
Kring!!! Kring!!!
Devi langsung membuka kedua matanya lebar-lebar begitu suara alarmnya berbunyi memekakkan telinganya. Segera setelah terbangun dari tidurnya, Devi langsung bergegas pergi mandi.
Hari ini ia ingin pergi berkuda bersama Asep. Asep bilang ia akan mengajari Devi bagaimana cara menunggang kuda dan tentu saja Devi sangat antusias mendengarnya.
Setelah selesai bersiap-siap, Devi segera bergegas keluar kamar untuk menemui Asep.
Begitu ia melewati kamar milik orang tua Alby, Devi mendengar sesuatu dari balik pintu yang tidak tertutup dengan rapat.
Karena rasa penasarannya yang tinggi, Devi pun memutuskan untuk mendengarkan perkataan mereka sebentar.
"Apa ada seorang tamu berkunjung ke rumah orang pagi-pagi buta seperti ini?" tanya Ishwari pada Abimanyu dengan nada sedikit kesal.
Tamu? Tamu siapa?
"Memangnya apa yang salah? Laudya kan pacarnya Alby, bukankah wajar jika ia bertamu ke mari? Sudahlah jangan diperpanjang masalah ini, kita sebagai tuan rumah harus menjamu tamu kita dengan baik," jawab Abimanyu.
Tante Laudya di sini??
"Aku tidak merestui Alby dengan Laudya," ujar Ishwari mutlak.
"Memangnya kenapa? Laudya adalah wanita baik-baik, dewasa dan cerdas. Kamu tidak lihat betapa serasinya mereka berdua? Mereka memiliki banyak sekali kemiripan," ujar Abimanyu tidak mau kalah.
"Dari pada Laudya aku lebih memilih Devi. Kamu tidak lihat betapa perhatian dan sayangnya Alby pada Devi? Bahkan aku tidak melihat hal serupa yang dilakukan Alby pada Laudya. Alby lebih menyayangi Devi dari pada Laudya!" balas Ishawari.
"Itu karena Alby berpikir Devi menderita PTSD. Coba kalau tidak, Alby pasti tidak akan memperlakukan Devi seberharga itu."
"Kamu membenci Devi?" curiga Ishwari.
"Tidak! Aku tidak pernah membenci Devi, aku menyayanginya sebagai putriku. Tapi Alby juga putraku, aku hanya ingin ia mendapat pendamping hidup yang sempurna. Sayang coba kamu pikir. Bukankah Devi lebih cocok menjadi adik Alby? Putri kita? Perbedaan usia mereka sangat jauh selain itu sifat mereka saling bertolak belakang. Devi masih anak-anak sedangkan Alby adalah pria dewasa. Jika mereka bersama-sama bukankah Alby yang akan sengsara? Dari pada seorang istri yang mengurus suaminya bukankah Devi malah terlihat seperti adik yang diasuh kakaknya? Sifat Devi masih kekanakan dan dia belum dewasa sama sekali, dibandingkan dengan Laudya, Devi tidak ada apa-apanya. Pernikahan dengan kedua sifat yang saling bertentangan seperti itu tidak bisa membuat hubungan rumah tangga bertahan lama."
"Itu kan pemikiranmu, kamu mana tahu apa yang ada di pikiran Alby."
"Kalau pemikiran Alby berbeda denganku lalu kenapa ia tidak memberitahu Devi kenapa ia berada di sini padahal seorang dokter IGD jarang memiliki waktu hanya untuk sekedar pulang? Alby tidak memberitahu alasannya karena ia berpikir Devi masih terlalu anak-anak dan permasalahan Alby adalah permasalahan orang dewasa, tentu saja Alby tidak memberitahu Devi."
Cukup!!
Devi tidak ingin mendengar percakapan mereka lagi. Perkataan mereka membuat Devi tertampar dan merasakan sesak di hatinya.
Apa yang dikatakan Abimanyu memang benar. Dilihat dari segi manapun memang Laudya jauh di atas segalanya dan jika dilihat dari sifat memang Laudya sangat dewasa jauh di atasnya yang setiap hari hanya bisa merengek, marah, bermain-main dan kadang menangis jika keinginannya tidak terpenuhi. Dibandingkan itu semua bukankah sifat Devi lebih pantas disebut sifat bocah umur sepuluh tahun?
Begitu tiba di teras depan ia melihat Alby yang sedang bersenda gurau bersama Laudya sembari memetik beberapa bunga mawar yang tumbuh di halaman rumah.
Untuk seperkian detik Devi tersadar jika apa yang dikatakan oleh Abimanyu memang benar. Alby terlihat lebih cocok bersama Laudya dibandingkan dirinya. Namun beberapa saat setelahnya Devi juga tersadar bahwa ia tidak boleh menyerah begitu saja! Devi sudah memiliki Ishwari sebagai pendukungnya dan sekarang tinggal ia memikirkan cara agar Alby berpaling padanya dan meninggalkan Laudya. Tapi apa ia bisa?
"Non Devi!!" panggil Asep seraya berlari ke arah Devi.
Devi yang tersadar dengan teriakan Asep pun langsung mengalihkan perhatiannya pada Asep. Begitu juga dengan Alby yang langsung menolehkan pandangannya ke arah Devi.
"Non Devi kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu non Devi sejak satu jam yang lalu," omel Asep.
"Kau berani mengomeliku?!"
"Ah tentu saja tidak berani," cengir Asep.
"Dasar!"
"Ayo non kita berangkat."
__ADS_1
Mereka berdua pun segera bergegas pergi menggunakan sepeda milik Asep. Namun baru saja Devi hendak menaikinya, Alby menghampirinya dan menghentikan langkahnya. Oh jangan lupakan Laudya yang juga turut berjalan di belakangnya.
"Mau ke mana?" tanya Alby.
"Non Devi ingin naik kuda den jadi saya mau antar ke peternakan," jawab Asep sedangkan Devi memilih untuk diam.
"Hanya berdua?" tanya Alby.
"Iya den, den Alby ingin ikut?" tawar Asep.
"Ayo Sep cepat pergi! Kita pergi berdua saja!" jawab Devi cepat sebelum Alby sempat menjawab tawaran Asep.
"Jalan Sep!!!" kesal Devi seraya memukul pundak Asep agar Asep segera mengayuh sepedanya pergi.
Melihat Alby berdekatan dengan Laudya membuat Devi merasa kesal seketika!
"Sep jangan gunakan kuda milikku, mengerti?!" ucap Alby memberi peringatan.
"Baik den."
Asep pun segera mengayuh sepedanya meninggalkan kediaman Alby menuju peternakan kuda milik Abimanyu.
Alby menatap kepergian Devi sembari menghela nafasnya pelan. Ia tahu kenapa Devi bersikap seperti itu padanya, itu karena ada Laudya bersamanya. Rasa tidak suka Devi pada Laudya sepertinya berada di level tertinggi.
"By aku juga ingin naik kuda," ujar Laudya.
*****
Devi menatap takjub ke barisan kuda-kuda yang berada di dalam kandangnya dengan rapi. Kuda-kuda tersebut tampak gagah dan terawat hingga membuat suasana hati Devi membaik.
"Sep aku mau yang putih," tunjuk Devi ke arah kuda berwarna putih bersih yang bernama Snow White.
"Baiklah, sebentar biar kupasangkan pelana kudanya terlebih dahulu," ucap Asep sembari menyiapkan peralatan berkuda mereka.
"Aku mau yang hitam By."
Devi langsung membalikkan badannya dan ia melihat kedatangan Laudya bersama Alby dengan Laudya yang bergelayut manja di lengan Alby.
Benar-benar memuakkan!
"Sudah selesai non. Sini naik," ujar Asep menginterupsi.
"Sep kau sudah memasang pelana, alas pelana, tali kekang, sanggurdi dan tali perutnya dengan benar kan?" tanya Alby mengingatkan Asep.
"Sudah den, saya sudah memasangnya dengan teliti dan hati-hati," jawab Asep mantap.
Tanpa menunggu lama lagi, Devi segera menaiki kuda putih tersebut dengan bantuan Asep sedangkan Alby mengawasinya sebentar sampai mereka berjalan keluar baru ia memasang peralatannya pada kuda yang dipilih oleh Laudya.
Laudya yang melihat hal itu pun merasa sedikit kesal. Kenapa di saat ada dirinya fokus Alby tetap saja ke arah Devi?!
"Sep, jangan lepaskan talinya," ujar Devi mewanti-wanti Asep yang berjalan di sampingnya sembari memegang tali kekang kuda.
"Tidak akan, non Devi tenang saja jangan takut. Kuda bisa mendeteksi rasa takut lho non. Kalau non Devi takut, Snow White juga akan merasakan hal yang sama," tutur Asep.
"Kalau marah Sep?"
"Justru itu yang bahaya. Kuda bisa memberikan respon emosional yang positif dan bisa pula negatif. Jika manusia justru memberikan provokasi tertentu pada kuda, maka bisa membuatnya berubah agresif. Hal ini bisa berbahaya, sebab kuda tidak akan ragu untuk melakukan kontak fisik berlebihan hingga penyerangan dengan manusia," jelas Asep.
Mendengar hal itu Devi pun langsung menghirup udara dan menghembuskannya pelan-pelan untuk mengontrol emosinya. Ia tidak mau celaka hanya karena emosinya.
__ADS_1
"Bagaimana seru kan?"
"Iya Sep. Besok lagi ya Sep?"
"Siap."
"Sep ayo ke sana," tunjuk Devi ke arah sekumpulan kuda yang berada jauh dari tempatnya.
"Jangan, mereka adalah kuda liar, jika kita mendekatinya bukan tidak mungkin Snow White menjadi agresif dan menyebabkan non Devi dalam bahaya," tolak Asep.
"Asep kau tidak lelah berjalan kaki?" tegur Laudya yang kini sejajar dengannya tanpa ditemani oleh Alby. Rupanya Laudya sudah terlatih menunggang kuda jadi ia tidak perlu Alby untuk mengawasinya.
Devi menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat di mana keberadaan Alby dan rupanya Alby memilih duduk di kursi kayu yang berada di depan kandang sembari mengawasinya.
"Om Alby tidak mengawasimu tan? Sepertinya om Alby tidak perduli padamu kalau sewaktu-waktu kuda ini agresif dan menyerangmu," ejek Devi yang membuat Asep menarik kaki Devi pelan agar tidak memprovokasi.
"Sayangnya aku sudah terlatih dan tidak perlu merepotkan orang lain untuk melindungiku. Aku ini wanita dewasa bukan anak-anak yang butuh pengawasan orang tua," sindir Laudya yang membuat Devi langsung emosi.
"Non tenanglah, jangan terpancing emosi," bujuk Asep.
"Tenang saja Sep, aku tidak akan marah kok. Aku ke mari kan ingin bersenang-senang bukannya menonton drama cinta bertepuk sebelah tangan," jawab Devi.
"Siapa yang kau maksud cinta bertepuk sebelah tangan? Aku?"
Devi mengedikkan bahunya acuh dan tidak perduli.
Alby yang melihat keduanya berjalan beriringan pun malah semakin was-was, takut jika mereka bertengkar yang akan berpengaruh pada kuda yang mereka tunggangi. Segera saja Alby langsung mengambil salah satu kuda lagi dan bergegas menyusul mereka.
"Alby sudah menjadi pacarku dan tidak lama lagi kami pasti akan menikah, apakah itu sudah cukup untuk mematahkan persepsimu jika cintaku bertepuk sebelah tangan?"
"Tante Laudya rupanya suka sekali berkhayal," ujar Devi pelan namun masih dapat di dengar oleh Laudya.
"Apa katamu?!!"
"Apa?!"
Karena kesal, Laudya segera memacu kudanya mempersempit jaraknya dengan Devi. Asep sudah berkali-kali mencoba menghindari Laudya dengan mangatur tali kekang kudanya. Tanpa Asep duga, Devi malah melepaskan tangan Asep dari tali kekang kuda tersebut.
"Lepaskan Sep kalau kau tidak ingin terluka," ujar Devi begitu ia tahu niat buruk Laudya.
"Non!!!" teriak Asep pada Devi yang kini sudah menjauh.
Kini keduanya memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Dalam hati Devi ia merasa sedikit takut karena ia tidak tahu bagaimana mengendalikan kuda, namun begitu melihat Laudya rasa takutnya langsung sirna. Ia tidak boleh menyerah begitu saja!
Devi dapat melihat Alby yang kini sedang mengejarnya namun ia tidak perduli.
"Dev berhenti!!!!" teriak Alby dari kejauhan.
"Laudya hentikan sekarang juga!!" teriak Alby lagi sembari terus mengejar keduanya.
"Pilih tangan atau kakimu yang patah? Atau kalau kau mau aku bisa mengabulkan kedua-duanya," ujar Laudya sembari menarik tali kekang kuda Devi begitu ia berhasil mendekat.
Devi yang tanggap pun segera menjauhkan tali kekang kudanya dari jangkauan Laudya hingga pada akhirnya Laudya kehilangan keseimbangannya dan tali kekang kudanya tertarik dengan keras hingga menyebabkan kuda milik Laudya langsung mengangkat kedua kaki depannya ke udara dan menyebabkan Laudya jatuh terpelanting.
"Laudya!!!!!"
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)
__ADS_1
Tbc