
"Sampai bertemu lagi, aku masuk dulu ya," pamit Raden begitu mereka tiba di depan ruang IGD.
Devi pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga dan ia tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum merekahnya begitu mengingat pertemuannya hari ini dengan Raden.
Hati Devi sungguh lega karena Raden tidak marah padanya dan malah bersikap sangat baik padanya. Itulah yang membuat Devi jatuh hati pada Raden. Devi menganggap Raden adalah malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuknya. Yah katakanlah Devi sedikit berlebihan, tapi memang itu yang dirasakan Devi sekarang.
Ting!
Devi pun membuka ponselnya dan menampilkan pesan Alby padanya. Alby bertanya apakah Devi sudah selesai bertemu dengan Raden atau belum karena ini sudah waktunya untuk Devi belajar.
Tanpa menunggu lama lagi, Devi pun segera bergegas ke tempat Alby berada.
Pada saat ia melewati tempat perawat berjaga di depan ruang IGD, Devi tidak sengaja mendengar beberapa diantara mereka yang sedang membicarakannya. Devi pun menghentikan langkahnya dan berniat untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kau tahu tidak kemarin adiknya dokter Alby pura-pura sakit hanya karena ingin bertemu dengan dokter koas?" tanya salah seorang perawat berperawakan sedikit gemuk dengan tahi lalat di atas bibir merahnya.
"Dokter koas? Maksudmu Raden?"
"Iya."
"Mereka berpacaran?" tanya seorang perawat yang baru saja bergabung.
"Kurasa tidak. Mungkin ini cinta bertepuk sebelah tangan. Lihat saja bagaimana cara adiknya dokter Alby berpura-pura sakit hanya untuk bertemu dengan Raden. Tidak dapat dipungkiri sih kalau Raden memang tampan, tapi bukankah perbuatan adiknya-"
"Devi namanya," sela perawat yang baru saja tiba tersebut.
"Iya-iya Devi. Bukankah perbuatan Devi benar-benar menjijikkan? Bukankah ia sama saja menganggap remeh profesi dokter? Apa Devi tidak sadar kalau kakaknya juga seorang dokter disini?"
"Jika aku jadi dokter Alby aku pasti tidak akan berani masuk kerja karena malu."
"Kenapa harus malu? Di sini yang bermasalah adalah adiknya bukan dokter Alby. Memangnya kau tidak lihat dokter Alby langsung menggendongnya dan membawanya keluar rumah sakit?"
"Kalau itu tentu saja aku melihatnya. Anak jaman sekarang kalau sudah menyangkut cinta suka lupa dengan harga diri," timpal perawat lainnya.
"Gara-gara hal itu, dokter Alby diminta direktur untuk menemuinya. Mungkin ia di marahi karena perbuatan adiknya."
"Kau benar. Tapi ngomong-ngomong tadi aku hanya melihat dokter Alby saja yang datang, Devinya tidak ada. Apa dia malu karena ketahuan berbohong?" tanya perawat bertubuh sedikit gemuk tersebut.
"Tidak. Buktinya dia ada di sini sekarang," jawab Devi yang langsung membuat perawat-perawat yang membicarakannya langsung terdiam dan sedikit terkejut.
"Saya akui saya memang salah. Saya minta maaf, tapi saya minta tolong jangan bicarakan dokter Alby yang tidak-tidak. Ini murni salah saya, dokter Alby tidak tahu apa-apa. Terimakasih, saya permisi," ujar Devi sembari membungkukkan badannya merasa bersalah.
Perawat-perawat itupun hanya terdiam dan berdiri kikuk sebelum pada akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelahnya, Devi pun segera bergegas menemui Alby.
"Suster Mia, om Alby dimana?" tanya Devi begitu ia tiba di meja perawat yang berjaga.
"Dokter Alby baru saja ke ruangannya," jawab Mia.
"Terimakasih," ucap Devi yang dibalas jari jempol dan senyuman oleh Mia.
Devi pun segera berlari menuju ruangan Alby. Setelah tiba, Devi pun langsung membuka pintunya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
Alby yang saat itu sedang berganti pakaian pun tidak tahu jika Devi sudah berada di belakangnya. Begitu Alby menoleh, ia langsung terkejut mendapati Devi sudah berada di hadapannya.
"Tidak bisakah kau mengetok pintu terlebih dahulu sebelum masuk?!" tegur Alby sembari segera mengancingkan pakaiannya.
"Om," lirih Devi.
"Ada apa?!" tanya Alby sedikit kesal.
"Direktur baru saja memintamu menemuinya ya?" tanya Devi pelan.
Alby sedikit terkejut ketika Devi tahu jika ia baru saja dipanggil oleh direktur. Darimana Devi tahu?
"Kau pasti dimarahi gara-gara perbuatanku kemarin," ujar Devi sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak. Cepat buka bukumu, sekarang waktunya belajar," perintah Alby.
Devi hanya diam dan berdiri mematung dengan wajahnya yang menunduk.
"Kenapa?" tanya Alby.
"Semua orang membicarakanmu om, ah tidak! Lebih tepatnya membicarakanku. Tapi karena mereka tahunya aku adikmu, kau jadi ikut terbawa-bawa om bahkan direktur juga ikut memarahimu. A...aku merasa bersalah padamu om," lirih Devi.
"Kalau begitu tebus saja dengan belajar," ujar Alby.
"Hah?"
"Kau merasa bersalah padaku kan? Kalau begitu tebus rasa bersalahmu padaku dengan belajar. Aku tidak mau mengasuhmu lagi jika nilaimu hancur," ujar Alby sembari kembali memakai snellinya.
"Lain kali kalau kau ingin masuk kemari, kau harus mengetok pintu terlebih dahulu," ujar Alby.
"Hm," jawab Devi acuh.
Alby pun menoleh kearah Devi dan melihat gadis itu tengah menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya kedalam buku agar Alby tidak dapat melihat raut wajahnya.
"Kenapa?" tanya Alby sembari menurunkan buku dari wajah Devi.
"Kau pasti menganggapku sebagai anak kecil kan om? Makanya kau tidak ingin bercerita padaku kenapa direktur memanggilmu," ujar Devi.
"Aku tidak ingin bercerita padamu bukan berarti aku menganggapmu sebagai anak kecil," jawab Alby.
"Lalu?"
"Tidak semua masalah yang kualami harus diceritakan padamu. Aku juga memiliki rahasia dan tentu saja itu hakku untuk memberitahumu atau tidak," ujar Alby tegas.
"Tapi itu karena aku kan om? Itu semua karena ulahku kemarin dan sekarang kau terkena imbasnya," ucap Devi.
"Jangan sok tahu! Jangan kau pikir kau satu-satunya orang yang dapat menyebabkan masalah! Sudahlah jangan dibahas lagi, lebih baik kau belajar," perintah Alby.
Alby pun keluar dari ruangan tersebut dan menyisakan Devi yang menatap kesal kearah Alby.
Begitu Alby keluar, disana sudah ada Laudya yang telah berdiri menunggunya.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan ayahku padamu? Ayahku tidak berbicara macam-macam padamu kan?" tanya Laudya khawatir.
"Kita bicarakan diatas," ujar Alby sembari melirik kearah pintu ruang istirahatnya.
*****
"Jadi kau meminta bantuan ayahku untuk meneliti tentang kanker angiosarcoma hati yang di derita temanmu?" tanya Laudya yang dijawab anggukan oleh Alby.
"Dan ayahku mau membantumu jika kau menikahiku?" lanjut Laudya yang juga dijawab anggukan oleh Alby.
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Laudya antusias.
"Aku tidak mau," jawab Alby jujur dan tegas.
Laudya tersenyum kecewa. Sebenarnya ia sudah tahu jawaban Alby, hanya saja begitu mendengar Alby mengatakannya secara langsung membuatnya tambah kecewa.
"Kau membuatku sakit hati," ujar Laudya sembari menatap Alby.
"Kau tahu sejak awal aku hanya menganggapmu sebagai temanku, tidak kurang dan juga tidak lebih. Kuharap kau mengerti dan bisa menerima keputusanku," tutur Alby.
Laudya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum hambar kearah Alby. Laudya tahu Alby belum memiliki dan sepertinya tidak akan memiliki perasaan cinta padanya.
"Aku mengerti, lalu ada apa kau memintaku kemari? Ini pasti bukan karena persyaratan dari ayahku saja bukan?" tanya Laudya mengganti topik pembicaraan.
"Kau benar, ada alasan lain kenapa aku mengajakmu berbicara di sini," ujar Alby.
"Apa itu?"
Alby kembali menatap ke arah jejeran gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di hadapannya. Mereka tampak cantik dengan kerlap-kerlipnya lampu yang bersinar diantara kegelapan malam. Alby baru tahu pemandangan ini dan tiba-tiba saja ia ingin menunjukkannya pada Devi. Gadis itu pasti senang melihat pemandangan menakjubkan seperti ini.
"Alby!" tegur Laudya begitu Alby hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya dan malah melamun.
"Laudya aku tahu kau seorang wanita yang pintar kan? Sebelum menjadi seorang model, kau pernah menjadi seorang tutor profesional. Aku ingin kau menjadi tutor untuk Devi sampai ujian nasional selesai," ujar Alby.
"Tutor untuk Devi?" tanya Laudya memastikan.
"Iya, aku tidak memintamu setiap hari mengajarinya. Hanya saat kau ada waktu luang saja. Jujur saja saat ini aku belum bisa mengajarinya sendiri karena aku sangat sibuk bekerja, selain itu rumah sakit bukan tempat yang tepat untuknya belajar. Aku ingin dia belajar di rumah dengan nyaman dan kau sebagai tutornya," tutur Alby.
Laudya tampak berpikir sejenak. Bukankah ini kesempatan yang sangat bagus untuk mendapatkan Alby secara perlahan? Bukankah sebelum mendekati Alby lebih baik mendekati adiknya terlebih dahulu untuk mengambil hatinya?
Meskipun berkali-kali secara tidak langsung menolak perasaannya, Laudya tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan berusaha mendapatkan Alby bagaimanapun caranya, apalagi Renata sudah tidak ada disini. Ini adalah peluang yang bagus untuk mendapatkan hati Alby.
"Aku tidak memaksamu, kau bisa menolaknya jika tidak mau," ujar Alby.
"Tidak! Bukan begitu maksutku, aku hanya berfikir bagaimana caranya membagi waktu dengan jadwal pemotretanku, tapi sepertinya aku bisa. Kau ingin aku menjadi tutornya kapan?" tanya Laudya.
Alby yang mendengar hal tersebut pun langsung tersenyum senang. Alby lega karena ia berhasil mendapatkan seorang tutor untuk Devi.
"Aku terserah padamu. Kau sesuaikan jadwal pemotretanmu terlebih dahulu dan kau jangan khawatir, aku akan membayarmu," ujar Alby.
"Tidak perlu khawatirkan soal biaya, bisa membantu adikmu belajar saja sudah membuatku bahagia," ujar Laudya sembari tersenyum.
"Baiklah, bagaimana kalau mulai besok kau menjadi tutornya? Bukannya aku terburu-buru tapi besok lusa try out pertamanya sudah dimulai," ujar Alby.
__ADS_1
"Iya, aku tidak masalah. Kau kirimkan saja alamat rumahmu, sekitar pukul enam malam aku akan ke rumahmu," tutur Laudya.
*****