Berbagai pikiran negatif mulai hinggap di pikirannya.


Tidak berbeda jauh dengan Laudya, Devi yang mendengarnya pun cukup terkejut dengan ucapan Alby. Kenapa Alby berbicara seperti itu? Bukankah selama ini Alby selalu marah-marah padanya jika ia mencium pipinya tiba-tiba tanpa ijin darinya? Jadi kenapa sekarang Alby malah mengatakan akan menciumnya?


"Dev," panggil Laudya yang menyadarkan lamunan Devi.


"Ya?"


"Ayo cepat buka bukumu sebelum Alby datang kemari dan memarahimu," ujar Laudya lembut.


"Sel Volta atau yang memiliki nama lain Sel Galvani adalah sel elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik dengan spontan. Sedangkan, Sel Elektrolisis adalah kebalikannya. Sel elektrolisis alat yang dapat mengubah energi listrik menjadi kimia dengan cara yang biasanya tidak spontan." Laudya menjelaskan satu persatu bab pelajaran yang kurang dikuasai Devi dan memberinya catatan kecil agar mudah diingat.


Kali ini Devi mendengarkan setiap penjelasan Laudya dengan seksama dan memahami setiap penjelasan yang dijelaskan oleh Laudya.


"Berarti jawabannya C ya tante?" tanya Devi memastikan.


"Kau benar. Nah sekarang soal berikutnya."


Devi menghentikan tangan Laudya yang hendak membalikkan lembaran buku dan menatap Laudya tajam.


"Tante Laudya sengaja menjadi tutorku pasti karena ingin mendekati om Alby kan?" Devi memicingkan matanya menatap curiga ke arah Laudya.


"Kau ini bicara apa? Aku menjadi tutormu tentu saja karena ingin mengajarimu," jawab Laudya sembari tersenyum geli.


"Tante Laudya bukan orang sebaik itu," cibir Devi.


Laudya pun meminta Devi untuk melihat ke arahnya. Meskipun awalnya tidak mau, Devi pun pada akhirnya mau menuruti Laudya.


"Katakan padaku kenapa kau begitu membenciku. Jika itu karena Alby kau salah. Aku menjadi tutormu atas permintaan Alby sendiri bukan aku yang menawarkan diri dengan tujuan ingin mendekati Alby. Kau jangan salah paham," jelas Laudya sungguh-sungguh.


Devi dapat melihat kesungguhan di mata Laudya. Sepertinya apa yang disampaikan Laudya memang benar adanya. Tapi tetap saja Devi masih memiliki rasa curiga pada Laudya.


"Kalau memang seperti itu alasannya, aku lega. Tapi begitu aku mengingat perkataan Jessica padaku membuatku sedikit kesal padamu tante. Aku tahu tante tidak ada hubungannya dengan Jessica, hanya saja karena tante kakaknya Jessica aku jadi terbawa suasana," jelas Devi.


"Apa Jessica kembali merundungmu?" tanya Jessica pelan dan merasa bersalah.


"Tenang saja, aku bisa mengatasinya," jawab Devi acuh.


"Apa yang dikatakan Jessica padamu?" tanya Laudya penasaran.

__ADS_1


"Sudah kubilang aku bisa mengatasinya tante." Devi menolak memberitahu Laudya.


"Kumohon," pinta Laudya memelas yang membuat Devi menghembuskan nafasnya pelan sebelum memberitahu Laudya.


"Jessica hanya bilang seharusnya aku ikut mati bersama ayah dan ibuku. Itu saja," jawab Devi ringan dan hal itu semakin membuat Laudya merasa bersalah.


"Aku tidak menyangka Jessica berbicara seperti itu padamu. Aku benar-benar minta maaf, aku janji aku akan menegurnya. Ini sudah kelewatan." Laudya membekap mulutnya terkejut mendengar penuturan Devi. Jessica benar-benar kelewatan!


"Tante tahu kan aku hanya akan memaafkan Jessica jika dia sendiri yang meminta maaf padaku? Jadi lupakan saja, aku juga tidak mengharapkan permintaan maaf tante maupun Jessica," ujar Devi.


Laudya menganggukkan kepalanya mengerti. Tanpa mereka sadari, Alby berada di belakang mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka.


"Pantas saja Gara bilang Devi menangis karena perkataan Jessica," batin Alby.


"Baiklah kurasa waktu belajarnya sudah selesai, sekarang sudah pukul sembilan malam aku harus tidur. Kata om Alby tidur kurang dari delapan jam bisa membuat bodoh," ucap Devi sembari merapikan bukunya.


Laudya menganggukkan kepalanya mengerti dan hendak berpamitan untuk pulang.


"Di mana Alby?" tanya Laudya yang berniat berpamitan pada Alby.


"Mungkin sedang bekerja. Tante pulang saja sekarang biar nanti kupamitkan pada om Alby."


Laudya tampak keberatan dengan ucapan Devi namun ia berusaha untuk tenang dan tersenyum sopan padahal dalam hatinya ia ingin sekali menenggelamkan Devi ke sungai Mekong sekarang juga.


"Sudah mau pulang?" tanya Alby yang berjalan ke arah mereka.


"Iya, ini sudah pukul sembilan malam. Devi harus segera istirahat apalagi Devi baru saja sakit," jawab Laudya lembut.


"Ayo kuantar pulang."


"Tidak perlu By. Aku pulang sendiri saja, lagi pula aku membawa mobil kok," tolak Laudya halus begitu ia mendapati tatapan tajam dari Devi kearahnya.


"Kalau begitu hati-hati tante," ucap Devi cepat sebelum Alby berbicara lagi.


Laudya pun segera berpamitan dan hendak melangkahkan kakinya pulang sebelum panggilan Alby menghentikannya.


"Laudya," panggil Alby.


"Ya?" Laudya membalikkan badannya menatap Alby.


"Kau ada waktu tidak besok malam? Aku ingin mengajakmu makan malam setelah pulang kerja."


Devi mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan pendengarannya salah atau tidak. Serius om Alby mengajak tante Laudya untuk makan malam?


"Ada," jawab Laudya tersenyum.


"Kalau begitu hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok, aku akan menjemputmu," ujar Alby sembari tersenyum.


Setelahnya Laudya benar-benar sudah pergi. Devi langsung menyusul Alby yang hendak kembali ke kamarnya, bahkan setelah berhasil menyusulnya Devi berjalan mundur dengan tatapan yang terus mengarah ke arah Alby.


"Apa maksud om Alby mengajak tante Laudya makan malam bersama?" tanya Devi sembari mengerucutkan bibirnya.


"Tidak ada. Perhatikan langkahmu, kau bisa terjatuh bila berjalan seperti itu," tegur Alby.


"Om Alby tidak berniat mendekati tante Laudya kan?"


"Memangnya kenapa?"


"Jika om Alby mengajak tante Laudya makan malam bersama siapa yang akan mengajariku? Om Alby bilang aku harus rajin belajar kan?"


"Jangan alasan, bukannya kau malah senang jika jadwal bimbelmu libur? Tadi saja kau sibuk tidur daripada mendengarkan penjelasan Laudya," cibir Alby sembari berjalan melewati Devi.


Devi menghentakkan kakinya kesal. Ia tidak mau Alby berdekatan dengan Laudya. Devi takut Alby tertarik pada Laudya. Devi akui Laudya memang menang jauh di atas Devi karena selain parasnya yang rupawan, rupanya Laudya memiliki kecerdasan yang sangat cemerlang. Jadi tidak heran kenapa Alby meminta Laudya menjadi tutornya.


Begitu melihat punggung Alby yang mulai menjauh, Devi teringat sesuatu.


"Om!!" panggil Devi yang membuat Alby menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Katanya ingin menciumku," ujar Devi sembari menunjuk bibir merah mudanya.


*****


__ADS_2